1
Bali dalam Aneka Persoalan Kultural on Tue Aug 04, 2009 3:02 pm
Judul : Warisan Jagal
Pengarang : IBW Widiasa Keniten
Tebal : 41 halaman
Penerbit : Sanggar Burat Wangi Amlapura, 2009
SEBAGAI pengarang, IBW Widiasa Keniten tampaknya memanfaatkan faktor kedekatan sosial kultural Bali dalam melahirkan cerpen-cerpennya. Faktor kedekatan itu dalam istilah linguistik dikenal dengan konsep here and now. Konsep ini mencerminkan kekuatan kedisinian dan kekinian.
Konsep itu jelas tersirat dalam cerpen-cerpen IBW Widiasa Keniten yang terangkum dalam buku "Warisan Jagal" ini. Buku yang memuat sembilan cerpen ini masih tetap suntuk menggali persoalan masyarakat Bali dalam konteks kultural yang penuh dinamika tanpa henti. Paling tidak, ada empat persoalan menonjol yang digarap Widiasa Keniten dalam buku ini, yaitu persoalan tanah, wangsa, ekonomi, dan politik yang dikemas dengan kekuatan sosiokultural Bali.
Persoalan tanah tersirat dalam cerpen "Warisan" dan "Bapa Gedur". Kedua cerpen ini berkisah tentang konflik tanah. Konflik antara kepentingan pragmatisme ekonomi dan idealisme pewaris tanah Bali. Konflik internal keluarga (saudara kakak beradik) terjadi dalam "Warisan" dengan pemicu hak atas tanah, antara laki-laki dan perempuan. Sementara itu, dalam "Bapa Gedur" konflik terjadi antara Bapa Gedur sebagai Kelihan Subak dan investor yang ingin menguasai tanah Bali.
Kedua cerpen itu menyiratkan konflik masyarakat Bali, tidak saja terjadi secara internal antarsesama krama Bali, juga terjadi secara eksternal, antara krama Bali dengan pihak luar. Yang menarik, ranah konflik diselesaikan tanpa kekerasan. Pada "Warisan", tokoh perempuan (Nengah) mengakhiri konflik dengan pasrah dan mulat sarira. "Tiang tusing nyangetang. Purane ane peteng lemah kenehang tiang. Warisan tiange ane baktinin tiang suba tusing ada. Jani dija buin tiang ngalih pura kawitan tiange?. Inguh gati keneh tiang." (hal. 4). Sementara dalam "Bapa Gedur", konflik diakhiri dengan perjalanan spiritual. "Eda sanget ngenehang Bapa. Bapa ngalihin Gede ajak Memene. Bapa suba luas ngaja kanginang.'' (hal. 23).
Tokoh perempuan (Nengah) dan laki-laki (Bapa Gedur) menempatkan idealisme terhadap tanah dengan cara spiritual. Eksplorasi spiritualistik ke dalam ranah cerpen bisa jadi merupakan representasi pengarang terhadap upaya mengajegkan sendi-sendi budaya luhur Bali, terutama dalam mengajegkan Bali. Mustahil mengajegkan Bali tanpa proteksi terhadap tanah Bali.
Persoalan Ekonomi
Lalu, persoalan ekonomi tersirat dalam cerpen "Dadong Sengol" dan "Ngantre". Dalam "Dadong Sengol" dikisahkan tokoh Dadong Sengol adalah tokoh yang konsisten terhadap pekerjaan, berjualan air. Alasannya sangat sederhana, "apang tis". Bekerja bagi Dadong Sengol adalah ibadah. "Ngaturang isin kenehne ring Sang Hyang Widhi. Ngaturang suksma ring kawitanne.'' (hal. 11). Di sini Dadong Sengol tidak saja menyindir persaingan hidup yang kian panas dalam dunia perdagangan, tetapi juga memberikan kesejukan di tengah panasnya persaingan. "Sinah suba rasanga teken Dadong Sengol sayan ngejohang anake teken tis. Sinah suba tawanga teken Dadong Sengol panese sayan ngrubeda di kenehe." (hal. 10).
Cerpen "Ngantre" juga memperkarakan ekonomi sebagai tema. Hanya saja, cerpen ini lebih mengedepankan persoalan aktual, khususnya dalam pembagian BLT. "Ngantre" lebih merupakan respons terhadap kebijakan ekonomi pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Ada tokoh perempuan dicitrakan berjuang dengan sabar menunggu antrean, sedangkan tokoh laki-laki justru mengejek cara perempuan itu. Namun, ketika perempuan berhasil menerima BLT berkat kesabaran antre, justru laki-laki yang menghabiskan uangnya untuk berjudi.
Selanjutnya, persoalan wangsa juga menyelinap dalam cerpen "Treh" dan "Mulih". "Treh" memang tidak secara eksplisit menggambarkan wangsa, tetapi lebih menjadikan pekerjaan balian sebagai treh yang juga tidak luput dari persaingan antar-balian. Cerpen yang secara eksplisit menggambarkan wangsa adalah konflik yang terjadi dalam "Mulih". Cerpen ini merupakan potret perkawinan antar-wangsa yang penuh kritik dan konflik. "Kulawargan tiange sayan ngedegang. Sayan ngedesemin awak tiange. Tiang tusing dadi mulih. Apa buin mabakti ka mrajan kawitan... ulian solah tiange ninggalin wangsa." (hal. 30).
Persoalan Politik
Sementara itu, persoalan politik bisa dibaca dalam "Luh Gisha" dan "Jagal". Kedua cerpen ini mengambil setting waktu tempo dulu, yang membuat pengarangnya berkisah dengan alur flashback. "Luh Gisha" mengambil latar waktu penjajahan Jepang, sedang "Jagal" masa Gestok. Dua latar berbeda telah melahirkan konflik antar-tokoh yang berbeda pula. Jika dalam "Luh Gisha" konflik terjadi antara bangsa penjajah (Jepang) dengan Indonesia, maka dalam "Jagal" konflik terjadi secara internal.
Dalam "Jagal", pengarang berhasil mengekplorasi bahasa dengan kekuatan polisemik, sebagaimana dieksprimenkan Gde Artawan dalam kumpulan cerpen "Petarung Jambul". Sebagaimana polisemi dalam semantik, "Jagal" dieksplorasi dari tukang jagal babi ke ranah sarkastik yang mengingatkan pada masa pembantaian orang tak bersalah zaman Gestok. Yang menarik lagi, "Luh Gasha" maupun "Jagal diakhiri dengan cerita menggantung.
Dari semua cerpen yang dibicarakan di atas, sesungguhnya berada dalam satu pusaran cerita yang mengeksplorasi budaya Bali. Eksplorasi demikian, berpuncak dalam cerpen "Med-medan". Dari judulnya saja, "Med-medan" adalah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun di sebuah desa setiap Ngembak Geni. Di sini pengarang memberikan sentuhan aktual melalui wacana fornografi, yang tidak jelas parameternya.
Begitulah Widiasa Keniten telah berhasil menelusuri secara intens aneka persoalan kultural Bali dalam cerpen-cerpennya tanpa kehilangan aktualitas. Persoalan beragam yang mencuat ke permukaan diimajinasikan, kemudian disajikan dalam cerita yang mencitarasakan masakan khas yang bernama budaya Bali. Itu artinya, pengarang menumpukan harapan pada budaya Bali dalam proses kreatifnya.
Namun, meskipun pengarangnya seorang guru, cerpen garapannya sangat minim menyenggol persoalan yang langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan formal. Agaknya, Widiasa Keniten ingin mencitrakan diri tidak hanya sebagai guru yang dibatasi oleh empat tembok ruang kelas, tetapi juga menjadi guru bagi masyarakat yang tak terikat kelasnya. Oleh karena itu, buku ini pantas dijadikan renungan bagi siapa saja yang peduli Bali, peduli budaya Bali, peduli sastra Bali.
* i nyoman tingkat
Pengarang : IBW Widiasa Keniten
Tebal : 41 halaman
Penerbit : Sanggar Burat Wangi Amlapura, 2009
SEBAGAI pengarang, IBW Widiasa Keniten tampaknya memanfaatkan faktor kedekatan sosial kultural Bali dalam melahirkan cerpen-cerpennya. Faktor kedekatan itu dalam istilah linguistik dikenal dengan konsep here and now. Konsep ini mencerminkan kekuatan kedisinian dan kekinian.
Konsep itu jelas tersirat dalam cerpen-cerpen IBW Widiasa Keniten yang terangkum dalam buku "Warisan Jagal" ini. Buku yang memuat sembilan cerpen ini masih tetap suntuk menggali persoalan masyarakat Bali dalam konteks kultural yang penuh dinamika tanpa henti. Paling tidak, ada empat persoalan menonjol yang digarap Widiasa Keniten dalam buku ini, yaitu persoalan tanah, wangsa, ekonomi, dan politik yang dikemas dengan kekuatan sosiokultural Bali.
Persoalan tanah tersirat dalam cerpen "Warisan" dan "Bapa Gedur". Kedua cerpen ini berkisah tentang konflik tanah. Konflik antara kepentingan pragmatisme ekonomi dan idealisme pewaris tanah Bali. Konflik internal keluarga (saudara kakak beradik) terjadi dalam "Warisan" dengan pemicu hak atas tanah, antara laki-laki dan perempuan. Sementara itu, dalam "Bapa Gedur" konflik terjadi antara Bapa Gedur sebagai Kelihan Subak dan investor yang ingin menguasai tanah Bali.
Kedua cerpen itu menyiratkan konflik masyarakat Bali, tidak saja terjadi secara internal antarsesama krama Bali, juga terjadi secara eksternal, antara krama Bali dengan pihak luar. Yang menarik, ranah konflik diselesaikan tanpa kekerasan. Pada "Warisan", tokoh perempuan (Nengah) mengakhiri konflik dengan pasrah dan mulat sarira. "Tiang tusing nyangetang. Purane ane peteng lemah kenehang tiang. Warisan tiange ane baktinin tiang suba tusing ada. Jani dija buin tiang ngalih pura kawitan tiange?. Inguh gati keneh tiang." (hal. 4). Sementara dalam "Bapa Gedur", konflik diakhiri dengan perjalanan spiritual. "Eda sanget ngenehang Bapa. Bapa ngalihin Gede ajak Memene. Bapa suba luas ngaja kanginang.'' (hal. 23).
Tokoh perempuan (Nengah) dan laki-laki (Bapa Gedur) menempatkan idealisme terhadap tanah dengan cara spiritual. Eksplorasi spiritualistik ke dalam ranah cerpen bisa jadi merupakan representasi pengarang terhadap upaya mengajegkan sendi-sendi budaya luhur Bali, terutama dalam mengajegkan Bali. Mustahil mengajegkan Bali tanpa proteksi terhadap tanah Bali.
Persoalan Ekonomi
Lalu, persoalan ekonomi tersirat dalam cerpen "Dadong Sengol" dan "Ngantre". Dalam "Dadong Sengol" dikisahkan tokoh Dadong Sengol adalah tokoh yang konsisten terhadap pekerjaan, berjualan air. Alasannya sangat sederhana, "apang tis". Bekerja bagi Dadong Sengol adalah ibadah. "Ngaturang isin kenehne ring Sang Hyang Widhi. Ngaturang suksma ring kawitanne.'' (hal. 11). Di sini Dadong Sengol tidak saja menyindir persaingan hidup yang kian panas dalam dunia perdagangan, tetapi juga memberikan kesejukan di tengah panasnya persaingan. "Sinah suba rasanga teken Dadong Sengol sayan ngejohang anake teken tis. Sinah suba tawanga teken Dadong Sengol panese sayan ngrubeda di kenehe." (hal. 10).
Cerpen "Ngantre" juga memperkarakan ekonomi sebagai tema. Hanya saja, cerpen ini lebih mengedepankan persoalan aktual, khususnya dalam pembagian BLT. "Ngantre" lebih merupakan respons terhadap kebijakan ekonomi pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Ada tokoh perempuan dicitrakan berjuang dengan sabar menunggu antrean, sedangkan tokoh laki-laki justru mengejek cara perempuan itu. Namun, ketika perempuan berhasil menerima BLT berkat kesabaran antre, justru laki-laki yang menghabiskan uangnya untuk berjudi.
Selanjutnya, persoalan wangsa juga menyelinap dalam cerpen "Treh" dan "Mulih". "Treh" memang tidak secara eksplisit menggambarkan wangsa, tetapi lebih menjadikan pekerjaan balian sebagai treh yang juga tidak luput dari persaingan antar-balian. Cerpen yang secara eksplisit menggambarkan wangsa adalah konflik yang terjadi dalam "Mulih". Cerpen ini merupakan potret perkawinan antar-wangsa yang penuh kritik dan konflik. "Kulawargan tiange sayan ngedegang. Sayan ngedesemin awak tiange. Tiang tusing dadi mulih. Apa buin mabakti ka mrajan kawitan... ulian solah tiange ninggalin wangsa." (hal. 30).
Persoalan Politik
Sementara itu, persoalan politik bisa dibaca dalam "Luh Gisha" dan "Jagal". Kedua cerpen ini mengambil setting waktu tempo dulu, yang membuat pengarangnya berkisah dengan alur flashback. "Luh Gisha" mengambil latar waktu penjajahan Jepang, sedang "Jagal" masa Gestok. Dua latar berbeda telah melahirkan konflik antar-tokoh yang berbeda pula. Jika dalam "Luh Gisha" konflik terjadi antara bangsa penjajah (Jepang) dengan Indonesia, maka dalam "Jagal" konflik terjadi secara internal.
Dalam "Jagal", pengarang berhasil mengekplorasi bahasa dengan kekuatan polisemik, sebagaimana dieksprimenkan Gde Artawan dalam kumpulan cerpen "Petarung Jambul". Sebagaimana polisemi dalam semantik, "Jagal" dieksplorasi dari tukang jagal babi ke ranah sarkastik yang mengingatkan pada masa pembantaian orang tak bersalah zaman Gestok. Yang menarik lagi, "Luh Gasha" maupun "Jagal diakhiri dengan cerita menggantung.
Dari semua cerpen yang dibicarakan di atas, sesungguhnya berada dalam satu pusaran cerita yang mengeksplorasi budaya Bali. Eksplorasi demikian, berpuncak dalam cerpen "Med-medan". Dari judulnya saja, "Med-medan" adalah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun di sebuah desa setiap Ngembak Geni. Di sini pengarang memberikan sentuhan aktual melalui wacana fornografi, yang tidak jelas parameternya.
Begitulah Widiasa Keniten telah berhasil menelusuri secara intens aneka persoalan kultural Bali dalam cerpen-cerpennya tanpa kehilangan aktualitas. Persoalan beragam yang mencuat ke permukaan diimajinasikan, kemudian disajikan dalam cerita yang mencitarasakan masakan khas yang bernama budaya Bali. Itu artinya, pengarang menumpukan harapan pada budaya Bali dalam proses kreatifnya.
Namun, meskipun pengarangnya seorang guru, cerpen garapannya sangat minim menyenggol persoalan yang langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan formal. Agaknya, Widiasa Keniten ingin mencitrakan diri tidak hanya sebagai guru yang dibatasi oleh empat tembok ruang kelas, tetapi juga menjadi guru bagi masyarakat yang tak terikat kelasnya. Oleh karena itu, buku ini pantas dijadikan renungan bagi siapa saja yang peduli Bali, peduli budaya Bali, peduli sastra Bali.
* i nyoman tingkat







