BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Pura Besakih on Fri Jan 30, 2009 5:07 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Tempat Pemujaan Tuhan, Penguasa Semua Penjuru Dunia



Sejumlah Pura Kahyangan jagat berada di wilayah Kabupaten Karangasem. Salah satunya yang sudah tak asing lagi bagi umat Hindu di Bali adalah Pura Besakih. Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. Bagaimana sejarah Pura Besakih? Pura-pura apa saja yang ada di areal pura terbesar di Bali itu?

Pengamat agama Drs. IBG Agastia pernah mengatakan terkait masa lalu keberadaan Pura Besakih banyak terdapat legenda, serta mitologi lisan maupun tertulis. Sastra sejarah seperti babad, usana dan purana cukup banyak, baik menjadi koleksi pribadi terkait keluarga tertentu yang memiliki pedharman, sementara yang menyangkut Besakih secara keseluruhan adalah Raja Purana Besakih.
Agastia dalam sebuah tulisannya mengatakan, Rsi Markandeya disebut-sebut sebagai orang suci pertama kali menanam panca datu sebagai dasar Pura Besakih. Pura ini memiliki perjalanan panjang, pada perkembangannya kini menjadi pusat bagi masyarakat Bali.



Cerita pengabdian penuh bakti Sang Kulputih, seorang tukang sapuh di Besakih, bisa kita baca dalam lontar Sangkulpinge. Namun, kata Agastia, yang lebih memiliki nilai sejarah adalah usaha-usaha Mpu Kuturan yang kemudian dikenal sebagai pendiri Pura Sad kahyangan di Bali. Berikutnya, Mpu Bharadah yang merupakan saudara kandung Mpu Kuturan -- pandita Kerajaan Airlangga -- melanjutkan kembali penataan Pura Besakih. ''Sebuah prasasti yang dinamai Mpu Bharadah yang disimpan di Pura Batu Madeg Besakih, memuat tahun Saka 929 (1007 M), rupanya merupakan masa kedatangan Mpu Bharadah di Besakih,'' tulis Agastia yang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali ini.

Berikutnya kehadiran Dang Hyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra) sebagai pandita Kerajaan Gelgel zaman Raja Dalem Waturenggong -- sangat besar peranannya dalam menata kembali kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Termasuk kemudian menata kembali Pura Besakih dan tata upacaranya. Dang Hyang Dwijendra pernah menyarankan Raja Waturenggong untuk menggelar upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, sekalian dengan runtutan upacaranya sebagaimana kini kita warisi.

Agastia mengatakan, bila mengikuti langsung pelaksanaan upacara besar di Besakih seperti Eka Dasa Rudra (tiap 100 tahun) atau tawur sepuluh tahunan Panca Walikrama, barulah kita bisa mengetahui secara simbolis Besakih adalah madyaning bhuwana (sentralnya dunia). Merupakan tempat pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan manifestasinya (kekuatannya) yang menguasai semua penjuru dunia, yakni Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu. Ini sesuai dengan konsep pengider-ider bhuwana. ''Dari sini pula umat Hindu memohon kerahayuan bhuwana, keselamatan seluruh jagat,'' tandas Agastia.

Sementara itu, menurut IBM Dharma Palguna, Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.

Perlu Perhatian Pusat



Namun, banyak pihak menilai perhatian untuk daerah satu-satunya yang tertinggal di Bali itu belum cukup. Sebagai daerah di mana di wilayahnya banyak terdapat pura besar, menjadi tanggung jawab warga Karangasem untuk menjaganya baik dari secara niskala (kesuciannya) maupun skala (keamanan dari rongrongan orang tak bertanggung jawab).
IBG Agastia saat melakukan pertemuan beberapa waktu lalu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Karangasem mengatakan, pemerintah pusat mesti memberikan perhatian lebih kepada keberadaan Pura Besakih. Soalnya, pura itu menjadi milik umat Hindu di seluruh Indonesia. Sama halnya rumah ibadah besar yang bisa menjadi lambang bagi eksistensi umat beragama lainnya. Perhatian menyangkut penataan ke depan dan dana pemeliharaannya yang tentu tak kecil, mesti dianggarkan dalam APBN.
Agastia mengatakan, Besakih menjadi kiblat dan pemersatu umat di Bali. Karena kebesarannya -- dan kini telah memiliki daya tarik wisata -- menjadi tantangan untuk menjaga kesuciannya. Hal itu terutama perlu diwaspadai dari oknum tertentu yang tidak berkepentingan.

Agastia menunjuk salah satu sorotan masyarakat tentang banyaknya anjing liar di kompleks pura yang tak sedap dipandang mata, seperti terkena penyakit kudis dan penyebab kesan kotor. Tanpa banyak ikut memberikan perhatian, namun cuma melihat sesaat, sorotan itu memang bisa benar.

Namun jika diperhatikan, keberadaan anjing di Pura Besakih, kata Agastia, sama halnya dengan keberadaan komunitas kera di sejumlah pura seperti di Pura Uluwatu, Alas Kedaton, Sangeh atau di Air Sanih, Buleleng. Menurutnya, jika diperhatikan dengan seksama dan perasaan spiritual maka anjing yang biasa berada di kompleks Pura Besakih terlihat berbeda dengan yang berada di rumah-rumah penduduk. Keberadaan anjing di areal Pura Besakih itu bisa dipandang sebagai penjaga pura, pada saat manusia luput dari penjagaan 24 jam dan sampai hal yang terkecil.

Dikatakannya, jika sudah menyadari tak sedap melihat anjing yang terkena penyakit kudis, menjadi kewajiban untuk memberikan perhatian. Misalnya, dalam periode tertentu melakukan kerja sosial memberikan pengobatan kepada anjing-anjing itu.

Kesadaran
Usai bersembahyang, kata dosen STKIP Agama Hindu Amlapura Drs. IP Arnawa, S.Ag., M.Si., pemedek hendaknya dengan kesadaran bakti tak meninggalkan begitu saja sisa sarana persembahyangan yang sudah tak terpakai sebagai sampah berserakan. Namun, mesti ngaturang ayah melakukan pembersihan dengan membawa sampah itu ke tempat semestinya. ''Bukankah ngaturang ayah menjaga dan melakukan kebersihan merupakan salah satu wujud bakti kepada Tuhan?'' ujar Arnawa.

Arnawa mengatakan, terkait dengan penataan, mesti selalu berpedoman pada Raja Purana Besakih. Sebab, di sana akan tertuang tata nilai dan filosofinya. Berbagai karya pujawali, menyangkut upakara bebantenan juga terkandung. ''Jadi tak cukup sembahyang cuma dengan sarana canang sari, dupa dan tirta semata,'' ujar Arnawa yang juga Ketua Peradah Karangasem ini.
Menurutnya, Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Soalnya, jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga, maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. * gde budana

View user profile

2 Persembahyangan Dimulai dari Pura Manik Mas on Fri Jan 30, 2009 5:08 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
SEMBAHYANG ke Pura Besakih ada tata caranya. Selain dari semula niat berangkat sembahyang mesti didasarkan atas kesucian lahir dan batin, sebaiknya dimulai dari Pura Manik Mas.



Tujuannya, kata Klian Desa Pakraman Besakih I Wayan Gunatra, Senin (19/12) kemarin, agar tercapai pendakian spiritual. Namun, kata Gunatra kini telah banyak berubah di Besakih. Terutama jalan untuk bisa mencapai Pura-pura di kompleks Pura terbesar di Bali itu kian banyak--bisa dari arah barat (Desa Pempatan) atau dari selatan (Menanga) atau dari timur (lewat Desa Batusesa).

Keadaan itu kerap menjadikan pamedek sering tak lagi menjalankan ketentuan atau kelaziman. Sebenarnya, itu tak salah. Namun dari segi etika pendakian spiritual, ada kekurangan kesempurnaan. ''Kalau ingin lebih sempurna dan khidmat dalam pendakian spiritual, sebaiknya tiap kali sembahyang ke Besakih dimulai dari Pura Manik Mas,'' ujar Gunatra.

Dulu saat masih zaman kerajaan raja-raja di Bali pun, yang hendak sembahyang ke pura itu selalu berhenti dan menambatkan kudanya sebelum Pura Manik Mas. Lalu raja diikuti keluarga atau pengiringnya berjalan kaki sembahyang dari Pura Manik Mas, seterusnya ke atas.
Usai mohon sembahyang dengan tujuan mohon izin (anugraha) tangkil di Pura Manik Mas, barulah ke pura pedarman. Berikutnya sesuai tujuan penangkilan, apakah ke pura yang termasuk catur loka pala (empat pura yang memiliki palebahan besar mengelilingi Pura Penataran Agung). Catur loka pala itu, yakni Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap dan Pura Ulun Kulkul. ''Kalau pun tak sempat, seperti alasan sedikit waktu, usai sembahyang di Pura Pedarman bisa langsung ke Penataran Agung. Soalnya, Pura Penataran Agung merupakan sentral,'' papar Gunatra.

Gunatra mengatakan diperlukan kesadaran semua pihak untuk ikut menjaga kesucian Pura Besakih. Terlebih Besakih menjadi Pura yang mempunyai daya tarik wisata dunia. Dengan dibukanya banyak jalan dan pintu masuk guna mempermudah akses menuju pura, ternyata kemudian menimbulkan tantangan tersendiri untuk melakukan pengamanan--juga terkait menjaga kesuciannya.

Gunatra mengatakan selama ini pihaknya sudah menyampaikan himbauan kepada krama Besakih, para pecalang serta yang terkait agar menjaga kesucian Pura dan citra Bali. Hal itu terutama terkait masih adanya sorotan tentang ulah oknum pramuwisata--diduga yang liar--memperlakukan pengunjung dengan cara tak profesional. ''Pramuwisata khusus lokal di kompleks Pura Besakih telah memiliki wadah, sudah dilengkapi kartu identitas dan beberapakali mengikuti diklat,'' ujar Gunatra. (bud)

sumber : balipost

View user profile

3 Pura Besakih, Tempat Umat Memohon Selamat on Mon Mar 23, 2009 2:50 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
PURA Besakih kini memang menjadi pusat perhatian serangkaian akan diselenggarakannya upacara Panca Bali Krama. Terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, pura ini berada di kaki Gunung Agung -- di lereng barat daya pada ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut.

Gunung Agung yang tingginya sekitar 3.142 meter, gunung tertinggi di Bali, merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari keberadaan Pura Besakih. Berdasarkan catatan, Gunung Agung sudah pernah meletus beberapa kali -- pada tahun 1089, 1143, 1189 dan 1963.

Perihal berdirinya Pura Besakih, berdasarkan catatan-catatan yang terdapat dalam prasasti logam maupun lontar-lontar, disebutkan pada mulanya merupakan bangunan pelinggih kecil yang kemudian diperbesar dan diperluas secara bertahap dalam tempo yang cukup lama. Dari sumber-sumber catatan itu diketahui bahwa pada permulaan abad ke-11 yaitu tahun 1007, Pura Besakih sudah ada.

Ketika itu masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan Empu Kuturan menjadi senapati di Bali, yang berkedudukan di Silayukti, Padangbai, Kabupaten Karangasem. Empu Kuturan memperbesar dan memperluas Pura Besakih dengan membangun sejumlah pelinggih. Beberapa meru dibangun meniru bangunan di Jawa seperti yang ada sekarang.

Sumber lainnya menyebutkan, Maha Rsi Markandeya pindah bersama rombongan sebanyak sekitar 8.000 orang dari Gunung Raung di Jawa Timur ke Bali untuk menetap dan membuka tanah-tanah pertanian serta mendirikan Pura Besakih untuk tempat memohon keselamatan dan kesejahteraan dengan menanam panca datu.

Kemudian, pada masa berikutnya, zaman pemerintahan Sri Wira Kesari Warmadewa sampai masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Pura Besakih tetap mendapatkan pemeliharaan yang baik. Hampir semua pelinggih-nya diperbaiki, arealnya diperluas, bahkan oleh Dang Hyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh ditambah dengan pelinggih beruang tiga yang sekarang terdapat di Pura Penataran Agung Besakih pada sekitar abad ke-16, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

Disebutkan, kata besakih berasal dari kata basuki yang berarti "selamat". Kata ini berkembang menjadi basukir dan basukih, lalu menjadi besakih. Nama ini terdapat dalam dua prasasti yang disimpan di Gedong Penyimpenan di Natar Agung, sebuah prasasti di Merajan Selonding dan satu lagi di Pura Gaduh Sakti di Desa Selat.

Fungsi umum Pura Besakih adalah sebagai tempat bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan. Pada waktu Bhatara Turun Kabeh yang jatuh pada setiap purnama sasih kedasa (sekitar Oktober) setiap tahunnya, seluruh umat Hindu datang berduyun-duyun untuk menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan. Di pura ini juga diadakan upacara Panca Wali Krama setiap 10 tahun sekali dan yang terbesar adalah upacara Eka Dasa Ludra setiap 100 tahun sekali. Upacara Eka Dasa Ludra terakhir dilaksanakan pada 1973.

Dalam lontar Jaya Kesunu disebutkan Raja Sri Jayakesunu memerintahkan memasang penjor pada Hari Raya Galungan sebagai lambang Gunung Agung. Pada zaman Sri Kresna Kepakisan, seperti terdapat dalam lontar Raja Purana Besakih tentang upacara, nama pelinggih, tanah pelaba, susunan pengurus, hingga tingkatan upacara, diatur dengan baik.

Struktur Pura

Sampai saat ini, Pura Besakih tetap merupakan pura terbesar di Bali, merupakan pusat tempat ibadah bagi umat Hindu di Indonesia. Kelompok Pura Besakih terdiri atas 18 kompleks pura yang terletak di wilayah Desa Besakih dan satu terletak di Desa Sebudhi, Kecamatan Selat, Karangasem. Selain dari pura yang disebutkan berikut, masih banyak lagi Pura Pedharman yang menjadi penyiwaan warga-warga yang sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan Pura Agung Besakih itu sendiri. Berikut rincian pura-pura tersebut:

1. Pura Persimpangan -- Terletak di Desa Kedungdung, di tengah-tengah ladang sekitar 1,5 km, di sebelah selatan Pura Penataran Agung. Di Pura ini terdapat 4 buah bangunan dan pelinggih. Fungsinya sebagai tempat persimpangan sementara bhatara Besakih ketika diadakan upacara melasti (mencari toya ning) ke Toya Sah, ke Tegal Suci atau ke Batu Klotok yang dilakukan tiap-tiap tahun.

2. Pura Dalem Puri -- Terletak di sebelah utara tikungan jalan terkahir, sebelum sampai di Desa Besakih sekitar 1 km di sebelah barat daya Pura Penataran Agung Besakih. Di pura ini terdapat 10 bangunan, termasuk pelinggih berbentuk gedong beratap ijuk. Fungsinya sebagai linggih bhatari Uma dan Dewi Durga. Di Pura ini juga terdapat pelinggih Sang Hyang Prajapati sebagai penguasa roh manusia. Di sebelah utara terdapat tanah lapang yang disebut Tegal Penangsar.

3. Pura Manik Mas -- Terletak di pinggiran sebelah kiri jalan menuju ke Pura Penataran Agung, jaraknya sekitar 750 meter di sebelah selatan Penataran Agung. Di Pura ini terdapat 6 bangunan dan pelinggih, termasuk pelinggih pokoknya berbentuk gedung simpan, bertiang empat menghadap ke barat. Fungsinya sebagai linggih Ida Ratu Mas Melilit.

4. Pura Bangun Sakti -- Terletak di sebelah kanan jalan menuju ke Penataran Agung dan di sebelah utara Pura Manik Mas. Di Pura ini terdapat empat bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya adalah Gedong Simpan sebagai linggih Sang Hyang Ananthaboga.

5. Pura Ulun Kulkul -- Terletak sekitar 350 meter sebelah kiri jalan menuju Pura Penataran Agung. Di Pura ini terdapat tujuh bangunan dan pelinggih. Pelinggih yang terpentingnya adalah Gedong Sari beratap ijuk sebagai linggih Dewa Mahadewa. Pura ini adalah salah satu linggih Dewa Catur Loka Phala, yaitu manifestasi Sang Hyang Widhi yang menguasai arah barat. Warna perhiasan atau busana di pura ini, pada waktu upacara, serba kuning.

6. Pura Merajan Selonding -- Terletak di sebelah kiri Pura Penataran Agung, dengan lima bangunan dan pelinggih. Di pura itu tersimpan prasasti dan sejumlah pratima, serta gamelan slonding. Menurut catatan sejarah, pura ini merupakan bekas bagian dari istana raja Sri Wira Dalem Kesari. Kini, pura ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka.

7. Pura Gowa -- Terletak di sebelah kanan jalan berhadapan dengan Pura Merajan Slonding. Di kompleks ini terdapat goa yang besar, tetapi bagian-bagiannya sudah banyak yang runtuh. Menurut kepercayaan rakyat, goa itu tembus ke Goa Lawah, di sebelah timur Kusamba, sebagai goa untuk Sang Hyang Basuki. Di pura ini terdapat empat pelinggih.

8. Pura Banuwa -- Terletak di sebelah kanan jalan di hadapan Pura Besakih, sekitar 50 meter dari Pura Penataran Agung. Dalam pura ini terdapat empat bangunan dan pelinggih pemujaan pokoknya ditujukan kepada Dewi Sri. Setiap sasih kepitu atau sekitar Januari, di sini diadakan upacara Ngusaba Ngeed dan Ngusaba Buluh yang bertujuan mohon kemakmuran di sawah dan di ladang.

9. Pura Merajan Kanginan -- Terletak di sebelah timur Pura Banuwa. Di pura ini terdapat tujuh bangunan dan pelinggih, di antaranya ada pelinggih untuk Empu Baradah.

10. Pura Hyang Aluh -- Terletak di sebelah barat Pura Penataran Agung, berjarak sekitar 200 meter. Di dalamnya terdapat tujuh banguanan dan pelinggih. Pelinggih pokok pada pura ini berbentuk gedong untuk linggih Ida Ratu Ayu.

11. Pura Basukihan -- Letaknya di sebelah kanan tangga naik menuju Pura Penataran Agung. Di sini terdapat 10 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya berbentuk meru dengan atapnya bertingkat 9 sebagai linggih Sang Hyang Naga Basuki.

12. Pura Penataran Agung Besakih -- Terletak di tengah-tengah kelompok pura yang termasuk lingkungan Pura Besakih. Kompleks pura ini termasuk terbesar di Pura Besakih. Terdiri dari 7 tingkat halaman dengan jumlah bangunan dan pelinggih seluruhnya sebanyak 53 buah. Di sini terdapat meru yang besar-besar beratap tujuh tingkat 11, 9, 7, 5, dan 3. Pelinggih yang merupakan pemujaan pokoknya adalah Padma Tiga sebagai linggih Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa yaitu Ciwa, Sadha Ciwa dan Parama Ciwa yang sekaligus merupakan "poros" dari pura-pura yang lainnya.

13. Pura Batu Madeg -- Terletak sekitar 150 meter di sebelah kanan (utara) Pura Penataran Agung. Pura ini adalah kompleks pura yang besar, dengan 29 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya berbentuk meru besar beratap ijuk beratap 11. Bangunan ini merupakan linggih Dewa Wisnu sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi, yang menguasai arah sebelah utara. Warna busana di pura ini adalah serba hitam.

14. Pura Kiduling Kreteg -- Terletak sekitar 300 meter di sebelah kiri (selatan) Pura Penataran Agung, di atas suatu bukit. Di dalamnya ada 21 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya adalah meru besar beratap tingkat 11 sebagai linggih Dewa Brahma yaitu manifestasi dari Sang Hyang Widhi sebagai penguasa arah selatan. Kompleks pura ini merupakan kompleks yang besar, hampir sama besarnya dengan kompleks Pura Batu Madeg. Warna busana di pura ini merah.

15. Pura Gelap -- Terletak sekitar 600 meter pada sebuah bukit sebelah timur Pura Penataran Agung. Di dalamnya terdapat enam bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya adalah meru beratap 3 sebagai linggih Dewa Iswara -- manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai penguasa arah sebelah timur. Warna busana di pura ini adalah serba putih.

16. Pura Peninjauan -- Terletak sekitar 1 km di sebelah kanan Pura Penataran Agung, di dalamnya terdapat 12 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya berbentuk meru beratap tingkat 11, tempat Empu Kuturan memohon restu kepada Sang Hyang Widhi dalam rangka suatu upacara di Gunung Agung.

17. Pura Pengubengan -- Letaknya 1,5 km di sebelah utara Pura Penataran Agung, di dalamnya ada enam bangunan dan pelinggih. Fungsinya sebagai tempat ngayat atau ngubeng -- suatu upacara permakluman kepada Sang Hyang Widhi bahwa di Pura Penataran Agung akan dilangsungkan upacara. Pelinggih pokoknya berupa meru beratap tingkat 11.

18. Pura Tirta -- Letaknya sekitar 300 meter di sebelah timur laut Pura Pengubengan. Di pura ini terdapat dua bangunan dan pelinggih, serta air suci (tirta). Jika ada upacara di kompleks Pura besakih, maka di pura inilah umat memohon tirta atau air suci.

19. Pura Pasar Agung -- Letaknya di lereng Gunung Agung, melalui Desa Selat ke Desa Sebudi, lalu mendaki sekitar empat jam mendaki ke arah utara. Pelinggih-nya semua hancur waktu Gunung Agung meletus pada 1963, dan menjelang karya Eka Dasa Rudra di Besakih telah mulai diperbaiki secara bertahap sampai sekarang.

(tin, dari berbagai sumber)

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum