1
Kawasan Gua Mesolitik Jimbaran Kini Dibangun Pura on Thu Jul 17, 2008 5:09 pm
Puluhan gua yang ditemukan di kawasan Bukit Jimbaran dan pernah dimanfaatkan sebagai tempat hunian pada masa mesolitik sekitar 6.000 tahun silam hingga jaman kolonial, dan kawasan itu dibanguni Pura.
"Masyarakat setempat membangun tempat suci di bagian mulut gua, sehingga gua menjadi tertutup oleh bangunan pura," kata Rochtri Agung Bawono dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar Sabtu (16/12/06).
Ia mengatakan, selama setahun melakukan penelitian (2005-2006) di kawasan Bukit Jimbaran berhasil mengindentifikasi tidak kurang dari 70 buah gua.
Beberapa gua yang bagian ujung yang berfungsi sebagai pintu ke luar diatasnya dibanguni tempat suci, sehingga sulit melakukan penelitian lebih mendalam.
"Jika melakukan penelitian lebih lanjut ke dalam gua, perlu koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk membongkar bangunan yang menutupi pintu masuk ke goa," ujar Rochtri Agung Bawono.
Penelitian terhadap gua yang dilakukan selama setahun itu menunjukkan gua yang ukurannya sangat sempit di pintu masuk, yakni hanya berukuran sekitar 75 sentimeter, namun makin ke dalam ukurannya semakin besar.
Bahkan di dalam gua yang kondisinya gelap terdapat jebakan berupa lubang yang dalamnya mencapai empat meter. Selain itu dalam satu gua ada yang mempunyai tiga pintu keluar masuk sehingga di dalam gua ada persimpangan.
Rochtri Agung Bawono menjelaskan, dari 70 gua yang telah diteliti antara lain diketemukan 23 situs dan delapan ceruk hunian serta berbagai alat-alat keperluan sehari-hari yang terbuat dari kerang.
Hasil temuan itu dapat dibagi menjadi tiga masing-masing berasal dari zaman prasejarah, masa klasik dan masa kolonial. Gua hunian pada masa prasejarah diidentifikasi berdasarkan temuan tulang, kerang, alat batu, alat-alat dari tulang, alat kerang, gerabah dan perhiasan.
Gua-gua tersebut dimanfaatkan secara permanen maupun sementara oleh manusia prasejarah. Gua hunian masa klasik merupakan kelanjutan hunian dari tradisi prasejarah yang masih berlangsung hingga jaman kolonial.
Pada jaman kolonial gua yang ada digunakan sebagai tempat persembunyian untuk menghindari kekejaman kaum penjajah, ujar Rochtri Agung Bawono. (*/rit) Kapanlagi.com
"Masyarakat setempat membangun tempat suci di bagian mulut gua, sehingga gua menjadi tertutup oleh bangunan pura," kata Rochtri Agung Bawono dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar Sabtu (16/12/06).
Ia mengatakan, selama setahun melakukan penelitian (2005-2006) di kawasan Bukit Jimbaran berhasil mengindentifikasi tidak kurang dari 70 buah gua.
Beberapa gua yang bagian ujung yang berfungsi sebagai pintu ke luar diatasnya dibanguni tempat suci, sehingga sulit melakukan penelitian lebih mendalam.
"Jika melakukan penelitian lebih lanjut ke dalam gua, perlu koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk membongkar bangunan yang menutupi pintu masuk ke goa," ujar Rochtri Agung Bawono.
Penelitian terhadap gua yang dilakukan selama setahun itu menunjukkan gua yang ukurannya sangat sempit di pintu masuk, yakni hanya berukuran sekitar 75 sentimeter, namun makin ke dalam ukurannya semakin besar.
Bahkan di dalam gua yang kondisinya gelap terdapat jebakan berupa lubang yang dalamnya mencapai empat meter. Selain itu dalam satu gua ada yang mempunyai tiga pintu keluar masuk sehingga di dalam gua ada persimpangan.
Rochtri Agung Bawono menjelaskan, dari 70 gua yang telah diteliti antara lain diketemukan 23 situs dan delapan ceruk hunian serta berbagai alat-alat keperluan sehari-hari yang terbuat dari kerang.
Hasil temuan itu dapat dibagi menjadi tiga masing-masing berasal dari zaman prasejarah, masa klasik dan masa kolonial. Gua hunian pada masa prasejarah diidentifikasi berdasarkan temuan tulang, kerang, alat batu, alat-alat dari tulang, alat kerang, gerabah dan perhiasan.
Gua-gua tersebut dimanfaatkan secara permanen maupun sementara oleh manusia prasejarah. Gua hunian masa klasik merupakan kelanjutan hunian dari tradisi prasejarah yang masih berlangsung hingga jaman kolonial.
Pada jaman kolonial gua yang ada digunakan sebagai tempat persembunyian untuk menghindari kekejaman kaum penjajah, ujar Rochtri Agung Bawono. (*/rit) Kapanlagi.com







