1
Batara Turun Kabeh : Perubahan Arus 'Penangkilan' Membantu Umat on Mon Apr 20, 2009 4:46 pm
LUAR biasa, hingga hari ke-36 rangkaian Tawur Agung Panca Bali Krama lan Ida Batara Turun Kabeh yang digelar sejak 12 Desember 2008, pemedek yang tangkil ke Pura Besakih tetap saja membludak, Sabtu (18/4) kemarin. Meskipun hujan mengguyur, pemedek tetap bertahan antre di pamedal pura, baik yang menunggu giliran muspa di padharman maupun di Penataran Agung.
Berkat peralihan arus pamuspan, arus pemedek sedikit lebih terarah dibanding sebelumnya. Pemedek yang selesai sembahyang di padharman mengikuti arus untuk menuju Penataran Agung melewati belakang meru tumpang sia. Ada juga yang terus turun dan menuju Penataran Agung melalui pamedal agung. 'Hujan tak apa-apa daripada panas,' ungkap Ni Ketut Puspa dari Buleleng.
Pemedek mulai berdatangan ke Pura Besakih sejak pukul 05.00 wita. Sebagian besar dari mereka beralasan untuk menghindari antrean dan penumpukan pemedek. Semakin siang, kedatangan pemedek terus bertambah. Kawasan Pura Besakih pun makin sesak. 'Biasanya ledakan pemedek terjadi mulai pukul 10.00 wita - 14.30 wita. Sabtu kemarin malah pukul 09.00 wita sudah ramai,' ujar Ketua Panitia, Wayan Gunatra.
Dari pengamatannya, setiap hari pemangku minimal melayani 50 gelombang dengan daya tampung di Penataran Agung 2.000 pemedek/gelombang. Artinya, setiap hari sekitar 100 ribu pemedek tangkil ke Pura Besakih. Bahkan, ia mengaku sangat takjub melihat kesadaran umat dalam mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 'Selain krama Bali, krama luar Bali juga banyak yang tangkil,' tambahnya.
Panitia sedang mempersiapkan rangkaian upacara majauman yang berlangsung Senin (27/4) mendatang. Majauman dilakukan di Pura Rinjani, Lombok, Pura Semeru Lumajang dan pura kahyangn jagat se-Bali yang dipusatkan di Pura Pangubengan Besakih. 'Bukan hanya upakara yang kami pikirkan. Juga transportasi. Panitia membuka kesempatan bagi umat yang punya keinginan mapunia armada transportasi (bus) atau biaya perjalanan,' tambah Gunatra. (bal*BP)
Berkat peralihan arus pamuspan, arus pemedek sedikit lebih terarah dibanding sebelumnya. Pemedek yang selesai sembahyang di padharman mengikuti arus untuk menuju Penataran Agung melewati belakang meru tumpang sia. Ada juga yang terus turun dan menuju Penataran Agung melalui pamedal agung. 'Hujan tak apa-apa daripada panas,' ungkap Ni Ketut Puspa dari Buleleng.
Pemedek mulai berdatangan ke Pura Besakih sejak pukul 05.00 wita. Sebagian besar dari mereka beralasan untuk menghindari antrean dan penumpukan pemedek. Semakin siang, kedatangan pemedek terus bertambah. Kawasan Pura Besakih pun makin sesak. 'Biasanya ledakan pemedek terjadi mulai pukul 10.00 wita - 14.30 wita. Sabtu kemarin malah pukul 09.00 wita sudah ramai,' ujar Ketua Panitia, Wayan Gunatra.
Dari pengamatannya, setiap hari pemangku minimal melayani 50 gelombang dengan daya tampung di Penataran Agung 2.000 pemedek/gelombang. Artinya, setiap hari sekitar 100 ribu pemedek tangkil ke Pura Besakih. Bahkan, ia mengaku sangat takjub melihat kesadaran umat dalam mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 'Selain krama Bali, krama luar Bali juga banyak yang tangkil,' tambahnya.
Panitia sedang mempersiapkan rangkaian upacara majauman yang berlangsung Senin (27/4) mendatang. Majauman dilakukan di Pura Rinjani, Lombok, Pura Semeru Lumajang dan pura kahyangn jagat se-Bali yang dipusatkan di Pura Pangubengan Besakih. 'Bukan hanya upakara yang kami pikirkan. Juga transportasi. Panitia membuka kesempatan bagi umat yang punya keinginan mapunia armada transportasi (bus) atau biaya perjalanan,' tambah Gunatra. (bal*BP)








