BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Awas! Penjahat Makin Tak Takut Polisi on Mon Aug 31, 2009 9:20 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA



Perampokan, atau dalam istilah kepolisian disebut pencurian dengan kekerasan, di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sejak Jumat (21/8 ), menghangat. Pelaku, antara lain, memanfaatkan saat shalat jumat dan waktu sahur untuk beraksi. Waspadai suasana sepi yang berlangsung secara berkala dan rutin. Waspadai tamu yang datang atau melintas dengan berpura-pura menjadi petugas telepon, listrik, pedagang, pemulung, atau orang yang sekadar bertanya alamat.

Saat shalat jumat berlangsung di Pasar Pesing Koneng, Jakarta Barat, delapan perampok menguras 1,5 kilogram perhiasan emas dari Toko Emas Family Dua. Para perampok kembali beraksi hari Rabu (26/8 ). Mereka datang dengan empat sepeda motor, menggasak perhiasan emas 6,5 kilogram, dan uang tunai Rp 200 juta.

Kamis (27/8 ) pukul 04.10, kelompok pelaku lain memanfaatkan waktu sahur untuk merampok. Mereka datang dengan Toyota Avanza. Datang ke rumah Riana Andika di Jalan Vila Terusan, Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang, berpura-pura bertanya alamat seseorang. Saat penghuni rumah muncul, mereka langsung ditodong dengan senjata api dan clurit. Mereka mengambil lima telepon genggam, laptop, kalung emas, empat cincin, dan uang tunai Rp 2,2 juta. Mereka menyekap keenam penghuninya, termasuk Riana.

Jumat (28/8 ) pukul 05.30, seusai sahur, dua polisi dibacok kawanan pencuri sepeda motor di Kampung Pedurenan, Jatiluhur, Jatiasih, Bekasi. Kedua polisi itu adalah Brigadir Asep Ramelan dan Brigadir Satu Romeo Willem. Keduanya sudah mencium niat Kelompok Jonggol mencuri sepeda motor di tengah waktu sahur. Meski terluka, keduanya berhasil melumpuhkan salah seorang pelakunya, Heri Setiawan (33). Ia tewas ditembak.

Rutinitas

Pada hari yang sama, polisi akhirnya menangkap enam dari delapan perampok toko emas tersebut. Empat perampok yang ditangkap tewas dalam baku tembak di Lebak Bulus dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta mengatakan, mereka antara lain memanfaatkan suasana yang berulang saat beribadah. Semua acara, perilaku orang, dan suasana yang rutin, memudahkan para perampok ”menggambar” sebelum beraksi.

”Ibadah hanyalah salah satu rutinitas dari serangkaian rutinitas lain,” tutur Nico. Para perampok itu, lanjutnya, mengamati dulu suasana sepi pulang mudik, suasana sepi liburan panjang, suasana sepi setelah terjadi bencana di tempat yang menjadi target. Mereka mempelajari peta lokasi, mengamati kebiasaan-kebiasaan dan rutinitas penghuni rumah. Setelah cukup, mereka baru merancang perampokan.

Mengapa mereka menggunakan senjata tajam dan atau senjata api dalam setiap aksinya? ”Karena mereka tidak mau gagal setelah mempersiapkan rencana berbulan-bulan. Setiap kejahatan berencana selalu menghabiskan ’biaya’ besar,” kata Nico.

Yang memprihatinkan, sejak lima tahun terakhir ini, para perampok bukan hanya menganiaya, tetapi juga membunuh korbannya yang melawan, bahkan menjawab tembakan peringatan polisi dengan tembakan. Mereka semakin tidak takut polisi. Hal seperti ini banyak terjadi di kawasan pinggiran Jakarta, seperti di Bekasi dan Tangerang.

Barang yang menjadi sasaran perampokan adalah barang-barang yang mudah dijual cepat, seperti telepon genggam, laptop, kamera, emas, mobil, dan sepeda motor.

Mencegah

Bagaimana mencegahnya? ”Menumbuhkan polmas (polisi masyarakat), berpikir dan bersikap rasional, mengaktifkan patroli lingkungan, memasang jaringan CCTV (closed-circuit television),” kata Nico. Menurut dia, polmas bukan sekadar kewajiban, pembagian tugas, dan peran saja, tetapi budaya.

”Polmas berarti membangun tradisi menjaga keamanan lingkungan. Kalau komunitas yang lain beribadah, maka harus diatur adanya komunitas lain yang berpatroli. Kalau ada yang hajatan, harus ada yang berjaga. Kalau ada yang meninggalkan rumah, harus ada yang ketitipan rumah,” tuturnya.

Patroli lingkungan, lanjut Nico, adalah bagian dari polmas. Menurut dia, prosesnya sebaiknya berlangsung secara terbuka lewat musyawarah dan mufakat. ”Contoh terbaik adalah pengamanan lingkungan seperti berlangsung di Bali. Selain karena kehadiran para pecalang di sana, pola pengamanan lingkungan di sana berlangsung dalam kebersamaan yang terbuka,” ujar Nico.

Langkah berikutnya adalah berpikir dan bersikap rasional. ”Kalau hal seperti itu sudah berakar di lingkungan permukiman, dengan mudah warga bisa mengendus perilaku para perampok yang menyamar,” tutur Nico.

CCTV

Langkah berikutnya yang tergolong baru dan bisa mulai dicoba adalah membangun jaringan CCTV yang bisa dikendalikan dari pos-pos RW. Menurut Nico, pemasangan jaringan CCTV di beberapa persimpangan, jalan-jalan utama keluar dan masuk lingkungan, sangat efektif memelihara keamanan lingkungan.

Menurut dia, ke depan, pengamanan lingkungan di kota-kota besar melalui jaringan CCTV menjadi keharusan. Alasannya, untuk mengatasi perubahan masyarakat yang sibuk, yang membuat hubungan paguyuban di lingkungan kian lemah dan berubah menjadi hubungan patembayan. ”Pendeknya, CCTV bisa menggantikan keterlibatan banyak orang dalam berpatroli,” ujar Nico.

KOMPAS C. Windoro AT.

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum