BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Pura Gunung Kawi dan Raja Udayana on Fri Jan 30, 2009 4:20 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
Samwatsarikamaptaisca
rastra daharayebhalim
syaccamnayaparoloko
warteta pitrivanrsu.
(Manawa Dharmasastra.VII.80).
Maksudnya:
Supaya pendapatan negara yang diperoleh dari kerajaan, dikumpulkan oleh pejabat kepercayaan dan digunakan mengikuti aturan kitab suci dalam memberikan kesejahteraan yang adil pada rakyat seperti seorang ayah kepada putra.



RAJA bagaikan seorang ayah mengayomi kehidupan rakyatnya mendapatkan rasa aman dan kesejahteraan secara adil akan dihormati oleh rakyatnya sampai sang raja menjadi roh suci atau Dewa Pitara. Penghormatan pemimpin bagaikan menghormati ayah kandung seperti itu karena rakyat benar-benar merasa mendapatkan perlindungan dari pemimpinnya seperti anak mendapatkan perlindungan dari ayahnya sendiri.


Demikianlah Raja Udayana dihormati oleh rakyatnya di Pura Gunung Kawi. Pura ini merupakan Pura Padharman dari Raja Udayana. Artinya, pura ini untuk menstanakan roh suci atau Dewa Pitara keluarga Raja Udayana. Mengapa pura ini disebut Gunung Kawi. Karena yang dikawi atau yang diukir adalah lereng gunung di Sungai Pakerisan.


Kata ''kawi'' berarti mengarang kalau kata-kata bijak yang dirangkai menjadi syair yang indah dan penuh makna. Kalau lereng bukit yang dikawi maka kata ''kawi'' itu berarti mengukir. Konon yang mengukir lereng bukit Sungai Pakerisan itu menjadi candi adalah Kebo Iwa, tokoh ahli bangunan atau arsitek pada zaman pemerintahan keluarga Raja Udayana. Kebo Iwa membuat ukiran candi sampai menjadi Pura Gunung Kawi dengan menggunakan kukunya. Demikian dinyatakan dalam buku hasil sejarah penelitian pura oleh IHD (sekarang Unhi).


Proses menstanakan roh suci atau Dewa Pitara itu dalam kitab Negara Kertagama disebut Dinarma atau Dharmakan. Dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan disebut Ngalinggihang Dewa Pitara. Menstanakan Dewa Pitara ini sebagai sistem pemujaan leluhur sebagai tangga untuk memuja Tuhan. Karena dalam Sarasamuscaya 250 dinyatakan bahwa orang yang sungguh-sungguh berbakti pada leluhurnya dijanjikan empat pahala mulia. Empat pahala itu adalah Kirti (sejahtra). Bala (kuat fisik), Yusa (umur panjang) dan Yasa (dapat berbuat jasa dalam hidup ini).


Raja Udayana adalah raja dari Wamsa Warmadewa. Raja ini memerintah Bali bersama dengan permaisurinya bernama Mahendradata dengan gelar Gunapriya Dharma Patni yang berasal dari Jawa Timur. Sejak pemerintahan suami-istri pada abad XI ini prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja di Bali tidak lagi hanya menggunakan bahasa Bali, tetapi sudah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Ini artinya pengaruh Hindu Jawa telah masuk ke Bali. Kesusastraan Hindu Jawa pun mulai semakin kuat mempengaruhi kesusastraan Bali.


Sejak itulah secara pelan-pelan penduduk Hindu di Bali mengenal yang namanya ''sekar alit, sekar madia dan sekar agung''. Kesusastraan Jawa Kuna dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata mulai masuk lebih intensif dari Jawa ke Bali. Demikian pula istilah pura masuk dan digunakan di Bali meskipun saat itu belum digunakan untuk menamakan tempat suci.


Istilah pura saat itu baru digunakan untuk menyebutkan ibu kota kerajaan. Karena itu ada sebutan Linggarsa Pura, Sweca Pura dan Smara Pura. Pada abad ke-16 Masehi istilah pura baru digunakan sebagai sebutan tempat pemujaan. Sejak itulah baru ada istilah Pura Kahyangan untuk menyebutkan tempat pemujaan Hindu.
Pura Gunung Kawi dalam wujud candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan. Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Marakata, putra Raja Udayana, yaitu Prasasti Songan Tambahan dinyatakan: Sang Hyang Katyagan ing Pakerisan mengaran ring ambarawati. Kemungkinan nama itu adalah nama Candi Pura Gunung Kawi saat itu. Sedangkan nama Gunung Kawi mungkin muncul belakangan.


Pura Candi Gunung Kawi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok lima candi dipahatkan di tebing timur Sungai Pakerisan berjejer dari utara ke selatan. Kelima candi ini menghadap ke barat. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ''haji lumah ing jalu''. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah stana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya.
Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ''rwa anakira''. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu.


Sementara di tebing barat Sungai Pakerisan terdapat empat kelompok candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan itu berjejer dari utara keselatan menghadap ke timur. Menurut Dr. R. Goris, keempat candi ini adalah sebagai padharman empat permaisuri raja. Di samping itu ada satu pahatan candi lagi terletak di tebing barat daya Sungai Pakerisan.


Di candi itu ada tulisan dengan bunyi ''rakryan''. Kemungkinan candi ini sebagai padharman dari seorang patih kepercayaan raja. Karena itulah diletakkan di sebelah barat daya. Di sebelah selatan candi kelompok lima terdapat wihara berjejer sebagai sarana bertapa brata. Raja Udayana dengan permaisurinya berbeda sistem keagamaannya. Raja Udayana lebih menekankan pada ke-Budha-an, sedangkan Gunapriya Dharma Patni lebih menekankan pada sistem kerohanian Siwa. Hal inilah yang menyebabkan agama Hindu di Bali disebut Agama Siwa Budha.


Keberadaan Pura Candi Gunung Kawi ini yang menempatkan dua sistem keagamaan Hindu yaitu sistem Siwa dan sistem Budha sebagai suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan demi kemajuan beragama Hindu ke depan. Di samping itu Raja Udayana sangat menerima baik adanya unsur luar yang positif untuk menguatkan budaya Bali saat itu. Seandainya Raja Udayana saat itu menolak apa yang datang dari luar Bali tentunya umat Hindu di Bali tidak mengenal kesusastraan Hindu seperti sekarang ini.
Misalnya ada berbagai jenis karya sastra Parwa dan Kekawin dalam bahasa Jawa Kuno dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata. Karya sastra Jawa Kuno ini amat besar jasanya dalam memperkaya kebudayaan Hindu di Bali sehingga Bali memiliki kebudayaan yang sangat tinggi sampai sekarang. Semua unsur itu dipadukan dengan budaya Bali yang telah ada sebelumnya. Demikianlah bijaknya Raja Udayana pada zaman dahulu. * I Ketut Gobyah
source : BaliPost

View user profile

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA


Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas
peninggalan raja-raja ash Bali kuno, termasuk candi yang dipahat
langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu
kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.

Ketika
ke Bali, apa yang Anda lakukan selama berlibur di sana? Menghabiskan
waktu bermain di pantai, membeli lukisan dan barang seni di daerah
Ubud, atau mengunjungi tempt-tempat yang memiliki bangunan
berarsitektur bali? Dari sekian agenda yang ada, seberapa tertarikkah
Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan
berarsitektur bali? Sepuluh orang yang ditanya mengenai hal ini
menjawab bahwa kadar ketertarikan terhadap tempat seperti ini cukup
tinggi.

Bentuk bangunan arsitektur Bali tidak hanya terbatas
pada bangunan komersial atau hunian saja. Pura sebagai bangunan
peribadahan merupakan bentuk bangunan yang bisa menjadi daya tarik
wisatawan yang datang ke Bali.

Keberadaan pura di Bali memang
jamak. Meskipun wisatawan tak bisa masuk ke dalam pura, memandang
keelokan bentuk pura dari luar sudah cukup memikat wisatawan. Dari
sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura
yang patut Anda kunjungi. Banyak alasan mengapa pura yang lokasinya
berada di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan
Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, harus Anda datangi.

Setidaknya
ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini.
Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua, karena
letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding.

Menuruni 320-an Anak Tangga
Memasuki
kawasan Pura Gunung Kawi harus menyiapkan tenaga ekstra. Pura ini hanya
bisa dijangkau dengan berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh dari
parkiran mobil. Dari pintu gerbang, tempat di mana pengunjung harus
membeli karcis masuk seharga Rp 6 ribu, kita harus menuruni sekitar
320-an anak tangga. Ini tak lain karena letak pura terdapat di dasar
lembah.

Perjalanan menuruni 320an anak tangga ini tak terasa
melelahkan karena di sekeliling tangga Anda bisa melihat hamparan
hijaunya sawah yang bentuk lahannya bertingkat. Selain itu, jika lelah,
Anda bisa beristirahat di warung-warung yang ada di sebelah anak tangga.

Sesampainya
di dasar lembah, Anda akan memasuki lorong panjang yang konon dibuat
dengan cara membelah batu besar. Lorong ini adalah pintu masuk menuju
kawasan Pura Gunung Kawi.

Kawasan yang ditemukan sekitar awal
tahun 1910-an ini terpisah menjadi dua bagian oleh Sungai/Tukad
Pakerisan, bagian di sebelah barat clan bagian di sebelah timur Sungai
Pakerisan. Di kedua bagian ini, Anda bisa melihat candi yang melekat
langsung di dinding tebing. Candi yang dipahat langsung di dinding
tebing inilah yang menjadi daya tarik mengapa Anda harus datang ke
tempat ini.

Empat Gugusan
Pahatan candi
yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi
baik yang berada di sisi barat maupun timur Sungai Pakerisan. Menurut
beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan
kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa
Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing
clan berada di pegunungan maka pura yang ada di kawasan ini disebut
pura Gunung Kawi.

Secara keseluruhan, pahatan candi di dinding
tebing yang ada di kawasan Pura Gunung Kawi ini terbagi menjadi empat
gugusan. Gugusan pertama terdiri dari 5 buah candi yang dipahat
berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi timur
sungai.

Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara
terdapat tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Dari tulisan ini, ada yang
menyebutkan bahwa candi di sisi paling utara ini digunakan untuk Istana
pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan candi di sebelahnya adalah
Istana untuk permaisurinya dan anak-anak Raja Udayana; Marakata dan
Anak Wungsu.

Gugusan kedua terdiri dari empat buah candi yang
dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di
sisi barat sungai. Dr. R. Goris, arkeolog dari Belanda, dalam beberapa
literaturya menyebutkan bahwa keempat deretan candi ini berfungsi
sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.

Gugusan
ketiga adalah bangunan biara dan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan
pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan pertama. Sedangkan
gugusan keempat merupakan sebuah candi dan ceruk yang digunakan sebagai
tempat pertapaan. Letaknya berada sekitar 220 meter dari gugusan kedua.

Lantas,
di mana letak puranya? Pura ini sendiri letaknya berada di samping
gugusan candi pertama. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan pelengkap
pura seperti pelinggih dan bale perantenan.

Pura Gunung Kawi
biasa digunakan pada saat upacara Piodalan. Upacara yang dilakukan
setiap bulan pumama tiba ini adalah upacara pemujaan kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan,
pura, dan kahyangan.

Diukir Dengan Kuku Jari
Jika
ditilik ke masa lalu, keberadaan pura ini tidak terlepas dari
gugusan-gugusan pahatan yang ada. Tulisan-tulisan yang ada di setiap
pahatan yang berfungsi sebagai data arkeologi menunjukan bahwa Pura
Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.

Hal ini terlihat dari
tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Bentuk tulisan ini adalah bentuk tulisan
kadiri kuadrat yang lazim digunakan di kerajaan yang ada di Jawa Timur
pada abad ke-11.

Pada masa itu,.pemerintahan yang sedang
berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja. Oleh karena itu, banyak pihak
yang mengatakan bahwa komplek Aura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja
Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu.

Salah
satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini
adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu di sini juga
terdapat makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin
kerajaan terbesar di Bali.

Makam abu kedua raja ini berada di
balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila
komplek pura ini disebut sebagai makam Dinasti Warmadewa.

Beberapa
sumber literatur dan warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan
bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda
rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Ia membuat pahatan candi di
tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.

Keelokan pahatan
dinding dan pura yang ada di sini menawan dilihat dan harus dijaga
keberadaaannya. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala Bali menetapkan bahwa kawasan ini adalah aset purbakala yang
harus selalu dilestarikan.(Tabloid Rumah/Al Anindito Pratomo)


Sumber : Tabloid Rumah

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum