1
Batara Turun Kabeh : Ratusan Ribu Umat 'Tangkil' ke Besakih on Mon Apr 13, 2009 3:20 pm
JALAN sepajang tiga kilometer menuju Pura Besakih, Jumat (10/4) kemarin penuh sesak oleh umat Hindu. Mereka datang dari berbagai kabupaten di Bali. Mereka berjalan dengan membawa berbagai perlengkapan upacara seperti sodan dan pajati untuk dipersembahkan sebagai bakti mereka kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Rasa lelah dan terik matahari seakan tak dirasakan. Mereka semuanya tertuju pada keagungan Sang Pencipta. Punia bhakti seakan semuanya dipersembahkan untuk-Nya.
Hal ini terlihat di tempat ngaturang punia. Seorang yang mengaku dari Karangasem merogoh kantongnya dengan mengeluarkan lembaran Rp 10.000. Ketika itu ia mapunia Rp 5.000 sehingga petugas harus mengembalikan Rp 5.000 lagi.
Memang pemandangan yang kurang lazim. Namun itulah ciri bakti seorang krama yang secara materi punya keterbatasan tetapi ikhlas dalam ngaturang ayah.
Sangat berbeda tentunya dengan para pejabat yang bergelimang fasilitas. Merasakan panas terik matahari, berbasah keringat saat berdesak-desakan antre sembahyang, bukan hal yang biasa. Bahkan untuk canang dan dupa sebagai sarana upacara sering kali disiapkan panitia karya.
Selain pemedek, para pedagang juga menyerbu kawasan Besakih. Pedagang itu tak hanya warga lokal yang membuka dagangan secara dadakan, juga dari luar. Pedagang dari luar, umumnya tak mengenakan pakaian adat Bali, meski sebelumnya panitia karya sudah minta para pedagang menunjukkan citra bahwa di Besakih ada karya besar, di mana pedagang melayani pembeli dengan berpakaian adat madya.
Pedagang itu tak hanya orang dewasa, tetapi anak-anak laki dan perempuan juga ikut mengais rezeki. Belasan anak-anak warga Besakih dan sekitarnya umumnya berdagang canang, dupa, korek api dan sarana persembahyangan lainnya. Saat umat tak begitu membludak, para pedagang canang menjajakan canang di bencingah, sebaliknya saat membludak seperti kemarin mereka menunggu pembeli di jalanan yakni dari Pura Dalem Puri sampai bencingah agung. (bud)
Rasa lelah dan terik matahari seakan tak dirasakan. Mereka semuanya tertuju pada keagungan Sang Pencipta. Punia bhakti seakan semuanya dipersembahkan untuk-Nya.
Hal ini terlihat di tempat ngaturang punia. Seorang yang mengaku dari Karangasem merogoh kantongnya dengan mengeluarkan lembaran Rp 10.000. Ketika itu ia mapunia Rp 5.000 sehingga petugas harus mengembalikan Rp 5.000 lagi.
Memang pemandangan yang kurang lazim. Namun itulah ciri bakti seorang krama yang secara materi punya keterbatasan tetapi ikhlas dalam ngaturang ayah.
Sangat berbeda tentunya dengan para pejabat yang bergelimang fasilitas. Merasakan panas terik matahari, berbasah keringat saat berdesak-desakan antre sembahyang, bukan hal yang biasa. Bahkan untuk canang dan dupa sebagai sarana upacara sering kali disiapkan panitia karya.
Selain pemedek, para pedagang juga menyerbu kawasan Besakih. Pedagang itu tak hanya warga lokal yang membuka dagangan secara dadakan, juga dari luar. Pedagang dari luar, umumnya tak mengenakan pakaian adat Bali, meski sebelumnya panitia karya sudah minta para pedagang menunjukkan citra bahwa di Besakih ada karya besar, di mana pedagang melayani pembeli dengan berpakaian adat madya.
Pedagang itu tak hanya orang dewasa, tetapi anak-anak laki dan perempuan juga ikut mengais rezeki. Belasan anak-anak warga Besakih dan sekitarnya umumnya berdagang canang, dupa, korek api dan sarana persembahyangan lainnya. Saat umat tak begitu membludak, para pedagang canang menjajakan canang di bencingah, sebaliknya saat membludak seperti kemarin mereka menunggu pembeli di jalanan yakni dari Pura Dalem Puri sampai bencingah agung. (bud)








