1
Hiperaktif pada Anak on Mon Jul 06, 2009 9:38 am
Oleh dr. I Noman Supadma
APA sebenarnya yang disebut hiperaktif? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak 1900 di dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder). Untuk dapat disebut seseorang memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi -- Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
Hiperaktif -- Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana ke mari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Impulsif -- Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respons. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan itu mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi melakukan aktivitas membahayakan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain ketiga gejala tadi, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala itu muncul setidaknya dalam dua situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Sejumlah Problem
Sejumlah problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif adalah sbb.:
1. Problem di sekolah -- Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai anak hiperaktif mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki keterampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.
2. Problem di rumah -- Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Ia juga mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesejahteraan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustrasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Pun anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi.
Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orangtua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orangtua lalu banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman.
Reaksi anak pun menolak dan berontak. Akibatnya, terjadi ketegangan antara orangtua dengan anak. Anak maupun orangtua pun jadi stres dan situasi rumah jadi kurang nyaman. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.
3. Problem berbicara -- Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi timbal balik.
Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespons lawan bicara secara tepat.
4. Problem fisik -- Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga berisiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.
Faktor Penyebab
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak.
Faktor neurologik:
1. Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Faktor bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif.
2. Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
3. Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan.
Faktor toksik:
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memiliki potensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Kadar timah dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
Faktor genetik:
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orangtua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Faktor psikososial dan lingkungan:
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orangtua dengan anaknya. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif; (1) Orangtua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas, (2) kenali kelebihan dan bakat anak, (3) membantu anak dalam bersosialisasi, (4) menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
Juga (5) memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya, (6) menerima keterbatasan anak, (7) membangkitkan rasa percaya diri anak, dan (
bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya.
Disamping itu, anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orangtua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orangtua sebelumnya. (*BP)
APA sebenarnya yang disebut hiperaktif? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak 1900 di dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder). Untuk dapat disebut seseorang memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi -- Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
Hiperaktif -- Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana ke mari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Impulsif -- Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respons. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan itu mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi melakukan aktivitas membahayakan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain ketiga gejala tadi, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala itu muncul setidaknya dalam dua situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Sejumlah Problem
Sejumlah problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif adalah sbb.:
1. Problem di sekolah -- Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai anak hiperaktif mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki keterampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.
2. Problem di rumah -- Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Ia juga mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesejahteraan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustrasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Pun anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi.
Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orangtua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orangtua lalu banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman.
Reaksi anak pun menolak dan berontak. Akibatnya, terjadi ketegangan antara orangtua dengan anak. Anak maupun orangtua pun jadi stres dan situasi rumah jadi kurang nyaman. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.
3. Problem berbicara -- Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi timbal balik.
Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespons lawan bicara secara tepat.
4. Problem fisik -- Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga berisiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.
Faktor Penyebab
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak.
Faktor neurologik:
1. Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Faktor bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif.
2. Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
3. Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan.
Faktor toksik:
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memiliki potensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Kadar timah dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
Faktor genetik:
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orangtua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Faktor psikososial dan lingkungan:
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orangtua dengan anaknya. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif; (1) Orangtua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas, (2) kenali kelebihan dan bakat anak, (3) membantu anak dalam bersosialisasi, (4) menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
Juga (5) memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya, (6) menerima keterbatasan anak, (7) membangkitkan rasa percaya diri anak, dan (
Disamping itu, anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orangtua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orangtua sebelumnya. (*BP)







