1
Orangtua Mesti Awasi dan Lindungi Anak on Mon Mar 09, 2009 11:36 am
Internet Bikin Anak-Remaja Agresif?
SEBUAH penelitian terbaru di Taiwan melaporkan keterkaitan antara agresivitas pada remaja dengan pemakaian internet berlebih. Di zaman serba teknologi canggih ini, anak-anak pun ikut terimbas dampaknya. Tidak terkecuali penggunaan internet yang kian mewabah.
Tim peneliti dari Kaohsiung Medical University di Taiwan pun tergerak untuk mencari tahu pengaruh internet terhadap perilaku anak dan remaja. Berdasarkan kuesioner tentang penggunaan internet dan perilaku yang disebarkan pada 9.405 remaja, didapati sekitar 25% remaja pria dan 13% remaja wanita merupakan pecandu internet.
Dari ribuan remaja tersebut, setahun ke belakangan, sekitar 13% remaja wanita dan 32% remaja pria mengaku pernah berperilaku agresif seperti mengancam atau membahayakan orang lain. Namun, persentasenya lebih tinggi pada kelompok remaja pria dan wanita pecandu internet, yakni 37%.
Tim peneliti berpandangan, aktivitas bermain internet memberi kesempatan pada remaja untuk mengamati, mengalami, dan mencoba perilaku agresif yang sejatinya bisa berwujud hal positif seperti identifikasi kelompok, menjadi pahlawan atau pemenang dalam game. Hasil studi ini lantas diterbitkan secara online dalam jurnal Kesehatan Remaja.
Tanda Tanya
Kendati demikian, laporan ini tidak urung mengundang tanda tanya besar dari kalangan para peneliti Amerika yang pernah melakukan penelitian tentang kekerasan dalam lingkungan pergaulan anak dan remaja. Mereka mengatakan masih akan mempelajari temuan penelitian tersebut.
Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa kekerasan dalam video game mendorong pikiran dan perilaku negatif. Profesor bidang pendidikan di Universitas Virginia, Dewey Cornell, berpendapat, penelitian di Taiwan ini kurang memaparkan bahwa suatu perilaku dapat memicu perilaku yang lain.
Prof. Brad Bushman dari Universitas Michigan di Amerika juga menyangkal bahwa studi tersebut gagal menjawab pertanyaan mendasar yang menganalogikan "duluan mana ayam atau telur?" "Boleh jadi menggunakan internet dapat menyebabkan orang menjadi lebih agresif, atau sebaliknya orang yang agresif itu yang suka mencari-cari internet," ujarnya.
Brad lebih lanjut mengatakan, "Atau faktor lainnya yang menyebabkan keduanya. Misalnya, seorang yang memiliki keterampilan sosial buruk dan tidak punya teman, lantas menghabiskan banyak waktunya bermain internet dan akhirnya tidak dapat memecahkan konflik dengan cara yang tidak agresif."
Lindungi Mereka
Tak dimungkiri setiap orangtua pasti terbersit kekhawatiran akan pengaruh internet yang kian mengglobal. Jika diizinkan, pikiran jadi waswas. Tapi jika dilarang, dikhawatirkan anak jadi kurang pengetahuan dan dicap "gaptek" -- gagap teknologi. Memang, ada sisi positif dan negatifnya.
Lantas, bagaimana sebaiknya? Berikut beberapa saran yang bisa diterapkan para orangtua:
Batasi waktu -- Tetapkan berapa lama anak Anda boleh bermain internet. Misalnya, maksimal 2 jam per hari dan hanya boleh bermain internet setelah mengerjakan pekerjaan rumah.
Jangan sembarangan -- Ajak anak untuk berdiskusi tentang pentingnya menjaga keamanan diri secara online. Ajari mereka bahwa terdapat jutaan orang yang mengakses internet, dan tidak semua orang dapat dipercaya. Jangan sembarangan memberikan informasi tentang umur, alamat, atau nomor telepon.
Ikut bersama -- Luangkan waktu untuk mengakses internet bersama anak sekaligus ajarkan untuk mencari konten atau meterial positif. Mintalah anak menunjukkan apa yang mereka sukai dari internet atau website yang sering dikunjungi. Ajaklah anak menceritakan pengalaman atau informasi yang didapatnya itu.
Jalin komunikasi -- Posisikan diri Anda sebagai orangtua sekaligus sahabat bagi anak. Jika sewaktu-waktu anak mendapati masalah atau menemukan sesuatu di internet yang membuat tidak nyaman, tanpa segan anak akan bercerita. Sesekali Anda boleh juga mengontak orangtua dari teman anak Anda, sebab mungkin saja anak berinternetan di rumah temannya itu atau bahkan di Warnet.
Bisa diawasi -- Letakkan komputer di tempat yang bisa Anda awasi. Tempatkan komputer di ruang belajar atau ruang keluarga, bukannya di kamar tidur anak. Dengan demikian, orangtua dapat mengawasi saat anaknya asyik berinternet. Setiap kali anak selesai bermain internet, tanpa sepengetahuan mereka cobalah mengecek situs apa yang dikunjungi dan apa saja yang dilihatnya.
Ajar berhati-hati -- Pacu anak untuk bertanya. Segala sesuatu yang mereka saksikan dalam dunia online tidaklah selalu seperti yang mereka pikirkan. Ajarkan anak untuk mengabaikan atau berhati-hati dengan orang asing yang mereka temui di dunia maya itu.
Memblok situs -- Gunakan internet filtering dan parental control. Tujuannya sebagai pengaman kegiatan anak dalam berinternet, dengan cara memblok situs berdasarkan nama, mencari kata-kata tertentu yang dianggap negatif dan memblokir akses ke situs yang mengandung kata-kata tersebut. (sdo/okz/tin)
SEBUAH penelitian terbaru di Taiwan melaporkan keterkaitan antara agresivitas pada remaja dengan pemakaian internet berlebih. Di zaman serba teknologi canggih ini, anak-anak pun ikut terimbas dampaknya. Tidak terkecuali penggunaan internet yang kian mewabah.
Tim peneliti dari Kaohsiung Medical University di Taiwan pun tergerak untuk mencari tahu pengaruh internet terhadap perilaku anak dan remaja. Berdasarkan kuesioner tentang penggunaan internet dan perilaku yang disebarkan pada 9.405 remaja, didapati sekitar 25% remaja pria dan 13% remaja wanita merupakan pecandu internet.
Dari ribuan remaja tersebut, setahun ke belakangan, sekitar 13% remaja wanita dan 32% remaja pria mengaku pernah berperilaku agresif seperti mengancam atau membahayakan orang lain. Namun, persentasenya lebih tinggi pada kelompok remaja pria dan wanita pecandu internet, yakni 37%.
Tim peneliti berpandangan, aktivitas bermain internet memberi kesempatan pada remaja untuk mengamati, mengalami, dan mencoba perilaku agresif yang sejatinya bisa berwujud hal positif seperti identifikasi kelompok, menjadi pahlawan atau pemenang dalam game. Hasil studi ini lantas diterbitkan secara online dalam jurnal Kesehatan Remaja.
Tanda Tanya
Kendati demikian, laporan ini tidak urung mengundang tanda tanya besar dari kalangan para peneliti Amerika yang pernah melakukan penelitian tentang kekerasan dalam lingkungan pergaulan anak dan remaja. Mereka mengatakan masih akan mempelajari temuan penelitian tersebut.
Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa kekerasan dalam video game mendorong pikiran dan perilaku negatif. Profesor bidang pendidikan di Universitas Virginia, Dewey Cornell, berpendapat, penelitian di Taiwan ini kurang memaparkan bahwa suatu perilaku dapat memicu perilaku yang lain.
Prof. Brad Bushman dari Universitas Michigan di Amerika juga menyangkal bahwa studi tersebut gagal menjawab pertanyaan mendasar yang menganalogikan "duluan mana ayam atau telur?" "Boleh jadi menggunakan internet dapat menyebabkan orang menjadi lebih agresif, atau sebaliknya orang yang agresif itu yang suka mencari-cari internet," ujarnya.
Brad lebih lanjut mengatakan, "Atau faktor lainnya yang menyebabkan keduanya. Misalnya, seorang yang memiliki keterampilan sosial buruk dan tidak punya teman, lantas menghabiskan banyak waktunya bermain internet dan akhirnya tidak dapat memecahkan konflik dengan cara yang tidak agresif."
Lindungi Mereka
Tak dimungkiri setiap orangtua pasti terbersit kekhawatiran akan pengaruh internet yang kian mengglobal. Jika diizinkan, pikiran jadi waswas. Tapi jika dilarang, dikhawatirkan anak jadi kurang pengetahuan dan dicap "gaptek" -- gagap teknologi. Memang, ada sisi positif dan negatifnya.
Lantas, bagaimana sebaiknya? Berikut beberapa saran yang bisa diterapkan para orangtua:
Batasi waktu -- Tetapkan berapa lama anak Anda boleh bermain internet. Misalnya, maksimal 2 jam per hari dan hanya boleh bermain internet setelah mengerjakan pekerjaan rumah.
Jangan sembarangan -- Ajak anak untuk berdiskusi tentang pentingnya menjaga keamanan diri secara online. Ajari mereka bahwa terdapat jutaan orang yang mengakses internet, dan tidak semua orang dapat dipercaya. Jangan sembarangan memberikan informasi tentang umur, alamat, atau nomor telepon.
Ikut bersama -- Luangkan waktu untuk mengakses internet bersama anak sekaligus ajarkan untuk mencari konten atau meterial positif. Mintalah anak menunjukkan apa yang mereka sukai dari internet atau website yang sering dikunjungi. Ajaklah anak menceritakan pengalaman atau informasi yang didapatnya itu.
Jalin komunikasi -- Posisikan diri Anda sebagai orangtua sekaligus sahabat bagi anak. Jika sewaktu-waktu anak mendapati masalah atau menemukan sesuatu di internet yang membuat tidak nyaman, tanpa segan anak akan bercerita. Sesekali Anda boleh juga mengontak orangtua dari teman anak Anda, sebab mungkin saja anak berinternetan di rumah temannya itu atau bahkan di Warnet.
Bisa diawasi -- Letakkan komputer di tempat yang bisa Anda awasi. Tempatkan komputer di ruang belajar atau ruang keluarga, bukannya di kamar tidur anak. Dengan demikian, orangtua dapat mengawasi saat anaknya asyik berinternet. Setiap kali anak selesai bermain internet, tanpa sepengetahuan mereka cobalah mengecek situs apa yang dikunjungi dan apa saja yang dilihatnya.
Ajar berhati-hati -- Pacu anak untuk bertanya. Segala sesuatu yang mereka saksikan dalam dunia online tidaklah selalu seperti yang mereka pikirkan. Ajarkan anak untuk mengabaikan atau berhati-hati dengan orang asing yang mereka temui di dunia maya itu.
Memblok situs -- Gunakan internet filtering dan parental control. Tujuannya sebagai pengaman kegiatan anak dalam berinternet, dengan cara memblok situs berdasarkan nama, mencari kata-kata tertentu yang dianggap negatif dan memblokir akses ke situs yang mengandung kata-kata tersebut. (sdo/okz/tin)







