1
Menghadap atau Memutar Gunung? on Wed Aug 12, 2009 5:05 pm
IDIOM Sagara-Giri atau pasir-wukir (laut-gunung) yang sering diucapkan oleh orang ternyata punya arti lain. Gunung itu akan berbeda bila dipandang dari laut atau dari seberang laut. Begitu pula laut itu akan berbeda bila dipandang dari gunung, atau dipandang puncak gunung. Perbedaan hanya bisa dirahasiakan oleh orang yang melakoninya.
Menurut orang yang pernah mengalaminya, laut dan gunung itu menggugah rasa keterasingan yang indah dan aneh. Rasa keterasingan itu disebut indah, karena membuat orang betah lama-lama memandang gunung dari laut, atau memandang laut dari gunung. Rasa keterasingan itu disebut aneh karena dengan cara yang sulit dimengerti keterasingan itu menyebabkan orang berpikir tentang satu hal paling sederhana dalam hidup ini: kita ini dari mana mau ke mana. Hal sederhana itu menjadi susah dijawab karena dari makhluk sederhana orang-orang telah menjadi makhluk kompleks. Sederhana berarti ''menjadi dirinya.'' Sedangkan kompleks berarti ''menjauh dari dirinya.
Bila demikian halnya, ke gunungkah arah yang mesti dituju oleh orang agar mereka mendapat keteraksingan aneh dari laut? Atau sebaliknya, ke lautkah arah yang mesti dituju oleh orang agar mereka mendapat keterasingan aneh dari gunung?
Ternyata tidak. Pertanyaan dan uraian di atas seperti sebuah halusinasi yang mengalihkan pikiran orang. Sehingga orang akan berpikir untuk pergi ke gunung atau ke laut. Padahal arah yang disembunyikan oleh pertanyaan dan uraian itu adalah arah ke dalam diri.
Buktinya, orang yang tidak melakukan perjalanan ke dalam dirinya, walaupun seratus tahun duduk bersila di gunung atau di laut, ia tidak akan jadi apa-apa selain dekorasi. Hanya orang yang sedang atau telah melakukan perjalanan ke dalam dirinya sajalah yang mendapatkan keterasingan aneh yang disuguhkan oleh laut dari gunung, dan gunung dari laut itu.
Sejak dahulu ribuan mungkin jutaan manusia telah menghadap Gunung Agung (Kaki Tohlangkir) dari pinggir laut, dari tengah laut, dan dari seberang lautan. Menghadap dalam hal ini diartikan memutar posisi tubuh sehingga berhadapan dengan Gunung Agung dari jarak jauh. Dalam posisi berhadapan seperti itu orang bisa memandang lama-lama dengan mata terbuka. Sehingga ketika mata ditutup pun gambar Gunung Agung itu masih utuh kelihatan.
Mungkin sudah banyak pula orang yang telah mendapat anugerah berupa pengalaman keterasingan yang aneh itu. Barangkali sudah banyak pula orang yang merasa telah dibantu oleh pengalaman itu sehingga kembali menjadi makhluk ''sederhana'', Mungkin! Kita tidak tahu itu dengan pasti.
Yang kita tahu dengan pasti, sejak dahulu ribuan bahkan jutaan orang telah menghadap Gunung Agung dari berbagai penjuru Bali, Indonesia, dan dunia Agung. Setelah sampai di kaki gunung itu mereka umumnya bersila dan bersimpuh sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka pun melakukan ritualnya dengan mata terbuka dan tertutup. Terbuka atau tertutupnya mata mereka tentu saja tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Tapi entah oleh gerak naluri atau oleh kebiasaan turun-temurun.
Mungkin sudah banyak di antara orang-orang yang menghadap itu mendapatkan apa yang mereka cari. Atau, mendapatkan anugerah yang sebelumnya tidak mereka pikirkan apalagi cari. Mungkin! Kita tidak tahu itu.
Tapi baik orang yang menghadap dari laut maupun yang menghadap persis di kaki gunung, sama-sama telah diberitahu oleh sebuah cerita tentang para dewa dan para raksasa yang bekerja memutar sebuah gunung untuk mendapatkan amerta yang berarti kehidupan, keabadian, bebas dari mati. Menurut cerita itu, pemutaran gunung itu terjadi di tengah lautan.
Begitulah, ternyata idiom sagara-giri punya arti lain lagi, yaitu gunung-kesadaran diputar di tengah lautan-kehidupan!
IBM Dharma Palguna
Menurut orang yang pernah mengalaminya, laut dan gunung itu menggugah rasa keterasingan yang indah dan aneh. Rasa keterasingan itu disebut indah, karena membuat orang betah lama-lama memandang gunung dari laut, atau memandang laut dari gunung. Rasa keterasingan itu disebut aneh karena dengan cara yang sulit dimengerti keterasingan itu menyebabkan orang berpikir tentang satu hal paling sederhana dalam hidup ini: kita ini dari mana mau ke mana. Hal sederhana itu menjadi susah dijawab karena dari makhluk sederhana orang-orang telah menjadi makhluk kompleks. Sederhana berarti ''menjadi dirinya.'' Sedangkan kompleks berarti ''menjauh dari dirinya.
Bila demikian halnya, ke gunungkah arah yang mesti dituju oleh orang agar mereka mendapat keteraksingan aneh dari laut? Atau sebaliknya, ke lautkah arah yang mesti dituju oleh orang agar mereka mendapat keterasingan aneh dari gunung?
Ternyata tidak. Pertanyaan dan uraian di atas seperti sebuah halusinasi yang mengalihkan pikiran orang. Sehingga orang akan berpikir untuk pergi ke gunung atau ke laut. Padahal arah yang disembunyikan oleh pertanyaan dan uraian itu adalah arah ke dalam diri.
Buktinya, orang yang tidak melakukan perjalanan ke dalam dirinya, walaupun seratus tahun duduk bersila di gunung atau di laut, ia tidak akan jadi apa-apa selain dekorasi. Hanya orang yang sedang atau telah melakukan perjalanan ke dalam dirinya sajalah yang mendapatkan keterasingan aneh yang disuguhkan oleh laut dari gunung, dan gunung dari laut itu.
Sejak dahulu ribuan mungkin jutaan manusia telah menghadap Gunung Agung (Kaki Tohlangkir) dari pinggir laut, dari tengah laut, dan dari seberang lautan. Menghadap dalam hal ini diartikan memutar posisi tubuh sehingga berhadapan dengan Gunung Agung dari jarak jauh. Dalam posisi berhadapan seperti itu orang bisa memandang lama-lama dengan mata terbuka. Sehingga ketika mata ditutup pun gambar Gunung Agung itu masih utuh kelihatan.
Mungkin sudah banyak pula orang yang telah mendapat anugerah berupa pengalaman keterasingan yang aneh itu. Barangkali sudah banyak pula orang yang merasa telah dibantu oleh pengalaman itu sehingga kembali menjadi makhluk ''sederhana'', Mungkin! Kita tidak tahu itu dengan pasti.
Yang kita tahu dengan pasti, sejak dahulu ribuan bahkan jutaan orang telah menghadap Gunung Agung dari berbagai penjuru Bali, Indonesia, dan dunia Agung. Setelah sampai di kaki gunung itu mereka umumnya bersila dan bersimpuh sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka pun melakukan ritualnya dengan mata terbuka dan tertutup. Terbuka atau tertutupnya mata mereka tentu saja tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Tapi entah oleh gerak naluri atau oleh kebiasaan turun-temurun.
Mungkin sudah banyak di antara orang-orang yang menghadap itu mendapatkan apa yang mereka cari. Atau, mendapatkan anugerah yang sebelumnya tidak mereka pikirkan apalagi cari. Mungkin! Kita tidak tahu itu.
Tapi baik orang yang menghadap dari laut maupun yang menghadap persis di kaki gunung, sama-sama telah diberitahu oleh sebuah cerita tentang para dewa dan para raksasa yang bekerja memutar sebuah gunung untuk mendapatkan amerta yang berarti kehidupan, keabadian, bebas dari mati. Menurut cerita itu, pemutaran gunung itu terjadi di tengah lautan.
Begitulah, ternyata idiom sagara-giri punya arti lain lagi, yaitu gunung-kesadaran diputar di tengah lautan-kehidupan!
IBM Dharma Palguna







