BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Di Bawah Purnama on Mon Jul 27, 2009 5:59 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA


Oleh : DEEPEE

Mulya menatap rembulan penuh yang berayun pelan di atas langit kampungnya yang sesak. Sinarnya yang temaram jatuh di sela-sela tembok rumah yang berhimpitan, di gang-gang sempit, di atap-atap rumah yang usang, juga di air selokan yang hitam pekat dan berbau busuk. Angin yang bertiup sesekali menebarkan hawa dingin yang menusuk. Dia menaikan kerah sweater unggu mudanya sampai ke leher. Bangku bambu tua di beranda rumahnya yang tak seberapa lebar berkeriut ketika dia menaikan lututnya hingga ke dada dan mendekapnya erat-erat.

Usianya sudah mendekati dua puluh delapan tahun. Teman-teman sebayanya sudah mempunyai satu, dua, bahkan empat orang anak. Sebutan perawan tua perlahan tapi pasti mulai melekat pada dirinya. Tadinya Mulya tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan ini, banyak perempuan-perempuan lain di luar sana yang baru menikah di atas usia tiga puluh tahun bahkan empat puluh tahun.

Sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya dimana peran perempuan hanya sebatas dapur, sumur, dan kasur. Perempuan sekarang sudah jauh lebih maju. Lebih punya banyak pilihan dan kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarir atau apapun yang dia inginkan selama dia mampu. Tapi dia bukan wanita karier, dia hanya perempuan kampung biasa yang pekerjaan sehari-harinya memang hanya sebatas urusan rumah tangga. Paling-paling membantu ibunya menunggui warung kelontong mereka yang kecil di ujung gang sana. Lama kelaman sebutan perawan tua itu membuat telinganya panas juga. Dia tidak bisa memberikan alasan yang tepat setiap kali tetangga atau teman-temannya bertanya, “ Kenapa, sih kamu belum juga menikah dengan si Nasrul? Tunggu apalagi, Mul?"

Menikah. Setiap kali mendengar kata itu hatinya bergemuruh galau. Berbagai macam pikiran bertempur satu sama lain dalam kepalanya. Siapa, sih perempuan yang tidak ingin menikah? Semua perempuan yang normal dan berakal sehat ingin menikah. Tapi pernikahan bukan sekedar ritual. Pernikahan bukan sekedar pesta dengan hiburan dangdut atau layar tancap. Pernikahan bukan hanya sekedar pelampiasan nafsu syahwat antara laki-laki dan perempuan.

Lebih dari itu, pernikahan berarti membangun rumah tangga yang sakinah. Anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga mereka kelak menjadi manusia-manusia yang saleh dan saleha. Dan itu semua tidak gratis. Semua itu memerlukan modal. Bukan hanya modal kasih sayang dan cinta tapi yang paling penting adalah modal berupa materi. Apa semua itu bisa di dapatnya jika dia menikah dengan Nasrul, laki-laki yang kehidupan ekonominya tak lebih baik darinya?
................
Bulan bergerak perlahan dan menghilang dari pandangannya. Kini Nasrul hanya bisa memandangi jejeran awan-awan hitam yang juga tidak mau diam. Dia menarik rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya perlahan ke angkasa yang kelam. Wajahnya nampak begitu suram. Lima tahun sudah dia memacari Mulya, tapi dia tak juga berani mengambil tindakan untuk menikahinya.
"Sebagai laki-laki kau terlalu pengecut, Rul," terkenang lagi perkataan Totong kawan sepermainannya yang kini sudah punya lima anak dengan istrinya, Pipin, yang tak lain adalah mantan pacarnya.
"Yang penting menikah sajalah dulu, urusan hidup ke depan, mah, urusan entar. Apa kau mau kehilangan Mulya seperti kau kehilangan Pipin karena kau tidak pernah berani mengajaknya menikah, iya?"

Tapi dia tidak bisa. Apa yang bisa di harapkan dari seorang laki-laki yang tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap seperti dirinya? Untuk biaya pernikahan saja sudah dapat di pastikan dia harus gali lubang tutup lubang. Mencari pinjaman kesana kemari, karena uang hasil kerja serabutannya hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah-adik-adiknya. Apalagi untuk hidup ke depan? Nasrul tidak ingin seperti Totong yang menikah dengan uang hasil penjualan tanah ayah mertuanya dan tabungan istrinya. Tidak. Sebagai laki-laki Nasrul masih punya harga diri.

Nasrul meraih gelas kopinya, menghirupnya, dan dengan susah payah menelan airnya yang sudah dingin dan pahit masuk dalam tenggorokannya yang kering. Nasrul tahu, kekasihnya tidak pernah mempersoalkan statusnya yang miskin. Mulya adalah perempuan yang cantik, manis, menarik, ramah, lemah-lembut, dan penuh perhatian.

Tidak susah buatnya untuk mendapatkan laki-laki yang lebih mapan bahkan yang jauh lebih kaya darinya, tapi kenyataannya Mulya lebih memilih dirinya. Hanya saja dia merasa harus bertanggung jawab penuh atas hidup perempuan yang di kasihinya itu. Dia tidak ingin menelantarkannya, tidak ingin membiarkannya terus hidup dalam kesusahan. Dia ingin dan harus membahagiakannya lahir dan batin. Apalagi jika kelak mereka mempunyai keturunan. Nasrul tidak ingin anak-anaknya mempunyai nasib yang sama dengan kedua orang tuanya. Mereka harus mendapatkan penghidupan yang layak, tempat tinggal yang layak, makanan yang layak, pakaian yang layak dan pendidikan yang layak. Tapi apakah semua itu bisa terjadi dengan kondisi ekonominya sekarang ini? Rasanya tidak.

Nasrul mengambil lagi sebatang rokok dari bungkusnya dan membakarnya, asapnya yang kebiruan menghilang cepat terbawa angin malam yang semakin dingin. Sebenarnya Mulya sudah melarangnya merokok. Boros, katanya. Tapi malam ini dia benar-benar butuh merokok. Ketakutannya ini mungkin akan sirna ketika dia sudah mencapai kemapanan. Tapi mapan itu apa dan kapan hal itu terjadi? Dia sendiri tidak bisa menjawabnya. Hidupnya terlalu statis. Sementara waktu tak mau menunggu. Usianya dan usia Mulya terus merangsek naik. Dia laki-laki, tidak ada masalah jika dia menikah di usia yang paling tua sekalipun, tapi Mulya?

“Kalau kamu mau mencari laki-laki yang lebih mapan, aku tidak bisa menahanmu," ujarnya pada kekasihnya itu suatu ketika. Sebuah pernyataan yang menunjukan kepasrahan yang bodoh. Habis mau bagaimana lagi? Barangkali melepaskan Mulya dan membiarkannya di persunting oleh laki-laki yang jauh lebih baik adalah satu-satunya cara untuk membahagiakan perempuan terkasihnya itu ketimbang mempertahankannya dan membuatnya menderita seumur hidup.
...............
Kebahagian tidak selalu di dapat dari harta benda dan harta benda tidak selalu menjamin kebahagian, Mulya paham betul akan hal itu. Tetapi Dunia sekarang bukan lagi dunia tempat hidup nenek moyang kita dahulu, dimana segala sesuatu bisa di dapat begitu saja dari alam. Kita tidak lagi bisa menukar beras dengan singkong, menukar garam dengan ikan dan semacamnya. Dunia yang sekarang adalah dunia yang penuh dengan ke-hartabendaan. Segalanya di ukur dan di dapat lewat materi, materi, dan materi. Termasuk dalam urusan percintaan dan rumah tangga. Meski bukan satu-satunya, materi merupakan tiang pancang yang tidak boleh diabaikan bahkan sudah menjadi syarat mutlak yang harus terpenuhi.

Lalu terbayanglah wajah Pipin, sahabatnya. Dulu dia adalah seorang perempuan yang cantik dan enerjik. Meski hanya lulusan SMA dia pernah bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang lumayan besar dengan gaji yang cukup besar pula, sehingga dia mampu menyokong ekonomi keluarganya. Tapi lihatlah dia sekarang, setelah menikah kehidupannya jauh berubah. Wajahnya selalu terlihat kuyu dan layu, badannya yang kurus selalu terbalut daster yang kumal. Tak ada lagi blouse, rok, dan kemeja kantor yang rapi dan manis. Sejak menikah Pipin sudah tak lagi bekerja di perusahaan itu. Peraturan perusahaan tidak mengijinkan perempuan yang sudah menikah untuk tetap bekerja.

Kini dia menggantikan jejak ibunya berjualan gado-gado untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, karena sang suami hanyalah seorang kenek pasir yang tidak setiap hari bekerja. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang kecil dan sumpek dengan lima orang anak mereka yang masih kecil-kecil dan selalu terlihat kekurangan gizi. Mulya tidak ingin menjadi seperti Pipin “Aku capek hidup susah!" batinnya berteriak. “Aku ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, boleh, kan?"
..............
Nasrul mengambil batang rokoknya yang terakhir. Bangku bambu tua kembali berkeriut ketika dia berdiri sembari memandangi awan hitam yang berarak. Di sela asap rokoknya yang kembali mengepul dia mencoba menyelipkan sedikit harapan. Jika esok pagi nasibnya tiba-tiba berubah, hal pertama yang akan dia lakukan adalah berlari menuju rumah Mulya sambil berteriak “ Eureka! “ (tapi tidak telanjang bulat) lalu melamarnya. Memanggil penghulu dan menikahinya siang itu juga. Tanpa pelaminan, tanpa prasmanan, tanpa pesta, tanpa undangan, tanpa apa-apa. Hanya mereka berdua, Tuhan dan para malaikat sebagai saksi. Meski cuma khayalan mentah, harapan adalah satu-satunya peledak yang bisa membuat hidup tetap menyala. Nasrul tersenyum, meski terasa juga airmatanya mengalir. Dia beranjak ...
..............
Mulya merasakan punggungnya bebas ketika Nasrul melepaskan sandarannya dan berdiri. Dia merebahkan kepalanya di atas lutut yang masih didekapnya erat-erat di atas dada. Atau di terimanya saja pinangan pak Joko, duda beranak dua pemilik pabrik batako itu? Bisa di pastikan jika dia menikah dengan pak Joko hidupnya dan hidup keluarganya akan terjamin. Tapi ketika terasa olehnya Nasrul mencium rambutnya, dia menengadahkan wajah dan memandang laki-laki itu dengan senyum yang paling tulus. Mulya sangat mencintai Nasrul dan ketika kita berani mencintai seseorang kita harus bisa menerima dia apa adanya, bukan?
“Aku pulang, ya, sudah malam. Kau tidurlah juga."
Mulya mengawasi punggung Nasrul yang semakin menjauh dan ketika dia menghilang di tikungan gang cepat-cepat Mulya menghapus airmatanya yang berlinang, menarik napas panjang dan masuk ke rumah.

S e l e s a i

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum