BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Judul : Tumpek Kandang, Kearifan Lokal Bali untuk Pelestarian dan Pengembangan Sumber Daya Ternak
Penulis : I Dewa Gede Alit Udayana
Epilog : Wayan Supartha
Tebal : i-xii, 148 halaman
Penerbit : Pustaka Bali Post

SULIT terbantahkan kalau orang Bali yang beragama Hindu sejatinya memang sangat menghormati alam semesta. Hampir dalam segala aktivitas kesehariannya intinya bersyukur kepada alam, karena alam telah memberi penghidupan. Dengan kata lain, wujud sembah bakti kepada Tuhan, tidak semata-mata terwujud dari ketekunan dalam menyembahNya, tetapi diungkapkan juga dengan menghormati dan memelihara alam semesta dengan segala isinya.

Makanya, kehadiran buku "Tumpek Kandang, Kearifan Lokal Bali untuk Pelestarian dan Pengembangan Sumber Daya Ternak" ini patut disambut hangat oleh siapa saja yang peduli dengan lingkungan, khususnya ternak. Para pemerhati Bali atau menaruh minat dengan sosio budaya Bali, belumlah lengkap jika tidak membaca buku ini. Kehadiran buku ini oleh penulis dimaksudkan untuk memperkaya khasanah pengetahuan, khususnya yang mengaitkan makna upacara Tumpek Kandang sebagai salah satu kearifan lokal, dengan berbagai aspek kehidupan dan peranannya dalam pelestarian dan pengembangan sumber daya ternak, khususnya di Bali.

Penulis buku ini adalah dosen di Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Pada pendahuluan, penulis memaparkan kembali keunikan Bali yang telah sejujurnya diakui oleh orang-orang dari mancanegara. Penulis menggambarkan bagaimana Bali dan upacara, yang tidak saja banyak jumlahnya, tapi banyak ragamnya. Namun kalau ditelusuri, makna sejati adalah satu ungkapan rasa syukur dan bakti kepada sang pencipta.

Salah satu contoh upacara Tumpek Kandang sebagai bentuk ucapan terima kasih orang Hindu, khususnya di Bali kepada Hyang Widhi atas terciptanya binatang sebagai teman hidup manusia, serta telah memberi begitu banyak manfaat bagi manusia. Keunikan Bali yang belakangan mulai dikhawatirkan banyak pihak, mendapat ulasan yang memadai pada bagian satu buku ini.

Di bagian kedua, penulis mengkaji tinjauan filosofis dari Tumpek Kandang. Mulai dari yajna sebagai upaya mendekatkan diri, Tumpek Kandang sebagai salah satu kearifan lokal Bali, usaha pelestarian alam, sampai pada adanya kontradiksi dengan adanya persembahan binatang pada upacara Hindu. Ulasan yang cukup komprehensif akan memberi pemahaman kepada pembaca bagaimana sebenarnya umat Hindu di Bali menempatkan binatang dalam hidup keseharian.

Konteks Kekinian

Dalam konteks kekinian, dibahas Tumpek Kandang dan usaha pelestarian lingkungan dalam kaitannya dengan ekologi keseimbangan. Menurut pandangan Hindu, tujuan hidup (mencapai dharma, artha, kama dan moksa) baru bisa tercapai jika umat Hindu berhasil mensejahterakan alam. Sebaliknya, tujuan hidup itu tidak pernah akan tercapai di atas kerusakan alam.

Bagaimana kita bisa hidup tenang kalau tanah longsor datang secara berkala akibat hutan di hulu telah terbabat. Bagaimana penduduk bisa tidur pulas kalau setiap saat harimau belang datang mengamuk akibat habitatnya dirusak oleh si manusia yang mengaku beradab. Kejadian terakhir terjadi di Jambi baru-baru ini, dua orang warga meninggal disergap harimau Sumatera. Sekali lagi, hanya dalam keharmonisan alamlah tujuan hidup mulia manusia bisa terwujud.

Di agian ketiga, penulis mengaitkan Tumpek Kandang dengan budaya, adat istiadat dan agama Hindu di Bali. Di Bali terkadang sangat sulit membedakan mana adat, budaya dan agama. Ketiganya sangat terkait. Pelaksanaan upacara agama di Bali selalu ditunjang adat istiadat setempat. Makanya upacara agama antara satu desa dengan desa yang lainnya sering agak berbeda, meskipun esensinya sama.

Demikian juga budaya Bali, rohnya adalah agama Hindu. Binatang dalam kehidupan orang Bali sama pentingnya dengan kehadiran teman, bahkan saudara. Dalam teologi Hindu, binatang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi sebagai teman manusia. Sang Hyang Rareangon adalah Dewa dari sekalian binatang telah menjadi keyakinan umat Hindu. Itulah sebabnya mengapa umat Hindu betapa binatang.

Bukan saja ketika manusia masih hidup binatang menjadi teman, sesudah mati pun manusia sangat dekat. Ketika dilangsungkan upacara ngaben, tempat pembakaran jenazah dibuat berbentuk lembu sebagai lambang alam semesta atau bumi. Tujuan ngaben melepaskan atman dari ikatan badan kasar yang terdiri atas panca maha bhuta melalui lembu -- lambang alam semesta yang terdiri dari unsur panca maha bhuta.

Tetap Peduli

Yang juga menarik adalah bagian keempat buku ini. Sekalipun orang Hindu Bali demikian kukuhnya mempertahankan adat dan budaya, bukan berarti mereka tak peduli dengan aktivitas sosial yang cenderung berkembang dinamis. Bukan pula lantas tabu dengan kalkulasi ekonomi, manakala binatang telah menjadi komoditi yang harus diperdagangkan dengan prinsip untung rugi.

Ketika peternakan menjadi bagian hidup orang Bali -- dalam usaha skala kecil-tradisional maupun skala besar, tetap saja binatang ditempatkan sebagai sahabat yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Setiap kali Tumpek Kandang datang, dengan penuh suka cita orang Hindu Bali yang memelihara ternak membuat sesaji, dipersembahkan kepada sang Pencipta serta diiringi doa memohon agar ternak piaraannya sehat dan cepat beranak pinak. Ternak diberi makan dan dirawat dengan baik, dijaga kesehatannya.

Seorang nenek di kampung selalu menembang pangkur ketika memberi makan babi di belakang rumahnya sambil mengelus-elus punggung babinya. Itulah sebuah bentuk kasih sayang seseorang kepada ternak. Namun, tahukah orang kalau apa yang dilakukan nenek itu secara ilmiah ada maknanya? Jika seekor babi makan dalam suasana tenang, maka proses metabolisme dalam tubuhnya akan berjalan optimal. Akibatnya, nafsu makan akan meningkat, konsumsi pakannya bertambah, dan pertumbuhan babi akan baik. Babi akan cepat besar, cepat bisa dijual. Cukup ilmiah, bukan?

Di bagian penutup, penulis mengulas betapa binatang yang diternakan telah memberi jasa luar biasa kepada hidup manusia. Ingar-bingar pariwisata yang secara spektakuler mampu pengangkat perekonomian masyarakat Bali, di dalamnya juga ada andil peternakan. Bagaimana dan seberapa besar subsektor peternakan memberi kontribusi dalam pengembangan pariwisata dan mengangkat perekonomian masyarakat Bali diulas detil pada dua judul tulisan terakhir. Buku ini menjadi lebih sempurna setelah ditutup dengan satu epilog berjudul "Tentang Korban Binatang dalam Upacara" oleh Wayan Supartha, seorang pemerhati masalah adat, budaya, dan agama.

Secara keseluruhan, isi buku ini menarik dan bahasanya mengalir. Cuma ada hal kecil yang mengganggu. Penggunaan kata "seperti" yang kurang tepat. Contoh: ternak kecil seperti ayam, itik, dst-nya. (hal.19) menurut EYD tidak pas. Seharusnya: ternak kecil antara lain ayam, itik dst-nya. Kata "seperti" digunakan pada kalimat pengandaian. Suaranya merdu seperti buluh perindu. Matanya bulat seperti bola. Hal lain, foto-foto pendukung ada yang kurang fokus dan kalau dicetak berwarna tentu lebih bagus. Konsekuensinya, harga buku akan lebih mahal.

* komang budaarsa

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum