1
Pura Dangkahyangan Goa Gong on Fri Jan 30, 2009 4:58 pm
1. SEJARAH SINGKAT
Ketika Dang Hyang Nirartha melaksanakan yoga semadi di Pura Uluwatu, dan ketika beliau sedang menulis huruf-huruf suci pada beberapa batu yang akan dipakai dasar untuk pembangunan tempa suci ini (Uluwatu) terdengar suara gong yang angalun-alun datang dari kejauhan yaitu, arah timur laut (kaja kangin). Suara gong yang demikian halus, merdu, angalun-alun seolah-olah memanggil agar beliau segera mendekati suara gong itu. Keinginan untuk segera meneliti, mendekati, mencari sumber suara gong itu sangatlah menggoda, akhirnya beliau putuskan untuk mencari sumber suara gong itu. Dengan berjalan kaki menuju arah timur laut melewati hutan dan tegalan, beliau mendekati suara gong itu. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan dua ekor ular besar (naga) yang berwarna kuning dan yang satu lagi berwarna merah. Dua ekor naga merupakan ratu dan rajanya gamang (wong samar). Naga itu melintang di tengah jalan, seolah-olah ingin menghalangi perjalanan Dang Hyang Niratha untuk menuju suara gong itu. Dang Hyang Nirartha lalu bertanya kepada kedua ekor naga.
.... Wahai engkau Naga, mengapa engkau tidur melintang di tengah jalan, dan seolah-olah ingin menghalangi perjalanan Bapak yang akan mencari sumber suara gong yang sangat menggoda itu...
Naga lalu menjawab.
..... ratu...ratu pedanda, bertahun-tahun kami berdua sudah meyasa (bersemadi -red) di sini, menyiksa diri dengan menjemur di tengah teriknya sinar matahari, kehujanan tatkala musin hujan, serta menahan lapar dan haus untuk memenuhi keinginan kami berdua agar bisa ke Sunya Loka. Namun demikian, sampai sekarang belum ada Bhatara yang tedun (turun -red) untuk nyupat (membebaskan - red) kami. Kami megijinkan Ratu Pedanda untuk lewat dan melintasi jalan ini, namun kami mohon kepada Ratu Pedanda agar sudi kiranya nyupat titiang agar bisa segera ke Sunya Loka....
Dang Hyang Nirartha lalu berkata.
.... Pedanda mau nyupat kamu berdua agar roh/atman kamu bisa segera ke Sunya Loka, sedangkan badan wadag kamu agar senantiasa menjaga taman yang aku buat nanti di tempat ini
setelah disetujui oleh kedua ekor naga itu, akhirnya Ida Pedanda mengucapkan mantra saktinya, serta nyupat kedua naga itu. Di tempat itu kemudian didirikan taman (Goa Peteng).
Dang Hyang Nirartha kemudian melanjutkan perjalanan beliau menuju suara gong , kira-kira 40 meter dari lokasi naga tadi beliau menemukan sebuah goa dan setelah didekati suara gong tadi seketika berhenti (gong tan pa suara). Beliau kemudian masuk ke dalam goa, dan duduk di atas sebuah batu (lempeh) di lokasi ini kemudian beliau melakukan yoga (mayoga). Di tempat ini kemudian muncul sumber air yang sangat suci bagaikan air sungai gangga yang berwarna-warni. Selama beliau melakukan yoga ternyata banyak sekali (hampir ribuan) para gamang, wong samar mendatangi beliau untuk mohon, panglukatan dan penyupatan tan pagering, dan beliupun berkenan memberikan penyupatan, namun keberhasilan penyupatan itu sangat tergantung dari karmanya masing-masing. Beliaupun akhirnya minta bantuan kepada para wong samar, gamang agar membantu membuat parhyangan di Pura Uluwatu, dan secara tulus iklas para wong samar, gamang yang jumlahnya ribuan itu menyanggupi untuk membantu Dang Hyang Nirartha membangun Pura Luhur Uluwatu yang sangat kita sucikan itu.
2. PIODALAN, UPACARA DAN UPAKARA
Piodalan di pura Goa Gong jatuh setiap enam bulan sekali berdasarkan perhitungan pawukon (210 hari), tepatnya pada Senen Pon wuku Sinta yang lazim disebut Coma Ribek.
Adapun rangkaian upacara piodalan yang biasa dilaksanakan adalah sebagai berikut:
· Ngiyasin Ida Bhatara
· Maprayascita banten dan semua tempat yang dianggap suci
· Menghaturkan pecaruan dalam tingkat panca sata
· Menghaturkan piodalan (pujawali) dilengkapi dengan tarian dan pendetan
· Ida Bhatara masineb
Upakara (banten) yang dipersembahkan pada waktu piodalan adalah:
a) Ring sor (di bawah pada altar Goa) mempersembahkan: sesayut pangambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasucian, canang lenga wangi burat wangi;
b) Di palinggih Geriya Dang Hyang Nirartha menghaturkan: sayut pengambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan dan pasucian, canang lenga wangi burat wangi;
c) Di palinggih Ida Bhatara Siwa Bhuda menghaturkan: sesayut pangambiyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
d) Di palinggih Ida Bhatara Guru menghaturkan, sasayut pangambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
e) Di palinggih gong, menghaturkan: sesayut pengambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
f) Di Jaba ( di luar goa) menghaturkan: caru Panca sata, pabiyakaonan, panglukatan, pabersihan dan prayascita.
Di samping upacara piodalan yang secara rutin telah dilakukan setiap enam bulan sekali, upacara-upacara panyabran seperti, Purnama, Tilem, Kliwon dan lain-lain juga senantiasa dilaksanakan di pura ini. Proses upacara piodalan dan upacara-upacara panyabran lainnya sepenuhnya dilaksanakan oleh pemangku pura Goa Gong dibantu oleh hanya para keluarga pemangku. Pura yang berstatus Dang Kayangan sampai saat ini belum pernah dilaksanakan upacara piodalan yang agak besar atau upacara peningkatan kualitas piodalan yang secara rutin dilakukan setiap enam bulan, seperti halnya pura-pura Dang kahyangan lainnya yang senantiasa melakukan peningkatan kualitas piodalan setiap lima tahun maupun sepuluh tahun. Tidak dilakukannya peningkatan kualitas piodalan di Pura Goa Gong ini karena semata-mata keterbatasan dana dan tidak adanya pengempon pura yang jelas, dan selama ini proses upacara dan upakara hanya dilakukan oleh pemangku sendiri dan keluarganya.
Demikian suci dan misterinya Pura Dang Kahyangan Goa Gong ini, dan terbukti telah senantiasa menyelamatkan pulau suci ini dari berbagai goncangan namun tetap masih kita sayangkan belum adanya perhatian yang sungguh-sungguh bagi penguasa/pejabat daerah ini, para penguasa hanya rajin nunas ica ke pura tanpa adanya rasa bhakti yang nyata di dalam menjaga kesucian pulau ini.
3. PENGEMPON, PENYIWI
Pemangku Pura Goa Gong beserta keluargannya adalah merupakan pengempon Pura.
Hal ini sudah dijalankan secara turun tumurun. Sebagai pengempon mempunyai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan pembangunan, pemeliharaan fisik maupun yang non fisik. Demikian juga biaya dan pelaksanaan upacara di pura sepenuhnnya diusahakan oleh keluarga pemangku sendiri. Sumber-sumber dana hanya terbatas pada sesari, dana punia para pemedek yang tangkil ke pura dengan jumlah dana yang sangat terbatas. Keterbatasan dalam hal dana dan pengempon menyebabkan di Pura ini belum pernah dilaksankan upacara besar, dan upacara yang dilakukan hanya terbatas upacara piodalan rutin setiap enam bulan sekali. Penampilan fisik Pura ini mamang terkesan sangat sederhana, namun dibalik itu pura ini mengandung kekuatan spiritual dan kesucian yang sangat mendalam dan tinggi.
Penyiwi.
Penyiwi adalah orang-orang kelompok masyarakat yang menjunjung atau memuliakan Pura dalam berbagai bentuk aktivitas keagamaan berlandaskan kesucian dan sesuai dengan dresta yang berlaku di pura Goa Gong. Setiap pura mempunyai aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang dijunjung guna menjaga kesucian Pura sebagai linggih Ida Bhatara yang merupakan Istadewatanya Sang Hyang Siwa. Aturan dan norma-norma ini telah mampu menata, mengarahkan sikap, wacana dan perilaku para pemedek yang memuliakan dan mensucikan Pura itu yang sudah berlaku dari tahun ke tahun dari zaman ke zaman dan dari abad-keabad. Pura Goa Gong adalah pura yang belum begitu populer bagi semeton Bali, namun demikian setiap rerahinan (Purnama, Tilem) ada saja masyarakat sekitarnya, Bualu, Denpasar, Badung yang pedek tangkil ke pura. Sebagai penyiwi yang berlandaskan pada kesucian hendaknya senantiasa menjunjung tinggi tata krama dan dresta yang telah berlaku di Pura ini, salah satu yang perlu dihindari adalah pedek tangkil pada hari Rebu, apabila hal ini dilanggar niscaya akan menemukan halangan, demikian tradisi yang telah berlaku di pura Goa Gong.
4. CERITA TENGET
· Ular besar (Naga). Pura Goa Gong dilihat dari tata letaknya berada di lingkungan Banjar Batu Mongkong, Desa Jimbaran, Kecamatan Kuta, kabupaten Badung, dari wujud luarnya/ fisik pura ini menampakan wajah yang sangat sederhana namun sangat angker. Di lingkungan pura ini terdapat sebuah taman yang sering disebut dengan Taman Peteng, taman ini dihuni oleh dua ekor ular besar (naga) yang berwarna kuning dan merah yang merupakan ratu dan rajanya wong samar. Ada ceritera misteri yang diuangkapkan oleh pemangku pura, bahwa beberapa hari sebelum peristiwa bom di kuta, dua naga ini bersuara dan menampakan dirinya berada di apit lawang pura Goa Gong, menurut pemangku penampakan diri naga ini menunjukkan akan adanya peristiwa besar yang sangat mengerikan akan terjadi. Dan betul bahwa beberapa hari setelah itu memang terjadi peristiwa bom di Kuta. Dan setelah terjadinya peristiwa itu banyak para pejabat yang pedek tangkil ke pura Goa Gong, pada suatu hari pemangku purapun mendapat petunjuk gaib bahwa sebulan setelah bom meledak pelakunya akan ditemukan/ditangkap, dan itupun memang betul terjadi. Ceritera pemangku ini memang aneh tapi nyata. Namun demikian, pemangku pura juga menyesalkan kepada para pejabat yang rajin nunas ica tengah malam setelah peristiwa bom terjadi, namun setelah pelakunya ditangkap tidak pernah tangkil lagi di pura, pura kembali sepi dan tidak ada orang yang rungu.
· Tirta suci. Pada tebing-tebing Goa Gong, pada stalatit tebing menetes air suci yang digunakan untuk air tirta, pemangku pura tidak pernah membawa air dari rumahnya untuk dijadikan tirta. Air yang menetes ini memang gaib, kalau kita teliti disekitar goa, di atas goa terhampar perbukitan tanah kapur yang kering. Nah..... dari manakah datangnya air ini? inilah gaib, inilah misteri yang akan sulit di rasionalkan. Pemangku pura tidak pernah membawa air dari rumahnnya untuk dijadikan tirta, jadi tirta di pura ini hanya menghandalkan air yang menetes dari diding-dinding kapur pura tersebut. Air tirta ini memang sangat berkasiat, banyak penyakit yang pernah disembuhkan setelah meminum air tirta ini. Ada seorang sulinggih yang kehilangan mantramnya karena tidak bisa lagi ngomong, atau kehilangan suara (bisu). Namun, setelah nunas ica di pura ini dan meminum air suci yang ada di pura ini, secara berlahan-lahan menemukan lagi suara dan mantramnya, dan tentunnya banyak lagi cerita yang bisa digali dari khasiat air tirta di pura Goa Gong ini.
· Suara Gong. Biasanya gong ini bersuara ketika hari piodalan, namun perlu diingat bahwa tidak setiap piodalan gong ini bersuara. Suara Gong ini memang penuh dengan tanda-tanda gaib dan misteri. Gong yang berasal dari sebuah batu besar ternyata bisa mengeluarkan suara yang sangat halus, angalun-alun dan terdengar sampai radius lima kilometer. Secara logika dan rasional itu tidak mungkin, bagaimana sebuah batu bisa mengeluarkan suara persisnya seperti suara gong, siapa yang memukul, bagaimana caranya memukul dan serentetan pertanyaan rasional yang tidak mungkin dijawab.
Oleh : Ida Bagus Dharmika
Ketika Dang Hyang Nirartha melaksanakan yoga semadi di Pura Uluwatu, dan ketika beliau sedang menulis huruf-huruf suci pada beberapa batu yang akan dipakai dasar untuk pembangunan tempa suci ini (Uluwatu) terdengar suara gong yang angalun-alun datang dari kejauhan yaitu, arah timur laut (kaja kangin). Suara gong yang demikian halus, merdu, angalun-alun seolah-olah memanggil agar beliau segera mendekati suara gong itu. Keinginan untuk segera meneliti, mendekati, mencari sumber suara gong itu sangatlah menggoda, akhirnya beliau putuskan untuk mencari sumber suara gong itu. Dengan berjalan kaki menuju arah timur laut melewati hutan dan tegalan, beliau mendekati suara gong itu. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan dua ekor ular besar (naga) yang berwarna kuning dan yang satu lagi berwarna merah. Dua ekor naga merupakan ratu dan rajanya gamang (wong samar). Naga itu melintang di tengah jalan, seolah-olah ingin menghalangi perjalanan Dang Hyang Niratha untuk menuju suara gong itu. Dang Hyang Nirartha lalu bertanya kepada kedua ekor naga.
.... Wahai engkau Naga, mengapa engkau tidur melintang di tengah jalan, dan seolah-olah ingin menghalangi perjalanan Bapak yang akan mencari sumber suara gong yang sangat menggoda itu...
Naga lalu menjawab.
..... ratu...ratu pedanda, bertahun-tahun kami berdua sudah meyasa (bersemadi -red) di sini, menyiksa diri dengan menjemur di tengah teriknya sinar matahari, kehujanan tatkala musin hujan, serta menahan lapar dan haus untuk memenuhi keinginan kami berdua agar bisa ke Sunya Loka. Namun demikian, sampai sekarang belum ada Bhatara yang tedun (turun -red) untuk nyupat (membebaskan - red) kami. Kami megijinkan Ratu Pedanda untuk lewat dan melintasi jalan ini, namun kami mohon kepada Ratu Pedanda agar sudi kiranya nyupat titiang agar bisa segera ke Sunya Loka....
Dang Hyang Nirartha lalu berkata.
.... Pedanda mau nyupat kamu berdua agar roh/atman kamu bisa segera ke Sunya Loka, sedangkan badan wadag kamu agar senantiasa menjaga taman yang aku buat nanti di tempat ini
setelah disetujui oleh kedua ekor naga itu, akhirnya Ida Pedanda mengucapkan mantra saktinya, serta nyupat kedua naga itu. Di tempat itu kemudian didirikan taman (Goa Peteng).
Dang Hyang Nirartha kemudian melanjutkan perjalanan beliau menuju suara gong , kira-kira 40 meter dari lokasi naga tadi beliau menemukan sebuah goa dan setelah didekati suara gong tadi seketika berhenti (gong tan pa suara). Beliau kemudian masuk ke dalam goa, dan duduk di atas sebuah batu (lempeh) di lokasi ini kemudian beliau melakukan yoga (mayoga). Di tempat ini kemudian muncul sumber air yang sangat suci bagaikan air sungai gangga yang berwarna-warni. Selama beliau melakukan yoga ternyata banyak sekali (hampir ribuan) para gamang, wong samar mendatangi beliau untuk mohon, panglukatan dan penyupatan tan pagering, dan beliupun berkenan memberikan penyupatan, namun keberhasilan penyupatan itu sangat tergantung dari karmanya masing-masing. Beliaupun akhirnya minta bantuan kepada para wong samar, gamang agar membantu membuat parhyangan di Pura Uluwatu, dan secara tulus iklas para wong samar, gamang yang jumlahnya ribuan itu menyanggupi untuk membantu Dang Hyang Nirartha membangun Pura Luhur Uluwatu yang sangat kita sucikan itu.
2. PIODALAN, UPACARA DAN UPAKARA
Piodalan di pura Goa Gong jatuh setiap enam bulan sekali berdasarkan perhitungan pawukon (210 hari), tepatnya pada Senen Pon wuku Sinta yang lazim disebut Coma Ribek.
Adapun rangkaian upacara piodalan yang biasa dilaksanakan adalah sebagai berikut:
· Ngiyasin Ida Bhatara
· Maprayascita banten dan semua tempat yang dianggap suci
· Menghaturkan pecaruan dalam tingkat panca sata
· Menghaturkan piodalan (pujawali) dilengkapi dengan tarian dan pendetan
· Ida Bhatara masineb
Upakara (banten) yang dipersembahkan pada waktu piodalan adalah:
a) Ring sor (di bawah pada altar Goa) mempersembahkan: sesayut pangambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasucian, canang lenga wangi burat wangi;
b) Di palinggih Geriya Dang Hyang Nirartha menghaturkan: sayut pengambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan dan pasucian, canang lenga wangi burat wangi;
c) Di palinggih Ida Bhatara Siwa Bhuda menghaturkan: sesayut pangambiyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
d) Di palinggih Ida Bhatara Guru menghaturkan, sasayut pangambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
e) Di palinggih gong, menghaturkan: sesayut pengambeyan satu soroh, soda putih kuning, rayunan, pasuciyan, canang lenga wangi burat wangi;
f) Di Jaba ( di luar goa) menghaturkan: caru Panca sata, pabiyakaonan, panglukatan, pabersihan dan prayascita.
Di samping upacara piodalan yang secara rutin telah dilakukan setiap enam bulan sekali, upacara-upacara panyabran seperti, Purnama, Tilem, Kliwon dan lain-lain juga senantiasa dilaksanakan di pura ini. Proses upacara piodalan dan upacara-upacara panyabran lainnya sepenuhnya dilaksanakan oleh pemangku pura Goa Gong dibantu oleh hanya para keluarga pemangku. Pura yang berstatus Dang Kayangan sampai saat ini belum pernah dilaksanakan upacara piodalan yang agak besar atau upacara peningkatan kualitas piodalan yang secara rutin dilakukan setiap enam bulan, seperti halnya pura-pura Dang kahyangan lainnya yang senantiasa melakukan peningkatan kualitas piodalan setiap lima tahun maupun sepuluh tahun. Tidak dilakukannya peningkatan kualitas piodalan di Pura Goa Gong ini karena semata-mata keterbatasan dana dan tidak adanya pengempon pura yang jelas, dan selama ini proses upacara dan upakara hanya dilakukan oleh pemangku sendiri dan keluarganya.
Demikian suci dan misterinya Pura Dang Kahyangan Goa Gong ini, dan terbukti telah senantiasa menyelamatkan pulau suci ini dari berbagai goncangan namun tetap masih kita sayangkan belum adanya perhatian yang sungguh-sungguh bagi penguasa/pejabat daerah ini, para penguasa hanya rajin nunas ica ke pura tanpa adanya rasa bhakti yang nyata di dalam menjaga kesucian pulau ini.
3. PENGEMPON, PENYIWI
Pemangku Pura Goa Gong beserta keluargannya adalah merupakan pengempon Pura.
Hal ini sudah dijalankan secara turun tumurun. Sebagai pengempon mempunyai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan pembangunan, pemeliharaan fisik maupun yang non fisik. Demikian juga biaya dan pelaksanaan upacara di pura sepenuhnnya diusahakan oleh keluarga pemangku sendiri. Sumber-sumber dana hanya terbatas pada sesari, dana punia para pemedek yang tangkil ke pura dengan jumlah dana yang sangat terbatas. Keterbatasan dalam hal dana dan pengempon menyebabkan di Pura ini belum pernah dilaksankan upacara besar, dan upacara yang dilakukan hanya terbatas upacara piodalan rutin setiap enam bulan sekali. Penampilan fisik Pura ini mamang terkesan sangat sederhana, namun dibalik itu pura ini mengandung kekuatan spiritual dan kesucian yang sangat mendalam dan tinggi.
Penyiwi.
Penyiwi adalah orang-orang kelompok masyarakat yang menjunjung atau memuliakan Pura dalam berbagai bentuk aktivitas keagamaan berlandaskan kesucian dan sesuai dengan dresta yang berlaku di pura Goa Gong. Setiap pura mempunyai aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang dijunjung guna menjaga kesucian Pura sebagai linggih Ida Bhatara yang merupakan Istadewatanya Sang Hyang Siwa. Aturan dan norma-norma ini telah mampu menata, mengarahkan sikap, wacana dan perilaku para pemedek yang memuliakan dan mensucikan Pura itu yang sudah berlaku dari tahun ke tahun dari zaman ke zaman dan dari abad-keabad. Pura Goa Gong adalah pura yang belum begitu populer bagi semeton Bali, namun demikian setiap rerahinan (Purnama, Tilem) ada saja masyarakat sekitarnya, Bualu, Denpasar, Badung yang pedek tangkil ke pura. Sebagai penyiwi yang berlandaskan pada kesucian hendaknya senantiasa menjunjung tinggi tata krama dan dresta yang telah berlaku di Pura ini, salah satu yang perlu dihindari adalah pedek tangkil pada hari Rebu, apabila hal ini dilanggar niscaya akan menemukan halangan, demikian tradisi yang telah berlaku di pura Goa Gong.
4. CERITA TENGET
· Ular besar (Naga). Pura Goa Gong dilihat dari tata letaknya berada di lingkungan Banjar Batu Mongkong, Desa Jimbaran, Kecamatan Kuta, kabupaten Badung, dari wujud luarnya/ fisik pura ini menampakan wajah yang sangat sederhana namun sangat angker. Di lingkungan pura ini terdapat sebuah taman yang sering disebut dengan Taman Peteng, taman ini dihuni oleh dua ekor ular besar (naga) yang berwarna kuning dan merah yang merupakan ratu dan rajanya wong samar. Ada ceritera misteri yang diuangkapkan oleh pemangku pura, bahwa beberapa hari sebelum peristiwa bom di kuta, dua naga ini bersuara dan menampakan dirinya berada di apit lawang pura Goa Gong, menurut pemangku penampakan diri naga ini menunjukkan akan adanya peristiwa besar yang sangat mengerikan akan terjadi. Dan betul bahwa beberapa hari setelah itu memang terjadi peristiwa bom di Kuta. Dan setelah terjadinya peristiwa itu banyak para pejabat yang pedek tangkil ke pura Goa Gong, pada suatu hari pemangku purapun mendapat petunjuk gaib bahwa sebulan setelah bom meledak pelakunya akan ditemukan/ditangkap, dan itupun memang betul terjadi. Ceritera pemangku ini memang aneh tapi nyata. Namun demikian, pemangku pura juga menyesalkan kepada para pejabat yang rajin nunas ica tengah malam setelah peristiwa bom terjadi, namun setelah pelakunya ditangkap tidak pernah tangkil lagi di pura, pura kembali sepi dan tidak ada orang yang rungu.
· Tirta suci. Pada tebing-tebing Goa Gong, pada stalatit tebing menetes air suci yang digunakan untuk air tirta, pemangku pura tidak pernah membawa air dari rumahnya untuk dijadikan tirta. Air yang menetes ini memang gaib, kalau kita teliti disekitar goa, di atas goa terhampar perbukitan tanah kapur yang kering. Nah..... dari manakah datangnya air ini? inilah gaib, inilah misteri yang akan sulit di rasionalkan. Pemangku pura tidak pernah membawa air dari rumahnnya untuk dijadikan tirta, jadi tirta di pura ini hanya menghandalkan air yang menetes dari diding-dinding kapur pura tersebut. Air tirta ini memang sangat berkasiat, banyak penyakit yang pernah disembuhkan setelah meminum air tirta ini. Ada seorang sulinggih yang kehilangan mantramnya karena tidak bisa lagi ngomong, atau kehilangan suara (bisu). Namun, setelah nunas ica di pura ini dan meminum air suci yang ada di pura ini, secara berlahan-lahan menemukan lagi suara dan mantramnya, dan tentunnya banyak lagi cerita yang bisa digali dari khasiat air tirta di pura Goa Gong ini.
· Suara Gong. Biasanya gong ini bersuara ketika hari piodalan, namun perlu diingat bahwa tidak setiap piodalan gong ini bersuara. Suara Gong ini memang penuh dengan tanda-tanda gaib dan misteri. Gong yang berasal dari sebuah batu besar ternyata bisa mengeluarkan suara yang sangat halus, angalun-alun dan terdengar sampai radius lima kilometer. Secara logika dan rasional itu tidak mungkin, bagaimana sebuah batu bisa mengeluarkan suara persisnya seperti suara gong, siapa yang memukul, bagaimana caranya memukul dan serentetan pertanyaan rasional yang tidak mungkin dijawab.
Oleh : Ida Bagus Dharmika








