BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Serangan Teror dan Mengelola Dampaknya on Mon Aug 10, 2009 11:21 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA


Di tingkat individual, ada stres pascatrauma dan situasi berduka. Dalam kehidupan bermasyarakat, ada ketenangan, rasa saling peduli, dan saling percaya yang dihancurkan. Itu harus kembali ditumbuhkan.

”Saya menangis waktu harus masuk ruang kerja dan membereskan barang-barang Bapak. Tidak ada lagi gairah dan semangat kerja. Seperti ada yang benar-benar hilang. Bahkan saya tidak sampai seperti ini waktu orangtua saya meninggal. Beliau benar-benar orang baik. Sedih banget, kok waktu kerja bersama beliau cuma sebentar sekali...,” ujar seorang staf dari korban peledakan bom yang meninggal.

Yang sebelumnya pernah terluka dan terperangkap dalam situasi serupa mengaku ”sangat shock dan lemas waktu mendengar berita di radio, tak mampu mengendalikan diri sehingga harus berhenti menyetir dan menenangkan diri dulu....”

Sementara itu, banyak orang dalam tanya-jawab di media menyampaikan kemarahan: ”Betapa biadabnya menyerang dan membuat cacat orang yang tidak tahu apa-apa. Kalau memang itu Noordin M Top, mengapa mengubrak-abrik negara kita??!! Ini namanya memang menabuh genderang perang!!”

Stres pascatrauma

Segera setelah suatu kejadian yang sangat mengancam rasa aman dan mengguncang keseimbangan, wajar bila kita mengalami ”stres pascatrauma”. Secara fisik bisa tampil dalam gejala mudah lemas dan lelah, sesak napas, gemetar, dan berkeringat dingin.

Ada gejala psikologis, seperti rasa takut intens, penghindaran pada keadaan yang mengingatkan akan kejadian, dan kewaspadaan berlebih (cepat takut atau panik). Pada korban langsung mungkin muncul bayangan dan penghayatan seolah berada kembali dalam kejadian. Bisa pula muncul gangguan tidur atau gangguan pola makan.

Tak hanya pada korban langsung, stres bisa saja terjadi pada orang lain yang dimudahkan identifikasinya dengan kejadian. Misalnya, pada pekerja di seputar lokasi, orang terdekat yang ikut menghayati kejadian secara kuat, atau korban teror pada masa sebelumnya di tempat lain, yang seperti dibuka kembali luka lamanya.

Maka, tidak heran banyak orang mengatakan malas membaca atau menonton berita di media, apalagi yang vulgar, karena merasa korban dijadikan obyek saja dan malah jadi ”lumpuh” karena terus diingatkan akan kejadian.

Gejala-gejala tersebut merupakan reaksi wajar terhadap situasi luar biasa yang sangat mengguncang. Biasanya dengan mekanisme adaptasi alamiah dalam diri individu dan dukungan sosial yang tepat, gejala akan menurun dan menghilang sejalan dengan waktu. Bila setelah periode sekitar satu setengah hingga dua bulan gejala tidak menghilang, tetapi malah jadi sangat mengganggu fungsi hidup sehari-hari, diperlukan penanganan profesional.

Pekerja kesehatan mental, seperti psikolog klinis atau psikiater, dapat membantu individu, keluarga, atau kelompok mengelola pikiran, perasaan, dan perilaku agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan suasana hati cukup tenteram. (Penanganan psikologis dapat diperoleh antara lain dengan menghubungi hotline Yayasan Pulih, telp: 0888-1816860, 021-98286398.)

Mendampingi secara tepat

Bila terguncang fisik-psikologis dan mengalami sakit serius, yang secara umum kita butuhkan adalah penanganan medis segera untuk memulihkan kondisi fisik serta ketenangan dan rasa aman untuk memulihkan kondisi psikologis. Orang-orang terdekat perlu bersikap tenang, mencoba mengatasi panik agar tidak terlalu tertampilkan di depan korban.

Bila kehadiran pengunjung yang hilir mudik tak tentu waktu mengganggu, orang terdekat perlu dengan sopan memberi tahu teman atau kerabat mengenai hal itu, juga agar tak membombardir dengan pertanyaan berulang yang hanya membuat individu makin tegang.

Pada tahap krisis, kita memberikan dukungan konkret dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh individu, misalnya menggantikan pakaian, menyuapi makanan, dan memindahkan posisi duduk.

Kehadiran orang dekat atau pekerja profesional kesehatan mental yang hanya duduk memegang tangan dan berbicara dengan suara tenang sudah akan melegakan.

Hindari menunjukkan perhatian dengan banyak berkomentar, menasihati, menyesali, atau ”menantang” (misalnya, ”Sudah aku bilang jangan ke daerah situ!”; ”Ya sudah, diterima saja, pasti ada hikmahnya,”; ”Menggerakkan tangan begitu enggak bisa, dicoba lagi, dong!”). Juga hindari menambah beban pikiran yang bersangkutan (”Jadi, nanti siapa yang akan mencari nafkah untuk keluarga kita?”; ”Biayanya mahal banget, nih!”).

Wajar ketika orang mengalami kejadian tidak adil dan sangat menyakitkan tidak dapat menerima dan merasa marah. Perasaan tersebut harus dibantu diekspresikan dan dikelola dengan tepat agar ke depannya tidak mengganggu kehidupan.

Kita tidak perlu sok menasihati orang yang sedang mengalami musibah untuk ”mencari hikmah” karena kita tidak dicengkeram sakit, perubahan fisik, juga kekacauan dan implikasi lain akibat kejadian. Pada saat tepat, ia akan menemukan sendiri hikmah yang dapat dipetiknya dari kejadian.

Mungkin juga ada situasi berduka pada individu dan orang terdekat: terbaring sakit dalam waktu lama, anak atau pasangan hidup tersayang tidak dapat lagi bekerja, kehilangan pendengaran, atau kondisi fisik berubah. Duka perlu diterima, diakui, dan individu atau keluarga dibantu dapat melewatinya dengan baik. Sejalan dengan waktu, individu perlu dibantu mengembangkan kembali kemandirian dan rasa percaya dirinya.

KRISTI POERWANDARI, PSIKOLOG


Sumber : Kompas

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum