1
SEJARAH KARANGASEM (AMLAPURA) on Thu Jul 17, 2008 4:31 pm
Sejarah Kerajaan Karangasem Dalam menguraikan sejarah
Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang dipakai sebagaimana
yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama ‘Karangasem’
sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang
terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan
bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura,
pada mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra,
Bhatara Guru menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti
atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti
dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma)
untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang
Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu
Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi. Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.
Sejarah Kerajaan Karangasem tidaklah bisa dilepaskan dengan Kerajaan
Gelgel terutama pada masa puncak kebesaran di masa pemerintahan Dalem
Waturenggong diperkirakan abad XV. Dalam sejarah, kerajaan Gelgel
pertama diperintah oleh putra Brahmana Pendeta Dang Hyang Kepakisan
bernama Kresna Wang Bang Kepakisan yang diberi jabatan sebagai adipati
oleh Patih Gajah Mada.
Setelah dilantik, beliau bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang
berkedudukan di Samprangan pada tahun saka 1274 (1352 M). Dalam
pengangkatan ini disertai pula dengan pakaian kebesaran serta keris
yang bernama I Ganja Dungkul dan sebilah tombak diberi nama I Olang Guguh.
Dalem Ketut Kresna Kepakisan kemudian wafat pada tahun caka
1302(1380 M) yang meninggalkan tiga orang putra yakni I Dewa Samprangan
(Dalem Ile) sebagai pengganti raja, I Dewa Tarukan, dan I Dewa Ktut
Tegal Besung (Dalem Ktut Ngulesir). Pada saat Dalem Ngulesir menjadi
raja, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel
(Sweca Pura). Beliau abiseka Dalem Ktut Semara Kepakisan pada
caka 1305 (1383 M). Beliau inilah satu-satunya raja dari Dinasti
Kepakisan yang masih sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit
untuk menyatakan kesetiaan. Di Majapahit beliau mendapat hadiah keris Ki Bengawan Canggu yang semula bernama Ki Naga Besuki, dan karena tuahnya juga dijuluki Ki Sudamala.
Dalem Ketut Semara Kepakisan juga sempat disucikan oleh Mpu Kayu Manis.
Namun, beberapa tahun lamanya setelah datang dari Majapahit, beliau
wafat pada caka 1382 (1460 M), dan digantikan oleh putra beliau bernama
Dalem Waturenggong. Beliau ini dinobatkan semasih ayahnya hidup pada
caka 1380 (1458 M). Jaman keemasan Dalem Waturenggong dicirikan oleh
pemberian perhatian terhadap kehidupan rakyat secara lahir dan batin.
Masyarakat menjadi aman, tenteram, makmur, dan kerajaan meluas sampai
ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang kesusastraan juga
mencapai puncak keemasan dengan lahirnya beberapa karya sastra. Keadaan
ini mencerminkan bahwa raja memiliki pribadi yang sakti, berwibawa,
adil, serta tegas dalam memutar jalannya roda pemerintahan.
Setelah wafat, Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yang belum
dewasa yaitu Dewa Pemayun (Dalem Bekung) dan I Dewa Anom Saganing
(Dalem Saganing). Karena umurnya yang masih muda maka diperlukan
pendamping dalam hal menjalankan roda pemerintahan.
Adapun lima orang putra yang menjadi pendamping raja yaitu putra I Dewa
Tegal Besung (adik Dalem Waturenggong) diantaranya I Dewa Gedong Arta,
I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan.
Jabatan Patih Agung pada saat itu dipegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk
dan semua kebijakan pemerintahan dipegang oleh Patih Arya Batanjeruk.
Melihat situasi seperti ini, pejabat kerajaan menjadi tidak puas. Suatu
ketika disebutkan kepekaan para pembesar istana saat raja yang masih
belia itu dihadap para pembesar. Raja yang masih suka bermain-main ke
sana-ke mari selalu duduk di pangkuan Ki Patih Agung. Dalem Pemayun
duduk di atas pupu sebelah kanan dan Ida I Dewa Anom Saganing di
sebelah kiri. Kemudian kedua raja ini turun lagi dan duduk di belakang
punggung Ki Patih. Isu berkembang bahwa I Gusti Arya Batanjeruk akan
mengadakan perebutan kekuasaan. Nasehat Dang Hyang Astapaka terhadap
maksud ini tidak diperhatikan oleh Ki Patih Agung sehingga kekecewaan
ini menyebabkan hijrahnya Dang Hyang Astapaka menuju ke sebuah desa
bernama Budakeling di Karangasem.
Kekacauan di Gelgel terjadi pada tahun 1556 saat Patih Agung Batanjeruk
dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan
perebutan kekuasaan yang diikuti oleh I Gusti Pande dan I Gusti
Tohjiwa. I Gusti Kubon Tubuh dan I Gusti Dauh Manginte akhirnya dapat
melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Diceritakan Batanjeruk lari ke arah
timur dan sampai di Jungutan, Desa Bungaya ia dibunuh oleh pasukan
Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti
Oka (putra I Gusti Bebengan, adik dari I Gusti Arya Batanjeruk) serta
keluarga lainnya seperti I Gusti Arya Bebengan, I Gusti Arya Tusan, dan
I Gusti Arya Gunung Nangka dapat menyelamatkan diri berkat pohon
jawawut dan burung perkutut yang seolah olah melindungi mereka dari
persembunyian, sehingga sampai kini keturunannya tidak makan buah
jawawut dan burung perkutut. I Gusti Oka kemudian mengungsi di kediaman
Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada
yang menetap di Watuaya, Karangasem. Sedikit diceritakan bahwa Dang
Hyang Astapaka juga punya asrama di Bukit Mangun di Desa Toya Anyar
(Tianyar) dan I Gusti Oka selalu mengikuti Danghyang Astapaka di Bukit
Mangun, sedangkan ibunya tinggal di Budakeling membantu sang pendeta
bila ada keperluan pergi ke pasar Karangasem.
Pada waktu itu, Karangasem ada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dan
yang menjadi raja adalah I Dewa Karangamla yang berkedudukan di
Selagumi (Balepunduk). I Dewa Karangamla inilah yang mengawini janda
Batanjeruk dengan suatu syarat sesuai nasehat Dang Hyang Astapaka bahwa
setelah kawin, kelak I Gusti Pangeran Oka atau keturunannyalah yang
menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa
Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga
mempunyai putra dari istrinya yang lain yakni bernama I Dewa Gde
Batuaya. Penyerahan pemerintahan kepada I Gusti Oka (raja Karangasem I)
inilah menandai kekuasaan di Karangasem dipegang oleh dinasti
Batanjeruk.
I Gusti Oka atau dikenal dengan Pangeran Oka memiliki tiga orang istri, dua orang prebali yang seorang diantaranya treh I
Gusti Akah. Para istri ini menurunkan enam orang putra yaitu tertua
bernama I Gusti Wayahan Teruna dan I Gusti Nengah Begbeg. Sedangkan
istri yang merupakan treh I Gusti Akah berputra I Gusti Nyoman Karang. Putra dari istri prebali
yang lain adalah I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan dan I
Gusti Wayahan Bantas. Setelah putranya dewasa, I Gusti Pangeran Oka
meninggalkan Batuaya pergi bertapa di Bukit Mangun, Toya Anyar. Beliau
mengikuti jejak Dang Hyang Astapaka sampai wafat di Bukit Mangun. I
Gusti Nyoman Karang inilah yang meggantikan ayahnya menjadi raja (raja
Karangasem II) yang diperkirakan tahun 1611 Masehi.
I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ktut Karang yang setelah menjadi raja bergelar (abhiseka) I Gusti Anglurah Ktut Karang(raja Karangasem III). Beliau ini diperikirakan mendirikan Puri
Amlaraja yang kemudian bernama Puri Kelodan pada pertengahan abad XVII
(sekitar tahun caka 1583, atau tahun 1661 M). I Gusti Anglurah Ktut
Karang berputra empat orang yaitu tiga orang laki-laki dan
satuperempuan. Putranyayang tertuabernama I Gusti Anglurah Wayan
Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai
dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem. Ketiga orang putra inilah yang
didaulat menjadi raja Karangasem (raja Karangasem IV/Tri Tunggal I)
yang memerintah secara kolektif sebagai suatu hal yang dianggap lazim
pada jaman itu. Pemerintahan ini diperkirakan tahun 1680-1705.
Selanjutnya yang menjadi raja Karangasem adalah putra I Gusti Anglurah
Nengah Karangasem yaitu I Gusti Anglurah Made Karang (raja Karangasem
V). Selanjutnya I Gusti Anglurah Made Karang berputra enam orang, empat
orang laki-laki dan dua orang wanita. Salah seorang dari enam putranya
yang sulung bernama I Gusti Anglurah Made Karangasem Saktiyang dijuluki
Sang Atapa Rare karena gemar menjalankan yoga semadi sebagai pengikut
Dang Hyang Astapaka. Dalam keadaan atapa rare inilah beliau menghadapi maut dibunuh oleh prajurit Gelgel atas perintah Cokorda Jambe ketika beliau kembali dari Sangeh.
Diceritakan, atas perkenan Raja Mengwi Sang Atape Rare membangun Pura
Bukit Sari yang ada di Sangeh. Sekembalinya dari Sangeh beliau sempat
mampir di Gelgel yang pada waktu itu berkuasa adalah Cokorda Jambe.
Karena tingkah yang aneh-aneh di istana yang tidak bisa menahan kencing
menyebabkan terjadi salah paham, dan dianggap telah menghina raja. Maka
setelah keberangkatannya ke Karangasem, beliau dicegat di sebelah timur
Desa Kusamba, di padasan Bulatri. sebelum beliau wafat, beliau sempat pula memberikan pesan-pesan kediatmikan kepada
putranya yakni I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem. Beliau ini kemudian
dikenal dengan sebutan Dewata di Bulatri. Peristiwa ini menyebabkan
perang antara Karangasem dan Klungkung (Gelgel) yang dikenal dengan pepet (dalam keadaan perang). Setelah gugurnya Cokorda Jambe, maka ketegangan antara Karangasem dan Klungkung menjadi reda.
Tahta di Karangasem kemudian dilanjutkan oleh tiga orang putranya yaitu
I Gusti Anglurah Made Karangasem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem,
dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem(raja Karangasem Tri Tunggal II) yang diperkirakan memerintah 1755-1801. Setelah raja Tri Tunggal wafat,
pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gde Karangasem
(Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat ini Kerajaan
Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng
dan Jembrana.
Setelah wafat, I Gusti Gde Ngurah Karangasem
digantikan oleh anaknya bernama I Gusti Lanang Peguyangan yang juga
dikenal dengan I Gusti Gde Lanang Karangasem. Kemenangan Kerajaan
Buleleng melawan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem (I
Gusti Lanang Peguyangan) menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem
dikuasai oleh raja Buleleng I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat
direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan punggawa
yang bernama I Gusti Bagus Karang tahun 1827 berhasil menggulingkan I
Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta
Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.
Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat
yang sama Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil
menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gde Cotong
menjadi raja Karangasem. Setelah I Gusti Gde Cotong terbunuh akibat
perebutan kekuasaan, tahta Karangasem dilanjutkan oleh saudara sepupu
raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gde Karangasem.
Pada saat Kerajaan Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20
Mei 1849, raja Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karangasem gugur dalam
peristiwa tersebut sehingga pemerintahan di Karangasem mengalami
kekosongan (vacuum).
Maka dinobatkanlah raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem sebagai
raja di Karangasem oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah berselang
beberapa waktu kemudian, raja Mataram menugaskan kemenakannya menjadi
raja yaitu I Gusti Gde Putu (Anak Agung Gde Putu) yang juga disebut ‘Raja Jumeneng’, I Gusti Gde Oka (Anak Agung Gde Oka), dan Anak Agung Gde Jelantik.
Setelah masuknya Belanda, membawa pengaruh pula dalam hal birokrasi
pemerintahan. Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk
pemerintahan yaitu (1) Rechtstreeks bestuurd gebied (pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok, (2) Zelfbesturend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung, dan Bangli, (3) Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) ialah Gianyar dan Karangasem. Demikianlah di Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder yaitu tahun 1896-1908; I Gusti Gde Jelantik (Dewata di Maskerdam), dan Stedehouder I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem (Dewata di Maskerdam) antar tahun 1908-1941.
Demikian sajian ringkas sejarah Kerajaan Karangasem yang dijadikan
gambaran umum kajian pokok objek penelitian. Deskripsi historis hal ini
sangat penting mengingat dalam mengupas bagian peristiwa yang termasuk
rentetan sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang
terjadi. Sehingga dalam segi manfaat, dimensi waktu akan dapat
ditangkap oleh pembaca mengenai kurun waktu peristiwa dimaksud.
Demikian pula dalam kajian ini, maka objek penekanannya adalah saat
masa raja Karangasem dinasti Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem.
Masa Dinasti Tri Tunggal I
Masa kekuasaan Kerajaan Karangasem Tri Tunggal I menjadi
sajian yang perlu mendapat pemahaman dalam relevansinya menjabarkan
objek penelitian. Ketika pemerintahan Kerajaan Karangasem yang
diperintah oleh Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan
Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah
Ktut Karangasem inilah muncul mitologi Pura Bukit sebagaimana
diceritakan dalam buku Kupu-Kupu Kuning. Saudara raja Tri Tunggal yang
bernama I Gusti Ayu Nyoman Rai diambil menjadi istri oleh Ida Bhatara
Gde di Gunung Agung yang kemudian melahirkan Ida Bhatara Alit Sakti
yang kini bermukim di Pura Bukit.
Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang dipakai sebagaimana
yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama ‘Karangasem’
sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang
terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan
bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura,
pada mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra,
Bhatara Guru menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti
atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti
dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma)
untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang
Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu
Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi. Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.
Sejarah Kerajaan Karangasem tidaklah bisa dilepaskan dengan Kerajaan
Gelgel terutama pada masa puncak kebesaran di masa pemerintahan Dalem
Waturenggong diperkirakan abad XV. Dalam sejarah, kerajaan Gelgel
pertama diperintah oleh putra Brahmana Pendeta Dang Hyang Kepakisan
bernama Kresna Wang Bang Kepakisan yang diberi jabatan sebagai adipati
oleh Patih Gajah Mada.
Setelah dilantik, beliau bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang
berkedudukan di Samprangan pada tahun saka 1274 (1352 M). Dalam
pengangkatan ini disertai pula dengan pakaian kebesaran serta keris
yang bernama I Ganja Dungkul dan sebilah tombak diberi nama I Olang Guguh.
Dalem Ketut Kresna Kepakisan kemudian wafat pada tahun caka
1302(1380 M) yang meninggalkan tiga orang putra yakni I Dewa Samprangan
(Dalem Ile) sebagai pengganti raja, I Dewa Tarukan, dan I Dewa Ktut
Tegal Besung (Dalem Ktut Ngulesir). Pada saat Dalem Ngulesir menjadi
raja, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel
(Sweca Pura). Beliau abiseka Dalem Ktut Semara Kepakisan pada
caka 1305 (1383 M). Beliau inilah satu-satunya raja dari Dinasti
Kepakisan yang masih sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit
untuk menyatakan kesetiaan. Di Majapahit beliau mendapat hadiah keris Ki Bengawan Canggu yang semula bernama Ki Naga Besuki, dan karena tuahnya juga dijuluki Ki Sudamala.
Dalem Ketut Semara Kepakisan juga sempat disucikan oleh Mpu Kayu Manis.
Namun, beberapa tahun lamanya setelah datang dari Majapahit, beliau
wafat pada caka 1382 (1460 M), dan digantikan oleh putra beliau bernama
Dalem Waturenggong. Beliau ini dinobatkan semasih ayahnya hidup pada
caka 1380 (1458 M). Jaman keemasan Dalem Waturenggong dicirikan oleh
pemberian perhatian terhadap kehidupan rakyat secara lahir dan batin.
Masyarakat menjadi aman, tenteram, makmur, dan kerajaan meluas sampai
ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang kesusastraan juga
mencapai puncak keemasan dengan lahirnya beberapa karya sastra. Keadaan
ini mencerminkan bahwa raja memiliki pribadi yang sakti, berwibawa,
adil, serta tegas dalam memutar jalannya roda pemerintahan.
Setelah wafat, Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yang belum
dewasa yaitu Dewa Pemayun (Dalem Bekung) dan I Dewa Anom Saganing
(Dalem Saganing). Karena umurnya yang masih muda maka diperlukan
pendamping dalam hal menjalankan roda pemerintahan.
Adapun lima orang putra yang menjadi pendamping raja yaitu putra I Dewa
Tegal Besung (adik Dalem Waturenggong) diantaranya I Dewa Gedong Arta,
I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan.
Jabatan Patih Agung pada saat itu dipegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk
dan semua kebijakan pemerintahan dipegang oleh Patih Arya Batanjeruk.
Melihat situasi seperti ini, pejabat kerajaan menjadi tidak puas. Suatu
ketika disebutkan kepekaan para pembesar istana saat raja yang masih
belia itu dihadap para pembesar. Raja yang masih suka bermain-main ke
sana-ke mari selalu duduk di pangkuan Ki Patih Agung. Dalem Pemayun
duduk di atas pupu sebelah kanan dan Ida I Dewa Anom Saganing di
sebelah kiri. Kemudian kedua raja ini turun lagi dan duduk di belakang
punggung Ki Patih. Isu berkembang bahwa I Gusti Arya Batanjeruk akan
mengadakan perebutan kekuasaan. Nasehat Dang Hyang Astapaka terhadap
maksud ini tidak diperhatikan oleh Ki Patih Agung sehingga kekecewaan
ini menyebabkan hijrahnya Dang Hyang Astapaka menuju ke sebuah desa
bernama Budakeling di Karangasem.
Kekacauan di Gelgel terjadi pada tahun 1556 saat Patih Agung Batanjeruk
dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan
perebutan kekuasaan yang diikuti oleh I Gusti Pande dan I Gusti
Tohjiwa. I Gusti Kubon Tubuh dan I Gusti Dauh Manginte akhirnya dapat
melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Diceritakan Batanjeruk lari ke arah
timur dan sampai di Jungutan, Desa Bungaya ia dibunuh oleh pasukan
Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti
Oka (putra I Gusti Bebengan, adik dari I Gusti Arya Batanjeruk) serta
keluarga lainnya seperti I Gusti Arya Bebengan, I Gusti Arya Tusan, dan
I Gusti Arya Gunung Nangka dapat menyelamatkan diri berkat pohon
jawawut dan burung perkutut yang seolah olah melindungi mereka dari
persembunyian, sehingga sampai kini keturunannya tidak makan buah
jawawut dan burung perkutut. I Gusti Oka kemudian mengungsi di kediaman
Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada
yang menetap di Watuaya, Karangasem. Sedikit diceritakan bahwa Dang
Hyang Astapaka juga punya asrama di Bukit Mangun di Desa Toya Anyar
(Tianyar) dan I Gusti Oka selalu mengikuti Danghyang Astapaka di Bukit
Mangun, sedangkan ibunya tinggal di Budakeling membantu sang pendeta
bila ada keperluan pergi ke pasar Karangasem.
Pada waktu itu, Karangasem ada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dan
yang menjadi raja adalah I Dewa Karangamla yang berkedudukan di
Selagumi (Balepunduk). I Dewa Karangamla inilah yang mengawini janda
Batanjeruk dengan suatu syarat sesuai nasehat Dang Hyang Astapaka bahwa
setelah kawin, kelak I Gusti Pangeran Oka atau keturunannyalah yang
menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa
Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga
mempunyai putra dari istrinya yang lain yakni bernama I Dewa Gde
Batuaya. Penyerahan pemerintahan kepada I Gusti Oka (raja Karangasem I)
inilah menandai kekuasaan di Karangasem dipegang oleh dinasti
Batanjeruk.
I Gusti Oka atau dikenal dengan Pangeran Oka memiliki tiga orang istri, dua orang prebali yang seorang diantaranya treh I
Gusti Akah. Para istri ini menurunkan enam orang putra yaitu tertua
bernama I Gusti Wayahan Teruna dan I Gusti Nengah Begbeg. Sedangkan
istri yang merupakan treh I Gusti Akah berputra I Gusti Nyoman Karang. Putra dari istri prebali
yang lain adalah I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan dan I
Gusti Wayahan Bantas. Setelah putranya dewasa, I Gusti Pangeran Oka
meninggalkan Batuaya pergi bertapa di Bukit Mangun, Toya Anyar. Beliau
mengikuti jejak Dang Hyang Astapaka sampai wafat di Bukit Mangun. I
Gusti Nyoman Karang inilah yang meggantikan ayahnya menjadi raja (raja
Karangasem II) yang diperkirakan tahun 1611 Masehi.
I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ktut Karang yang setelah menjadi raja bergelar (abhiseka) I Gusti Anglurah Ktut Karang(raja Karangasem III). Beliau ini diperikirakan mendirikan Puri
Amlaraja yang kemudian bernama Puri Kelodan pada pertengahan abad XVII
(sekitar tahun caka 1583, atau tahun 1661 M). I Gusti Anglurah Ktut
Karang berputra empat orang yaitu tiga orang laki-laki dan
satuperempuan. Putranyayang tertuabernama I Gusti Anglurah Wayan
Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai
dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem. Ketiga orang putra inilah yang
didaulat menjadi raja Karangasem (raja Karangasem IV/Tri Tunggal I)
yang memerintah secara kolektif sebagai suatu hal yang dianggap lazim
pada jaman itu. Pemerintahan ini diperkirakan tahun 1680-1705.
Selanjutnya yang menjadi raja Karangasem adalah putra I Gusti Anglurah
Nengah Karangasem yaitu I Gusti Anglurah Made Karang (raja Karangasem
V). Selanjutnya I Gusti Anglurah Made Karang berputra enam orang, empat
orang laki-laki dan dua orang wanita. Salah seorang dari enam putranya
yang sulung bernama I Gusti Anglurah Made Karangasem Saktiyang dijuluki
Sang Atapa Rare karena gemar menjalankan yoga semadi sebagai pengikut
Dang Hyang Astapaka. Dalam keadaan atapa rare inilah beliau menghadapi maut dibunuh oleh prajurit Gelgel atas perintah Cokorda Jambe ketika beliau kembali dari Sangeh.
Diceritakan, atas perkenan Raja Mengwi Sang Atape Rare membangun Pura
Bukit Sari yang ada di Sangeh. Sekembalinya dari Sangeh beliau sempat
mampir di Gelgel yang pada waktu itu berkuasa adalah Cokorda Jambe.
Karena tingkah yang aneh-aneh di istana yang tidak bisa menahan kencing
menyebabkan terjadi salah paham, dan dianggap telah menghina raja. Maka
setelah keberangkatannya ke Karangasem, beliau dicegat di sebelah timur
Desa Kusamba, di padasan Bulatri. sebelum beliau wafat, beliau sempat pula memberikan pesan-pesan kediatmikan kepada
putranya yakni I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem. Beliau ini kemudian
dikenal dengan sebutan Dewata di Bulatri. Peristiwa ini menyebabkan
perang antara Karangasem dan Klungkung (Gelgel) yang dikenal dengan pepet (dalam keadaan perang). Setelah gugurnya Cokorda Jambe, maka ketegangan antara Karangasem dan Klungkung menjadi reda.
Tahta di Karangasem kemudian dilanjutkan oleh tiga orang putranya yaitu
I Gusti Anglurah Made Karangasem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem,
dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem(raja Karangasem Tri Tunggal II) yang diperkirakan memerintah 1755-1801. Setelah raja Tri Tunggal wafat,
pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gde Karangasem
(Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat ini Kerajaan
Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng
dan Jembrana.
Setelah wafat, I Gusti Gde Ngurah Karangasem
digantikan oleh anaknya bernama I Gusti Lanang Peguyangan yang juga
dikenal dengan I Gusti Gde Lanang Karangasem. Kemenangan Kerajaan
Buleleng melawan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem (I
Gusti Lanang Peguyangan) menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem
dikuasai oleh raja Buleleng I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat
direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan punggawa
yang bernama I Gusti Bagus Karang tahun 1827 berhasil menggulingkan I
Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta
Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.
Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat
yang sama Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil
menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gde Cotong
menjadi raja Karangasem. Setelah I Gusti Gde Cotong terbunuh akibat
perebutan kekuasaan, tahta Karangasem dilanjutkan oleh saudara sepupu
raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gde Karangasem.
Pada saat Kerajaan Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20
Mei 1849, raja Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karangasem gugur dalam
peristiwa tersebut sehingga pemerintahan di Karangasem mengalami
kekosongan (vacuum).
Maka dinobatkanlah raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem sebagai
raja di Karangasem oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah berselang
beberapa waktu kemudian, raja Mataram menugaskan kemenakannya menjadi
raja yaitu I Gusti Gde Putu (Anak Agung Gde Putu) yang juga disebut ‘Raja Jumeneng’, I Gusti Gde Oka (Anak Agung Gde Oka), dan Anak Agung Gde Jelantik.
Setelah masuknya Belanda, membawa pengaruh pula dalam hal birokrasi
pemerintahan. Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk
pemerintahan yaitu (1) Rechtstreeks bestuurd gebied (pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok, (2) Zelfbesturend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung, dan Bangli, (3) Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) ialah Gianyar dan Karangasem. Demikianlah di Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder yaitu tahun 1896-1908; I Gusti Gde Jelantik (Dewata di Maskerdam), dan Stedehouder I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem (Dewata di Maskerdam) antar tahun 1908-1941.
Demikian sajian ringkas sejarah Kerajaan Karangasem yang dijadikan
gambaran umum kajian pokok objek penelitian. Deskripsi historis hal ini
sangat penting mengingat dalam mengupas bagian peristiwa yang termasuk
rentetan sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang
terjadi. Sehingga dalam segi manfaat, dimensi waktu akan dapat
ditangkap oleh pembaca mengenai kurun waktu peristiwa dimaksud.
Demikian pula dalam kajian ini, maka objek penekanannya adalah saat
masa raja Karangasem dinasti Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem.
Masa Dinasti Tri Tunggal I
Masa kekuasaan Kerajaan Karangasem Tri Tunggal I menjadi
sajian yang perlu mendapat pemahaman dalam relevansinya menjabarkan
objek penelitian. Ketika pemerintahan Kerajaan Karangasem yang
diperintah oleh Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan
Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah
Ktut Karangasem inilah muncul mitologi Pura Bukit sebagaimana
diceritakan dalam buku Kupu-Kupu Kuning. Saudara raja Tri Tunggal yang
bernama I Gusti Ayu Nyoman Rai diambil menjadi istri oleh Ida Bhatara
Gde di Gunung Agung yang kemudian melahirkan Ida Bhatara Alit Sakti
yang kini bermukim di Pura Bukit.






