BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Sangeh on Mon Oct 26, 2009 1:18 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA

Sejarah
Pada abad ke 17 dijaman keemasan kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Ketut Karangasem putra dari I Gusti Agung Made Agung (Raja Mengwi), mendirikan pura di tengah pohon pala yang selanjutnya diberi nama Pura Bukit Sari. Hutan pohon pala yang merupakan areal suci Pura yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Adat Sangeh dan sekitarnya, sehingga berfungsi sakral disamping berkembang menjadi obyek kunjungan wisatawan mancanegara. Di tengah hutan lebat yang hijau terdapat lebih kurang 500 ekor kera jinak yang sering mempesona wisatawan manca negara.

Lokasi
Sangeh terletak 20 km di sebelah utara Denpasar, di seberang jalan menuju Pelaga, kira-kira 30 menit dari Denpasar dengan transportasi umum.

Fasilitas
Di sekitar obyek wisata terdapat tempat parkir, kios souvenir, kios makanan, jalan setapak dan lain-lain. Transportasi ke obyek sangat lancar karena kendaraan umum jurusan Denpasar-Blahkiuh sudah merupakan jaringan transportasi umum.

View user profile

2 Bercanda dengan Monyet Sangeh on Mon Oct 26, 2009 3:58 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA


SALAH satu obyek wisata Pulau Dewata yang menggoda adalah obyek wisata alam kawasan hutan Sangeh di Desa Adat Sangeh, Kabupaten Badung, Bali.

Kawasan hutan alam Sangeh yang menjadi salah satu andalan obyek wisata Badung setidaknya memiliki tiga daya tarik berdaya goda tinggi. Pertama, keberadaan sejumlah pura tua dalam kawasan hutan, seperti Pura Bukit Sari yang disebut-sebut sebagai peninggalan abad ke-17, Pura Melanting, Pura Tirta, dan Pura Anyar.

Menurut kisah, Pura Bukit Sari adalah peninggalan monumental dari keberadaan Kerajaan Mengwi (wilayahnya termasuk kawasan hutan Sangeh), sekitar 400 tahun lalu. Pura tua itu dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karang Asem Sakti, anak angkat dari Raja Mengwi saat itu, Cokorda Sakti Blambangan.

Konon, pembangunan Pura Bukit Sari dilakukan setelah Anglurah memperoleh pawisik (ilham) saat ia menjalani pertapaan. Pura dibangun di tengah kawasan hutan Sangeh, sesuai permintaan melalui pawisik tersebut.

Daya tarik kedua, kesejukan sekaligus rasa damai yang menyentuh kalbu dari ribuan tegakan pohon berusia ratusan tahun yang hingga kini tetap terjaga. Tegakan pohon yang menjulang tinggi itu didominasi jenis pohon pala (dipterocarpus trinervis).

Tentang tegakan pohon pala di Sangeh, juga menyimpan kisah sendiri. Menurut mitos, jenis pohon itu sebenarnya berasal dari kawasan Gunung Agung di bagian timur Bali. Keberadaan jenis pohon itu berawal dari "perjalanan" sejumlah tegakan pohon menuju kawasan Bali bagian barat.

Sangeh, konon, berasal dari dua kata: "sang" yang berarti orang dan "ngeh" berarti lihat atau bisa diterjemahkan sebagai dilihat orang.

Daya tarik lainnya, kawasan hutan Sangeh ternyata sekaligus menjadi habitat monyet berwarna abu dan berekor panjang (Macaca fascicularis). Populasinya saat ini lumayan banyak, sekitar 700 ekor. Uniknya lagi, kawanan monyet di Sangeh terbagi dalam tiga kelompok sesuai sebarannya di kawasan bagian barat, tengah, dan timur kawasan hutan itu. Terutama sang jantan sebagai rajanya, selalu dengan gigih berupaya mempertahankan kawasan dan juga betina-betinanya.

Made Sanjaya (32), warga Mengwi, Badung, yang sehari- hari sebagai pegawai rumah sakit swasta di Denpasar, mengakui, kebetulan dia sedang libur hingga berkesempatan rekreasi bersama keluarga. Pilihannya jatuh ke kawasan Sangeh karena daya tarik monyetnya.

Luas

Kawasan hutan Sangeh seluas lebih kurang 10 hektar, jaraknya sekitar 35 km sebelah utara Kota Denpasar. Tidak sulit menjangkau obyek wisata alam itu karena sangat dikenal luas. Berkunjung ke Sangeh bisa dengan taksi atau kendaraan pribadi. Siang itu keluarga Sanjaya berada di antara ribuan pengunjung kawasan hutan Sangeh. Sebagian di antaranya, terutama kelompok anak-anak, lebih suka "bercanda" dengan monyet. Mengetahui ada pengunjung mendekat, kawanan monyet langsung melompat turun dari ranting atau dahan pohon.

Tentu saja Sanjaya bersama istrinya menuruti keinginan anaknya berkunjung ke Sangeh karena kelompok monyet di kawasan itu selain jinak, juga dikenal tahu sopan santun. Salah satu contohnya, sebagaimana diakui seorang petugas bernama Made Sudiana, belum pernah terdengar cerita kalau monyet-monyet di kawasan itu berupaya mendapatkan bahan makanan dengan merebut dari pengunjung. "Untuk mendapatkanya, kawanan monyet biasanya beranjak mendekat dengan sikap memelas, mengharapkan uluran bahan makanan dari tangan pengunjung," tuturnya.

"Kelompok monyet di sini selalu bersikap santun, sejauh tidak mendapat perlakuan kasar dari pengunjung. Mereka (kawanan monyet) juga bisa galak kalau dipukuli, disepak, atau diinjak," sambung Ketut Nengah, yang sehari-hari menjajakan jasa sebagai tukang potret di Sangeh.

Monyet Sangeh memang punya kisah unik sendiri. Seperti diakui Made Sudia, tidak perlu ada kecemasan bahwa kelompok binatang itu akan terancam hidupnya akibat ulah negatif masyarakat. Malah sebaliknya, warga sekitar justru selalu menjaganya karena mereka berkeyakinan bahwa kawanan monyet Sangeh adalah penjelmaan prajurit putri dari Kerajaan Mengwi di waktu silam.

Di Bali, obyek wisata yang sekaligus mengandalkan keberadaan kawanan monyet sebenarnya tidak hanya di Sangeh. Masih terdapat sejumlah lokasi lain, seperti di kawasan Pulati, Uluwatu, dan Bedugul.

Jalan bopeng

Seperti di sejumlah obyek wisata lainnya di Bali, berkunjung ke kawasan Sangeh jelas tidak gratis. Para pengunjung harus membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang.

Berbagai pihak mengakui, obyek wisata alam satu ini pantas menjadi andalan Badung, bahkan Bali, karena selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Ini bisa dilihat dari hasil penjualan karcis hariannya. Seperti diakui seorang petugas di loket penjualan tiket sekitar gerbang masuk kawasan, kalau pada hari biasa hasil penjualan tiket bisa Rp 5 juta-Rp 6 juta per hari. "Sebaliknya, kalau hari libur (hasil penjualan tiket masuk) bisa mencapai Rp 25 juta per hari," kata petugas itu.

Padatnya pengunjung Sangeh juga ditandai dengan banyaknya kehadiran penjaja jasa potret cepat di kawasan tersebut. Jumlahnya tergolong banyak, sekitar 50 orang, sehingga untuk hari-hari biasa harus diatur pengoperasiannya.

"Kalau hari-hari biasa, sebanyak-banyaknya hanya lima tukang potret yang boleh masuk menjajakan jasanya, mengikuti jumlah pengunjung yang terbatas. Kami baru boleh masuk semuanya pada hari libur karena pengunjungnya hingga ribuan," kata Ketut Nengah, tukang potret asal Desa Adat Sangeh yang sudah 15 tahun menekuni pekerjaannya itu di kawasan obyek wisata Sangeh.

Namun, "rezeki" yang tergolong tinggi bagi daerah yang dihasilkan dari pengunjung Sangeh terkesan tak seimbang dengan penataan atau pengelolaan kawasan pendukung sekitarnya. Sebut saja, misalnya, potongan jaringan jalan pulang sejauh lebih kurang 1 km dari tepi obyek wisata itu, kondisinya bopeng. Jaringan jalan yang dilapisi aspal tipis, sebagian sudah terkelupas dan berlubang-lubang. Areal parkirnya juga terlihat bopeng. (Frans Sarong)

Sumber : Kompas

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum