1
Batara Turun Kabeh : Hujan Deras, 'Pemedek' ke Besakih Tetap Ramai on Sat Apr 18, 2009 7:49 am
Amlapura - Hujan deras mengguyur kawasan Besakih, Kamis (16/4) sore kemarin. Namun, hal itu tak menghalangi niat krama untuk tangkil. Sejak pagi umat sudah membludak. Akibatnya sejak pukul 05.00 hingga pukul 12.00 terjadi antrean panjang pemedek. Sementara sore harinya sekitar pukul 18.00 juga mulai padat dan antrean cukup panjang.
Antusiasme warga tangkil ke Besakih sudah mulai sebelum upacara Panca Bali Krama. Demikian pula saat upacara berlangsung hingga upacara Batara Turun Kabeh, antusiasme tetap tinggi. Mereka datang dari berbagai penjuru Bali. Umat yang tangkil juga beragam dari anak-anak sampai orangtua yang sudah uzur. Bahkan, tidak sedikit yang kondisinya kurang fit.
Terbukti beberapa kali pemedek mendatangi pos pelayanan kesehatan di Pasraman Besakih. Bahkan pada Rabu pagi sekitar pukul 06.30 pemedek dari Buleleng mendatangi Pasraman Besakih karena salah satu anggota keluarganya lemas dan tidak sadarkan diri. Mereka diantar keluarganya yang baru saja datang dan belum sempat ngaturang bhakti.
Ketika itu pangayah di Pasraman Besakih menyatakan bahwa hari itu tidak ada pelayanan kesehatan. Mereka pun disarankan untuk berobat di pos kesehatan di atas. Karena tempatnya agak jauh dan macet, akhirnya pemedek Jero Mangku Nyoman Setuti (67) meninggal di dalam mobil yang membawanya.
Terhadap meninggalnya pemedek, Ketua Panitia Upacara Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh, Wayan Gunatra, menyatakan tak ada pengaruhnya dengan upacara itu. Sebab, mereka meninggal di jalan umum. 'Sama seperti ketika ambulans membawa jenazah melawati desa pakraman. Desa pakraman tersebut tidak kena cuntaka,' katanya ketika dihubungi Rabu malam.
Dompet Wirasa
Terkait meninggalnya Jero Mangku Setuti, dompet Wirasa Bali TV menunjukkan rasa peduli terdahap peristiwa duka yang menimpa seorang pemedek asal Dusun Kaja, Desa Banyuatis Kecamatan Banjar tersebut.
Made Sutawan, anak mendiang Jero Seruti, Kamis (16/4) kemarin menuturkan peristiwa duka itu terjadi ketika mobil yang mengangkut lima anggota keluarga itu memasuki tempat parkir di Pura Besakih sekitar pukul 06.30 wita. Begitu masuk ke tempat parkir, ibunya tiba-tiba pingsan. Ibunya ternyata sudah meninggal karena serangan jantung.
Menurut Sutawan, sejak berangkat dari rumah di Banyuatis, ibunya sehat-sehat saja. Mobil yang disopiri oleh Sutawan sendiri berangkat pukul 03.00 wita. Selama perjalanan mereka (enam orang termasuk ibunya) sempat melakukan persembahyangan di Pura Desa Banyuatis, lalu di Pura Labuan Aji di Desa Temukus, dan di Pura Batur. 'Saat bersembahyang di tiga pura itu ibu sehat-sehat saja,' katanya.
Bahkan saat memasuki tempat parkir di Pura Besakih, lanjut Sutawan, ibunya sendiri yang menunjukkan tempat parkir dan bertanya kepada petugas berapa harus membayar parkir. Namun setelah itu ibunya tiba-tiba pingsan setelah sempat minta air putih. Jero Mangku Wayan Geden, suami Jero Setuti, menyatakan berterima kasih kepada Bali TV atas bantuan tersebut. (kmb13/kmb15*BP)
Antusiasme warga tangkil ke Besakih sudah mulai sebelum upacara Panca Bali Krama. Demikian pula saat upacara berlangsung hingga upacara Batara Turun Kabeh, antusiasme tetap tinggi. Mereka datang dari berbagai penjuru Bali. Umat yang tangkil juga beragam dari anak-anak sampai orangtua yang sudah uzur. Bahkan, tidak sedikit yang kondisinya kurang fit.
Terbukti beberapa kali pemedek mendatangi pos pelayanan kesehatan di Pasraman Besakih. Bahkan pada Rabu pagi sekitar pukul 06.30 pemedek dari Buleleng mendatangi Pasraman Besakih karena salah satu anggota keluarganya lemas dan tidak sadarkan diri. Mereka diantar keluarganya yang baru saja datang dan belum sempat ngaturang bhakti.
Ketika itu pangayah di Pasraman Besakih menyatakan bahwa hari itu tidak ada pelayanan kesehatan. Mereka pun disarankan untuk berobat di pos kesehatan di atas. Karena tempatnya agak jauh dan macet, akhirnya pemedek Jero Mangku Nyoman Setuti (67) meninggal di dalam mobil yang membawanya.
Terhadap meninggalnya pemedek, Ketua Panitia Upacara Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh, Wayan Gunatra, menyatakan tak ada pengaruhnya dengan upacara itu. Sebab, mereka meninggal di jalan umum. 'Sama seperti ketika ambulans membawa jenazah melawati desa pakraman. Desa pakraman tersebut tidak kena cuntaka,' katanya ketika dihubungi Rabu malam.
Dompet Wirasa
Terkait meninggalnya Jero Mangku Setuti, dompet Wirasa Bali TV menunjukkan rasa peduli terdahap peristiwa duka yang menimpa seorang pemedek asal Dusun Kaja, Desa Banyuatis Kecamatan Banjar tersebut.
Made Sutawan, anak mendiang Jero Seruti, Kamis (16/4) kemarin menuturkan peristiwa duka itu terjadi ketika mobil yang mengangkut lima anggota keluarga itu memasuki tempat parkir di Pura Besakih sekitar pukul 06.30 wita. Begitu masuk ke tempat parkir, ibunya tiba-tiba pingsan. Ibunya ternyata sudah meninggal karena serangan jantung.
Menurut Sutawan, sejak berangkat dari rumah di Banyuatis, ibunya sehat-sehat saja. Mobil yang disopiri oleh Sutawan sendiri berangkat pukul 03.00 wita. Selama perjalanan mereka (enam orang termasuk ibunya) sempat melakukan persembahyangan di Pura Desa Banyuatis, lalu di Pura Labuan Aji di Desa Temukus, dan di Pura Batur. 'Saat bersembahyang di tiga pura itu ibu sehat-sehat saja,' katanya.
Bahkan saat memasuki tempat parkir di Pura Besakih, lanjut Sutawan, ibunya sendiri yang menunjukkan tempat parkir dan bertanya kepada petugas berapa harus membayar parkir. Namun setelah itu ibunya tiba-tiba pingsan setelah sempat minta air putih. Jero Mangku Wayan Geden, suami Jero Setuti, menyatakan berterima kasih kepada Bali TV atas bantuan tersebut. (kmb13/kmb15*BP)








