BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
PUNCAK pujawali Ida Batara Turun Kabeh di Penataran Agung Pura Besakih berlangsung Kamis (9/4) kemarin. Walaupun bertepatan dengan pemilu, ribuan pemedek terus mengalir sejak siang hingga malam. Ini membuktikan masyarakat Bali talah mampu mengharmoniskan kewajiban sebagai warga negara dan umat dalam menyukseskan karya besar tersebut.

Selain menyeimbangkan kewajiban tersebut, pada Karya Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh kali ini juga mencatat beberapa sejarah yang menunjukkan betapa krama Bali telah bangkit kembali kesadaran untuk ngayah. Mereka tidak sekadar tangkil untuk sembahyang, tetapi berupaya berpartisipasi sejak awal, baik melalui ngaturang ayah dalam membuat sarana upcara, ngaturang punia maupun mareresik. Ngaturang ayah kebersihan ini juga merupakan bukti krama Bali secara nyata telah berbuat dalam memperhatikan lingkungannya.

Selain itu, ngaturang ayah kesehatan, peduli pendidikan dengan digelarnya kursus dan bantuan ke sekolah juga merupakan bukti bahwa kesadaran untuk meningkatkan kesehatan dan pendidikan manusia Bali juga mendapat perhatian. Semua itu merupakan langkah nyata dalam mewujudkan keajegan Bali.

Upacara Batara Turun Kabeh di-puput 10 sulinggih. Lima Ida Padanda mapuja di Bale Gajah mulai pukul 10.45 wita. Di antaranya Ida Padanda Gde Nyoman Jelantik Dwaja dari Geria Buda Keling Karangasem, Ida Padanda Siwa Buda Daksa Darmika dari Geria Agung Babakan Sukawati, Ida Padanda Gde Ngenjung dari Geria Duda Karangasem, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa dari Geria Penatih dan Sira Mpu Siwa Manik Candra Gni dari Geria Poh Manggis Denpasar.

Kelima sulinggih muput tawur Ida Batara Turun Kabeh. Dirangkai melis lis dan pacaruan manca rupa manca kelud (manca siya). Pacaruan menggunakan sarana wewalungan berupa kambing, angsa, bebek (cemaning, bulu sikep dan belang bungkem). Saat bersamaan juga muput Ida Rsi Bujangga dari Geria Keramas Gianyar di ambal-ambal, Ida Padanda Gede Wayahan Tianyar, Geria Menara, Sidemen di pangrajeg karya dan Ida Padanda Gede Rai Pidada dari Geria Sengguan Klungkung di pangemit karya. Dilanjutkan persembahyangan bersama tahap pertama sekitar pukul 13.00 wita.

Setelah itu, Ida Batara Kabeh tedun (turun) untuk malinggih di paselang. Di-pundut puluhan umat, Ida Batara kabeh harus melewati prosesi mapurwa daksina (mengitari Penataran Agung) sebanyak tiga kali sebagaimana siklus hidup (lahir, hidup, mati).

Di paseleng diaturkan banten dengan sarana upakara berupa kerbau di nataran sanggar tutuan paseleng. Di-puput Ida Padanda Gede Ketut Abah dari Geria Bungaya dan Ida Padanda Gede Dwija Nugraha dari Geria Budakeling. Di sini juga dibacakan pajiwa-jiwa oleh Ida Padanda Gede Tianyar dan Ida Padanda Istri Karang dari Geria Seibetan Karangasem selaku teges. Terakhir baru dilakukan persembahyangan bersama tahap kedua.

Ida Batara Turun Kabeh malinggih di paselang diwujudkan sebagai pasamuan Ida Batara untuk mengajegkan alam semesta. Sedangkan pembacaan pajiwa-jiwa merupakan pemberitahuan tentang isi dunia. Mulai segara (laut), gunung dan alam semesta lain. Banyak hal yang juga patut diingat dalam rangkaian majiwa-jiwa tersebut. Minimal sebagai introspeksi diri. 'Pemimpin misalnya, jangan bisanya hanya menginjak-injak rakyat. Masyarakat juga jangan lupa menjaga alam, lingkungan dan kekerabatan dengan mensinergikan interaksi Tri Hita Karana,' ujar Ketua PHDI Bali yang juga penanggung jawab tawur, Gusti Ngurah Sudiana.



Sebelas Kali



Berbeda dengan pamuspaan saat Panca Bali Krama yang dilakukan sebanyak 13 kali (Eka Dasa Dewata). Pamuspaan Tawur Ida Batara Turun Kabeh berlangsung 11 kali (Panca Dewata). Meski demikian, Sudiana menyebutkan tidak ada perbedaan pemaknaan. Mengaturkan sembah ke luhuring akasa, juga ke pertiwi yang betul-betul harus dipahami dengan pemeliharaan alam. 'Panca Bali Krama kan sebagai penyucian alam. Ketika alam sudah suci itulah kemudian Ida Batara Turun Kabeh,' tambah Sudiana seraya menyebutkan, Ida Batara Turun Kabeh merupakan kehadiran seluruh manifestasi Tuhan guna menyejahterakan umat. (bal)



Diiringi Sembilan Tari Wali



ADA sebuah keharusan yang tak bisa dilupakan dalam pelaksanaan Puncak Tawur Ida Batara Turun Kabeh, Kamis (9/4) kemarin. Dalam karya itu minimal sembilan tari wali harus mengiringi rangkaian upacara hingga Ida Batara Turun Kabeh kembali malinggih di Pasamuan Agung. Kaitan dengan itu, panitia tawur mengaturkan persembahan untuk tawur dengan sembilan jelis tari wali. Di antaranya tari Gambuh, Selonding, Gambang, Rejang Dewa, Baris Gede, Gong, Wayang Gedog, pasantian/gegitaan dan Topeng Sidakarya. Seluruh tarian digelar di Penataran Agung Pura Besakih -- tempat berlangsungnya tawur. Kecuali Topeng Sidakarya yang digelar di Pagambuhan. (bal)

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum