1
10 Persen Tertular HIV/AIDS on Mon Mar 23, 2009 2:43 pm
Pelanggan PSK Dominan Remaja
Denpasar - Pelanggan pekerja seks komersial (PSK) di Bali dominan usia remaja. Kondisi ini jelas sangat berisiko terlebih data terakhir menunjukkan dari 3.000 PSK yang dirangkul oleh Yayasan Kerti Praja, ternyata sepuluh persen di antaranya sudah tertular HIV/AIDS.
Yang lebih riskan lagi dari pengakuan para PSK tersebut, meski sudah positif, namun mereka tetap aktif melayani pelanggan dan kebanyakan pelanggan tersebut masih berstatus remaja. 'Lebih berbahayanya lagi, remaja yang memakai jasa PSK kebanyakan tidak ingin memakai pelindung saat melakukan hubungan seksual,' ujar Project Officer KPA Bali, Yahya Ansori, pada acara Media Gathering yang dilaksanakan atas kerja sama Koran Tokoh dengan KPA Bali, Sabtu (21/3) kemarin.
Dari segi pola kasus menurut Yahya, Bali hampir sama dengan daerah lain di Indonesia yang jumlah kasus HIV-nya tergolong tinggi.
Penularan HIV lewat hubungan heteroseksual dari tahun ke tahun makin meningkat. Ini dibuktikan dari data penularan HIV lewat hubungan heteroseksual tahun 2003 hanya 3 persen. Namun tahun 2008 angka ini meningkat menjadi 14 - 20 persen. 'Pencegahan penularan HIV lewat drugs lebih mudah ditekan daripada lewat hubungan seksual. Masyarakat lebih menerima cara harm reduction untuk mencegah penularan HIV lewat narkoba jarum suntik dibandingkan pemakaian kondom untuk pencegahan penularan HIV secara seksual. Alasan tidak memakai pelindung dari sisi PSK-nya adalah agar hubungan lebih cepat selesai sehingga mereka bisa melayani klien lebih banyak, sementara dari sisi pelanggan adalah ketidaknyamanan,' jelas Yahya.
Untuk itu, memberikan sosialisasi mengenai fungsi dan kegunaan alat pelindung seksual terutama pendidikan seks sejak dini pada remaja perlu digencarkan lagi, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. 'Pengaruh luar seperti lingkungan, pergaulan, internet sampai informasi jorok adalah hal yang tidak bisa di intervensi. Oleh karena itu, kita perlu menginstal potensi internal remaja baik dari segi personal maupun life skill-nya untuk membentengi diri dari hal-hal negatif tersebut,' jelas Yahya.
Berdasarkan data jumlah kasus HIV di Bali sampai Desember 2008 tercatat 2.510 kasus. Denpasar merupakan wilayah temuan tertinggi menyusul Buleleng dan Badung. (kmb24*BP)
Denpasar - Pelanggan pekerja seks komersial (PSK) di Bali dominan usia remaja. Kondisi ini jelas sangat berisiko terlebih data terakhir menunjukkan dari 3.000 PSK yang dirangkul oleh Yayasan Kerti Praja, ternyata sepuluh persen di antaranya sudah tertular HIV/AIDS.
Yang lebih riskan lagi dari pengakuan para PSK tersebut, meski sudah positif, namun mereka tetap aktif melayani pelanggan dan kebanyakan pelanggan tersebut masih berstatus remaja. 'Lebih berbahayanya lagi, remaja yang memakai jasa PSK kebanyakan tidak ingin memakai pelindung saat melakukan hubungan seksual,' ujar Project Officer KPA Bali, Yahya Ansori, pada acara Media Gathering yang dilaksanakan atas kerja sama Koran Tokoh dengan KPA Bali, Sabtu (21/3) kemarin.
Dari segi pola kasus menurut Yahya, Bali hampir sama dengan daerah lain di Indonesia yang jumlah kasus HIV-nya tergolong tinggi.
Penularan HIV lewat hubungan heteroseksual dari tahun ke tahun makin meningkat. Ini dibuktikan dari data penularan HIV lewat hubungan heteroseksual tahun 2003 hanya 3 persen. Namun tahun 2008 angka ini meningkat menjadi 14 - 20 persen. 'Pencegahan penularan HIV lewat drugs lebih mudah ditekan daripada lewat hubungan seksual. Masyarakat lebih menerima cara harm reduction untuk mencegah penularan HIV lewat narkoba jarum suntik dibandingkan pemakaian kondom untuk pencegahan penularan HIV secara seksual. Alasan tidak memakai pelindung dari sisi PSK-nya adalah agar hubungan lebih cepat selesai sehingga mereka bisa melayani klien lebih banyak, sementara dari sisi pelanggan adalah ketidaknyamanan,' jelas Yahya.
Untuk itu, memberikan sosialisasi mengenai fungsi dan kegunaan alat pelindung seksual terutama pendidikan seks sejak dini pada remaja perlu digencarkan lagi, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. 'Pengaruh luar seperti lingkungan, pergaulan, internet sampai informasi jorok adalah hal yang tidak bisa di intervensi. Oleh karena itu, kita perlu menginstal potensi internal remaja baik dari segi personal maupun life skill-nya untuk membentengi diri dari hal-hal negatif tersebut,' jelas Yahya.
Berdasarkan data jumlah kasus HIV di Bali sampai Desember 2008 tercatat 2.510 kasus. Denpasar merupakan wilayah temuan tertinggi menyusul Buleleng dan Badung. (kmb24*BP)







