1
Kakaktua Berbahasa Manusia on Mon Feb 02, 2009 9:18 am
MAKIN menarik saja "dongeng dibuang sayang" itu. Yang dikisahkan bukan saja tumbuh-tumbuhan dan hewan, tetapi juga manusia dan alam. Yang dikisahkan bukan saja mengenai bentuknya, tetapi juga riwayatnya.
Cerita bertolak dari kenyataan yang ada. Kenyataan itu dibawa ke alam fantasi, lalu dibedah, lalu diurai, kemudian diserempetkan dengan alam khayal lain yang memiliki ciri sama atau mirip. Ciri yang sama itu dibuatkan "hukum sebab-akibat", sehingga cerita itu seolah-olah masuk akal.
Lihatlah kenyataan. Manusia suka memelihara burung kakaktua, karena burung itu lucu, pandai menirukan bahasa manusia. Burung berparuh bengkok itu latah, nakal, tetapi menghibur.
Pengarang yang kaya fantasi lalu mencarikan sebabnya, mengapa burung kakaktua pandai menirukan bahasa manusia. Dalam mencari sebab itulah, pengarang mengandalkan imajinasinya dengan cara menyerempetkan yang tidak masuk akal ke alam yang masuk akal.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ikutilah cerita rakyat Thailand berikut ini. Cerita ini saya ceritakan kembali (kembangkan) tanpa menghilangkan "batang" pokoknya.
***
Suatu pagi yang cerah, si Guyang, seorang petani, pergi ke kebunnya. Ia marah melihat seekor kerbau dengan bebasnya makan tanaman yang baru tumbuh. Kerbau itu ditariknya pulang, lalu disembelih, dikuliti dan dipotong-potong. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, dan sebagian lagi disembunyikan di gentong beras.
"Buat persediaan besok,” katanya sendirian.
Tak berapa lama muncul si Kenok, petani sedesa yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
"Yang! Kau lihat kerbauku?" tanyanya kepada si Guyang.
"Tidak! Aku tidak melihat kerbaumu," jawab penyembelih kerbau itu.
"Bohong, bohong!" tiba-tiba burung nuri si Guyang berteriak dari sangkarnya. "Ia menyembelih kerbau itu. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, sebagian lagi disembunyikan di gentong beras!"
Si Kenok, petani yang kehilangan kerbau itu pura-pura tidak mendengar teriakan burung itu. Dalam perjalanan pulang, ia berpikir. "Burung itu jujur dan pintar. Jangan-jangan kata-katanya benar."
"Yang! Kau lihat kerbauku?" tanya si Kenok setelah balik ke rumah si Guyang.
"Tidak! Aku tidak melihat kerbaumu!"
"Bohong, bohong! Kerbau itu disembelih. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, sebagian lagi disembunyikan di gentong beras," celoteh burung nuri itu lagi.
Si Kenok curiga. Ia memeriksa lumbung padi, ia memeriksa gentong beras. "Itu daging kerbauku," katanya.
"Tidak! Itu dagingku. Daging itu berasal dari hewan lain," jawab si Guyang.
Si Kenok tidak mau bertengkar lebih jauh. Ia meninggalkan rumah petani sedesanya itu. Ia yakin, daging yang disembunyikan itu adalah daging kerbaunya yang hilang. "Daripada bertengkar tak habis-habisnya, lebih baik melaporkan pencurian itu kepada hakim," demikian pikir si Kenok.
Si Guyang pun curiga. Petani yang kehilangan kerbau itu pasti akan melapor kepada hakim. Pencuri kerbau itu marah kepada burung nuri. Burung yang jujur itu ternyata bukan saja pandai menirukan bahasa manusia, tetapi juga pandai menyatakan pikiran dan perasaannya. "Kecerdasan burung itu harus dimanfaatkan," pikirnya.
Menjelang matahari tenggelam, si Guyang mengambil burung itu.
"Kau memang pintar, Nuri!" katanya. "Tetapi kamu tidak setia kepada majikan. Kamu berkhianat!" kata petani pencuri kerbau itu.
Petani itu mengurung burung nuri yang jujur itu di dalam ember tertelungkup. Burung itu ketakutan lalu berteriak-teriak. "Yang kukatakan itu benar. Tuan mencuri kerbau, tuan menyembelih kerbau!" katanya.
Si Kenok tidak memperdulikan celoteh burung pengkhianat itu. Ruang ember yang pengap itu bertambah pengap, karena petani pencuri itu menutup ember itu dengan selembar kain. Malam hari, ketika bulan memancarkan cahaya terang dan bintang-bintang berkelipan, si Kenok berjongkok dekat ember tempat disekapnya burung nuri itu. Ia memukul dan menggoyang seng berkali-kali. Kedengarannya seperti guruh memecah langit. Kemudian ia meneteskan air di atas ember. Tetesan itu makin banyak dan makin keras, sehingga kedengarannya seperti hujan lebat. * made taro
... lanjut..
Cerita bertolak dari kenyataan yang ada. Kenyataan itu dibawa ke alam fantasi, lalu dibedah, lalu diurai, kemudian diserempetkan dengan alam khayal lain yang memiliki ciri sama atau mirip. Ciri yang sama itu dibuatkan "hukum sebab-akibat", sehingga cerita itu seolah-olah masuk akal.
Lihatlah kenyataan. Manusia suka memelihara burung kakaktua, karena burung itu lucu, pandai menirukan bahasa manusia. Burung berparuh bengkok itu latah, nakal, tetapi menghibur.
Pengarang yang kaya fantasi lalu mencarikan sebabnya, mengapa burung kakaktua pandai menirukan bahasa manusia. Dalam mencari sebab itulah, pengarang mengandalkan imajinasinya dengan cara menyerempetkan yang tidak masuk akal ke alam yang masuk akal.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ikutilah cerita rakyat Thailand berikut ini. Cerita ini saya ceritakan kembali (kembangkan) tanpa menghilangkan "batang" pokoknya.
***
Suatu pagi yang cerah, si Guyang, seorang petani, pergi ke kebunnya. Ia marah melihat seekor kerbau dengan bebasnya makan tanaman yang baru tumbuh. Kerbau itu ditariknya pulang, lalu disembelih, dikuliti dan dipotong-potong. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, dan sebagian lagi disembunyikan di gentong beras.
"Buat persediaan besok,” katanya sendirian.
Tak berapa lama muncul si Kenok, petani sedesa yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
"Yang! Kau lihat kerbauku?" tanyanya kepada si Guyang.
"Tidak! Aku tidak melihat kerbaumu," jawab penyembelih kerbau itu.
"Bohong, bohong!" tiba-tiba burung nuri si Guyang berteriak dari sangkarnya. "Ia menyembelih kerbau itu. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, sebagian lagi disembunyikan di gentong beras!"
Si Kenok, petani yang kehilangan kerbau itu pura-pura tidak mendengar teriakan burung itu. Dalam perjalanan pulang, ia berpikir. "Burung itu jujur dan pintar. Jangan-jangan kata-katanya benar."
"Yang! Kau lihat kerbauku?" tanya si Kenok setelah balik ke rumah si Guyang.
"Tidak! Aku tidak melihat kerbaumu!"
"Bohong, bohong! Kerbau itu disembelih. Sebagian dimasak, sebagian disimpan di lumbung padi, sebagian lagi disembunyikan di gentong beras," celoteh burung nuri itu lagi.
Si Kenok curiga. Ia memeriksa lumbung padi, ia memeriksa gentong beras. "Itu daging kerbauku," katanya.
"Tidak! Itu dagingku. Daging itu berasal dari hewan lain," jawab si Guyang.
Si Kenok tidak mau bertengkar lebih jauh. Ia meninggalkan rumah petani sedesanya itu. Ia yakin, daging yang disembunyikan itu adalah daging kerbaunya yang hilang. "Daripada bertengkar tak habis-habisnya, lebih baik melaporkan pencurian itu kepada hakim," demikian pikir si Kenok.
Si Guyang pun curiga. Petani yang kehilangan kerbau itu pasti akan melapor kepada hakim. Pencuri kerbau itu marah kepada burung nuri. Burung yang jujur itu ternyata bukan saja pandai menirukan bahasa manusia, tetapi juga pandai menyatakan pikiran dan perasaannya. "Kecerdasan burung itu harus dimanfaatkan," pikirnya.
Menjelang matahari tenggelam, si Guyang mengambil burung itu.
"Kau memang pintar, Nuri!" katanya. "Tetapi kamu tidak setia kepada majikan. Kamu berkhianat!" kata petani pencuri kerbau itu.
Petani itu mengurung burung nuri yang jujur itu di dalam ember tertelungkup. Burung itu ketakutan lalu berteriak-teriak. "Yang kukatakan itu benar. Tuan mencuri kerbau, tuan menyembelih kerbau!" katanya.
Si Kenok tidak memperdulikan celoteh burung pengkhianat itu. Ruang ember yang pengap itu bertambah pengap, karena petani pencuri itu menutup ember itu dengan selembar kain. Malam hari, ketika bulan memancarkan cahaya terang dan bintang-bintang berkelipan, si Kenok berjongkok dekat ember tempat disekapnya burung nuri itu. Ia memukul dan menggoyang seng berkali-kali. Kedengarannya seperti guruh memecah langit. Kemudian ia meneteskan air di atas ember. Tetesan itu makin banyak dan makin keras, sehingga kedengarannya seperti hujan lebat. * made taro
... lanjut..







