1
Kultur Politik Jawa on Thu Jul 30, 2009 5:59 pm
Oleh Zuly Qodir
Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dalam pemilihan presiden memberikan beberapa pelajaran penting dalam konteks politik, khususnya para kandidat dan pengamat. Hal ini akan berhubungan dengan kultur politik yang masih mempunyai pengaruh sangat besar di masyarakat Jawa khususnya.
Kerja keras yang telah dilakukan tim sukses SBY-Boediono jelas tidak dapat diabaikan. Beberapa program pencitraan yang telah dilakukan oleh tim sukses SBY-Boediono sehingga memengaruhi publik pemilih adalah suatu yang tidak bisa ditolak.
Selain program kampanye pencitraan, tim sukses telah berhasil menghipnotis publik pemilih dengan gelontoran iklan yang memberikan kesan bahwa SBY-Boediono adalah sosok yang paling tepat memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Kekuatan SBY-Boediono juga dihadirkan lewat gelontoran program pemerintah pada hari-hari mendekati pilpres berlangsung. Pencairan bantuan langsung tunai (BLT), penurunan harga bahan bakar minyak (solar, bensin, dan minyak tanah) merupakan kebijakan yang sangat berpengaruh pada orientasi publik dalam memilih calon presiden lima tahun mendatang.
Selain dari beberapa politik pencitraan yang telah sukses menggalang suara SBY-Boediono di atas, ada beberapa hal yang menjadi daya tarik masyarakat sehingga suara SBY-Boediono dapat menang mutlak dalam pilpres yang baru lalu.
Beberapa hal yang dapat menjelaskan kemenangan mereka, di antaranya, pertama, politik pencitraan masih dominan menjadi bagian dari kampanye presiden yang baru lalu.
Masyarakat Jawa yang mendominasi suara dalam pemilihan presiden- wakil presiden akan mudah tersentuh tatkala bagian ”rasa” diberi perhatian yang lebih ketimbang, sisi rasio. Sisi rasa dari kultur Jawa, antara lain, citra seseorang yang selalu disudutkan, dipojokkan, bahkan dianiaya membuat perasaan orang Jawa tersentuh sehingga menimbulkan belas kasihan.
Kultur politik Jawa tidak bisa menerima sosok yang dikesankan dipojokkan dan dianiaya oleh sebagian orang atau lawan politiknya. Apalagi, sebagian dari masyarakat berkultur Jawa ini telah merasakan apa yang menjadi bagian dari kampanye politik pro rakyat, yakni kebijakan menurunkan BBM dan memberikan bantuan secara tunai, yang secara langsung dapat dinikmati sesaat ketika masyarakat Jawa sedang kesusahan.
Bicara seperlunya
Kedua, sosok yang tidak banyak bicara, atau bicara seperlunya. Kultur Jawa lebih memilih sosok calon pemimpin yang berfalsafah, sedikit bicara tetapi banyak bekerja atau rame ing gawe sepi ing pamrih, ketimbang rame ing pamrih sepi ing gawe.
Bila ada sosok calon pemimpin yang banyak menyebarkan pernyataan, membuat statement di media apalagi statement itu dinilai oleh masyarakat Jawa meng-unggulkan dirinya dan paling berjasa, maka kultur Jawa tidak akan suka. Dampaknya adalah tidak akan simpatik lalu tidak akan memilih sosok tersebut.
Kultur Jawa menyukai sosok yang perlahan-lahan tetapi memberikan komentar seperlunya, apalagi hanya memberi komentar pada saat terdapat pernyataan yang dianggap menohok dirinya. Kultur Jawa akan sangat bersimpati pada sosok pemimpin yang demikian.
Lambat memberikan komentar dan pernyataan politik dalam kultur Jawa tak dipahami sebagai sosok peragu dan kurang responsif, tetapi malah dianggap sebagai sosok yang penuh kehati-hatian dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan karena takut salah dan tidak memihak rakyat.
Oleh sebab itu, jika ada sosok calon pemimpin yang bertindak cepat dan berpikir cepat dalam kultur Jawa akan dinilai tergesa-gesa dan tidak eling lan waspada, sehingga dianggap akan merugikan rakyat banyak. Oleh karena itu, sosok calon pemimpin seperti itu tidak akan mendapatkan simpati dan dukungan dalam kultur Jawa, alias ditolak karena dianggap membahayakan.
Istilah lebih cepat lebih baik bukanlah istilah yang lazim dalam kultur politik Jawa, sehingga tidak mampu menyedot aspirasi, atau istilah lebih cepat lebih baik tidak akan memiliki daya magnitut politik Jawa, bahkan akan menjadi bumerang.
Ketiga, kultur politik Jawa bukanlah kultur yang berani menampilkan diri di depan, tetapi kultur politik yang lebih mengutamakan ”menunggu wahyu cakraningrat”, yakni kultur manungsa pinilih lan linuwih, bukan sosok yang mencitrakan diri memiliki keinginan besar untuk dipilih, tetapi sosok yang dikehendaki rakyatnya, yakni sosok yang linuwih, tidak segera menyatakan kesediaannya untuk jadi pemimpin.
Dengan falsafah seperti itu, jika ada sosok calon pemimpin yang secara terang-terangan menyatakan dirinya siap menjadi pemimpin, siap maju jadi pemimpin rakyat, dan secara tegas menyatakan akan melakukan perubahan, kultur Jawa akan menolak, sebab sosok seperti itu dipahami akan membawa banyak bencana, ketimbang manfaat, bagi rakyat banyak yang kesusahan.
Sosok pemimpin yang linuwih, tidak ngge-ngge mangsa adalah sosok yang jadi idola masyarakat dalam kultur Jawa, sekalipun penuh tanda tanya atas apa yang menjadi pilihan politik seorang sosok itu, tetapi masyarakat berkultur Jawa tak memedulikan apa yang akan terjadi dengan sosok yang mencitrakan diri linuwih.
Dalam konteks seperti itulah, kemenangan SBY-Boediono atas dua kandidat presiden lainnya, Mega-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto yang memiliki slogan sangat berbeda dengan SBY-Boediono. Kita perhatikan slogan Mega-Pro, ”Perubahan untuk Rakyat”. Sedangkan JK-WIN dengan slogan ”Lebih cepat lebih baik” benar-benar menjadi bumerang pada pilpres yang baru lalu.
Kemenangan SBY-Boediono dengan demikian, karena memiliki falsafah politik berkultur Jawa yang sangat diminati oleh sebagian pemilih masyarakat Indonesia. Ingatlah, kultur pemilih dalam pilpres adalah masyarakat dengan kultur politik Jawa, yang menekankan dimensi ngalah, linuwih, lan tut wuri hanyani. Kultur politik Jawa bukanlah kultur politik tergesa-gesa, berani menyatakan diri, dan cepat.
Dengan mempergunakan penjelasan kultur politik Jawa, kemenangan SBY-Boediono tidaklah mengherankan, bahkan sudah bisa diramalkan sebelumnya. Kemenangan SBY-Boediono juga didukung sosok SBY-Boediono sendiri yang dicitrakan sebagai sosok yang ngalah, nerima dalam fitnahan, dan mengabdi untuk rakyat. Falsafah manunggaling kawula gusti diambil alih dengan sempurna oleh sosok SBY-Boediono, bukan dalam sosok yang lain.
Zuly Qodir Pendidik di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta
Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dalam pemilihan presiden memberikan beberapa pelajaran penting dalam konteks politik, khususnya para kandidat dan pengamat. Hal ini akan berhubungan dengan kultur politik yang masih mempunyai pengaruh sangat besar di masyarakat Jawa khususnya.
Kerja keras yang telah dilakukan tim sukses SBY-Boediono jelas tidak dapat diabaikan. Beberapa program pencitraan yang telah dilakukan oleh tim sukses SBY-Boediono sehingga memengaruhi publik pemilih adalah suatu yang tidak bisa ditolak.
Selain program kampanye pencitraan, tim sukses telah berhasil menghipnotis publik pemilih dengan gelontoran iklan yang memberikan kesan bahwa SBY-Boediono adalah sosok yang paling tepat memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Kekuatan SBY-Boediono juga dihadirkan lewat gelontoran program pemerintah pada hari-hari mendekati pilpres berlangsung. Pencairan bantuan langsung tunai (BLT), penurunan harga bahan bakar minyak (solar, bensin, dan minyak tanah) merupakan kebijakan yang sangat berpengaruh pada orientasi publik dalam memilih calon presiden lima tahun mendatang.
Selain dari beberapa politik pencitraan yang telah sukses menggalang suara SBY-Boediono di atas, ada beberapa hal yang menjadi daya tarik masyarakat sehingga suara SBY-Boediono dapat menang mutlak dalam pilpres yang baru lalu.
Beberapa hal yang dapat menjelaskan kemenangan mereka, di antaranya, pertama, politik pencitraan masih dominan menjadi bagian dari kampanye presiden yang baru lalu.
Masyarakat Jawa yang mendominasi suara dalam pemilihan presiden- wakil presiden akan mudah tersentuh tatkala bagian ”rasa” diberi perhatian yang lebih ketimbang, sisi rasio. Sisi rasa dari kultur Jawa, antara lain, citra seseorang yang selalu disudutkan, dipojokkan, bahkan dianiaya membuat perasaan orang Jawa tersentuh sehingga menimbulkan belas kasihan.
Kultur politik Jawa tidak bisa menerima sosok yang dikesankan dipojokkan dan dianiaya oleh sebagian orang atau lawan politiknya. Apalagi, sebagian dari masyarakat berkultur Jawa ini telah merasakan apa yang menjadi bagian dari kampanye politik pro rakyat, yakni kebijakan menurunkan BBM dan memberikan bantuan secara tunai, yang secara langsung dapat dinikmati sesaat ketika masyarakat Jawa sedang kesusahan.
Bicara seperlunya
Kedua, sosok yang tidak banyak bicara, atau bicara seperlunya. Kultur Jawa lebih memilih sosok calon pemimpin yang berfalsafah, sedikit bicara tetapi banyak bekerja atau rame ing gawe sepi ing pamrih, ketimbang rame ing pamrih sepi ing gawe.
Bila ada sosok calon pemimpin yang banyak menyebarkan pernyataan, membuat statement di media apalagi statement itu dinilai oleh masyarakat Jawa meng-unggulkan dirinya dan paling berjasa, maka kultur Jawa tidak akan suka. Dampaknya adalah tidak akan simpatik lalu tidak akan memilih sosok tersebut.
Kultur Jawa menyukai sosok yang perlahan-lahan tetapi memberikan komentar seperlunya, apalagi hanya memberi komentar pada saat terdapat pernyataan yang dianggap menohok dirinya. Kultur Jawa akan sangat bersimpati pada sosok pemimpin yang demikian.
Lambat memberikan komentar dan pernyataan politik dalam kultur Jawa tak dipahami sebagai sosok peragu dan kurang responsif, tetapi malah dianggap sebagai sosok yang penuh kehati-hatian dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan karena takut salah dan tidak memihak rakyat.
Oleh sebab itu, jika ada sosok calon pemimpin yang bertindak cepat dan berpikir cepat dalam kultur Jawa akan dinilai tergesa-gesa dan tidak eling lan waspada, sehingga dianggap akan merugikan rakyat banyak. Oleh karena itu, sosok calon pemimpin seperti itu tidak akan mendapatkan simpati dan dukungan dalam kultur Jawa, alias ditolak karena dianggap membahayakan.
Istilah lebih cepat lebih baik bukanlah istilah yang lazim dalam kultur politik Jawa, sehingga tidak mampu menyedot aspirasi, atau istilah lebih cepat lebih baik tidak akan memiliki daya magnitut politik Jawa, bahkan akan menjadi bumerang.
Ketiga, kultur politik Jawa bukanlah kultur yang berani menampilkan diri di depan, tetapi kultur politik yang lebih mengutamakan ”menunggu wahyu cakraningrat”, yakni kultur manungsa pinilih lan linuwih, bukan sosok yang mencitrakan diri memiliki keinginan besar untuk dipilih, tetapi sosok yang dikehendaki rakyatnya, yakni sosok yang linuwih, tidak segera menyatakan kesediaannya untuk jadi pemimpin.
Dengan falsafah seperti itu, jika ada sosok calon pemimpin yang secara terang-terangan menyatakan dirinya siap menjadi pemimpin, siap maju jadi pemimpin rakyat, dan secara tegas menyatakan akan melakukan perubahan, kultur Jawa akan menolak, sebab sosok seperti itu dipahami akan membawa banyak bencana, ketimbang manfaat, bagi rakyat banyak yang kesusahan.
Sosok pemimpin yang linuwih, tidak ngge-ngge mangsa adalah sosok yang jadi idola masyarakat dalam kultur Jawa, sekalipun penuh tanda tanya atas apa yang menjadi pilihan politik seorang sosok itu, tetapi masyarakat berkultur Jawa tak memedulikan apa yang akan terjadi dengan sosok yang mencitrakan diri linuwih.
Dalam konteks seperti itulah, kemenangan SBY-Boediono atas dua kandidat presiden lainnya, Mega-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto yang memiliki slogan sangat berbeda dengan SBY-Boediono. Kita perhatikan slogan Mega-Pro, ”Perubahan untuk Rakyat”. Sedangkan JK-WIN dengan slogan ”Lebih cepat lebih baik” benar-benar menjadi bumerang pada pilpres yang baru lalu.
Kemenangan SBY-Boediono dengan demikian, karena memiliki falsafah politik berkultur Jawa yang sangat diminati oleh sebagian pemilih masyarakat Indonesia. Ingatlah, kultur pemilih dalam pilpres adalah masyarakat dengan kultur politik Jawa, yang menekankan dimensi ngalah, linuwih, lan tut wuri hanyani. Kultur politik Jawa bukanlah kultur politik tergesa-gesa, berani menyatakan diri, dan cepat.
Dengan mempergunakan penjelasan kultur politik Jawa, kemenangan SBY-Boediono tidaklah mengherankan, bahkan sudah bisa diramalkan sebelumnya. Kemenangan SBY-Boediono juga didukung sosok SBY-Boediono sendiri yang dicitrakan sebagai sosok yang ngalah, nerima dalam fitnahan, dan mengabdi untuk rakyat. Falsafah manunggaling kawula gusti diambil alih dengan sempurna oleh sosok SBY-Boediono, bukan dalam sosok yang lain.
Zuly Qodir Pendidik di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta







