BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Menangani Pandemi Flu H1N1 di Bali on Tue Jun 30, 2009 4:15 pm

dyayu


ANAHATA
ANAHATA
Oleh I Gusti Ngurah Mahardika

PANDEMI flu H1N1 akhirnya tiba di Bali. Dua pasien telah terkonfirmasi. Kita tidak perlu panik karenanya. Pandeminya masih ringan. Yang perlu diwaspadai adalah virus itu berubah lebih mematikan. Jumlah tidak penting. Dengan kalkulasi sederhana, yaitu lalu lintas manusia yang demikian cepat, virus itu mungkin telah sampai di Bali sebelumnya. Jumlah dua orang itu hanya puncak gunung es. Kasus sebenarnya dapat sangat banyak.

Dapat Berubah

Sampai 26 Juni 2009, jumlah resmi kasus terkonfirmasi di dunia telah mendekati 60.000. Negara tertular 112, termasuk Indonesia. Jika dirunut sejak akhir april 2009, jumlah negara tertular bertambah rata-rata dua negara per hari. Jumlah kematian 263 orang. Kefatalan kasus sekitar 0,4%.

Virus flu H1N1 itu menyebar lebih cepat dari flu biasa. Daya tularnya 22-33%. Artinya, jika satu orang yang sedang tertular ada dalam satu ruangan dengan 100 orang, 22-33 orang akan terserang. Angka itu tiga kali lebih cepat dibandingkan flu biasa.

Data itu menunjukkan bahwa virus H1N1 itu daya sebar dan daya tularnya tinggi. Penularannya jelas antarorang. Mobilitas manusia yang demikian cepat dan tinggi sangat membantu penyebarannya di seluruh dunia.

Dilihat dari CFR-nya, pandemi ini tampaknya akan ringan. Sekalipun telah menaikkan fase pandemi ke fase 6, WHO masih menyatakan bahwa penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan sebagai hal yang tidak perlu.

Akan tetapi, yang jinak itu menyimpan potensi mematikan. Jika virus itu bersirkulasi semakin luas, dan semakin banyak orang yang tertular, peluang virus jinak itu menjadi ganas dan mematikan semakin besar. Inilah yang ditakutkan.

Hal itu terjadi jika virus bermutasi atau mengalami pertukaran genetik (istilahnya reassortment) dengan virus flu yang lain. Mutasi terjadi karena materi genetik virus influenza berubah dengan sendirinya. Untuk virus flu, itu jamak. Materi genetiknya terkenal labil.

Pertukaran genetik terjadi jika virus H1N1 itu menginfeksi orang yang pada saat yang sama tertular virus influenza lain. Virus itu bisa saja virus flu burung H5N1, yang endemik di Indonesia, atau virus flu lain. Proses itu dapat juga terjadi pada hewan, terutama babi. Hewan ini terbukti dapat tertular virus flu unggas dan manusia. Peran unggas kecil. Virus flu manusia jarang menginfeksi unggas.

Potensi itu semakin besar jika kasus flu A H1N1 itu terjadi di negara-negara berkembang. Bahwa selama ini dapat dideteksi dengan cepat, itu karena letupan awal terjadi di negara-negara yang mempunyai sistem surveilans yang 'ciamik'. Tanda-tanda awal tabiat virus diketahui dengan cepat. Itu mendorong respons yang cepat. Dampak pandemi tertekan.

Kalau semakin meluas di negara-negara berkembang dengan sistem surveilans yang seadanya, potensi virus menjadi lebih ganas akan tak termonitor dengan cepat. Akhirnya dapat terjadi boom. Jumlah korban tak terbayangkan.

Cepat, Tepat, Transparan

Pelajaran berharga dari informasi tentang virus H1N1 itu adalah betapa cepatnya kajian virus itu dilakukan. Informasi tentang virus itu sudah tersedia untuk publik dengan kecepatan yang 'wow'. Dalam waktu dua bulan ini, jumlah virus yang dikaji di seluruh dunia mendekati 500 virus. Kerja sama ilmuwan internasional berlangsung lancar. Isu benefit-sharing tidak terdengar sama sekali. Semua bekerja demi keamanan umat manusia.

Prakondisi untuk menjadi monster ada di Indonesia. Kepadatan penduduk tinggi, terutama di Jawa dan Bali. Ternak babi juga cukup padat di Bali. Berbagai virus influenza ada. Flu burung bahkan masih endemik tinggi di hampir semua wilayah. Jika virus H1N1 itu 'berkoalisi' dengan virus flu burung, virus baru dapat saja menjadi monster yang berdaya sebar dan tular cepat -- ciri H1N1 -- serta berdaya bunuh yang tinggi dari flu burung.

Kondisi sosial ekonomi menyebabkan surveilans akan sulit. Gejala-gejala flu ringan tidak akan menyebabkan orang melaporkan diri.

Sistem surveilans Indonesia lebih banyak reaktif, sesuai perkembangan, dan berbasis proyek. Aktivitas diintensifkan jika ada kasus dan anggaran cair. Itu tak berkesinambungan.

Sistem surveilans harus digenjot habis. Di samping menjaring jumlah kasus yang sebenarnya, deteksi sinyal virologis sangat penting dilakukan. Apakah virus itu masih ringan atau sudah berdaya bunuh tinggi. Hal itu paling mudah dilakukan dengan mempelajari susunan materi genetik virus. Istilahnya sekuensing.

Kesiagaan pandemi harus diperbaiki. Pada pengamatan penulis, Bali belum siaga. Kesiagaan dapat dilihat dari aspek penanganan pandemi farmasetikal dan non-farmasetikal. Kesiagaan farmasetikal dapat dilihat dari vaksin yang dipesan dan obat anti-influenza yang tersedia. Yang non-farmasetikal termasuk rumah sakit, laboratorium diagnostik, rencana gawat darurat jika pandemi menghebat.

Vaksin memang belum ada. Waktu yang diperlukan untuk produksi lama, yaitu enam bulan. Akan tetapi, banyak negara di dunia sedang mempercepat produksinya. Harapannya, pandemi hebat terjadi ketika vaksin sudah tersedia.

Indonesia tidak bisa mengharapkan vaksin dari negara maju. Kapasitas masing-masing negara tidak cukup untuk kebutuhan dalam negeri mereka. Indonesia harus mengembangkan kapasitas produksi vaksin dalam negeri. Jika ada keinginan politis, kita bisa. Sampai saat ini, petinggi kesehatan belum ada yang merencanakan pengadaan vaksin flu H1N1.

Jumlah obat anti-influenza yang tersedia juga terbatas. Menurut berita koran minggu lalu, jumlah yang tersedia hanya untuk 3 juta orang. Jumlah itu sangat kurang, hanya 1% dari jumlah penduduk. Jumlah itu hanya cukup untuk Bali.

Kesiagaan non-farmasetikal juga kurang. Kamar rumah sakit terbatas untuk beberapa puluh pasien saja. Jika jumlah yang dirawat melebihi 50 dalam sehari, rumah sakit kelabakan. Di samping itu, dari pengetahuan penulis, jumlah tenaga dan reagensia diagnostik yang tersedia sangat terbatas. 'Hanya cukup untuk 8 kasus saja,' kata sejawat dokter yang menangani diagnostik flu H1N1 di Bali.

Dana harus disediakan. Reagensia diagnostik dan tenaga terlatih harus ditambah. Peneliti dan ilmuwan dilibatkan penuh.

Transparansi informasi justru menguntungkan. Dampak pariwisata tidak akan signifikan selama virus itu belum mengganas. Masyarakat tidak perlu panik.

Tips sederhana, jangan bepergian jika flu. Istirahat yang baik membantu mengurangi penyebaran dan mempercepat kesembuhan. Lakukan etika batuk dan bersin: tutup hidung dan mulut dengan kertas tisu atau sapu tangan. Jika harus bepergian, pakailah masker yang baik. Jika curiga flu H1N1, datangi klinik-klinik kesehatan agar diperiksa.


Penulis, ahli virus dan staf dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali

Tips Sederhana
* Jangan bepergian jika flu.
* Istirahat yang baik membantu mengurangi penyebaran dan mempercepat kesembuhan.
* Kalau batuk dan bersin: tutup hidung dan mulut dengan kertas tisu atau sapu tangan.
* Jika harus bepergian, pakailah masker yang baik.
* Jika curiga flu H1N1, datangi klinik-klinik kesehatan agar diperiksa.

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum