BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Membaca Dewa Manusia Raksasa on Tue May 05, 2009 2:03 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Berdiri di Tengah-tengah, Jalan Pikiran Menciptakan Sastra

KETIKA para dewa diserang oleh gerombolan raksasa, para dewa berlari ketakutan dan minta tolong pada manusia untuk mengalahkan, mengusir, bila perlu membunuh para raksasa itu. Begitu antara lain yang terbaca dari sejumlah cerita tentang dunia para dewa.

Bagaimana memahaminya? Di antara sekian banyak penjelasan, saya pilih satu pemahaman yang sudah umum diketahui. Kesucian konon sangat sensitif pada ketidaksucian. Sama dengan kebersihan sangat peka terhadap kekotoran. Dewa yang mewakili gagasan kesucian sangat rentan terhadap raksasa yang mewakili gagasan ketidaksucian. Oleh karena itu, diajarkan agar manusia yang memiliki kualitas tertentu, manusia pilihan dewa, harus 'melindungi' para dewa dan kediamannya.

Bagi banyak orang dan orang kebanyakan penjelasan itu sudah cukup. Apalagi penjelasan itu diberikan oleh wakil-wakil kesucian di dunia, sehingga dianggap tidak perlu lagi bertanya dan mempertanyakannya. Tapi permasalahan tidak pernah selesai sesederhana itu. Agama pun bukanlah institusi yang selesai. Selalu ada pertanyaan yang membuat orang berpikir. Misalnya ada pertanyaan: mengapa para dewa yang sakti-sakti itu tidak maju sendiri menghajar para raksasa?

Itu baru salah satu contoh tidak ada kata selesai. Karena pertanyaan seperti itu menggiring pencarian baru, penemuan baru, pandangan baru, dan ujung-ujungnya penyikapan baru terhadap permasalahan lama. Berikut ini mari kita telusuri arah pertanyaan itu dan kemungkinan jawabannya.

Apa kira-kira jawaban raksasa bila pertanyaan itu ditujukan kepada mereka? Walaupun kasar raksasa itu sesungguhnya lugu, sehingga gampang ditebak pikirannya. Kemungkinan raksasa akan mengatakan bahwa para dewa itu pengecut yang berlindung di balik kesucian. Jawaban seperti itu tentu tidak bisa kita jadikan pegangan, karena telalu tendensius. Terlebih lagi dalam kebudayaan kita sangat aneh bila orang berpegangan pada apa yang dikatakan raksasa.

Bagaimana bila pertanyaan itu ditujukan pada dewa? Belum tentu kita akan mendapatkan apa yang kita cari. Karena bukankah dewa bersabda hanya kepada manusia yang dipilihnya. Jalan pikiran dewa juga sulit dipahami oleh pikiran manusia. Salah sedikit bisa jadi kita dikutuknya. Jangankan kita, para dewa sendiri bila ketahuan bersalah sering dikutuk oleh dewa yang lebih tinggi. Jadi, situasi dan kondisi yang ada belum memungkinkan kita mengorek keterangan dewa.

Sesungguhnya Arjuna bisa dijadikan figur kunci. Karena kepada Arjunalah dewa minta tolong ketika digempur pasukan raksasa Niwatakwaca. Tapi seingat saya, Arjuna tidak menjelaskan apa-apa baik dalam Mahabharata maupun dalam Arjunawiwaha. Yang saya ingat, setelah lulus dites oleh bidadari utusan Indra, Arjuna mendapatkan pembekalan langsung dari Shiwa berupa panah Pasupati. Akhirnya Arjuna berhasil membebaskan sorga dari raksasa. Mungkin karena kesibukannya, Arjuna tak sempat berpikir mengapa para dewa meminjamkan senjatanya pada dirinya daripada maju sendiri menghajar raksasa, padahal asal mau maju tak gentar pasti beliau menang. Jadi, dari figur kunci Arjuna pun tidak kita dapatkan penjelasan.

Lalu apa? Saat mengetik tulisan ini saya teringat ucapan seorang pemikir bernama Dengung Santikarma yang kini menekuni entah apa di Amerika sana. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa 'kita akan menjadi seperti apa yang kita lawan'.

Saya tidak tahu apakah pernyatannya benar atau sangat benar. Saya juga tidak tahu apakah pernyataannya bisa dipakai untuk menjelaskan pilihan sikap para dewa. Apakah dewa akan menjadi seperti raksasa kalau meladeni para raksasa? Dengan lain kata, apakah kesucian akan menjadi tidak suci ketika berhadapan dengan ketidaksucian?

Ketika Dharmawangsa yang suci datang ke neraka mengunjungi adik-adiknya, ketidaksucian neraka lebur oleh kesuciannya dan berubah menjadi sorga. Selain itu juga ada banyak cerita mitologis yang melukiskan perang tanding dewa vs. raksasa, misalnya perebutan tirtha amerta yang dimenangkan secara telah oleh para dewa setelah berhasil memanah leher raksasa Kalarahu. Jadi menurut sumber itu, kesucian tidak menjadi kotor ketika meladeni ketidaksucian.

Mungkin salah saya sendiri memakai pernyataan Dengung Santikarma untuk menilai pilihan sikap dewa. Karena pernyataan itu mungkin dimaksudkannya terbatas untuk manusia. Karena memang benar di sekitar kita ada banyak 'orang suci' yang menolak bersentuhan dengan yang mereka nilai 'tidak suci' lantaran takut kesucian mereka akan menjadi tidak suci. Seperti yang dilakukan para dewa, orang suci itu pun kerap minta tolong pada pembantunya untuk membereskan ketidaksucian itu.

Jalan pikiran seperti itu juga lumrah diterapkan di pura. Bila pura dimasuki oleh ketidaksucian, konon dewa-dewa akan pergi (mangingsir) dari pura itu. Pemilik pura lalu 'berperang' melawan ketidaksucian itu. Cara yang mereka tempuh adalah upacara yang besar-kecilnya disesuaikan dengan kekuatan musuh ketidaksucian itu. Kalau musuh itu sudah enyah, barulah dewa-dewa kembali ke pura itu. Para dewa diposisikan sebagai pihak yang lemah, oleh karena itu mesti dilindungi.

Kembali ke pertanyaan, mengapa para dewa tidak langsung maju menghajar raksasa atau ketidaksucian itu? Jawabannya ternyata harus dicari dalam pertanyaan itu sendiri, tidak dicari di luarnya. Karena pikiran yang melatarbelakangi pertanyaan itu terpola oleh pikiran yang menciptakan cerita itu. Inti pikiran itu, kurang lebih, ketidaksucian selalu berusaha memasuki kesucian. Manusia berdiri di tengah-tengahnya. Seperti itulah jalan pikiran manusia yang menciptakan shastra tentang dewa dan raksasa.

Jalan pikiran berbeda tentu ada. Tapi sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah, selalu ada satu jalan pikiran yang dominan. Jalan pikiran lainnya yang berbeda, kalau tidak mau mengikuti tentu ditenggelamkan. Manusia, terutama pikirannya, diposisikan sebagai pusat. Pikiran itu terus mencipta. Ia membuat pura dan mengarang berbagai cerita tentang dewa dan juga raksasa dalam hubungan dengan dirinya.


ibm dharma palguna

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum