1
Hari Ini, 'Panyineban' 'Nunas Tirta Penglebar' on Fri Apr 24, 2009 2:27 pm
Sehari menjelang panyineban Karya Agung Panca Bali Krama (PBK) dan Batara Turun Kabeh (BTK), kemacetan sudah mulai mencair, Kamis (23/4) kemarin. Ratusan umat masih tetap tangkil, namun tak seramai biasanya.
Ketua Panitia Karya yang juga Klian Adat Besakih I Wayan Gunatra mengatakan, Jumat (24/4) ini pukul 10.00 dilaksanakan panganyar dan pangremek dari panitia pusat. Sementara nunas tirta panglebar di Pura Dalem Puri dimulai sekitar pukul 15.00. Dilanjutkan dengan prosesi panyineban di Pura Penataran Agung.
Saat panyineban, pratima atau pralingga Ida Batara, baik Ida Batara Lingsir Besakih maupun pura lainnya di kompleks Besakih, usai pamuspaan, kairing tedun dari Balai Pesamuan Agung oleh masing-masing pangempon. Lalu kairing mantuk atau mawali (kembali) ke panyimpenan masing-masing.
Usai prosesi itu, barulah digelar upacara mendem bagia pulakerti (menanam banten paling penting terkait karya itu) di dua lokasi yakni di belakang Sanggar Tawang dan di belakang Padma Tiga.
Bisa Ngaben
Upacara nunas tirta pangenduh/panglebar digelar Jumat ini (24/4) di Pura Dalem Puri, Besakih. Usai memercikkan tirta itu, berarti sejak itu barulah umat Hindu mulai bisa melaksanakan pangabenan lagi. Upacara ngaben dilarang sejak umat nunas tirta pengandeg dan berakhir setrlah nunas tirta panglebar. Tujuannya mohon ke hadapan Ida Batara agar berkenan menganugerahi bahwa sejak saat itu upacara pengabenan atau yang ada kaitannya dengan kematian dapat dilaksanakan sebagaimana biasanya.
Pada saat ini diharapkan perwakilan masing-masing desa pakraman/kecamatan untuk nunas tirta dengan membawa sarana upakara peras pejati, katur di Pura Dalem Puri. Tirta ini dibagikan ke tiap penduduk melalui banjar adat.
Sementara daksina pejati yang sudah di-linggih-kan (diaturkan) sejak 25 Maret lalu di masing-masing sanggar hari ini di-lebar, kemudian di-geseng (dibakar), dengan terlebih dahulu mengaturkan sodan putih kuning dan canang yasa serta segehan.
Demikian pula penjor, hari ini bisa dicabut, sisa-sisa upakara dikumpulkan dan dibakar. Abunya dimasukkan pada bungkak (kelapa muda) nyuh gading, kemudian ditanam. Abu sisa sarana upacara di merajan ditanam di belakang palinggih rong tiga, sementara abu sisa upakara di halaman rumah dan di lebuh ditanam di lebuh (depan pintu halaman) disertai mengaturkan canangsari satu pasang.
Pada Senin Kliwon Krulut (27/4) dilaksanakan upacara majauman di seluruh tempat atau pura nuwur tirta sebelumnya. (013)
Ketua Panitia Karya yang juga Klian Adat Besakih I Wayan Gunatra mengatakan, Jumat (24/4) ini pukul 10.00 dilaksanakan panganyar dan pangremek dari panitia pusat. Sementara nunas tirta panglebar di Pura Dalem Puri dimulai sekitar pukul 15.00. Dilanjutkan dengan prosesi panyineban di Pura Penataran Agung.
Saat panyineban, pratima atau pralingga Ida Batara, baik Ida Batara Lingsir Besakih maupun pura lainnya di kompleks Besakih, usai pamuspaan, kairing tedun dari Balai Pesamuan Agung oleh masing-masing pangempon. Lalu kairing mantuk atau mawali (kembali) ke panyimpenan masing-masing.
Usai prosesi itu, barulah digelar upacara mendem bagia pulakerti (menanam banten paling penting terkait karya itu) di dua lokasi yakni di belakang Sanggar Tawang dan di belakang Padma Tiga.
Bisa Ngaben
Upacara nunas tirta pangenduh/panglebar digelar Jumat ini (24/4) di Pura Dalem Puri, Besakih. Usai memercikkan tirta itu, berarti sejak itu barulah umat Hindu mulai bisa melaksanakan pangabenan lagi. Upacara ngaben dilarang sejak umat nunas tirta pengandeg dan berakhir setrlah nunas tirta panglebar. Tujuannya mohon ke hadapan Ida Batara agar berkenan menganugerahi bahwa sejak saat itu upacara pengabenan atau yang ada kaitannya dengan kematian dapat dilaksanakan sebagaimana biasanya.
Pada saat ini diharapkan perwakilan masing-masing desa pakraman/kecamatan untuk nunas tirta dengan membawa sarana upakara peras pejati, katur di Pura Dalem Puri. Tirta ini dibagikan ke tiap penduduk melalui banjar adat.
Sementara daksina pejati yang sudah di-linggih-kan (diaturkan) sejak 25 Maret lalu di masing-masing sanggar hari ini di-lebar, kemudian di-geseng (dibakar), dengan terlebih dahulu mengaturkan sodan putih kuning dan canang yasa serta segehan.
Demikian pula penjor, hari ini bisa dicabut, sisa-sisa upakara dikumpulkan dan dibakar. Abunya dimasukkan pada bungkak (kelapa muda) nyuh gading, kemudian ditanam. Abu sisa sarana upacara di merajan ditanam di belakang palinggih rong tiga, sementara abu sisa upakara di halaman rumah dan di lebuh ditanam di lebuh (depan pintu halaman) disertai mengaturkan canangsari satu pasang.
Pada Senin Kliwon Krulut (27/4) dilaksanakan upacara majauman di seluruh tempat atau pura nuwur tirta sebelumnya. (013)







