1
'Emas' di Perbatasan Sering Munculkan Konflik on Fri Aug 01, 2008 9:18 am
GIANYAR tidak ubahnya seperti gunung yang tampak dari kejauhan. Semuanya tampak indah. Padahal kabupaten seni itu menyimpan berbagai masalah yang setiap saat bisa muncul kalau tidak segera dicarikan jalan keluarnya.
Salah satunya adalah konflik adat. Kasus kasepekang, ketegangan antarwarga banjar kerap terjadi di kabupaten seni ini. Bahkan, tak jarang kasusnya sampai ke proses hukum. Salah satu pemicunya adalah tapal batas.
Dua banjar yang sebelumnya rukun, berubah jadi beringas gara-gara memperbutkan tapal batas. setelah ditelusuri, ternyata di perbatasan itu ada 'emas' yang siap ditambang setiap tahun atau setiap kegiatan desa.
Kehadiran investor yang menanamkan modal di daerah perbatasan tersebut sering menjadi awal konflik. Mereka sering berebut iming-iming kontribusi dari investor. Sampai-sampai mengorbankan kerukunan yang telah terbina ratusan tahun.
Selain kasus adat, ikon pariwisata budaya yang melekat pada Gianyar kini telah bergeser. Eksploitasi alam secara besar-besaran telah merusak trade mark tersebut. Seiring perkembangan dari pariwisata tersebut, tak terasa banyak alam yang telah tereksploitasi. Konsep wisata budaya yang menjadi ikon Gianyar sendiri mulai bergeser. Eksploitasi alam menjadi tak terbendung, baik di daerah pegunungan maupun di kawasan pesisir.
Data tahun 2006 di Kabupaten Gianyar menunjukkan hotel yang dimiliki sebanyak 138 buah, terdiri atas hotel berbintang 12 buah dan hotel melati 126 buah. Belum lagi dengan banyaknya pondok wisata (vila) yang mencapai 420 buah.
Keberadaan pembangunan tersebut telah menggeser sejumlah lahan produktif yang ada. Di samping daerah lereng dataran tinggi, tebing-tebing sungai bahkan kini merambah ke daerah kawasan pesisir. Gianyar yang mempunyai bentangan kawasan pantai sepanjang 15 km kini diserbu dengan bangunan vila.
Fakta yang ada, eksploitasi yang dilakukan terhadap alam di sekitar kawasan tersebut tidak banyak memberikan dampak bagi masyarakat setempat. Logikanya, dengan perkembangan yang demikian pesat, setidaknya mampu mengurangi angka kemiskinan yang terjadi. Namun, faktanya terbalik. Di tengah laju pariwisata dengan mengeksploitasi alam yang kian meruyak, angka kemiskinan semakin bertambah. Keberadaan KK miskin di Gianyar yang tahun 2005 sebanyak 7.629 KK, kini malah mengalami peningkatan sebanyak 762 KK miskin. Termasuk dalam hal ini jumlah pengangguran yang ada masih ribuan orang.
Kapala Bappeda Gianyar Wayan Dirgayusa, S.H. mengatakan segera melakukan penataan terhadap sejumlah pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir, termasuk dalam penertiban perizinan terhadap pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir.
Kerajinan
Selain akses pariwisata, dalam pemenuhan kebutuhan dengan korelasi seni yang ada, masyarakat Gianyar menyediakan ruang dalam bentuk sektor kerajinan. Perajin yang tercatat secara investasi pada tahun 2007 sebanyak 22.144 orang. Jumlah kerajinan dari sektor investasi ini telah menampung sekitar 65.802 tenaga kerja. Namun, masalah modal, pemasaran serta bahan baku (kayu khususnya) masih menjadi masalah yang perlu disikapi pemerintah.
Kepala Disperindagkop Gede Widarma Suharta menyebutkan permodalan merupakan masalah klasik bagi perajin. Akan hal tersebut, pemerintah dewasa ini telah menyediakan fasilitas permodalan melalui kredit tanpa agunan, KUR, serta melakukan kerja sama dengan permodalan madani.
Dari tiga permasalahan tersebut, semestinya pemerintah daerah segera mencarikan jalan keluar. Jalan keluar tersebut, jangan hanya berpihak pada kepentingan ekonomi, juga harus berpihak pada alam dan masyarakat. Pemetaan wilayah merupakan hal yang mendesak dilakukan untuk menghindari perebutan 'emas' di wilayah perbatasan. (dar)
source: BP
Salah satunya adalah konflik adat. Kasus kasepekang, ketegangan antarwarga banjar kerap terjadi di kabupaten seni ini. Bahkan, tak jarang kasusnya sampai ke proses hukum. Salah satu pemicunya adalah tapal batas.
Dua banjar yang sebelumnya rukun, berubah jadi beringas gara-gara memperbutkan tapal batas. setelah ditelusuri, ternyata di perbatasan itu ada 'emas' yang siap ditambang setiap tahun atau setiap kegiatan desa.
Kehadiran investor yang menanamkan modal di daerah perbatasan tersebut sering menjadi awal konflik. Mereka sering berebut iming-iming kontribusi dari investor. Sampai-sampai mengorbankan kerukunan yang telah terbina ratusan tahun.
Selain kasus adat, ikon pariwisata budaya yang melekat pada Gianyar kini telah bergeser. Eksploitasi alam secara besar-besaran telah merusak trade mark tersebut. Seiring perkembangan dari pariwisata tersebut, tak terasa banyak alam yang telah tereksploitasi. Konsep wisata budaya yang menjadi ikon Gianyar sendiri mulai bergeser. Eksploitasi alam menjadi tak terbendung, baik di daerah pegunungan maupun di kawasan pesisir.
Data tahun 2006 di Kabupaten Gianyar menunjukkan hotel yang dimiliki sebanyak 138 buah, terdiri atas hotel berbintang 12 buah dan hotel melati 126 buah. Belum lagi dengan banyaknya pondok wisata (vila) yang mencapai 420 buah.
Keberadaan pembangunan tersebut telah menggeser sejumlah lahan produktif yang ada. Di samping daerah lereng dataran tinggi, tebing-tebing sungai bahkan kini merambah ke daerah kawasan pesisir. Gianyar yang mempunyai bentangan kawasan pantai sepanjang 15 km kini diserbu dengan bangunan vila.
Fakta yang ada, eksploitasi yang dilakukan terhadap alam di sekitar kawasan tersebut tidak banyak memberikan dampak bagi masyarakat setempat. Logikanya, dengan perkembangan yang demikian pesat, setidaknya mampu mengurangi angka kemiskinan yang terjadi. Namun, faktanya terbalik. Di tengah laju pariwisata dengan mengeksploitasi alam yang kian meruyak, angka kemiskinan semakin bertambah. Keberadaan KK miskin di Gianyar yang tahun 2005 sebanyak 7.629 KK, kini malah mengalami peningkatan sebanyak 762 KK miskin. Termasuk dalam hal ini jumlah pengangguran yang ada masih ribuan orang.
Kapala Bappeda Gianyar Wayan Dirgayusa, S.H. mengatakan segera melakukan penataan terhadap sejumlah pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir, termasuk dalam penertiban perizinan terhadap pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir.
Kerajinan
Selain akses pariwisata, dalam pemenuhan kebutuhan dengan korelasi seni yang ada, masyarakat Gianyar menyediakan ruang dalam bentuk sektor kerajinan. Perajin yang tercatat secara investasi pada tahun 2007 sebanyak 22.144 orang. Jumlah kerajinan dari sektor investasi ini telah menampung sekitar 65.802 tenaga kerja. Namun, masalah modal, pemasaran serta bahan baku (kayu khususnya) masih menjadi masalah yang perlu disikapi pemerintah.
Kepala Disperindagkop Gede Widarma Suharta menyebutkan permodalan merupakan masalah klasik bagi perajin. Akan hal tersebut, pemerintah dewasa ini telah menyediakan fasilitas permodalan melalui kredit tanpa agunan, KUR, serta melakukan kerja sama dengan permodalan madani.
Dari tiga permasalahan tersebut, semestinya pemerintah daerah segera mencarikan jalan keluar. Jalan keluar tersebut, jangan hanya berpihak pada kepentingan ekonomi, juga harus berpihak pada alam dan masyarakat. Pemetaan wilayah merupakan hal yang mendesak dilakukan untuk menghindari perebutan 'emas' di wilayah perbatasan. (dar)
source: BP







