BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Menuliskan Kemungkinan-kemungkinan on Mon Jul 20, 2009 4:30 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Judul : Keranda Emas
Pengantar: Jiwa Atmaja
Tebal : xii + 139 halaman
Penerbit : Youth Corner Publisher

DUGAAN bahwa puisi adalah seni kesusastraan yang terpencil di lingkungannya agaknya mulai bergeser. Saat ini, puisi dan ruang kepenyairan mulai dianggap sebagai sebuah trend populer di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Hal-hal yang berbau dengan puisi akan sangat mudah ditemui di lingkungan tersebut.

Modifikasi puisi ke dalam bentuk aktivitas-aktivitas populer mulai banyak digelar oleh anak muda di berbagai tempat, disesuaikan dengan bidang yang mereka senangi. Sebut saja dalam seni musik, tidak sedikit pergelaran musik yang mulai mengkolaborasikan antara sajak dengan bunyi instrumental. Di dalam seni visual, penggabungan puisi dan media gambar juga banyak ditemui. Bahkan di sebuah situs jejaring sosial, tidak sedikit anak yang menampilkan sajak sebagai pengantar pribadi.

Hal tersebut membuktikan bahwa keterpencilan puisi sudah tidak lagi relevan untuk dijadikan bahan keluh kesah akan dugaan di atas. Kekurangminatan kaum muda pada puisi yang selama ini menjadi tuduhan yang dilontarkan dari kaum pelaku seni tersebut, tidak lebih hanyalah sebuah ketakutan yang berlebihan. Sebuah pendapat yang lebih halus akan stagnasi dan pragmatisme dari pelaku seni tersebut. Namun tidak bermaksud untuk mengolok, bahwa puisi tidak selamanya harus menjadi seni puritan yang patuh pada pakem-pakem konseptis. Bahwa rima dan diksi menjadi satu-satunya tolak ukur untuk menilai kedalaman sebuah sajak.

Dalam puisi, bahasa sebagai bahan estetik, tidak harus menjadi simbol individual para pelakunya. Kalau tidak, pembaca akan kesulitan menemukan titik komunikasi dan tentu itu akan mengaburkan maksud yang hendak disampaikan, apalagi nilai moral yang terkandung di dalamnya. Hal itu membuat masyarakat menjadi acuh dan kemudian mengucilkannya. Bila sebuah sajak mampu menjadi sebuah situasi verbal yang komunikatif, tidak mungkin puisi menjadi barang rongsokan yang akan ditinggalkan begitu saja.

Bukankah itu degradasi dan pendangkalan dari kedalaman puisi? Tidak ada yang dangkal dari sebuah kata. Selama puisi masih memakai bahasa sebagai media, selama itu pula puisi akan selalu menjadi ruang komunikatif yang dinamis. Oleh karena itu, diksi yang menjadi pilihan bagi pengarang hendaknya diambil dari idiom yang terdekat dan dapat dikenali oleh pembacanya. Idiom yang terdekat dan dapat dikenal, tentu saja bahasa yang sehari-hari dipakai. Idiom-idiom asing hanya akan mengacaukan komunikasi. Jika komunikasi terganggu, bagaimana sebuah estetika akan dapat dimunculkan?

Situasi Estetik

Dalam buku antologi puisi ''Keranda Emas'' oleh 21 penulis yang ada di Bali, menunjukkan bahwa penggunaan idiom-idiom sederhana yang seringkali didengar dalam kehidupan sehari-hari ternyata mampu menjadi sebuah situasi estetik yang komunikatif. Bahkan dalam beberapa sajak, sebuah idiom lokal mampu menjadi sebuah sugesti positif yang selama ini tidak dipikirkan sebelumnya.

Seperti dalam sajak ''Warung Kecil'', Dwitra meletakkan ''Ah aku lupa!'' pada bait ketiga dan kemudian meneruskan dengan idiom ''Hari Saraswati'' untuk mempertegas situasi sebenarnya pada masyarakat Bali akan pentingnya Hari Saraswati. Tentu saja, situasi estetik yang lahir dalam sajak itu adalah sebuah sugesti kepada masyarakat bahwa tentu bukan ritual saja yang semestinya dilakukan, tetapi juga nilai kesakralan dalam upacara keagamaan tersebut. Kemudian pada bait terakhir ditutup dengan dua baris yang cukup sentimental, ''Nanti malam bercinta'' dan ''Besok pagi melebur dosa''.

Pada sajak lain, ''Episode Seorang Pemahat'' dengan jelas Surya Kencana mencoba untuk mengungkapkan dengan tegas situasi sosial yang dia alami sebagai individu dengan meninggalkan titik perenungan yang secara garis besar juga dialami juga oleh sosial yang lebih luas. Juga dalam sajak ''Empat Puluh Kilometer dari Denpasar'', Ketut Sudiani memaparkan pengalamannya sebagai bagian dari kelompok sosial ke dalam sebuah situasi verbal yang penuh dengan sugesti.

Dalam situasi yang berbeda dan lebih terkesan popular, Arya Lesmana, Giri Ratomo, Dayu Arini, dan Satrio Welang mengungkapkan sebuah kondisi masyarakat yang penuh gejolak. Sajak-sajak yang mereka ciptakan seperti menjadi catatan dari peristiwa-peristiwa monumental yang terjadi, baik secara individual maupun sosial. Betapa sebuah kegelisahan dari suatu generasi tergambar begitu jelas. Sebuah apresiasi sosial dan kemudian diimplikasikan dengan bahasa secara personal. Ada kesan spontanitas dan cenderung kasar dalam sajak mereka. Namun idiom yang dipakai masih dapat dikenali oleh satu generasi sesamanya.

Bagi mereka, lantas puisi tidak lebih menjadi catatan diari yang harus disebarkan. Disusun dan dibukukan dalam tampilan yang sewajarnya. Sewajarnya sesuai dengan jiwa zaman dari generasi mereka. Sesuai dengan kreativitas dan spontanitas para penulis yang terkumpul di dalamnya. Serta sekreatif dan sespontan proses pembuatan buku tersebut. Dari banyak bantuan tangan dan kemungkinan-kemungkinan. Mungkinkah Anda membacanya?



* sudarmono

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum