1
Film 'Under The Tree' on Thu Jan 15, 2009 9:39 am
Bali Dalam Bingkai Mosaik Apa Adanya
Film "Under The Tree" (UTT) kini sedang diputar di bioskop-bioskop, termasuk di Denpasar. Film yang disutradarai Garin Nugroho dan seluruhnya mengambil lokasi syuting di Bali serta sebagian besar menggunakan medium bahasa Bali ini bertutur tentang fenomena keseharian. Sebuah film yang diangkat dari mosaik realita tersebar sekitar masalah sosial yang terjadi belakangan ini.
Seluruh isi film memperlihatkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Bali sekaligus konflik sosial yang kerap mewarnainya. Ada tiga perempuan yang menjadi tokoh sentral dalam film ini yakni Dewi (dibintangi Ayu Laksmi), Maharani (Marcela Zalianti), dan Nian (Nadia Saphira). Plotnya pun terbagi tiga, masing-masing dibalut dengan tradisi yang dilakoni masyarakat Bali.
Maharani adalah perempuan yang mencari ibu kandungnya yang konon adalah penari yang tinggal di Bali. Di Bali ia tinggal di salah satu kampung komunitas penari. Namun di situ Maharani tak ketemu ibunya, malah sempat jadi tersangka di kasus penjualan bayi. Lalu, ada kisah Nian, gadis keluarga kaya dari Jakarta yang belakangan ayahnya dihukum lantaran kasus korupsi. Di Bali, Nian jatuh hati kepada seorang laki-laki tua.
Bagaimana dengan Dewi yang "asli" perempuan Bali itu? Ia seorang perempuan yang harus menerima kenyataan bahwa anak yang dikandungnya menderita penyakit kelainan otak. Dokter mengatakan bahwa calon anaknya bakal tidak mampu hidup jika lahir kelak. Dewi pun mengalami konflik batin yang hebat.
Film UTT ini seperti mosaik tersebar seputar kebudayaan masyarakat Bali. Serpihan mosaik Bali itu -- dari sikap hidup sampai tingkah laku -- tersaji ibarat perjalanan layar yang cepat dan saling tindih, penuh dengan adegan simbolistis. Kesan Bali yang "kental" terasa ketika para tokohnya menggunakan bahasa Bali di sepanjang adegan. Hanya tokoh Maharani yang bertutur dalam bahasa Indonesia dan Nian menggunakan bahasa khas remaja Jakarta.
Konon, Garin selaku sutradara tidak memberikan skenario kepada para pemainnya. Ia membebaskan para pemainnya untuk mengeksplorasi kemampuan aktingnya. Hasilnya, akting para pemainnya pun terasa apa adanya, alamiah, natural, dan amat terkesan "bukan film". Tak salah jika kemudian dua pemainnya, Ayu Laksmi dan Ariani, masuk nominasi terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Ayu Laksmi nominator aktris terbaik dan Ariani aktris pendukung terbaik. Hanya, akhirnya hanya Ariani yang menang.
Sebagaimana pernah dijelaskan Ayu Laksmi, upaya untuk mengangkat seni budaya lokal dan masyarakatnya dalam sebuah film memberi dampak yang sangat positif bagi banyak hal, salah satunya memberi kepercayaan diri pada si aktor dan aktris tersebut. "Saya ini sebenarnya orang yang sangat tidak percaya diri terhadap kemampuan saya, tetapi kepercayaan Garin pada saya menimbulkan kekuatan bahwa saya ternyata sangat potensial di dunia film," kata Ayu yang dikenal sebagai penyanyi ini.
Film ini juga menampilkan para maestro seni Bali seperti penari Ni Ketut Cenik (80), Ayu Ketut Muklen, Ni Ketut Arini, I Ketut Rina dan dr. Bulan Trisna Djelantik. Sebelum diputar resmi di Indonesia, film ini telah ditayangkan pada beberapa festival film internasional. Salah satunya dalam "Tokyo Film Festival 2008" dan berhasil masuk kategori International Competition Selection.
Sebelumnya, film ini juga mengikuti "Toronto International Film Festival 2008", "Vancouver International Film Festival 2008", "London International Film Festival 2008", "Jakarta International Film Festival 2008", dan akan diikutkan dalam "Rotterdam International International Film Festival 2009". Pada FFI 2008, film ini meraih dua penghargaan untuk kategori tata artistik terbaik dan aktris pendukung terbaik. (tin*BP)
Film "Under The Tree" (UTT) kini sedang diputar di bioskop-bioskop, termasuk di Denpasar. Film yang disutradarai Garin Nugroho dan seluruhnya mengambil lokasi syuting di Bali serta sebagian besar menggunakan medium bahasa Bali ini bertutur tentang fenomena keseharian. Sebuah film yang diangkat dari mosaik realita tersebar sekitar masalah sosial yang terjadi belakangan ini.
Seluruh isi film memperlihatkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Bali sekaligus konflik sosial yang kerap mewarnainya. Ada tiga perempuan yang menjadi tokoh sentral dalam film ini yakni Dewi (dibintangi Ayu Laksmi), Maharani (Marcela Zalianti), dan Nian (Nadia Saphira). Plotnya pun terbagi tiga, masing-masing dibalut dengan tradisi yang dilakoni masyarakat Bali.
Maharani adalah perempuan yang mencari ibu kandungnya yang konon adalah penari yang tinggal di Bali. Di Bali ia tinggal di salah satu kampung komunitas penari. Namun di situ Maharani tak ketemu ibunya, malah sempat jadi tersangka di kasus penjualan bayi. Lalu, ada kisah Nian, gadis keluarga kaya dari Jakarta yang belakangan ayahnya dihukum lantaran kasus korupsi. Di Bali, Nian jatuh hati kepada seorang laki-laki tua.
Bagaimana dengan Dewi yang "asli" perempuan Bali itu? Ia seorang perempuan yang harus menerima kenyataan bahwa anak yang dikandungnya menderita penyakit kelainan otak. Dokter mengatakan bahwa calon anaknya bakal tidak mampu hidup jika lahir kelak. Dewi pun mengalami konflik batin yang hebat.
Film UTT ini seperti mosaik tersebar seputar kebudayaan masyarakat Bali. Serpihan mosaik Bali itu -- dari sikap hidup sampai tingkah laku -- tersaji ibarat perjalanan layar yang cepat dan saling tindih, penuh dengan adegan simbolistis. Kesan Bali yang "kental" terasa ketika para tokohnya menggunakan bahasa Bali di sepanjang adegan. Hanya tokoh Maharani yang bertutur dalam bahasa Indonesia dan Nian menggunakan bahasa khas remaja Jakarta.
Konon, Garin selaku sutradara tidak memberikan skenario kepada para pemainnya. Ia membebaskan para pemainnya untuk mengeksplorasi kemampuan aktingnya. Hasilnya, akting para pemainnya pun terasa apa adanya, alamiah, natural, dan amat terkesan "bukan film". Tak salah jika kemudian dua pemainnya, Ayu Laksmi dan Ariani, masuk nominasi terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Ayu Laksmi nominator aktris terbaik dan Ariani aktris pendukung terbaik. Hanya, akhirnya hanya Ariani yang menang.
Sebagaimana pernah dijelaskan Ayu Laksmi, upaya untuk mengangkat seni budaya lokal dan masyarakatnya dalam sebuah film memberi dampak yang sangat positif bagi banyak hal, salah satunya memberi kepercayaan diri pada si aktor dan aktris tersebut. "Saya ini sebenarnya orang yang sangat tidak percaya diri terhadap kemampuan saya, tetapi kepercayaan Garin pada saya menimbulkan kekuatan bahwa saya ternyata sangat potensial di dunia film," kata Ayu yang dikenal sebagai penyanyi ini.
Film ini juga menampilkan para maestro seni Bali seperti penari Ni Ketut Cenik (80), Ayu Ketut Muklen, Ni Ketut Arini, I Ketut Rina dan dr. Bulan Trisna Djelantik. Sebelum diputar resmi di Indonesia, film ini telah ditayangkan pada beberapa festival film internasional. Salah satunya dalam "Tokyo Film Festival 2008" dan berhasil masuk kategori International Competition Selection.
Sebelumnya, film ini juga mengikuti "Toronto International Film Festival 2008", "Vancouver International Film Festival 2008", "London International Film Festival 2008", "Jakarta International Film Festival 2008", dan akan diikutkan dalam "Rotterdam International International Film Festival 2009". Pada FFI 2008, film ini meraih dua penghargaan untuk kategori tata artistik terbaik dan aktris pendukung terbaik. (tin*BP)







