1
Puisi-puisi Iga Mawarni on Mon Oct 26, 2009 1:11 pm

Lindu
Belum kering linang air mataku, Tuan
Kini tercurah menderas kembali...
Saluang meniupkan nada memilukan
Tabuhan rebana merampak derap gaduh kepanikan
Geliat bumi memporandakan harapan saudaraku, Tuan
Meluluhlantakkan kehidupan hingga merata tanah
Begitu singkat guncangan ini meruntuh menghancurkan
Sedang langkah menjauh sungguh tak mudah...bahkan tertahan
Mohon sampaikan pada saudaraku, Tuan
Tak henti kami syafaatkan doa mengiring ketegaran
Dan...begitu banyak teman setia menggalang urun juga bantuan
Bencana ini nyata... tak bisa dihindari
Meski harta tak lagi termiliki
Meski luka tak mudah terobati
Meski nyawa tak bisa terganti
Meski keluarga tak mungkin tertemui
Ujian ini pantas ditangisi namun jangan diratapi
Sebab padaNya kita telah berjanji
Untuk berserah dan merela semua titipanNya kembali...
Mohon sampaikan pada saudaraku, Tuan
Tetaplah bertahan dan tabah menghadapi
Sebab Sang Maha Memilikipun telah berjanji
DisiapkanNya semesta surgawi bagi yang tahan uji
Semoga Lindu ini tak menyurut iman dan hati
Namun...justru makin khusyuk kita mendekat pada Sang Illahi
sesubuhan ini....
01.10.09
--------------------------------------------------------------------------
turut berduka & mendoa bagi saudaraku yg jauh...di padang !
Lindu : gempa bumi
urun : sumbangan
saluang : nama sejenis seruling dr Sumbar
--------
Cobaan
angin diam tak ingin mengusik keheningan
candrapun enggan mencipta bayangan
dipilihnya persembunyian dibalik awan paling tebal
agar tak sedikitpun biasnya tertinggal
tak satu seranggapun bersuara meski sekedar untuk bersendawa
senyap sungguh malam ini adanya
akupun tak sedang ingin bercanda...aku berduka !
belum habis kesedihan, datang kemalangan
bencana terus mencoba-coba keimanan
memisahkan kekasih dan keluarga seketika
mencipta rintih tangis memilu menoreh luka
justru disaat berharap khusyuk mengisi Ramadhan
bertubi Kau perlihatkan tantangan ketaqwaan
ditengah kebakaran padat hunian
diantara asap hutan menyesakkan
dikepanikan gempa menakutkan
sungguh ujian yang berat dijalankan...
masih dalam kesedihan mendalam
semoga mereka mampu bertahan
bertahan dari guncangan batin dan siksaan badan
bertahan meneguh hati menerima cobaan
bertahan...hingga mendulang nikmat diujung Ramadhan
jelang tgh mlm
14.9.09
---------------------------------------------------------------
turut mendoakan saudara2ku yg tertimpa bencana...
------
Identitas
negaraku terlalu luas untuk mendengar teriakan penghuninya. bahkan anginpun makin membiaskan lantangnya. para pemimpinku terlalu cerdas mengolah citra. hingga tak mampu menelaah amanah yang sederhana. mungkin juga telah lupa pada siapa yang diabdinya. kita pun terlalu sibuk mengurus 'dunia'. hingga kurang peka membaca wajah tetangga. begitu santunnya sampai tak mau tahu siapa mereka. betapa....aahhhhhhh
jika bukan karena bencana, kita tak mencarinya. jika bukan karena teror, kita tak mengidentifikasinya. jika bukan karena kecaman dunia, kita tak men-DNAnya. jika bukan karena pemilu, kita tak mendaftarnya. sedang kita lebih suka 'berperkara' karenanya. begitu semrawutnya tata hidup bernegara kita. sementara ratusan juta pemilik sah negri ini mendamba sejahtera merata. sungguh tak mungkin nyata sejahtera...bila negara tak tahu persis data penduduknya, karena identitasnya mendua. anggaran kemakmuranpun tak mungkin sampai, pada data yang hanya 'kira-kira'. dan... kita berulang menikmati kecolongan pendatang yang menyulap diri menjadi warga negara dengan mudahnya. pun sejuta identitasnya. bahkan kemudian...memporakporandakan Indonesia dengan teror dan aksi jihadnya. duuuhhhh
kecintaan kita pada negri ini tak diragukan lagi. namun menjaga tumpah darah ini tak cukup hanya ditangan TNI & Polisi. kita tahu hanya berapa jumlah mereka kini. mari bersinergi. pastikan, negara memperbaiki sistem data kependudukan. berbenah habis-habisan. pastikan, kita bersedia menyerah data dengan identitas nyata. kita pertanggungjawabkan. pastikan, negara melindungi kita dan kita menjaga keutuhannya. kerjasama yang berimbang sepadan. sungguh, identitas bukanlah sekedar lembaran kertas...sebab padanya hak kita terjaga. tak lepas. sebab padanya negara menggantung wibawa. menggantang cita terencana dengan mawas dan kerja keras.
wayah dzuhur
28.8.09
----------------------------------------------------
.....renungan gelisahku pd negri tercintaku
-------
Segara
membiru menampak luas. hamparan kehidupan yang megah tak mudah terjamah, dibawah. menjumpa makhluk berjuta rupa. menganggumkan. misteri alam yang mengilhami para pemberani mengarung dan menyelami. keindahan alam yang menginspirasi penyair dan pujangga mencipta karya sastra nan elok dalam ukara kata. kekayaan alam yang memotivasi petinggi negri, pedagang dan sebangsanya meneguk laba diranah wisata. hasil alam yang melimpah menafkahi para nelayan dan penambak disepanjang lingkar segara. eksotisme alami yang menggoda sesiapapun menikmati pelataran pasir dan hangatnya matahari...berselimut juga berbikini.
menerawang diantara awan...diketinggian. menegak memejam sambil menggumamkan harapan-harapan. andai segala umat berhati meluas dan memelihara hidup dalam kehidupannya...semanfaat segara. andai segala makhluk mampu menggulung nafsu dan meriak menggelombangkan syafaat...seumpama segara. andai segala bangsa bersepakat mengikis karang keangkuhannya...setangguh segara. andai segala jiwa menyatu cita menggarami peradaban dengan cinta...sedalam segara. andai segala wajah rupa manusia mampu memantulkan surya kecantikan hatinya...seindah segara. andai segala kita tak lagi hanya bersuara, tapi nyata mendorong laju perahu-perahu kemiskinan ke dermaga sejahtera...dengan s e g e r a !!!
di awan Makassar
03.8.09
--------------------------------------
Pengantar
masih pagi. kusesap teh tubruk dengan sebongkah gula batu dan sepotong singkong rebus. mantap. siap kutantang hari ini. gebyar-gebyar, lagu Si Gombloh yang menyemangatiku saban pagi terasa lebih lantang kali ini. bahkan...kicau si cemplon, branjangan kesayangankupun terasa lebih merdu dari biasanya. pancen beda hari ini. besok puasa. semangat. paling tidak sebulan ini akan lebih sibuk dari biasanya. akhirnya ! tugas penyampai salam dan ucapan selamat hari raya akan kusangga bahagia. kunyalakan turangga oranyeku yang setia mengantar amanat selamat sampai ditempat. tepat.
aku tahu...teknologi sangat pesat mengejarku. speedometerkupun tak sanggup bertanding kencang, melawan. prihatin. apalah artinya kuhapal jalan-jalan tikus dan peta kota...sebab kotak selular kini sudah menggantikannya. canggih. buat apa ngajari anak-anak menulis, kalau belajar membaca dan mengenal huruf saja sudah cukup. sentuh dan pencet. olah raga jari yang sepele, tapi menguasai. diabad ini. hhhh...bukan mengeluh. sungguh. aku hanya rindu pada ketulusan yang terbaca dari tulisan tangan. aku hanya khawatir kemudahan membuat anak-anak malas berpikir. aku hanya menduga kita akan mulai kehilangan rasa, tepa slira. tapi siapalah aku...aku tak lagi ditunggu. tugaskupun hanya sekedar mengantar surat. meski jaman perang kemerdekaan...pekerjaan sepertiku sangatlah penting. beresiko. ahhh...ini juga resiko ! kuseruput lagi teh tubrukku. segar. kusiap mengantar. setidaknya masih ada momentum hari raya yang membuat kerjaku jadi ibadah yang mulia....
jelang maghrib
25.7.09
----------------------------------------------------------
Terhimpit
lunglai. aku terduduk bersandar pada dinding setengah rubuh. meluruh peluh yang seharian meminyaki kulitku yang makin melegam. suram. kuseka setiap tetesannya, meski kurasa sia-sia. sebab keletihan dan sengat matahari mendera pori-pori memerah keringatku semaunya, melemahkanku pada skala dehidrasi sangat tinggi. sadis. kerongkonganku mengering. tercekik rasa haus yang teramat sangat. seteguk air adalah surgaku hari ini. tapi mustahil. tak tersisa satu rupiahpun disaku. kosong. copet sialan. kau ambil dompetku, kau rogohi bajuku, kau rampas satu-satunya 'hartaku', lalu kau hadiahi aku siksaan bertubi. pak polisiiii...
terbayang wajah istriku yang menunggu upah mingguanku hari ini. sedih. tak tega aku melihatnya menangis karena prihatin pada kebodohanku. gaji buruh yang tak seberapa, tak bisa kujaga sempurna. apa jadinya nasib perut kami minggu ini. ngutang lagi. pasti. himpitan hidup dikota 'harapan' adalah bagian dari tantangan yang mendebarkan. kesialan demi kesialan sejatinya adalah menu keseharian buat kaum numpang sepertiku. tapi aku sama dengan mereka yang senasib denganku. kami ikrarkan mantra 'pantang menyerah'. konyol. memang ! tapi apalagi yang kubisa...tak bisa kuharapkan uluran ketulusan orang-orang gedongan. huh.. kekayaan merekapun masih dirasa selalu kurang. sudah. biarlah... Gusti, terimalah lapar-dahaga ini sebagai amalanku. meski hidup kami sempit terhimpit...aku tak ingin lupa menghantar keikhlasanku dalam wirid.
siang terik
21.7.09
--------------------------------------------------------
hormatku pada kaum papa-dhuafa








