1
Perilaku Sehat Cegah Flu H1N1 on Tue Jun 30, 2009 4:10 pm
SEJAK Rabu (24/6), flu H1N1 dinyatakan telah hadir di Indonesia. Menteri Kesehatan mengumumkan hari itu, dua orang terindikasi positif mengidap flu H1N1, satu di Jakarta dan satu di Bali. Setelah itu ada beberapa pasien suspect flu H1N1 asal Australia yang dirawat di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar.
Bagi Bali kehadiran flu yang telah dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia berstatus pandemi itu, bukan hanya sebagai penyakit yang mengancam kesehatan manusia dan mengakibatkan kematian, tetapi juga sebagai penyakit sosial yang bisa mengancam kehidupan masyarakat. Sebab, jika penyebaran dan penularannya tak dapat dikendalikan dan dicegah, pada akhirnya akan memudarkan daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia dan pada gilirannya mengancam kehidupan rakyat banyak di daerah ini.
Menurut laporan pihak medis, penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan babi terinfkesi atau lingkungan tekontaminasi virus flu H1N1, dan melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi viru flu H1N1. Sebagaimana flu burung, virusnya dimungkinkan menyebar dan menular dari manusia ke manusia.
Oleh karena itu gerak cepat Pemerintah Daerah Bali dengan menyediakan sejumlah dana sehingga warga masyarakat yang terkena flu H1N1 berkesempatan mendapatkan perawatan secara gratis, patut kita sambut baik. Namun, langkah awal itu masih harus ditindaklanjuti untuk menumbuhkan pemahaman yang sama dan kepedulian bersama, sebagai landasan untuk melakukan gerakan bersama dalam program aksi bersama, di kalangan pemerintah dan masyarakat.
Penyediaan dana untuk perawatan secara gratis warga masyarakat yang terkena virus flu H1N1, misalnya, harus disertai informasi memadai tentang ke mana pasien harus dirujuk. Pastikan, di tempat rujukan itu selalu siap tenaga medis dan sarana pengobatan, perawatan, dan penyembuhannya.
Sementara itu terus deteksi daerah yang terjangkit. Sampai jarak seberapa jauh daerah di lingkungannya jika dipandang perlu ditetapkan sebagai daerah rawan. Berdasarkan hasil pendeteksian pula, daerah rawan itu dapat diperluas.
Dengan informasi dan komunikasi yang dikelola dengan baik, warga masyarakat segera mengetahui tiap perkembangan yang terjadi dan segera tahu langkah pencegagan dan penanggulangan apa yang harus dilakukan, secara sendiri maupun bersama-sama.
Pengetahuan dan kepekaan seperti itu merupakan bagian partisipasi warga masyarakat yang harus dilakukan dengan pasti, tanpa kepanikan.
Keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan terpadu memotong garis penularan flu H1N1 ini perlu ditumbuhkan secara persuasif. Namun, jika perkembangannya sudah menyentuh aspek hukum, harus ada ketegasan pihak aparat pemerintah. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular, dapat dijadikan acuan dilakukannya tindakan tegas itu.
Hadirnya flu H1N1 di Bali juga telah mengingatkan kita tentang pentingnya perilaku hidup sehat dalam lingkungan yang sehat pula. Sebagaimana penderita penyakit flu biasa, harus ada upaya untuk menjaga dan memperkuat ketahanan tubuh. Lebih baik tinggal di rumah dan menghindari berkunjung ke pusat-pusat keramaian, jika tubuh sedang dalam kondisi lemah. Jika dapat ditangguhkan, tunda bepergian, khususnya ke negara yang sudah terserang flu H1N1.
Secara umum perilaku hidup sehat dalam upaya menghindari tertularnya flu H1N1, harus lebih disiplin dijalankan, dibandingkan saat menghindari penyakit flu lain seperti flu burung.
Waspadai gejalanya. Terutama waspadai jika seseorang terserang flu, disertai demam tinggi, dan baru datang dari bepergian ke luar negeri. Jika demikian halnya, konsultasi dengan dokter adalah langkah yang perlu segera dilakukan.
Bagi Bali kehadiran flu yang telah dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia berstatus pandemi itu, bukan hanya sebagai penyakit yang mengancam kesehatan manusia dan mengakibatkan kematian, tetapi juga sebagai penyakit sosial yang bisa mengancam kehidupan masyarakat. Sebab, jika penyebaran dan penularannya tak dapat dikendalikan dan dicegah, pada akhirnya akan memudarkan daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia dan pada gilirannya mengancam kehidupan rakyat banyak di daerah ini.
Menurut laporan pihak medis, penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan babi terinfkesi atau lingkungan tekontaminasi virus flu H1N1, dan melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi viru flu H1N1. Sebagaimana flu burung, virusnya dimungkinkan menyebar dan menular dari manusia ke manusia.
Oleh karena itu gerak cepat Pemerintah Daerah Bali dengan menyediakan sejumlah dana sehingga warga masyarakat yang terkena flu H1N1 berkesempatan mendapatkan perawatan secara gratis, patut kita sambut baik. Namun, langkah awal itu masih harus ditindaklanjuti untuk menumbuhkan pemahaman yang sama dan kepedulian bersama, sebagai landasan untuk melakukan gerakan bersama dalam program aksi bersama, di kalangan pemerintah dan masyarakat.
Penyediaan dana untuk perawatan secara gratis warga masyarakat yang terkena virus flu H1N1, misalnya, harus disertai informasi memadai tentang ke mana pasien harus dirujuk. Pastikan, di tempat rujukan itu selalu siap tenaga medis dan sarana pengobatan, perawatan, dan penyembuhannya.
Sementara itu terus deteksi daerah yang terjangkit. Sampai jarak seberapa jauh daerah di lingkungannya jika dipandang perlu ditetapkan sebagai daerah rawan. Berdasarkan hasil pendeteksian pula, daerah rawan itu dapat diperluas.
Dengan informasi dan komunikasi yang dikelola dengan baik, warga masyarakat segera mengetahui tiap perkembangan yang terjadi dan segera tahu langkah pencegagan dan penanggulangan apa yang harus dilakukan, secara sendiri maupun bersama-sama.
Pengetahuan dan kepekaan seperti itu merupakan bagian partisipasi warga masyarakat yang harus dilakukan dengan pasti, tanpa kepanikan.
Keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan terpadu memotong garis penularan flu H1N1 ini perlu ditumbuhkan secara persuasif. Namun, jika perkembangannya sudah menyentuh aspek hukum, harus ada ketegasan pihak aparat pemerintah. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular, dapat dijadikan acuan dilakukannya tindakan tegas itu.
Hadirnya flu H1N1 di Bali juga telah mengingatkan kita tentang pentingnya perilaku hidup sehat dalam lingkungan yang sehat pula. Sebagaimana penderita penyakit flu biasa, harus ada upaya untuk menjaga dan memperkuat ketahanan tubuh. Lebih baik tinggal di rumah dan menghindari berkunjung ke pusat-pusat keramaian, jika tubuh sedang dalam kondisi lemah. Jika dapat ditangguhkan, tunda bepergian, khususnya ke negara yang sudah terserang flu H1N1.
Secara umum perilaku hidup sehat dalam upaya menghindari tertularnya flu H1N1, harus lebih disiplin dijalankan, dibandingkan saat menghindari penyakit flu lain seperti flu burung.
Waspadai gejalanya. Terutama waspadai jika seseorang terserang flu, disertai demam tinggi, dan baru datang dari bepergian ke luar negeri. Jika demikian halnya, konsultasi dengan dokter adalah langkah yang perlu segera dilakukan.







