1
Pura Pekendungan on Fri Jan 30, 2009 4:03 pm
Pekendungan, Pura Hulunya Subak
Annad bhavanti bhutani
prajanyad annasambhavah.
yadnyad bhavati parjanyo
yadnyah karmasamudbhavah. (Bagawad Gita III. 14)
Maksudnya: Makhluk berkembang karena makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berkembang karena air hujan. Air hujan muncul karena yadnya dan yadnya itu adalah karma.
AIR, bahan makanan dan kata-kata bijak adalah tiga Ratna Permata Bumi. Demikian dinyatakan dalam Canakya Niti Sastra XIII.21.
Pura Subak sebagai media pemujaan terhadap Tuhan agar muncul kata-kata bijak dalam mengelola air dan bahan makanan. Munculnya Pura Subak sebagai pertanda bahwa di masa lampau kehidupan petani mendapatkan perhatian yang sangat serius dari masyarakat petani maupun penguasa pada saat itu.
Tanpa air tidak ada tumbuh-tumbuhan sebagai bahan makanan manusia dan hewan. Air dan bahan makanan sumber alam yang paling menentukan hidup dan kehidupan umat manusia. Tanpa kata-kata bijak kedua sumber alam itu akan dirusak dan menjadi bahan pertengkaran manusia. Seperti dewasa ini air digunakan melebihi kemampuan yang disediakan alam. Demikian juga bahan makanan diolah untuk mendapatkan keuntungan sepihak dan merugikan konsumen, karena diracuni zat-zat kimia berbahaya.
Sabda Tuhan merupakan sumber dari kata-kata bijak. Kata-kata bijak akan diturunkan oleh Tuhan melalui perantara orang suci. Mengelola air dan bahan makanan itu hendaknya dengan kata-kata bijak.
Pura Subak seperti Pura Pekendungan di Tabanan sebagai media memuja Tuhan untuk membangun jiwa yang tenang. Dari ketenangan itulah kata-kata bijak dapat dituangkan menjadi kebijakan menata kehidupan yang sejahtera lewat pertanian dalam arti yang luas.
Pura Luhur Pekendungan yang berada di Desa Braban ini adalah hulunya semua Pura Subak di Kediri, Tabanan atau Pura Ulun Suwinya para petani di daerah sana.
Namun kemudian, perkembangan pura ini ada hubungan dengan tirthyatra Danghyang Dwijendra ke Bali. Saat beliau sedang berada di pantai Desa Beraban, datanglah Bendesa Beraban mohon petunjuk atas wabah yang sedang berjangkit di desanya. Danghyang Dwijendra pun menyampaikan kata-kata bijaknya untuk dijadikan petunjuk dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat desa. Salah satu petunjuk beliau adalah untuk memperluas dan meningkatkan fungsi Pura Subak di Desa Beraban itu sebagai media pemujaan pada Dewa Kesuburan yaitu Lingga-Yoni. Di samping itu, Danghyang Dwijendra juga memberikan sebuah keris yang mengandung kekuatan magis religius untuk dijadikan sarana mendapatkan kekuatan suci. Keris dalam bahasa kawinya adalah duhung. Dari kata duhung inilah muncul istilah Pakaduhungan. Kemudian pura tersebut bernama Pura Luhur Pekendungan.
Keris yang diberikan oleh Dang Hyang Dwijendra itu sampai saat ini masih ada disimpan di Puri Kediri. Ketika ada pujawali di pura tersebut yang jatuh setiap hari raya Kuningan, keris itu distanakan di pelinggih utama. Pelinggih yang paling utama di Pura Luhur Pekendungan berupa Pelinggih Meru Tumpang Pitu. Di pelinggih inilah dijumpai bulatan Lingga bagian dari Siwabhaga. Pemujaan Tuhan dengan sarana Lingga-Yoni ini sebagai pemujaan Tuhan sebagai Dewa Kesuburan pertanian. Di Pura Luhur Pekendungan ini banyak sekali ada Pura Pesimpangan. Di sebelah selatan pelinggih utama terdapat pelinggih pesimpangan Pura Tanah Lot. Di sebelah utara pelinggih utama terdapat pelinggih meru, pesimpangan Pura Sakenan. Di timur laut terdapat pelinggih pesimpangan Pura Luhur Uluwatu. Juga di timur lautnya terdapat pesimpangan Pura Batukaru. Di Pura Luhur Pakendungan ini juga ada pesimpangan Pura Rambut Siwi, Jembrana. Di sebelah tenggara pelinggih utama terdapat pesimpangan Gunung Agung yang diapit oleh pesimpangan Uluwatu dan Pura Batukaru. Di bagian utara terdapat pelinggih pesimpangan Pura Sri Jong berjajar dengan pesimpangan Pura Rambut Siwi.
Pura ini diemong oleh sembilan desa yaitu Desa Abian Tuwung, Desa Kediri, Desa Anyar, Desa Nyitdah, Desa Pejaten, Desa Belang, Desa Pandak Bandung, Desa Pandak Gede dan Desa Beraban. Meskipun demikian siapa pun umat Hindu dapat bersembahyang di pura ini sepanjang memenuhi syarat-syarat umum dalam melakukan persembahyangan di pura untuk memuja Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Adanya banyak pelinggih pesimpangan di Pura Luhur Pekendungan ini menandakan betapa seriusnya masyarakat Kediri umumnya dan Desa Braban khususnya untuk membangun nilai-nilai spiritual Hindu sebagai dasar menata kehidupan bersama yang bercorak agraris di daerah Kediri dan Tabanan pada umumnya.
* Ketut Gobyah
source: BaliPost
Annad bhavanti bhutani
prajanyad annasambhavah.
yadnyad bhavati parjanyo
yadnyah karmasamudbhavah. (Bagawad Gita III. 14)
Maksudnya: Makhluk berkembang karena makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berkembang karena air hujan. Air hujan muncul karena yadnya dan yadnya itu adalah karma.
AIR, bahan makanan dan kata-kata bijak adalah tiga Ratna Permata Bumi. Demikian dinyatakan dalam Canakya Niti Sastra XIII.21.
Pura Subak sebagai media pemujaan terhadap Tuhan agar muncul kata-kata bijak dalam mengelola air dan bahan makanan. Munculnya Pura Subak sebagai pertanda bahwa di masa lampau kehidupan petani mendapatkan perhatian yang sangat serius dari masyarakat petani maupun penguasa pada saat itu.
Tanpa air tidak ada tumbuh-tumbuhan sebagai bahan makanan manusia dan hewan. Air dan bahan makanan sumber alam yang paling menentukan hidup dan kehidupan umat manusia. Tanpa kata-kata bijak kedua sumber alam itu akan dirusak dan menjadi bahan pertengkaran manusia. Seperti dewasa ini air digunakan melebihi kemampuan yang disediakan alam. Demikian juga bahan makanan diolah untuk mendapatkan keuntungan sepihak dan merugikan konsumen, karena diracuni zat-zat kimia berbahaya.
Sabda Tuhan merupakan sumber dari kata-kata bijak. Kata-kata bijak akan diturunkan oleh Tuhan melalui perantara orang suci. Mengelola air dan bahan makanan itu hendaknya dengan kata-kata bijak.
Pura Subak seperti Pura Pekendungan di Tabanan sebagai media memuja Tuhan untuk membangun jiwa yang tenang. Dari ketenangan itulah kata-kata bijak dapat dituangkan menjadi kebijakan menata kehidupan yang sejahtera lewat pertanian dalam arti yang luas.
Pura Luhur Pekendungan yang berada di Desa Braban ini adalah hulunya semua Pura Subak di Kediri, Tabanan atau Pura Ulun Suwinya para petani di daerah sana.
Namun kemudian, perkembangan pura ini ada hubungan dengan tirthyatra Danghyang Dwijendra ke Bali. Saat beliau sedang berada di pantai Desa Beraban, datanglah Bendesa Beraban mohon petunjuk atas wabah yang sedang berjangkit di desanya. Danghyang Dwijendra pun menyampaikan kata-kata bijaknya untuk dijadikan petunjuk dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat desa. Salah satu petunjuk beliau adalah untuk memperluas dan meningkatkan fungsi Pura Subak di Desa Beraban itu sebagai media pemujaan pada Dewa Kesuburan yaitu Lingga-Yoni. Di samping itu, Danghyang Dwijendra juga memberikan sebuah keris yang mengandung kekuatan magis religius untuk dijadikan sarana mendapatkan kekuatan suci. Keris dalam bahasa kawinya adalah duhung. Dari kata duhung inilah muncul istilah Pakaduhungan. Kemudian pura tersebut bernama Pura Luhur Pekendungan.
Keris yang diberikan oleh Dang Hyang Dwijendra itu sampai saat ini masih ada disimpan di Puri Kediri. Ketika ada pujawali di pura tersebut yang jatuh setiap hari raya Kuningan, keris itu distanakan di pelinggih utama. Pelinggih yang paling utama di Pura Luhur Pekendungan berupa Pelinggih Meru Tumpang Pitu. Di pelinggih inilah dijumpai bulatan Lingga bagian dari Siwabhaga. Pemujaan Tuhan dengan sarana Lingga-Yoni ini sebagai pemujaan Tuhan sebagai Dewa Kesuburan pertanian. Di Pura Luhur Pekendungan ini banyak sekali ada Pura Pesimpangan. Di sebelah selatan pelinggih utama terdapat pelinggih pesimpangan Pura Tanah Lot. Di sebelah utara pelinggih utama terdapat pelinggih meru, pesimpangan Pura Sakenan. Di timur laut terdapat pelinggih pesimpangan Pura Luhur Uluwatu. Juga di timur lautnya terdapat pesimpangan Pura Batukaru. Di Pura Luhur Pakendungan ini juga ada pesimpangan Pura Rambut Siwi, Jembrana. Di sebelah tenggara pelinggih utama terdapat pesimpangan Gunung Agung yang diapit oleh pesimpangan Uluwatu dan Pura Batukaru. Di bagian utara terdapat pelinggih pesimpangan Pura Sri Jong berjajar dengan pesimpangan Pura Rambut Siwi.
Pura ini diemong oleh sembilan desa yaitu Desa Abian Tuwung, Desa Kediri, Desa Anyar, Desa Nyitdah, Desa Pejaten, Desa Belang, Desa Pandak Bandung, Desa Pandak Gede dan Desa Beraban. Meskipun demikian siapa pun umat Hindu dapat bersembahyang di pura ini sepanjang memenuhi syarat-syarat umum dalam melakukan persembahyangan di pura untuk memuja Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Adanya banyak pelinggih pesimpangan di Pura Luhur Pekendungan ini menandakan betapa seriusnya masyarakat Kediri umumnya dan Desa Braban khususnya untuk membangun nilai-nilai spiritual Hindu sebagai dasar menata kehidupan bersama yang bercorak agraris di daerah Kediri dan Tabanan pada umumnya.
* Ketut Gobyah
source: BaliPost








