BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 M I S T E R I KERAUHAN on Wed Mar 04, 2009 11:04 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
“MADE kumat lagi,” ujar beberapa orang siswi SMPN 9 Denpasar yang sedang mengobrol di depan kelas. “Ngeri melihat dia mengamuk. Semua benda yang ada di sampingnya dilempar,” tutur salah seorang di antara mereka. “Kita menjauh saja. Dia seperti orang aneh,” tambah yang lainnya. Begitulah sikap teman-teman Made Suryaningsih pada awal-awal terjadinya keanehan dalam diri perempuan kelahiran Denpasar, 6 Oktober 1981 ini.
Ketika itu Made, begitu panggilan akrabnya, sering kerauhan. Made mengaku ada suatu energi kekuatan yang luar biasa mengendalikannya dan ia tak mampu menolaknya. Dalam kondisi kerauhan, katanya, ia melihat makhluk di dunia gaib.

Nasib baik berpihak pada Made. Seorang teman mengenalkannya dengan ahli kejiwaan Prof. L.K. Suryani. Dengan melakukan meditasi atas petunjuknya, akhirnya Made mampu mengendalikan kekuatan energi itu.


Bahkan kini ia mampu memanfaatkan kelebihan indra keenamnya untuk kehidupannya sehari-hari. Setelah itu kesuksesan ia raih di segala bidang mulai dalam kuliahnya di kampus, di organisasi, pekerjaan, sampai urusan jodoh.

Semula Made tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sejak ia duduk di kelas III SMP. Ada suatu kekuatan yang membuat ia sering kerauhan. Jika dia melewati tempat yang angker, indra penglihatannya mampu melihat kehidupan para penghuni dunia gaib. Made takut terhadap apa yang dilihatnya. ”Kalau sudah begitu, saya memejamkan mata agar tidak melihatnya,” tutur Made.

Jika sedang sembahyang di pura, Made sering melihat secercah sinar datang menghampirinya. Kekuatan sinar itu tidak mampu ditolaknya. Dalam kondisi begitu Made akan mengeluarkan suara ngeregeh, suara khas orang kerauhan, kemudian pingsan.

Melihat keadaan Made seperti itu, ayahnya, Nyoman Rindi Paramarta, dan ibunya, Ni Ketut Rini, berupaya mencari obat penangkalnya. Beberapa balian sudah didatanginya. Menurut para balian itu, apa yang Made alami itu akibat proses reinkarnasi. Proses kelahiran kembali ini lebih sempurna daripada orang lain sehingga Made memiliki kekuatan indra keenam.

Dalam sehari Made pernah kerauhan sampai tiga kali. Made mengaku dirinya merasa tersiksa jika sedang kerauhan. Selain tidak dapat berkonsentrasi belajar, ia tidak memiliki teman.

”Semua takut pada saya dan mereka mengatakan saya manusia aneh,” ujar Made.
Dengan tertatih-tatih, Made mampu menyelesaikan pendidikannya di SMP dan melanjutkan ke SMAN 6 Denpasar. Pada semester I, Made sering tidak masuk sekolah. Kondisinya makin parah.

Kadang ia pingsan mendadak, kadang kerauhan, dan mengamuk. Pengobatan ke beberapa balian di Bali, dilakukannya secara rutin. Namun, hasilnya nihil. Made menjadi murid pendiam di sekolahnya. ”Tak ada yang mau jadi teman saya. Saya stres,” tuturnya.

Made melampiaskan kegundahannya dengan makan. Dia tidak peduli lagi pada postur tubuhnya yang makin hari makin melar.

Biasanya Made kerauhan sekitar 1 jam. Jika sudah begitu seorang pemangku memercikkan tirta (air suci), baru ia sadar. Setelah beristirahat sekitar 15 menit, kondisi Made pulih kembali. ”Saya merasa biasa saja, tidak lelah sedikit pun,” tutur Made, walaupun dalam kondisi kerauhan ia sering mengamuk.

Suatu hari Made kerauhan dan mengamuk di sekolahnya, pukul 11.00 hingga 15.00. Guru, karyawan, dan murid SMAN 6 Denpasar itu geger dan proses belajar-mengajar terganggu. Dengan kekuatannya yang luar biasa, Made membanting meja dan kursi. Sebagian murid histeris dan ketakutan, para guru kebingungan tak kuasa mengendalikan Made.

Sambil menanti pemangku datang, yang pada siang itu sedang berada di luar kota Denpasar, para guru berusaha memegangi tubuh Made agar tidak menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya.
Namun, kekuatan Made sangat luar biasa. Tak pelak para guru yang mencoba mengendalikannya merasa keletihan.
Tepat pukul 15.00 pemangku datang. Setelah ia memercikkan tirta ke tubuh Made, beberapa menit kemudian Made sadar namun dalam kondisi lemas.
Setelah beristirahat sekitar 15 menit, Made bangun dan kondisinya pulih segar bugar seperti biasa.
Ketika ditanya guru dan teman-temannya, Made menyatakan tidak mampu membendung kekuatan yang datang menghampirinya. ”Saya merasa ada energi luar biasa datang dan mengendalikan saya. Tetapi, saya tidak mampu melawan. Saya berteriak dan mengamuk karena tidak tahu bagaimana caranya mengerem kekuatan itu,” ungkap Made. –ast

View user profile

2 Re: M I S T E R I KERAUHAN on Wed Mar 04, 2009 11:05 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
PERISTIWA kerauhan yang sering dialami Made Suryaningsih sangat mengganggu konsentrasi belajarnya. Namun, ia tetap optimis dapat menyelesaikan pendidikannya hingga tuntas.

Setelah tamat SMA, Made diterima di Fakultas Teknik jurusan Mesin Unud. Dari 70 orang teman satu angkatannya, hanya ada tiga perempuan, Made salah satunya.

Rasa kebersamaan dan setia kawan teman-temannya di kampus membuat Made tetap bersemangat kuliah di tengah keterbatasan kondisi tubuhnya.


Nama Made Suryaningsih menjadi terkenal di kampusnya gara-gara pada hari pertama masa perkenalan calon mahasiswa ia sempat membuat geger seluruh peserta. Suasana perkemahan di dekat kuburan Desa Batungsel di Tabanan itu seketika kacau-balau ketika Made kerauhan. Made mengaku terus dikendalikan suatu kekuatan yang tidak bisa ia lawan. ”Hari pertama sampai hari ketiga saya tidak dapat mengikuti kegiatan. Akhirnya panitia memutuskan agar saya beristirahat di rumah,” tutur finalis Putri Bali tahun 2006 ini.

Tiada hari tanpa kerauhan, begitulah ungkapan yang dilontarkan teman-teman kampusnya. Pernah, saat berlangsung kuliah, dosen sedang berbicara di depan kelas, tiba-tiba Made kerauhan dan mengamuk. Kegiatan kuliah terhenti. Teman-teman Made yang sebagian besar laki-laki segera mencari pemangku untuk menyadarkannya.

Teman-temannya cukup memaklumi keadaan Made. Beberapa dosen memperlihatkan rasa simpati kepadanya. Namun, ada yang terasa menganjal di hati Made.
Salah seorang dosen menganggap Made hanya berpura-pura. Menurut dosennya itu, Made hanya mencari sensasi. Sikap itu diawali marahnya sang dosen ketika saat kuliah berlangsung tiba-tiba Made keluar meninggalkan kelas tanpa permisi.

Tiba-tiba Made berdiri, langsung berlari ke luar kelas. Sikap Made itu dinilai sebagai sikap yang tidak sopan oleh dosen tersebut. Akibatnya fatal bagi Made. Dosen itu memberikan nilai merah pada Made untuk mata kuliah yang diajarkannya. Made berusaha menjelaskan, namun, sang dosen tak peduli.

”Saya tidak sempat permisi keluar kelas karena serangan itu tiba-tiba saja datang dan mengendalikan diri saya. Saya segera melarikan diri ke luar kelas karena tidak ingin membuat gaduh suasana kelas. Saya tidak mampu berbicara saat itu. Kekuatan itu begitu menguasai saya. Kalau tidak segera berlari, bisa-bisa saya mengamuk di dalam kelas,” tutur Made kepada wartawati Koran Tokoh.

Made tidak peduli terhadap nilai merah yang ia peroleh. Ia tetap bersemangat menempuh kembali mata kuliah yang tertinggal itu.

Made pun pernah mengalami kejadian aneh di jalan raya. Ia melihat ada kecelakaan lalu lintas. Orang berkerumun di sekitar tempat kejadian. Hal itu menarik perhatian Made. Ia datang mendekat.

Ada korbannya yang meninggal. Namun, Made kaget. Ia melihat ada seseorang yang wajah dan tubuhnya mirip dengan wajah dan tubuh korban. Orang itu berdiri di samping korban kecelakaan tadi tergeletak. ”Saya heran mengapa ada dua orang yang sama. Satu berbaring dan yang satu lagi berdiri seperti patung dengan wajah diam,” ungkap Made tentang makhluk gaib itu.

Mengingat Made sering mengalami kerauhan dan melihat makhluk gaib, salah seorang teman kuliahnya yang juga temannya saat di SMAN 6 Denpasar, menganjurkan Made berkonsultasi dengan ahli kejiwaan Prof. L. K. Suryani. Made melaksanakan anjuran itu.

Itulah awal Made menemukan jalan untuk kesembuhannya. Made seolah mendapatkan semangat baru untuk keluar dari penderitaan yang dialaminya. ”Saya diminta melawan kekuatan itu dengan fokus,” ujar Made tentang saran guru besar FK Unud itu.

Ia rutin mengikuti meditasi di Wantilan DPRD Provinsi Bali tiap Sabtu mulai pukul 17.00. Ia juga diberi obat penenang selama satu bulan yang diminum dua kali sehari. Tiap pagi usai bangun tidur sekitar pukul 05.30, ia rutin melakukan meditasi.

Perjuangan Made melawan kekuatan yang selalu tiba-tiba datang menyerang, hampir membuat ia frustrasi. Namun, ia teringat saran Prof. Suryani yang mengatakan bahwa meditasi tidak seperti makan cabai, yang cepat dirasakan reaksinya. ”Meditasi harus dilakukan dengan sabar dan tekun,” saran Prof. Suryani kepada Made waktu itu. Serangkaian saran ahli kejiwaan itulah yang selalu menyadarkan Made ketika semangatnya dalam kondisi ingin menyerah. Kebulatan tekad dan semangat Made untuk sembuh dan tak ingin disebut ”orang aneh” akhirnya membuahkan hasil. –ast

View user profile

3 Re: M I S T E R I KERAUHAN on Wed Mar 04, 2009 11:06 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
PERJUANGAN Made Suryaningsih mengatasi kerauhan yang terjadi dalam dirinya, tidak sia-sia. Setelah berjuang hampir empat tahun, Made akhirnya mampu mengendalikan kekuatan yang datang padanya. Ia tetap kerauhan tetapi tidak lagi berteriak atau mengamuk. Bahkan ia mampu mengendalikan kekuatan itu agar bermanfaat buat dirinya.

Tahun 2002 Made diajak ikut dalam rombongan Prof. L.K. Suryani pergi menonton pertunjukan sakral Shanghyang Dedari di Kintamani, Bangli. Saat itu Prof Suryani sedang melakukan penelitian tentang kesurupan atau kerauhan di Bali khususnya yang dialami penari Shanghyang Dedari.


Begitu terdengar lagu khas, para penari yang matanya ditutup kain langsung menari. Mereka tidak menabrak penonton atau bertabrakan dengan temannya. Adegan naik ke punggung temannya pun mereka lakukan dengan lancar-lancar saja.

Made diajak dalam rombongan itu untuk belajar mengendalikan energi yang selama ini mengganggunya. Beberapa saat setelah para penari beraksi, Made merasakan energi datang menghampirinya.

Tubuh Made bergetar. Namun, Prof. Suryani terus mengingatkan agar Made melawan kekuatan itu. Made berusaha melawannya dengan sekuat tenaga. Dengan suara lirih Made sempat berucap, ”Saya tidak kuaaaaaaaatttt.” Prof Suryani terus mendampinginya dan memberikan instruksi agar Made bertahan untuk melawannya.

Agar mampu melawan kekuatan itu Made dibimbing melakukan meditasi. ”Saya berusaha fokus agar tidak dipengaruhi kekuatan itu,” tutur Made. Setelah satu jam beraksi para penari Shanghyang Dedari diperciki tirta oleh pemangku agar sadar kembali. Dengan berakhirnya pertunjukan tersebut, Made merasa terlepas dari pengaruh energi luar biasa itu.

Perjuangan Made berhasil. Ia mampu mengendalikan kekuatan itu. Setelah Made bebas dari pengaruh kekuatan itu, ia merasakan letih luar biasa, seperti usai melakukan pekerjaan berat. Sejak itu, Made sering pergi menonton pertunjukan sakral yang mampu membangkitkan energi tinggi seperti Calon Arang.

Prof. Suryani menjelaskan, kerauhan adalah suatu tingkat kesadaran tertinggi saat seseorang dikendalikan roh, atma, atau energi lain, tergantung kepercayaan mereka, apakah Tuhan, dewa, leluhur, atau butakala.

“Pada saat seperti ini ia tetap sadar, tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Namun, perhatiannya menyempit ke satu pusat,” ujar guru besar FK Unud ini.

Bagi mereka yang belum terlatih, kata Suryani, tidak mampu mengendalikan dirinya. Mereka kadang-kadang menangis, meronta, menjerit, berdiam diri, menari atau berperilaku lain yang tidak pernah dilakukan dalam kondisi sadar biasa.

Kalau sudah terlatih, mereka mampu mengendalikan dirinya, dan merasakan adanya perubahan dalam dirinya seperti badan terasa ringan, merasa berada dalam dunia tertentu walaupun ia sadar berada di suatu tempat.

Pada saat-saat seperti itu, kata Suryani, muncul pemikiran yang datang secara otomatis yang dalam kondisi biasa tidak pernah terpikirkan untuk melakukannya. Pemikiran itu bergulir secara otomatis dan baru menyadarinya setelah ia mengucapkan dan melakukannya.

“Ia dapat membaca pikiran orang lain, dapat memahami apa yang akan terjadi, walaupun secara logika tidak pernah terpikirkan,” ujarnya.

Suryani menyatakan fenomena kerauhan yang terjadi di masyarakat Bali merupakan wujud pembelajaran oleh Tuhan atau leluhur kepada umat-Nya atau pengikut-Nya.

Masalahnya, dapatkah umat yang mengalaminya dapat memahaminya dan mampukah memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dapatkah pengalaman kerauhan penari Sanghyang Dedari yang tanpa belajar menari tetapi mampu menari seperti orang yang telah belajar bertahun-tahun, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Dapatkah apa yang terjadi dalam upacara penyatuan kepala Rangda di kuburan di Jimbaran, yakni bebuten melompati tembok lebih dari tiga meter tanpa melalui pemanasan, dikaji guru-guru olahraga sehingga melahirkan atlet-atlet peloncat yang profesional?

Dapatkah kemampuan balian membaca pikiran orang lain dimanfaatkan sehingga kita dapat menggunakan kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari?
Menurut ahli kejiwaan ini, kerauhan dapat terjadi secara otomatis di kalangan orang-orang pilihan.

Namun, mereka yang tidak termasuk orang pilihan, dapat belajar dan berlatih sehingga dapat menggunakan energi yang datang saat kerauhan dalam kehidupan sehari-hari sebagai dokter, atlet, pelukis, wartawan, penari, pedagang, dan pekerjaan dan profesi lainnya. Melakukan meditasi relaksasi spirit adalah salah satu cara melatih diri itu.

Tentang kasus yang dialami Made Suryaningsih, ia menyatakan awal mula konflik berasal dari dalam dirinya. Konflik ini tidak mampu dikuasainya sehingga timbul reaksi berupa teriakan dan amukan.

Pada penanganan awal, Made diberi obat penenang supaya tidurnya nyenyak. “Dengan tidur nyenyak ia dapat mengontrol dirinya. Setelah Made dapat menguasai dirinya obat dihentikan, dan dia dilatih melakukan meditasi. Saya ajarkan jangan berteriak, jangan bergerak, tetapi fokus berlatih mengontrol diri,” ujarnya.

Dalam kondisi kerauhan ia dapat mengunakan indra keenamnya. Bedanya dengan orang dalam tingkat kesadaran biasa adalah tingkat kesadarannya lebih tinggi dan dia dapat memahami mana yang baik dan mana yang buruk. “Ciri-ciri orang yang sedang trance adalah wajahnya datar, bibirnya pucat, matanya berkedip-kedip. Kalau sudah mencapai tingkat tinggi, dia berbicara teratur dan sangat tenang,” jelasnya.

Saat melakukan meditasi spirit, rasakan masuk keluarnya napas lewat hidung. “Pernapasan jangan diatur, biarkan secara alami. Posisi mata pun alami tidak melihat hidung. Jangan membayangkan ada energi.

Biarkan alami. Jangan memaksa diri, jangan mengosongkan pikiran, indra keenam harus tajam. Bagaimana pun harus tetap fokus. Tahu apa yang terjadi, namun, pikiran tidak ke mana-mana. Lima indra tetap berfungsi,” ujar Suryani. –ast

View user profile

4 Re: M I S T E R I KERAUHAN on Wed Mar 04, 2009 11:07 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
MADE Suryaningsih kini telah berhasil mengendalikan kekuatan energi ketika kerauhan terjadi. Ia mampu mengolah energi itu menjadi suatu kekuatan yang bermanfaat bagi dirinya. Sejak ia mampu mengendalikan kekuatan itu, ada yang berubah dalam dirinya. Ia menjadi sangat percaya diri. Made selalu bisa fokus pada tiap aktivitas yang dilakoninya.


Nilai Made di fakultasnya pun terdongkrak naik. Wajah Made menjadi lebih bersinar. Pribadinya yang menarik membuatnya mudah mencari teman. Made pun mulai memerhatikan penampilannya. ”Saya memutuskan diet dengan makanan kombinasi rendah karobhidrat. Saya hanya makan sereal untuk sarapan.

Pukul 10.00 makan buah-buahan berair. Pukul 12.00 makan dengan menu lengkap seperti biasa. Pukul 14.00 makan buah lagi dan pukul 18.00 makan malam seperti biasa,” tutur Made tentang jadwal dietnya. Made juga rajin berolahraga dan melakukan meditasi secara rutin. Awalnya berat badan Made 75 kg. Dengan diet yang dilakukannya, ia berhasil menurunkan berat badannya hingga mencapai 55 kg.

Tahun 2004 Made dipercaya menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Mesin Unud. Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Jepang. Tahun 2005 Made menamatkan pendidikannya di Faklutas Teknik Mesin Unud dengan IP 3,0.

Nama Made bukan hanya terkenal di kampus. Ia juga terpilih sebagai salah seorang wakil Kota Denpasar dalam Pemilihan Putri Bali tahun 2006. Walaupun hanya menduduki peringkat 6 besar, Made sangat menyukuri prestasi yang diraihnya itu. Setelah menamatkan sarjananya, Made melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana Unud dan kini bergelar Magister Teknik. Setelah itu, Made membantu usaha ayahnya di bidang properti.

Kesendirian Made mulai mengusik hatinya. Dalam doanya Made memohon pada Tuhan agar dikirimkan pendamping hidup yang sesuai dengan keinginannya. Made sering menggambarkan sosok lelaki yang diimpikannya untuk menjadi suaminya kelak.

Suatu ketika, Made bertemu seorang lelaki asal Klungkung bernama Oma Sugandi. Lelaki ini berprofesi sebagai waiter di kapal pesiar Celebrity Criuse Line. Ia tertarik membeli satu unit properti yang ditawarkan Made. Setelah liburannya selesai di Bali, Oma kembali bekerja di kapal.

Enam bulan berikutnya jadwal Oma pulang ke Bali. Made kembali mengontak Oma untuk menawarkan properti yang baru. Merasa tertarik dengan tawaran itu, Oma mengatur jadwal untuk bertemu. Ternyata, pertemuan itu bukan hanya melibatkan mereka dalam transaksi bisnis, namun menumbuhkan benih-benih cinta di hati mereka. Selama 19 hari mereka berusaha mengenal pribadi satu sama lain. Hari ke-20 Oma melamar Made menjadi istrinya. Made merasa begitu cepat lamaran itu datang. Namun, ia sangat bersyukur karena Oma memiliki kesamaan dengan sosok lelaki dalam impiannya dan yang diimpikannya. ”Oma begitu sempurna di mata saya. Dia begitu baik, penuh pengertian, dan sayang pada saya dan keluarga saya. Ia juga memahami masa lalu saya,” tutur Made memuji suaminya itu dengan sorot mata berbinar.

Pesta pernikahan digelar. Masa-masa indah Made bersama Oma terlukiskan dalam pesta itu.
Setelah Made mampu mengendalikan kekuatan energi dalam tiap kerauhan, ia kini mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya. Ia mengandaikan bagai ada tombol on dan off dalam dirinya. Untuk hal-hal yang berbau gaib seperti makhluk gaib, tombol itu tidak berfungsi. ”Kalaupun mata saya tetap melihat, saya berusaha mengendalikannya agar pandangan tidak fokus ke arah itu,” ujarnya. Tombol on, kata Made, akan berfungsi ketika ia membutuhkan suatu motivator untuk meraih cita-citanya.

Saat ini Made bekerja di Indo Bali dengan posisi yang bagus. Ia pun diterima rekan kerjanya dengan penuh keakraban. Dengan meditasi spirit, Made mampu memanfaatkan indra keenamnya untuk meraih keberhasilan dalam hidup dan kegiatannya. Sebelum melakukan kegiatan atau pekerjaan apa pun, Made dalam penampilan hening sejenak untuk berkonsentrasi. Indra keenamnya membantunya dalam menyelami perilaku pihak lain yang sedang berkomunikasi dengannya.

Ia yakin, tiap orang yang mempunyai kasus sama dengan dirinya, jika mau belajar mereka mampu melawan kekuatan yang datang saat kerauhan. Made sangat menyukuri kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Hingga kini ia tetap mengalami kerauhan, tetapi Made mampu mengendalikan kekuatan yang datang agar berfungsi secara positif bagi dirinya. ”Asalkan tekun, disiplin, dan merasa yakin akan berhasil, semua masalah pasti ditemukan jalan keluarnya,” tutur Made sambil tersenyum. –ast

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum