1
Batur Sebuah Kawasan Pendidikan Spiritual on Mon May 18, 2009 10:43 am
MENURUT beberapa kamus Bahasa Jawa Kuno yang ada, penggunaan kata batur dalam berbagai kasus menunjukkan tiga pengertian yang berbeda.
Yang pertama, batur itu adalah undakan, atau undak-undakan, atau lantai yang lebih tinggi dari halaman, atau kaki dinding/ tembok rumah.
Yang kedua, batur berarti sahabat, kawan, abadi, pelayan. Batur dalam arti yang kedua ini tidak ditemukan lagi penggunaannya dalam bahasa Bali sehari-hari kecuali dalam teks-teks Sastra, seperti Batur Kalawasan. Justru dalam bahasa Sasak penggunan kata batur dalam arti sahabat ini dapat ditemukan. Seperti diketahui kedua bahasa serumpun bertetangga ini, Bali dan Sasak, sama-sama banyak menyerap kosa kata bahasa Jawa Kuno.
Yang ketiga, batur berarti pertapaan (tempat), dan/ atau kepala pertapaan (orang). Dalam bahasa Kawi memang sering kita temukan istilah yang selain berarti tempat juga berarti kepala atau pemimpin. Misalnya, kata sabha yang selain berarti tempat pertemuan juga berarti pemimpin pertemuan itu sendiri.
Memang perbedaan-perbedaan yang akan nampak bila kita memulai sesuatu yang baru, seperti perkenalan dengan orang, tempat, dan suasana yang baru. Kebanyakan di antara kita sering merasa asing pada awal sebuah perkenalan dengan orang, tempat dan suasana. Begitu pula bila kita bersungguh-sungguh hendak 'berkenalan' dengan kata batur, seperti tersebut di atas itulah minimal tiga perbedaan yang nampak. Lama kelamaan apabila kita sudah saling mengenal (orang, tempat, suasana) maka yang akhirnya nampak, atau dirasakan, adalah persamaan-persamaan. Begitu pula setelah relatif lama menggeluti kata batur, akan kita rasakan adanya satu prinsip yang sama di Bali perbedaan-perbedaan arti kata batur itu.
Prinsip apakah yang ada di balik arti-arti itu? Menurut apresiasi saya, gagasan tentang sebuah pendakian adalah prinsipnya, baik pendakian secara fisik dan geografis maupun pendakian secara nonfisik nongeografis. Pendakian nonfisik nongeografis misalnya pendakian batin, kesadaran, penghayatan, dan spiritual.
UNDAK atau undak-undak adalah penanda pendakian itu, karena mengindikasikan adanya posisi yang bertingkat-tingkat dari dasar tempat kaki berpijak terus naik tahap demi tahap sampai posisi teratas berdasarkan undak-undak yang ada. Tak terbantahkan bahwa undak-undak itu adalah jalan, atau sarana, atau sadhana. Menurut apa yang pernah saya baca, konon tidaklah beda antara jalan yang dipilih dengan yang menjalaninya. Tidak beda antara pikiran dengan yang berpikir. Sesungguhnya sama apa yang dibuat dengan siapa yang berbuat. Maksudnya, undak-undak itu adalah sahabat yang pasti menyertai ketika sedang mendaki dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Bila pendakian itu berhasil sampai undakan teratas, si pendaki itu tidak ubahnya seperti seorang pemimpin yang ada paling atas. Pendakian spiritual seperti itu sudah umum dikatakan sebagai sebuah pertapaan.
Itulah prinsip yang mempertemukan perbedaan-perbedaan arti kata batur di atas menurut apresiasi saya. Apresiasi tidak sama dari orang berbeda akan semakin mengayakan pemahaman kita tentang batur, sebuah makna yang dekat dan bersifat keseharian namun sering terasa jauh dan asing karena kita tidak menempatkan diri di dekatnya.
Batur yang ada di Bali adalah nama. Batur adalah nama sebuah desa yang besar secara geografis dan juga besar secara historis. Batur adalah nama sebuah Pura yang besar menurut ukurannya dan juga besar menurut konsep Padma Mandala, yaitu jagat yang diibaratkan sekuntum bunga Padma sedang mekar dengan delapan kelopak menghadap ke delapan penjuru. Pura Batur adalah 'ibu kota spiritual' kawasan Uttara. Batur adalah nama sebuah gunung yang karena letusannya yang dahsyat akhir 1904 sampai awal 1905 menyebabkan terjadinya relokasi Pura Batur. Batur adalah nama sebuah danau (danu/ ranu) yang menyimpan dan memancarkan kekuatan magis (maya).
Sudah sangat jelas bahwa Batur adalah sebuah kawasan pendakian spiritual (pertapaan) baik secara konsep yang ada di balik nama itu, maupun secara historis. Batur benar-benar sebuah ibu kota mistis dari ka-bhumipati-an Bangli, yang masuk dalam wilayah ke-jagatpati-an Bali.
IBM. Dharma Palguna
Yang pertama, batur itu adalah undakan, atau undak-undakan, atau lantai yang lebih tinggi dari halaman, atau kaki dinding/ tembok rumah.
Yang kedua, batur berarti sahabat, kawan, abadi, pelayan. Batur dalam arti yang kedua ini tidak ditemukan lagi penggunaannya dalam bahasa Bali sehari-hari kecuali dalam teks-teks Sastra, seperti Batur Kalawasan. Justru dalam bahasa Sasak penggunan kata batur dalam arti sahabat ini dapat ditemukan. Seperti diketahui kedua bahasa serumpun bertetangga ini, Bali dan Sasak, sama-sama banyak menyerap kosa kata bahasa Jawa Kuno.
Yang ketiga, batur berarti pertapaan (tempat), dan/ atau kepala pertapaan (orang). Dalam bahasa Kawi memang sering kita temukan istilah yang selain berarti tempat juga berarti kepala atau pemimpin. Misalnya, kata sabha yang selain berarti tempat pertemuan juga berarti pemimpin pertemuan itu sendiri.
Memang perbedaan-perbedaan yang akan nampak bila kita memulai sesuatu yang baru, seperti perkenalan dengan orang, tempat, dan suasana yang baru. Kebanyakan di antara kita sering merasa asing pada awal sebuah perkenalan dengan orang, tempat dan suasana. Begitu pula bila kita bersungguh-sungguh hendak 'berkenalan' dengan kata batur, seperti tersebut di atas itulah minimal tiga perbedaan yang nampak. Lama kelamaan apabila kita sudah saling mengenal (orang, tempat, suasana) maka yang akhirnya nampak, atau dirasakan, adalah persamaan-persamaan. Begitu pula setelah relatif lama menggeluti kata batur, akan kita rasakan adanya satu prinsip yang sama di Bali perbedaan-perbedaan arti kata batur itu.
Prinsip apakah yang ada di balik arti-arti itu? Menurut apresiasi saya, gagasan tentang sebuah pendakian adalah prinsipnya, baik pendakian secara fisik dan geografis maupun pendakian secara nonfisik nongeografis. Pendakian nonfisik nongeografis misalnya pendakian batin, kesadaran, penghayatan, dan spiritual.
UNDAK atau undak-undak adalah penanda pendakian itu, karena mengindikasikan adanya posisi yang bertingkat-tingkat dari dasar tempat kaki berpijak terus naik tahap demi tahap sampai posisi teratas berdasarkan undak-undak yang ada. Tak terbantahkan bahwa undak-undak itu adalah jalan, atau sarana, atau sadhana. Menurut apa yang pernah saya baca, konon tidaklah beda antara jalan yang dipilih dengan yang menjalaninya. Tidak beda antara pikiran dengan yang berpikir. Sesungguhnya sama apa yang dibuat dengan siapa yang berbuat. Maksudnya, undak-undak itu adalah sahabat yang pasti menyertai ketika sedang mendaki dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Bila pendakian itu berhasil sampai undakan teratas, si pendaki itu tidak ubahnya seperti seorang pemimpin yang ada paling atas. Pendakian spiritual seperti itu sudah umum dikatakan sebagai sebuah pertapaan.
Itulah prinsip yang mempertemukan perbedaan-perbedaan arti kata batur di atas menurut apresiasi saya. Apresiasi tidak sama dari orang berbeda akan semakin mengayakan pemahaman kita tentang batur, sebuah makna yang dekat dan bersifat keseharian namun sering terasa jauh dan asing karena kita tidak menempatkan diri di dekatnya.
Batur yang ada di Bali adalah nama. Batur adalah nama sebuah desa yang besar secara geografis dan juga besar secara historis. Batur adalah nama sebuah Pura yang besar menurut ukurannya dan juga besar menurut konsep Padma Mandala, yaitu jagat yang diibaratkan sekuntum bunga Padma sedang mekar dengan delapan kelopak menghadap ke delapan penjuru. Pura Batur adalah 'ibu kota spiritual' kawasan Uttara. Batur adalah nama sebuah gunung yang karena letusannya yang dahsyat akhir 1904 sampai awal 1905 menyebabkan terjadinya relokasi Pura Batur. Batur adalah nama sebuah danau (danu/ ranu) yang menyimpan dan memancarkan kekuatan magis (maya).
Sudah sangat jelas bahwa Batur adalah sebuah kawasan pendakian spiritual (pertapaan) baik secara konsep yang ada di balik nama itu, maupun secara historis. Batur benar-benar sebuah ibu kota mistis dari ka-bhumipati-an Bangli, yang masuk dalam wilayah ke-jagatpati-an Bali.
IBM. Dharma Palguna







