1
Letto Luncurkan 'Lethologica' on Mon Feb 02, 2009 9:14 am
Jakarta - Bagi vokalis band Letto, Noe, bermain dengan kata-kata sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Dia memang punya setumpuk lirik yang siap dituangkan dalam nada-nada dan lagu maupun puisi. Terkadang terkesan sangat serius dan cenderung religius. Maklum, dia anak budayawan dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib yang lahir di salah satu negara Eropa.
Lalu, apa hubungannya dengan lethologica? Lethologica bukanlah sebuah plesetan. Melainkan nama dari suatu kelainan psikologis yang membuat seseorang bisa lupa tentang sebuah kata kunci atau nama dalam sebuah percakapan. "Namun, lethologica yang jadi judul album terbaru kami adalah langkah atau cara berpikir kami tentang suatu masalah. Terlepas dari plesetan atau tidak, setidaknya kata-kata itu memberi sebuah makna baru," lontar Noe ketika merilis album barunya berjudul "Lethologica" di Jakarta, baru-baru ini.
Lagu jagoan di album ini bertajuk "Lubang di Hati" yang bermakna membuka mata kita dan melihat dunia ini dengan perspektif yang berbeda. "Memandang cinta dengan pola pikir dan emosi yang lebih tertata. Dan mengajak kita tak pernah berhenti melalui kesenangan hidup yang kadang melelahkan. Lagu ini kami pilih sebagai single pertama dengan penuh harapan, bahwa Letto bisa mengisi lubang di relung-relung hati para pecinta musik," tutur Noe yang diiyakan tiga rekannya, Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedi (drum).
Lagu lain yang bisa disimak dan perlu direnungkan adalah "Senyumanmu", "Ku Tak Percaya" dan "Lagi Itu Lagi". Lagu "Ku Tak Percaya" menggambarkan kehancuran hati seseorang saat termakan janji palsu sang buaya darat. "Saat banyak orang menawarkan berbagai janji indah untuk menarik perhatian kita, lagu ini bisa membantu kita untuk mempertanyakan lagi janji-janji yang mereka banggakan itu. Apakah mereka memang pahlawan yang kita nantikan atau hanya sekedar buaya penebar janji," cetus Noe.
Secara konsep, tampak Letto sangat berbeda dengan band kebanyakan. Mereka tak terseret arus, tapi tetap berusaha eksis dengan gaya mereka sendiri. Bermain dengan kata-kata penuh makna dan musik ringan yang menghanyutkan. (pik)
Lalu, apa hubungannya dengan lethologica? Lethologica bukanlah sebuah plesetan. Melainkan nama dari suatu kelainan psikologis yang membuat seseorang bisa lupa tentang sebuah kata kunci atau nama dalam sebuah percakapan. "Namun, lethologica yang jadi judul album terbaru kami adalah langkah atau cara berpikir kami tentang suatu masalah. Terlepas dari plesetan atau tidak, setidaknya kata-kata itu memberi sebuah makna baru," lontar Noe ketika merilis album barunya berjudul "Lethologica" di Jakarta, baru-baru ini.
Lagu jagoan di album ini bertajuk "Lubang di Hati" yang bermakna membuka mata kita dan melihat dunia ini dengan perspektif yang berbeda. "Memandang cinta dengan pola pikir dan emosi yang lebih tertata. Dan mengajak kita tak pernah berhenti melalui kesenangan hidup yang kadang melelahkan. Lagu ini kami pilih sebagai single pertama dengan penuh harapan, bahwa Letto bisa mengisi lubang di relung-relung hati para pecinta musik," tutur Noe yang diiyakan tiga rekannya, Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedi (drum).
Lagu lain yang bisa disimak dan perlu direnungkan adalah "Senyumanmu", "Ku Tak Percaya" dan "Lagi Itu Lagi". Lagu "Ku Tak Percaya" menggambarkan kehancuran hati seseorang saat termakan janji palsu sang buaya darat. "Saat banyak orang menawarkan berbagai janji indah untuk menarik perhatian kita, lagu ini bisa membantu kita untuk mempertanyakan lagi janji-janji yang mereka banggakan itu. Apakah mereka memang pahlawan yang kita nantikan atau hanya sekedar buaya penebar janji," cetus Noe.
Secara konsep, tampak Letto sangat berbeda dengan band kebanyakan. Mereka tak terseret arus, tapi tetap berusaha eksis dengan gaya mereka sendiri. Bermain dengan kata-kata penuh makna dan musik ringan yang menghanyutkan. (pik)







