BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Panca Bali Krama

Menegakkan Nilai Kesucian, Bangun Keharmonisan Jagat
Pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 25 Maret 2009 mendatang --tepat pada Tilem Caitra/Kasanga -- umat Hindu kembali menyelenggarakan upacara Tawur Panca Bali Krama di Pura Besakih. Karya ini digelar setiap 10 tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra/Kasanga ketika tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windhu. Apa makna upacara ini?


KETUA Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana mengatakan, dalam Lontar Raja Purana, tawur agung yang diselenggarakan setiap 10 tahun itu disebut Panca Bali Krama, sedangkan dalam lontar yang lain disebut Panca Wali Krama. Inti dari tawur tersebut adalah caru. Caru dalam kitab Samhita Swara berarti 'cantik' yakni mengharmoniskan kembali. Dalam konteks ini, alam mesti diharmoniskan (butha hita), termasuk sesama individu umat (jana hita) menuju keharmonisan bersama (jagat hita). 'Tawur agung Panca Bali Krama ini pada esensinya dalah upaya menuju hal-hal yang harmonis. Misalnya alam yang rusak mesti diperbaiki atau dilestarikan, hubungan sesama lebih diharmoniskan dan sebagainya. Jadi, tawur agung ini merupakan momen untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai sistem kehidupan menuju yang harmonis. Atau mengingatkan umat kepada upaya penegakan aspek kehidupan,' ujar Wiana yang dosen IHDN Denpasar ini.

Dalam hal ini pula, lanjut Wiana, umat perlu menerapkan konsep Tri Kona -- Utpeti, Stiti, Pralina -- yang lebih tajam. Artinya, perlu menciptakan (utpeti) sesuatu yang diperlukan, memelihara (stiti) hal-hal yang sesuai dengan keperluan zaman dan meninggalkan (pralina) sesuatu atau tradisi yang tidak cocok lagi dengan semangat zaman dalam rangka menegakkan Weda. 'Weda itu sanatana dharma, kandungannya kekal abadi. Tetapi penerapannya notana, selalu diremajakan sesuai dengan perkembangan zaman,' katanya.

Saat Terpilih

Sementara itu, Bali TV dalam program acara 'Pablibagan' yang ditayangkan Senin (23/2) kemarin juga mengangkat topik 'Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih 2009'. Acara yang dipandu IB Putu Ardika itu menampilkan IBG Agastia, I Gede Marayana, Drs. I Putu Suwena, S.H. dan Drs. IGM Ngurah, M.Si. sebagai narasumber.

Pada kesempatan itu, sastrawan yang juga tokoh agama IBG Agastia mengatakan sistem upacara umat Hindu di Bali terutama upacara-upacara besar seperti Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan yang lainnya diselenggarakan pada saat terpilih dan juga tempat yang terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat di atas khatulistiwa -- garis yang membelah bumi -- itulah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Bali Krama (dilaksanakan 10 tahun sekali) maupun Eka Dasa Rudra (100 tahun sekali). Karya agung ini dimaksudkan untuk mengharmoniskan segala unsur yang membangun jagat raya yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra. Sehari setelah upacara besar itu umat Hindu memasuki tahun baru Saka.

Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, katanya, pada hakikatnya dimaksudkan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini. Semoga isi jagat raya (sarwa prani) memberikan prana atau energi kerahayuan pada manusia dan seisi alam. 'Jadi, ada landasasn filosofi atau tatwa yang mendasari upacara ini. Landasannya menyangkut konsep Panca Mahabhuta, Panca Tanmatra, Panca Brahma, Panca Giri dan Panca Indria,' katanya.

Astronom I Gede Marayana menambahkan, upacara Panca Bali Krama merupakan upacara Bhuta Yadnya, salah satu dari Panca Mahayadnya -- Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Tujuannya adalah untuk mencapai bhuta hita atau jagat hita -- keharmonisan kehidupan makhluk dan jagat raya ini (sarwa prani hita). Suatu keistimewaan dalam palaksanaan Panca Bali Krama saat ini yakni waktunya terangkai dengan hari raya Galungan dan Kuningan, bertemu dalam sasih Kasanga.

Karena itu, lanjut Marayana, generasi umat Hindu Bali-Nusantara patut bersyukur dapat ikut serta melaksanakan upacara Tawur Agung Panca Bali Krama, karya yang sedemikian 'langka' karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu -- sepuluh tahun sekali. Sepatutnyalah yasa-kerti yang dilakoni umat benar-benar nekeng-tuwas, menyatukan idep, sabda dan bayu, dalam menyukseskan karya tersebut.

Sementara itu, Suwena mengatakan Karya Agung Panca Bali Krama jatuh pada 25 Maret 2009 yang dilanjutkan dengan prosesi Batara Turun Kabeh pada 9 April. Pada kesempatan itu, Suwena juga mengingatkan masyarakat bahwa setelah tanggal 20 Februari tidak diperkenankan melakukan upacara pengabenan, termasuk makinsan ring gni. Apabila setelah itu ada umat yang meninggal, jenazahnya dikubur secepatnya. Itu pun dilakukan malam hari atau setelah matahari terbenam. Apabila hal itu menimpa sulinggih seperti Ida Pedanda, Sri Empu termasuk pemangku, agar dilakukan dengan nyekah di rumah sesuai dresta masing-masing. 'Dari 20 Februari hingga 27 April 2007 tidak boleh ada upacara pengabenan atau pembakaran mayat,' katanya. (lun/ian)



Last edited by dyayu on Mon Mar 16, 2009 11:26 am; edited 15 times in total

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Rabu Besok, 'Nuwasen Karya'dan 'Nunas Tirta Pangandeg'

RABU (25/2) besok akan dilangsungkan upacara Nuwasen Karya dan Nunas Tirta Pangandeg dan Pamarisudha di Pura Dalem Puri, Besakih. Tirta itu akan dibagikan kepada seluruh umat Hindu, khususnya yang ada di daerah Bali.
Adapun tata caranya: pukul 10.00 wita utusan dari desa pakraman, kecamatan, kota/kabupaten se-Bali tangkil ke Pura Dalem Puri, Besakih dengan membawa upakara berupa peras pejati, canang sari dan segehan, lengkap dengan dua bumbung bambu sebagai tempat tirta.
Sebagai tempat Tirta Pangandeg, dihias dengan daun andong, kain putih kuning, andel-andel (berisi tulisan Tirta Pangandeg). Sedangkan untuk tempat Tirta Pamarisudha, dihias dengan daun andong, kain putih kuning, andel-andel dan tedung (berisi tulisan Tirta Pamarisudha).

Setelah tiba di tempat masing-masing, tirta di-pendak dengan segehan, kemudian di-linggih-kan di Pura Dalem. Tirta dapat dicampur dengan air bersih agar semua krama dapat tirta.

Semua krama yang ada di wilayah masing-masing mohon Tirta Pamarisudha ke Pura Dalem dengan mengaturkan canang sari, kemudian dipercikkan di sanggah/mrajan, pekarangan rumah dan semua keluarga.
Bagi yang memiliki jenazah yang belum diaben, agar memercikkan Tirta Pangandeg tersebut di setra/tempat jenazah dikubur, dengan terlebih dahulu mengaturkan upakara di Pura Dalem dan Prajapati, mengaturkan sodan putih kuning dan canang sari, dengan permohonan agar Batara Dalem dan Prajapati berkenan menganugerahkan kesucian dan pamarisudha, sehingga tidak menodai kesucian karya yang akan dilaksanakan.

Sementara di setra/tempat jenazah dikuburkan mengaturkan tipat pesor, nasi angkeb, pangkonan putih kuning asagi. Dengan permohonan agar sang pitara tidak mengganggu jalannya upacara yang akan dilaksanakan. Batas waktu nyiratang Tirta Pamarisudha paling lambat dilaksanakan tanggal 28 Februari 2009. (08)



Last edited by dyayu on Thu Feb 26, 2009 3:42 pm; edited 6 times in total

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Umat Harus Lakukan 'Yasa Kerti'

NUWASEN Karya Agung Panca Bali Krama (PBK) dan Batara Turun Kabeh (BTK) digelar di Pura Penataran Agung Besakih, Rabu (25/2) kemarin. Dengan upacara itu diharapkan umat melakukan yasa kerti, terutama dalam bentuk kesiapan mental, kesucian hati, serta senantiasa menampilkan pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci. Dengan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak terpuji serta dapat menodai kesucian dan pelaksanaan Karya Panca Bali Krama.

Selain nuwasen karya (menetapkan hari baik memulai karya), juga digelar prosesi lainnya yakni negtegang, nyuci beras dan ngunggahang sunari. Upacara ini dipusatkan di Penataran Agung Besakih di-puput Ida Pedanda Gde Putra Tianyar dari Geria Menara, Sidemen. Sementara negtegang lan nyuci beras di-puput Ida Pedanda Istri Karang dari Geria Sibetan.

Selain upacara di Penataran Agung Besakih, kemarin juga digelar upacara ngaturang pengandeg, nunas tirta panglukatan dan pamarisudha di Pura Dalem Puri, Besakih. Upacara itu di-puput Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Geria Gede, Aan, Klungkung yang juga yajamana karya PBK dan BTK. Upacara itu di-puput bersama Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik Dwaja dari Geria Budakeling.

Persembahyangan nuwasen karya di Besakih dihadiri Wagub Bali AAN Gede Puspayoga dan staf serta Asisten II Sekdakab Karangasem Ir. Komang Gde dan Ketua Bappeda Wayan Arthadipa, S.H.

Sementara itu, umat yang ngaturang ayah ke Besakih terus berdatangan. Tidak saja karyawan instansi pemerintah dan swasta, juga perorangan. Menurut sejumlah panitia, sambutan masyarakat terhadap Karya Panca Bali Krama tahun ini sangat antusias. Ini dapat dilihat dari jumlah umat yang ngaturang ayah setiap harinya. 'Jadi, umat tidak hanya sembahyang ke Besakih, tetapi telah berupaya terlibat sejak awal. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat baik dalam kesadaran umat untuk ngaturang ayah,' katanya.

Dibandingkan 10 tahun lalu, animo masyarakat tidak setinggi saat ini. Ketika itu umat masih berpatokan pada sembahyang saat upacara puncak dan Ida Batara nyejer. 'Sekarang umat sudah terlibat sejak awal. Dan, ini merupakan perkembangan yang sangat baik,' katanya berulang-ulang. (013)



Last edited by dyayu on Thu Feb 26, 2009 3:42 pm; edited 1 time in total

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA



Last edited by dyayu on Fri Feb 27, 2009 12:56 pm; edited 6 times in total

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Kenapa Tak Boleh Ngaben?

SALAH satu hal yang tak boleh dilakukan umat Hindu di Bali serangkaian Panca Bali Krama adalah ngaben atau makinsan di geni sejak 21 Februari hingga 27 April 2009. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran No: 054/MDP Bali/XI/2008. Atas dasar itu pula, sejumlah warga yang meninggal pada kurun waktu tersebut akan dilakukan prosesi penguburan pada petang hari yang salah satunya dilengkapi sarana obor. Lantas, apa yang mendasari adanya larangan melaksanakan upacara pengabenan selama rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama tersebut?

Menurut Ketua PHDI Bali Dr. IGN Sudiana Sudiana, karya-karya agung seperti Panca Bali Krama merupakan proses penyucian alam. Karenanya, selama batas waktu tertentu dilakukan proses negtegan karya atau mapanyengker agar peristiwa-peristiwa suci bisa dipertahankan guna mendukung kesuksesan penyelenggaraan karya agung tersebut. 'Larangan melaksanakan upacara pengabenan serangkaian digelarnya karya agung itu tertuang dalam sejumlah lontar di antaranya Lontar Bhama Kertih. Jadi, larangan pengabenan itu sudah tertuang dalam sastra-sastra agama,' katanya.

Sementara itu, dosen IHDN Denpasar yang juga Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Drs. Ketut Wiana, M.Ag. mengatakan, umat dianjurkan tidak melakukan pengabenan selama Karya Panca Bali Krama dengan maksud agar berkonsentrasi penuh pada pelaksanaan karya agung tersebut. Jadi, selama karya tersebut umat dianjurkan berkonsentrasi penuh, melaksanakan yasa kerti agar karya agung itu berjalan sukses. Sementara kegiatan upacara pitra yadnya selama karya berlangsung 'ditiadakan' untuk sementara.

Ada sejumlah sastra seperti Lontar Dangdang Bang Bungalan yang mendasari hal itu. Karena itu, kata Wiana, saat nuwasen karya umat dibagikan tirta pangrapuhan atau tirta panyengker. Tirta itu dipercikkan di setra atau Pura Prajapati dengan harapan Karya Panca Bali Krama berjalan sukses tanpa ada gangguan. Tetapi sesungguhnya, kata Wiana, tirta pangrapuhan itu diyakini memiliki kekuatan yang amat tinggi. Dengan diperciki tirta itu di setra, jenazah yang dikubur sudah dianggap bersih. (ian/lun)



Last edited by dyayu on Fri Feb 27, 2009 12:52 pm; edited 1 time in total

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
NGABEN !!!

Batas waktu pelaksanaan upacara pengabenan:

Guna mendukung kesucian karya ini dianjurkan sepanjang memungkinkan untuk melaksanakan pengabenan bagi yang punya sawa mependem, dengan batas waktu untuk pengabenan masal/ngewangun selambat-lambatnya sampai dengan tgl. 13 Pebruari 2009 sudah selesai dilaksanakan. Sedangkan bagi yang meninggal setelah batas waktu tersebut masih diberikan kesempatan pelaksanaan pengabenan kedadak hingga batas waktu selambat-lambatnya tanggal 20 Pebruari 2009.

Setelah tanggal 20 Pebruari 2009 sampai dengan selesainya upacara mejauman tanggal 27 April 2009, hendaknya tidak melaksanakan kegiatan pembakaran mayat baik dalam bentuk upacara pengabenan maupun makingsan di geni.

.

Bila ada yang meninggal setelah tanggal 20 Pebruari 2009 diatur sebagai berikut :


  1. Bila dimungkinkan untuk dipendem
    (dikubur) hendaknya secepatnya melaksanakan upacara penguburan.
    Perjalanan ke setra dilaksanakan pada sore hari setelah matahari
    terbenam. Tata cara dan upacara mendem sawa mulai dari nyiramang dan seterusnya berlaku sebagaimana biasa. Hanya saja tidak menyuarakan kentongan banjar, dengan maksud agar krama banjar tidak ikut terkena cuntaka. Anggota keluarga terdekat serta tetangga bersebelahan serta orang-orang lain yang ikut aktif dalam melaksanakan upacara mendem sawa tersebut terkena cuntaka. Batas waktu cuntaka sesuai dengan dresta setempat. Setelah berakhirnya batas waktu cuntaka
    diperkenankan untuk ikut dalam rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama
    dan Bhatara Turun Kabeh, dengan terlebih dahulu melaksanakan upacara
    pebersihan diri (matirtha).

  2. Bila yang meninggal adalah Sulinggih (dwijati), Pemangku atau mereka yang menurut dresta tidak boleh dipendem, diperkenankan untuk nyekeh sawa di rumah masing-masing. Tata cara nyekeh sawa pada dasarnya dilaksanakan sebagaimana biasa dengan ketentuan : bagi yang masih berstatus welaka tidak sampai munggah Tumpang Salu. Sedangkan bagi Sulinggih (dwijati) dapat dilanjutkan sampai munggah Tumpang Salu.


source : Ngaben

View user profile

7 Lima Pedanda Pimpin 'Pangayah' on Sat Feb 28, 2009 3:28 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Lima pedanda istri, Jumat (27/2) kemarin memimpin pangayah
mempersiapkan upakara Panca Bali Krama (PBK) dan Batara Turun Kabeh
(BTK). Hal itu disampaikan Jro Mangku Suyasa di sela-sela mengarahkan
pangayah banten dan mareresik (bersih-bersih) di areal Pura Penataran
Agung Besakih.

Kelima tapini (ahli banten) itu, kata Mangku Suyasa, yakni Ida Pedanda
Istri Mas dan Ida Pedanda Istri Wayan -- keduanya dari Geria Budakeling
-- serta Ida Pedanda Istri Karang dan Ida Pedanda Istri Anom dari Geria
Sibetan dan Ida Pedanda Istri Pemayun dari Geria Aan, Klungkung. Semua
pedanda istri tersebut tinggal di pasraman, di utara Penataran Agung.

Kemarin juga tampak ratusan pangayah laki-laki dan perempuan
mengerjakan berbagai jenis jejahitan, seperti tamas, pengnarang dan
klatkat. Dari beberapa kelompok pangayah yang tiap kelompok terdiri
atas puluhan sampai ratusan itu, juga tampak rombongan pangayah dari
guru TK di Karangasem. (013*BP)

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Perlu Ribuan 'Wewalungan'


ANTUSIASME masyarakat Bali ngaturang ayah di Pura Besakih makin hari makin meningkat. Hal ini diakui Bendesa Pakraman Besakih Wayan Gunantra, Minggu (1/3) kemarin.Kata Gunantra, kondisi ini sangat berbeda kalau dibandingkan 10 tahun lalu. Selain ngaturang ayah, punia juga terus berdatangan. Seperti bantuan berbagai peralatan, busana pemangku yang diserahkan Inti Bali serta suka-duka karyawan Bali Post menyerahkan 500 kg beras.

Meski demikian, kata Gunantra, sejumlah wewalungan yang akan dijadikan sarana upacara juga masih diperlukan seperti enam ekor kerbau, 20 ekor kambing, 4 ekor penyu, 6 ekor angsa, 2.000 ekor itik, 3.000 ekor ayam, 10 ekor babi butuan, 50 ekor babi guling (berat tujuh kilogram) serta 50 ekor babi besar (minimal berat seratus kilogram).

Serahkan Wastra

Sementara itu, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Bali, Minggu (1/3) kemarin menyerahkan bantuan separangkat busana (wastra) untuk seluruh pemangku di Pura Besakih. Bantuan Inti Bali itu diserahkan Ketua Inti Bali Cahaya Wirawan Hadi disaksikan Bendesa Adat Besakih Wayan Gunantra.

Selain bantuan busana untuk pemangku lanang dan istri, juga diserahkan bantuan berupa kotak sampah dan air mineral dari FIF serta paket susu kedelai dari Metabolis. Penyerahan paket susu kedelai untuk pemangku dilakukan perwakilan Metabolis untuk Bali, Dewa Made Darma Wijaya. (031)

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Puncak Karya, 'Nunas' Nasi Tawur

PADA puncak Karya Panca Bali Krama, Rabu (25/3), seluruh krama/umat Hindu patut ikut menyukseskan pelaksanaan karya tersebut dan yasa kerti yang dilaksanakan adalah:Nunas Tirta dan Nasi Tawur. Utusan/perwakilan desa pakraman/kecamatan agar datang ke Pura Besakih sekitar pukul 10.00 wita dengan membawa sujang untuk tempat Tirta Tawur serta daksina pejati dan perlengkapan persembahyangan, guna mohon Nasi Tawur dan Tirta Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Masing-masing wilayah juga melaksanakan Pacaruan/Tawur Kasanga sebagaimana biasa, waktu pelaksanaan diatur sbb: Di tingkat provinsi dan kota/kabupaten dilaksanakan pada siang hari pukul 12.00 wita. Di tingkat desa dan banjar dilaksanakan pada sore hari pukul 18.00 wita, tingkat pacaruan/tawur sebagaimana biasa, sesuai dengan dresta setempat.

Sementara upacara di parhyangan; untuk Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina, Pura Keluarga (Kawitan/Dadia/Panti/Paibon/sejenisnya) mengaturkan Daksina Pejati, Sodan Putih Kuning, Canang Sari dan Canang Yasa beserta kelengkapannya, turut ngertiang kerahayuan jagat.

Adapun di rumah tangga: di Palinggih Kemulan (Rong 3) mengaturkan Daksina Pejati, Canang Sari, Soda Putih Kuning dan Tipat Kelanan. Di halaman/natar sanggah/merajan mengaturkan Segehan Manca Warna maiwak Bawang Jahe. Di halaman rumah mengaturkan Segehan Manca Warna maulam Bawang Jahe. Di halaman luar/jaba lebuh mendirikan Sanggah Cucuk, ditanam sebelah kanan pintu rumah, banten munggah di Sanggah Cucuk yakni Peras Panyeneng, Tumpeng Adanan, maulam ati magoreng miwah taluh madadar, Sulang agancet madaging tuak dan arak. Di bawah Sanggah Cucuk mengaturkan: Segehan Manca Warna 9 tanding, ulam-nya olahan Ayam Brumbun, lengkap dengan tetabuhan, diaturkan kepada Sang Butha Raja dan Sang Kala Raja. Segehan Cacahan 108, ulam-nya jejeron matah, disertai Segehan Agung I tanding, tetabuhan tuak, arak, berem, air, diaturkan kepada Sang Bhuta Bala dan Kala Bala. Segehan Sapunjung, iwak babi ingolah lembat asem.

Sementara itu untuk upakara Daksina Pejati di Palinggih Parhyangan dan Palinggih Rong 3, nyejer hingga panyineban upacara Panca Bali Krama dan setiap harinya mengaturkan Canang Sari, ngertiang karya, nunas kerahayuan jagat. (kmb)

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
'Nyukat Genah' di Besakih

Amlapura - Setelah Nuwasen dan Nunas Tirta Pangandeg lan Pamarisudha 25 Februari 2009, rangkaian Karya Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Besakih berlanjut dengan pelaksanaan upacara Nyukat Genah di Bencingah Agung Besakih, Jumat (6/3) kemarin. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Geria Aan, Klungkung.

Nyukat Genah merupakan upacara untuk memetakan tempat sanggar tawang yang nantinya dibangun di lokasi upacara. Ada lima sanggar tawang yakni ditempatkan pada empat arah (timur, barat, utara dan selatan) serta di tengah-tengah. 'Secara keseluruhan, pemetaan mesti dilakukan berdasarkan sukat (ukuran) Wiku Manggala. Termasuk padanan juga mesti sesuai petunjuk Wiku Manggala,' ungkap pemangku yang juga Ketua Seksi Upakara Panitia Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Besakih, Gusti Mangku Jana.

Nyukat Genah diikuti sejumlah pemangku, panitia dan krama. Beragam bebantenan melengkapi pelaksanaan upacara, di antaranya suci upasaksi, peras santun dan pacaruan sebagai simbol pembersihan sekaligus pamarisudha lokasi upacara.

Memohon agar upacara berlangsung lancar. Nyukat Genah diawali dari sudut bagian timur, selanjutnya ke arah barat dan keliling di semua sudut. Termasuk penentuan titik tengah. Menggunakan benang dan meteran serta membubuhkan garis dengan menggunakan kapur untuk memperjelas batas-batas yang sudah ditentukan. 'Setelah Nyukat Genah, kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan beberapa bangunan upacara. Seperti sanggar tawang, panggungan, pawedan dan lainnya,' tandas Mangku Jana.

Bangunan-bangunan itu sudah harus tuntas hingga terhias Rabu (18/3) mendatang. Sebab, Jumat (20/3) dua hari berikutnya, dilanjutkan dengan panedunan Ida Batara kabeh.

Di pihak lain, masyarakat secara individu, berkelompok ataupun lembaga terus berdatangan ngaturang ayah di Pura Besakih. Laki-laki membantu pekerjaan ngawit nancebang bangunan. Ada juga ngayah membuat perlengkapan upakara. Sedangkan perempuan membuat beragam jajanan. Meski hujan mengguyur sejak tengah hari, kesibukan pangayah tak terhenti.

Di antara yang ngayah tersebut, tampak rombongan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali bergabung dengan rombongan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar. Rombongan yang dikoordinir Kasi Pidsus Kejari Denpasar Ridwan Kadir dan Kasi Pidum Wayan Suwila serta diikuti langsung Kajari Denpasar I.B. Gede Siwananda, terlebih dahulu singgah di Pasraman Besakih untuk menyerahkan bantuan berupa 200 buah baju kaos putih, 80 buah sapu lidi bertangkai dan kantung plastik (kantung sampah). Bantuan diserahkan kepada Bendesa Adat Besakih yang juga Ketua Panitia Wayan Gunatra.

'Ini merupakan inisiatif pegawai. Mereka sukarela menghimpun dana untuk dibelikan bantuan yang disumbangkan,' tandas IB Siwananda. Ngayah bersama dan penyerahan bantuan diharapkan dapat meringankan tugas panitia. Sekaligus bentuk rasa memiliki. 'Bukan hanya pegawai beragama Hindu, di luar umat Hindu juga ikut serta,' tambahnya. (kmb20*BP)

View user profile

11 'Mamineh Empehan' untuk Wewangian dan Jajan on Tue Mar 10, 2009 12:49 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Amlapura - Upacara Mamineh Empehan di Pasucian Pura Besakih dilaksanakan Senin (9/3) kemarin. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Gede Amerta Pasuruan. Hal ini merupakan rangkaian upacara Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Besakih.

Menurut Ida Pedanda Istri Karang, Mamineh Empehan merupakan upacara untuk mengambil lima unsur dari lembu, yaitu susu (jatu), ludah (widuh), kencing (warih/tiyeh), air mata (plis) dan kotoran (purisia/koratan). Mamineh empehan merupakan upakara sedana karya dewa yadnya dan bhuta yadnya dalam rangkaian Panca Bali Krama yang ditujukan ngaturang pamuput karya ring Batara Sedana Karya.

Prosesi mamineh yang dimulai sejak pukul 06.00 wita tersebut diawali dengan masiram, kemudian mawastra ngeranjingan pasuci di tempat kandang untuk mineh.

Pada upacara mamineh empehan, dilakukan pula pembuatan minyak Catur yang terbuat dari lima jenis kelapa. Kelapa tersebut diparut lalu dialuskan tidak disantan dan langsung direbus untuk menjadi minyak. Minyak Catur ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian yakni yang dicampur dengan susu, greta dan minyak Catur. Minyak Catur untuk membuat sesanan upacara yang memakai harum-harum. Susu digunakan sebagai wedia untuk dipersembahkan kepada Ida Batara. Greta untuk jajanan dan penek.

Pada minyak Catur juga ditambahkan cendana, wam arak, madu dan rah arak, sementara pada greta dimasukkan Toya Rauh, Toya Widuh, Tiyeh dan Purisia.

Upacara mamineh empehan diikuti ratusan umat. Umat yang hadir ngaturang ayah sekaligus melakukan persembahyangan bersama. Sementara itu selain prosesi mineh empehan, ribuan umat kemarin juga memadati Pura Besakih untuk ngaturang ayah melengkapi berbagai sarana upacara Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh. (kmb24/ded)

View user profile

12 'Matur Piuning' di 22 Pura on Wed Mar 11, 2009 10:44 am

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Amlapura - Puncak rangkaian Tawur Agung Panca Bali Krama berlangsung 25 Maret 2009 dan puncak Karya Ida Batara Turun Kabeh, 9 April 2009. Pengerjaan berbagai perlengkapan karya pun terus berlangsung. Selasa (10/3) kemarin juga digelar upacara matur piuning ring sajebag pura di Besakih dengan mengaturkan bakti suci lan pejati.

Berbagai pekerjaan persiapan kemarin di antaranya membuat panyengker sekaligus candi genah tawur (lokasi karya) di Bencingah Agung Besakih, pemasangan pangangge, pajeng di pelinggih Penataran Agung serta persiapan perlengkapan upakara lainnya seperti tegteg bagia pula kerti agung.

Upacara matur piuning sedikitnya dilakukan pada 22 pura yang ada di Besakih. Di-puput pemangku masing-masing pura dengan bakti suci lan pejati sebagai wujud pemberitahuan akan diselenggarakannya karya agung di Pura Besakih berikut proses persiapannya. Dengan uapacara tersebut, diharapkan persiapan hingga pelaksanaan karya berjalan aman dan lancar.

Sedikitnya 5.000 orang dari berbagai penjuru Bali ngaturang ayah setiap harinya. Panitia pun harus pintar mengatur pangayah agar efektif menyelesaikan pekerjaan yang sudah dijadwalkan. Panitia mengakui ada pangayah yang kekuarangan pekerjaan, bahkan sampai meminta pekerjaan ke panitia, namun hal itu ditolak. Karena setiap pekerjaan sudah diatur dan dijadwalkan kapan pengerjaannya. Kalau dipaksakan mengambil pekerjaan yang belum saatnya dikerjakan, nanti malah tak terkoordinir. 'Setiap pekerjaan sudah dikoordinasikan oleh pangaraja karya,' ujar panitia karya Jero Mangku Widiarta seraya mengaku bangga dengan kesadaran umat untuk bersama-sama menyukseskan karya.

Dari ribuan pangayah Selasa kemarin, tampak Bupati Bangli Nengah Arnawa bersama seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Bangli. Mereka mendapat bagian membuat klatkat dan perlengkapan upakara lain di kawasan Pura Batumadeg.

Menariknya, saat ngaturang ayah, ada pangayah yang dikagetkan seekor ular seukuran ibu jari yang tiba-tiba merayap di tubuhnya. Syukur, ular tersebut tidak sampai mematuk tubuh pangayah tersebut.

Mendaftar di Panitia
Menurut panitia, kesibukan makin memuncak setelah 20 Maret 2009 yakni usai panedunan Ida Batara. Selain sulinggih, pemangku dari 22 pura di Besakih juga tentunya makin sibuk mamuput bagian-bagian karya. Sebagaimana sebelum-sebelumnya, pemangku khayangan desa dari desa pakraman se-Bali juga banyak yang mengaturkan ayah. Kaitan dengan itu, panitia membuat format tersendiri. Pemangku itu memberitahukan kepada panitia karya dengan membawa pengantar dari bendesa pakraman masing-masing. 'Kami sudah mempersiapkan formatnya. Pemangku dari mana (desa mana dan ngayah di pura apa) serta berapa lama akan ngayah di Besakih,' tambah Jero Mangku Suyasa.

Sementara itu, usai digelar mamineh empehan dan membuat madu parka, Senin (9/3) lalu, rangkaian Tawur Agung Panca Bali Krama dan Ida Batara Turun Kabeh dilanjutkan dengan upacara bhumi sudha di Bencingah Agung Besakih. Upacara ini berlangsung pukul 10.00 wita. Juga upacara pamarisudha di Pura Penataran Agung Besakih yang berlangsung pukul 15.00 wita. (kmb20*BP)

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
PANITIA Tawur Agung Panca Bali Krama lan Ida Bhatara Turun Kabeh Pura Besakih terus mengimbau warga untuk menyukseskan karya ini. Terutama rangkaian pamelastian yang digelar Sabtu (21/3) hingga Minggu (22/3) mendatang. Warga di desa pakraman yang dilintasi iringan pamelastian wajib memasang penjor di kedua sisi jalan (mengapit jalan). Aktivitas galian golongan C harus dihentikan.

Penjor harus terbuat dari bambu yang dikerik (dihaluskan bagian luar). Bahan-bahan penjor tak boleh ada unsur plastik. Penjor dipasang rapi dalam jarak 4-5 meter antarpenjor satu dengan lain. Meski berbeda bentuk dan jenis antara desa pakraman, tak masalah. Yang penting, penjor yang dipasang bukan penjor aksesori melainkan penjor upacara dengan kelengkapan sesuai ketentuan (pala bungkah, pala gantung).

Aktivitas galian golongan C harus ditutup. Jika tidak, praktis membuat jalan krodit karena lalu lalang truk pengangkut pasir. Bukan hanya penggalian, pengangkutan material juga dihentikan. Terutama di jalur Selat-Rendang. 'Kami secepatnya akan berkoordinasi dengan pengusaha dan instansi terkait di Pemkab Karangasem agar sama-sama ngayah dengan menutup sementara aktivitas galian golongan C, ' tandas Ketua Panitia Tawur, Wayan Gunatra, Sabtu (14/3) kemarin.

Bendesa Adat Besakih itu juga meminta pimpinan parpol, caleg, dan instansi terkait menurunkan atribut parpol, baliho, dan gambar caleg yang bertebaran di sepanjang jalur pamelastian. Karena hal itu menganggu perjalanan iringan pamelastian.
Desa pakraman juga harus memperhatikan proses timbal-tinimbal (estafet) jempana dan pralingga Ida Bhatara. Karena menyangkut ribuan pengiring, teknis estafet minimal dilakukan 300 meter sebelum ujung batas desa pakraman. Krama yang ngaturang bhakti sudah harus siap minimal 300 meter sebelum bagian paling depan iringan pamelastian tiba.

Bagi masyarakat yang ingin menghaturkan pemundut, beberapa lokasi ditetapkan panitia. Saat menuju Pura Segara Klotok, titik-titik lokasi ngaturang pemundut dan pemedek di antaranya Bale Wantilan Tegenan, Perempatan Pasar Menanga, Lapangan Singarata, Pasar Nongan, Pura Puseh Pesaban, Pura Puseh Gembalan, Pasar Desa Celebung dan Pertigaan Besakih.

Ketika kembali dari Pura Penataran Agung Klungkung, beberapa titik yang ditetapkan yakni Desa Paksebali, Pura Puseh Lebu, pertigaan Desa Sukahet, Pura Puseh Tohjiwa, Pasar Desa Talibeng, Kantor Camat Sidemen, dan Pura Puseh Tebola. Ketika kembali dari Pura Tebola menuju Pura Agung Besakih, lokasi ngaturang genah di antaranya pertigaan Desa Bangbangbiaung, Pasar Desa Selat, pertigaan Desa Uma Cetra, pertigaan Desa Padangaji, Pura Puseh Desa Muncan, Pura Pesimpangan Besakih dan ambal-ambal Pura Agung Besakih.

Pemedal Agung
Sementara itu, khusus pemedek yang muspa di Penataran Agung Besakih, mulai saat ini ketika masuk areal penataran harus melalui pemedal agung. Tak seperti selama ini, pemedek masuk dari seluruh pintu keluar-masuk penataran. Itu sangat mengganggu prosesi karya ataupun persiapan karya. Karenanya, panitia meminta pemedek tertib dengan masuk melalui satu pintu di pemedal agung dan keluar melalui pintu barat. Pintu timur dan pintu menuju pawedan ditutup. Demi kelancaran proses karya dan persiapannya ia mengharapkan pemedek tertib mengikuti aturan itu, tandas Panitia Penataan dan Pengawasan Pura Besakih yang juga Camat Rendang, Gede Mustika.

Nedunang Pralingga
Sementara itu, Sabtu (14/3) kemarin para pengayah mengerjakan berbagai persiapan karya dan penyelesaian kelengkapan di lokasi karya, terutama di bencingah agung. Termasuk mempersiapkan upakara untuk nuwur tirtha ke Gunung Rinjani, Gunung Semeru dan Pura Sad Khayangan di Bali yang berlangsung pukul 06.00 wita, Kamis (19/3) mendatang. Termasuk pengerjaan bebantenan untuk upacara nedunang pralingga Ida Bhatara yang berlangsung pukul 16.00 wita, Jumat (20/3) mendatang.

Beberapa pengayah di antaranya datang dari Binroh Hindu PT Indosat Bali yang dikoordinir Ketuanya Wayan Gunarta. Mereka menyerahkan punia berupa uang tunai dan perlengkapan kebersihan seperti sapu dan tong sampah.

Juga dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sekaligus menyerahkan saput dan udeng, REI Bali bekerja sama dengan Cok Konfeksi menyerahkan 1.000 kaos, Diparda Bali 50 udeng dan minuman dari UD. Tirta Sanjiwani. Dana punia diserahkan ke panitia melalui Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post) di Pasraman Besakih.

Saat itu juga digelar pengobatan gratis bekerja sama dengan Rumah Sakit Kasih Ibu. Melibatkan dr. Ngurah Wardana, dr. IBK. Wisasmita, dr. Nadiyasa, dr. Ariwijaya, dr. Wayan Kusumadana, Sp.OG, dr. Agus Samia Sp.An, dr. IBK. Semara Putra, dr. DAP Masyeni Sp. PD dibantu paramedis Dayu Suratni, Wayan Suwartini, Sri Muriani, Puspaningsih, Kadek Sukrasih, Putu Purnama, Arya Diantini, Wayan Anggreni, Made Sulaeman, Arya Wisnadi dan Ketut Darmiati. Juga RSUD Karangasem, dr. IGB Putra Pertama dibantu perawat Desak Nyoman Suryati dan Ni Luh Sumiyasa serta dokter dari psikiatri Unud. Di antaranya, dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dr. Putu Asih Primatanti, dr. Putu Agus Grantika, dr. Bagus Surya Kusumadewa, dr. Salikur Kartono, dr. Ni Ketut Sri Diniari, dan dr. IGA Vivi Sayani.

Sedikitnya, 134 warga yang memeriksakan kesehatan. Dari rematik, batuk, gatal-gatal dan gangguan penglihatan. Ada juga yang mengeluhkan sakit jantung. Pada kegiatan itu, 50 kacamata dibagi secara gratis bagi mereka yang membutuhkan. (bal)

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
'Melasti', Menghanyutkan Kekotoran Alam Semesta

Serangkaian upacara Panca Bali Krama dan Betara Turun Kabeh di Pura Besakih digelar upacara melasti ke Segara Watu Klotok, Klungkung mulai Sabtu (21/3) hari ini. Apa sesungguhnya makna melasti? Dosen IHDN Denpasar I Ketut Wiana mengatakan dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan 'Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata, anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana.' Maksudnya, melasti meningkatkan bakti kepada para dewata manifestasi Tuhan, agar diberi kekuatan untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa atau kekotoran diri dan kerusakan alam semesta.

Sedangkan tujuan melasti seperti yang tersurat dalam lontar Sundarigama adalah ngamet sarining amertha kamandalu ring telenging segara--mengambil sari-sari kehidupan yang disebut tirtha kamandalu (air sumber kehidupan) di tengah samudera.

Kata Wiana, 'Ngiring prawatek dewata' dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala itu mengandung makna bahwa ciri utama orang beragama adalah berbakti kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widi). Dalam konteks itu, umat diharapkan mampu menguatkan daya spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual. Hal itu dijadikan dasar untuk menguatkan kepekaan emosional dan melahirkan kepedulian sosial. Anganyutaken laraning jagat artinya, dengan kuatnya srada dan bakti kepada Tuhan, kepedulian sosial umat bisa meningkat. Anganyutaken papa klesa maksudnya agar umat termotivasi untuk mengatasi lima kekotoran individu yang disebut panca klesa--awidya, asmita, raga, dwesa dan abhiniwesa.

Sedangkan anganyutaken letuhing bhuwana maksudnya melalui ritual melasti umat diharapkan termotivasi untuk menghilangkan kebisaan buruk merusak sumber daya alam. Jika kebiasaan buruk ini terus dibiarkan, alam akan rusak (letuhing bhuwana) yang pada gilirannya manusia akan menderita.

Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana mengatakan melasti berasal dari kata lasti yang artinya menuju air. Dalam konteks prosesi melasti, umat bisa mendatangi segara (laut), danau dan campuan (pertemuan dua buah sungai).

Tujuannya, nunas tirta amertha dan menghanyutkan kekotoran dunia. Kata Sudiana yang dosen IHDN Denpasar, melasti ngarania ngiring prewatekan pralingga Ida Batara ke telengin samudera angamet tirta amerta (tirta sanjiwani), anganyutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.' Artinya, umat ngiring Ida Batara ke segara mengambil Tirta Amerta dan menghanyutkan segala penderitaan umat, segala sesuatu yang menyebabkan dunia atau alam semesta ini kotor. Tirtha yang telah diambil itu kemudian digunakan dalam upacara Panca Bali Krama.

Lanjut Sudiana, secara simbolik sesungguhnya umat diingatkan untuk selalu membenahi diri supaya menjadi lebih baik, dengan menghilangkan atau menghanyutkan perilaku atau sifat-sifat buruk yang melekat dalam diri. Jadi, dalam konteks Panca Bali Krama, umat diingatkan melakukan introspeksi diri--misalnya, selama kurun waktu 10 tahun ke belakang, sudahkah ada perbaikan-perbaikan dalam diri? Demikian pula selama kurun waktu itu, sudahkan umat menjaga atau memperlakukan alam semesta ini dengan baik? Melalui introspeksi seperti itu diharapkan ke depan muncul perbaikan-perbaikan perilaku, sehingga terjadi keharmonisan. Pun, melalui upacara pemahayu jagat ini diharapkan keharmonisan alam beserta isinya tetap terjaga. (08)

View user profile

15 Puluhan Ribu Umat 'Ngiring Melasti' on Mon Mar 23, 2009 2:39 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Terbanyak Sepanjang Sejarah

Amlapura - Puluhan ribu umat Hindu, baik pamundut maupun pangiring mengikuti prosesi pamargin Ida Batara di Besakih melasti ke Segara Watu Klotok, Klungkung, Sabtu (21/3) kemarin. Prosesi pamelastian kali ini merupakan paling besar dibandingkan upacara serupa sebelumnya. Hal ini merupakan sejarah di mana jumlah pengiring paling banyak dan punia bakti yang dipersembahkan masyarakat di sepanjang jalan Besakih-Watu Klotok juga paling besar. Sementara waktu tempuh Besakih-Watu Klotok dicapai 7 jam.

Jero Mangku Renten, pemangku di Mrajan Dukuh, Besakih, semalam mengungkapkan bahwa dia telah tiga kali mengikuti prosesi Panca Bali Krama. 'Saat inilah pangiring paling banyak dan punia masyarakat juga paling besar,' kata Mangku yang telah uzur tersebut.

Upacara pamelastian ini dimulai sekitar pukul 09.00 wita. Para pemangku dan pengayah nedunang pralingga atau pratima Ida Betara kemudian ditempatkan di jempana yang telah dihias sebelumnya. Seusai pemuspan, Ida Batara katurang mamargi dari Pura Penataran Agung pukul 10.30 wita melewati pamedal agung. Iring-iringan pemelastian tiba di Segara Watu Klotok Klungkung sekitar pukul 18.30 Wita.

Sepanjang jalan dari Pura Penataran sampai di bencingah agung dialasi kain putih. Prosesi pemargin Ida Batara Lingsir Besakih dikenal sangat sakral. Seperti kemarin, begitu Ida Batara Lingsir tedun, ada sejumlah umat masih berdiri di bencingah. Ida Batara duka di mana pamundut kerauhan dengan berteriak minta umat segera duduk.

Sepanjang jalan ketika iring-iringan Ida Batara lewat, umat Hindu menghaturkan bebantenan dan muspa. Krama di sepanjang jalur pamelastian seperti Desa Pakraman Besakih, Tegenan, Menanga, Rendang, Nongan, Pesaban dan seterusnya duduk dan muspa.

Pada karya agung PBK dan BTK, Ida Batara di Pura Besakih saja yang tedun pralingga atau pratima-nya, beserta Ida Batara pangider buana yang Pura Catur Dala dan Catur Loka Pala. Sementara Ida Batara pangider buana di penjuru Bali tedun atau dituwur dalam wujud Ida Batara tirta.

Saat PBK dan BTK kali ini, selain Ida Batara Lingsir, seluruh pralingga/pratima Ida Batara di Pura Catur Lawa, Catur Dala, Catur Loka Pala dan Tri Mandala serta diiringi pratiman Ida Batara seluruh pura pedarman kairing melasti. Pralingga Ida Batara yang kairing melasti berjumlah 24 ditambah dari seluruh pedarman. Di antaranya, pratima di Pura Penataran tujuh buah di mana jempana Ida Batara Lingsir paling besar. Pratima yang termasuk Pura Catur Lawa yakni Ida Batara Ratu Pasek, Ratu Dukuh, Ratu Penyarikan dan Ratu Bagus Pande. Pratima Ida Batara Pura Kiduling Kreteg dua buah, Pura Ulun Kulkul dan Batu Madeg masing-masing dua buah. Sementara dari Basukian, Banua Kauhan dan Kanginan, Merajan Kanginan, Merajan Kauhan, Dalem Puri, Hyang Aluh masing-masing satu buah.

Urutan pamargi melasti kemarin sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Karya I Wayan Gunatra, diawali tirta pamarisudha, pengawin dan tambur disusul Ida Batara Ratu Pande paling depan. Disusul Ratu Pasek, Ratu Penyarikan dan Ida Batara Ratu Dukuh. Setelah Ida Batara dari Pura Catur Lawa ini, barulah disusul Ida Batara Pura Kiduling Kreteg dengan dua pratima yang di-pundut dalam dua jempana serba merah. Di tengah-tengah Ida Batara Pura Penataran Agung dan Ida Batara Lingsir. Berikutnya disusul pratima Ida Batara Pura Ulun Kulkul, Banua Kanginan dan Kauhan, Manik Mas, Bangun Sakti, Basukian, Dalem Puri, Batu Madeg, Jenggala dan terakhir seluruh panyungsungan dari pura-pura pedarman. Iringan paling belakang baleganjur dari desa pakraman di mana jalur melasti dilewati.

Konsumsi Gratis

Sementara itu umat di sepanjang rute pemelastian tampak antusias menyambut prosesi ritual tersebut. Di Desa Adat Tegak, Cucukan dan Selat, Klungkung, misalnya, umat sudah tampak menyiapkan asagan, tempat untuk meletakkan sesajen atau aturan bakti pamendak. Asagan itu juga digunakan untuk menghaturkan berbagai konsumsi minuman, seperti air mineral, es, rujak dan makanan ringan secara gratis kepada umat yang mengikuti prosesi tersebut.

Di sejumlah desa adat, umat menyambut iring-iringan pemelastian itu dengan tetabuhan dan kidung suci. Begitu iring-iringan pemelastian dirasa sudah cukup dekat, umat segera mengambil tempat untuk melakukan persembahyangan. Di Desa Adat Tegak, iring-iringan pemelastian tiba sekitar pukul 15.30 Wita.

Umat yang berada di pinggir jalan dimohonkan duduk agar Ida Batara yang kairing melasti bisa mamargi lancar. Setelah sembahyang dan mendapatkan tirtha, umat akhirnya bergabung dengan iring-iringan pemelastian menuju Segara Watu Klotok Klungkung.

Puncak karya PBK jatuh pada Rabu (25/3) mendatang, sementara BTK yang digelar lima tahunan puncaknya pada purnama Kadasa, Kamis (9/4). Ida Batara akan nyejer hingga Jumat (24/4). (tim BP)

View user profile

16 Hari Ini, Puncak Karya PBK on Wed Mar 25, 2009 12:55 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Amlapura - Upacara mapedada wewalungan (hewan untuk upakara tawur) digelar Selasa (24/3) kemarin di Pura Penataran Agung Besakih. Prosesi dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 13.00. Usai prosesi mapepada, wewalungan itu disembelih dan diolah menjadi upakara tawur terkait puncak Karya Panca Bali Krama (PBK) pada tilem kesanga Rabu (25/3) hari ini.

Upacara mapepada wewalungan di Pura Penataran Agung Besakih di-puput Ida Pedanda Gde Made Gianyar dari Geria Budakeling, Karangasem dibantu sejumlah tapini di antaranya Ida Pedanda Istri Mas dari Geria Budakeling. Ida Pedanda Istri Mas yang telah berusia lebih dari 100 tahun tetap semangat memberi petunjuk pangayah lainnya. Prosesi mapepada wewalungan dimulai dengan menghias hewan yang bakal dipakai sarana caru (tawur) itu. Hewan-hewan seperti sejumlah kerbau, sapi (godel), kambing, menjangan, kijang, anjing bangbungkem, kucit butuan diberi kalung atau selempot dari kain merah, kuning atau hitam. Hewan yang besar seperti sapi, kerbau juga dikenakan karuista (ikat kepala dari alang-alang). Bersama hewan berkaki empat itu juga disertakan puluhan penyu, angsa, itik, ratusan ayam manca warna (lima warna).

Hewan caru ini juga diperciki tirta pabersihan, lantas dituntun mapepada (berjalan) mengitari ke arah kiri (mresamya), palebahan Pura Penataran Agung Besakih sebanyak tiga kali. Prosesi iring-iringan mapepada terdepan seluruh senjata Dewata Nawa Sanga seperti Gada, Nagapasa, Padma, Angkus dan Trisula serta kekober. Berikutnya di-pundut pajenengan Ida Ratu Bagus Pande berbentuk pedang.

Usai mengitari palebahan Pura Penataran tiga kali, iring-iringan yang diikuti baleganjur itu kembali masuk ke Penataran di depan bale pawedaan. (bud)

View user profile

17 "Nunas Tirta" dan "Nasi Tawur" on Wed Mar 25, 2009 1:20 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
SESUAI buku Yasa Kerti Karya Agung Panca Bali Krama (PBK) dan Batara Turun Kabeh (BTK), pada Rabu Paing (25/3) hari ini bersamaan dengan puncak Karya PBK di Besakih, seluruh umat Hindu patut ikut menyukseskan pelaksanaan karya tersebut. Yasa kerti yang patut dilaksanakan adalah nunas tirta dan nasi tawur. Perwakilan masing-masing desa pakraman/kecamatan agar datang ke Pura Besakih sekitar pukul 10.00 wita, dengan membawa sujang untuk tempat tirta tawur serta daksina pejati dan perlengkapan persembahyangan guna mohon nasi tawur. Nasi tawur dan tirta itu disebarkan dan dipercikkan di wilayah masign-masing.

Pacaruan/tawur di masing-masing wilayah juga mesti melaksanakn tawur kesanga dengan waktu pelaksanaan diatur sebagai berikut: (1) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dilaksanakan siang pukul 12.00 wita, (2) di tingkat desa dan banjar agar digelar sore hari sekitar pukul 18.00. Tingkat upacara pacaruan/tawur tersebut berlaku sebagaimana biasa sesuai dresta setempat.

Sementara upacara di parahyangan, dengan di semua kahyangan seperti pura kahyangan desa, pura swagina (masceti, subak, melanting dan sejenisnya) pura keluarga agar menggelar upacara ngertiang kerahayuan jagat dengan jalan di pelinggih mengaturkan daksina pejati, sodan putih-kuning, canangsari dan canang yasa beserta kelengkapannya.

Upacara di masing-masing rumah tangga, di pelinggih kemulan/rong tiga mengaturkan daksina pejati, canangsari, sodan putih-kuning dan tipat kelanan. Di halaman rumah/natar merajan mengaturkan segehan mancawarna maiwak bawang jahe. Di halaman luar mengaturkan segehan mancawarna maulam bawang jahe. Di halaman luar, jaba/lebuh, mendirikan sanggah cucuk diletakkan di sebelah kanan pintu keluar, banten munggah di sanggah cucuk berupa peras panyeneng, tumpeng adanan, maulam ati magoreng miwah taluh madadar, sujang agancet madaging tuak arak.

Di bawah sanggah cucuk mengaturkan segehan manca warna sembilan tanding, ulam-nya olahan ayam brumbun lengkap dengan tetabuhan, diaturkan ke hadapan sang Bhuta Raja dan sang Kala Raja. Segehan cacahan 108, ulam-nya jejeron matah, disertai dengan segehan agung satu tanding, tetabuhan tuak, arak, berem, air diaturkan ke hadapan sang Bhuta Bala dan Kala Bala. Segehan sapunjung, iwak babi ingolah lembat asem.

Upakara daksina pejati yang munggah di pelinggih parahyangan dan pelinggih rong tiga tersebut nyejer sampai panyineban upacara PBK dan tiap harinya agar mengaturkan canangsari ngertiyang karya nunas kerahayuan jagat. (013)

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum