1
Krama Hindu di Los Angeles Ingin Bangun Pura Jagatnatha on Mon Aug 24, 2009 4:32 pm
Krama Hindu Bali yang bermukim di Los Angeles (LE), California, Amerika Serikat dari sejak dulu telah bercita-cita membangun Pura Jagatnatha di pusat kota LE. Kehadiran Pura tersebut dipandang penting bagi krama Hindu Bali di LE yang tergabung dalam organisasi Suka Duka Krama Bali Los Angeles dalam rangka ikut mengajegkan agama dan budaya Bali di luar negeri.
Demikian dikatakan Penasihat Suka Duka Krama Bali LE Prof. Dr. I Nyoman Wenten, MFA, Minggu (23/8 ) kemarin. Dosen California Institute of The Arts (CalArts) Valencia asal Desa Sading Mengwi Badung ini mengatakan, krama Bali yang bermukim di LE sudah tercatat 150 KK, belum lagi di daerah sekitarnya. Mereka yang beragam profesi itu sangat mengidam-idamkan tempat sembahyang bersama yang cukup representatif.
''Karena itu mereka mohon restu dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali, Parisada Hindu Dharma dan umat se-dharma agar cita-cita itu mampu terwujud,'' katanya.
Saat ini, kata Wenten, memang sudah ada bangunan pelinggih padmasana yang merupakan bantuan dari krama Hindu Bali, Prof. Wayan Mertha Sutedja beberapa tahun silam. Tetapi karena belum ada lahan, padmasana tersebut didirikan di tempat pemukiman Wenten. Padmasana itulah yang selama ini digunakan oleh umat Hindu setempat untuk bersembahyang saat hari-hari raya keagamaan seperti Galungan-Kuningan.
''Ke depan kami ingin agar umat Hindu yang bermukim di LE memiliki tempat suci bersama (Pura Jagatnatha) yang cukup strategis sebagai tempat bagi umat untuk mengajegkan Bali di bidang mental spiritual. Sebagai wahana untuk melestarikan seni budaya Bali, Pura itu perlu dilengkapi seperangkat gamelan,'' ujar Wenten, pendiri Suka Duka Krama Bali LE yang kini diketuai Ir. A.A. Gde Agung, Ph.D. itu.
Selain tempat bersembahyang dan memperkuat jati diri, Pura ini strategis dijadikan ajang simakrama dan membangun networking di antara umat Hindu di LE dan sekitarnya. Permohonan izin untuk membangun tempat suci tampaknya tidaklah sulit, karena pemerintah setempat tidak membeda-bedakan kepentingan agama. Mudah-mudahan mimpi kami untuk mendirikan pura di LE menjadi kenyataan. ''Saat ini kami sudah memiliki pemangku namanya Wayan Susila,'' katanya.
Dikatakannya, generasi muda Hindu Bali di luar negeri, termasuk di LE juga penting terus diperkuat jati dirinya sebagai generasi muda yang berdarah atau ber-kawitan Bali, dengan tetap melestarikan nilai-nilai budayanya. Dengan demikian diharapkan mereka eksis menghadapi persaingan global dengan jati diri yang kuat. Terlebih kesenian Bali sudah mengglobal, generasi muda Hindu Bali di luar negeri juga mesti tertarik mempelajari tarian dan karawitan Bali agar tidak kalah piawai dengan orang asing yang mempelajari kesenian Bali. (08)
Demikian dikatakan Penasihat Suka Duka Krama Bali LE Prof. Dr. I Nyoman Wenten, MFA, Minggu (23/8 ) kemarin. Dosen California Institute of The Arts (CalArts) Valencia asal Desa Sading Mengwi Badung ini mengatakan, krama Bali yang bermukim di LE sudah tercatat 150 KK, belum lagi di daerah sekitarnya. Mereka yang beragam profesi itu sangat mengidam-idamkan tempat sembahyang bersama yang cukup representatif.
''Karena itu mereka mohon restu dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali, Parisada Hindu Dharma dan umat se-dharma agar cita-cita itu mampu terwujud,'' katanya.
Saat ini, kata Wenten, memang sudah ada bangunan pelinggih padmasana yang merupakan bantuan dari krama Hindu Bali, Prof. Wayan Mertha Sutedja beberapa tahun silam. Tetapi karena belum ada lahan, padmasana tersebut didirikan di tempat pemukiman Wenten. Padmasana itulah yang selama ini digunakan oleh umat Hindu setempat untuk bersembahyang saat hari-hari raya keagamaan seperti Galungan-Kuningan.
''Ke depan kami ingin agar umat Hindu yang bermukim di LE memiliki tempat suci bersama (Pura Jagatnatha) yang cukup strategis sebagai tempat bagi umat untuk mengajegkan Bali di bidang mental spiritual. Sebagai wahana untuk melestarikan seni budaya Bali, Pura itu perlu dilengkapi seperangkat gamelan,'' ujar Wenten, pendiri Suka Duka Krama Bali LE yang kini diketuai Ir. A.A. Gde Agung, Ph.D. itu.
Selain tempat bersembahyang dan memperkuat jati diri, Pura ini strategis dijadikan ajang simakrama dan membangun networking di antara umat Hindu di LE dan sekitarnya. Permohonan izin untuk membangun tempat suci tampaknya tidaklah sulit, karena pemerintah setempat tidak membeda-bedakan kepentingan agama. Mudah-mudahan mimpi kami untuk mendirikan pura di LE menjadi kenyataan. ''Saat ini kami sudah memiliki pemangku namanya Wayan Susila,'' katanya.
Dikatakannya, generasi muda Hindu Bali di luar negeri, termasuk di LE juga penting terus diperkuat jati dirinya sebagai generasi muda yang berdarah atau ber-kawitan Bali, dengan tetap melestarikan nilai-nilai budayanya. Dengan demikian diharapkan mereka eksis menghadapi persaingan global dengan jati diri yang kuat. Terlebih kesenian Bali sudah mengglobal, generasi muda Hindu Bali di luar negeri juga mesti tertarik mempelajari tarian dan karawitan Bali agar tidak kalah piawai dengan orang asing yang mempelajari kesenian Bali. (08)








