1
Georgia Davis Remaja Tergemuk on Fri Jan 30, 2009 3:29 pm
MAKANAN ibarat candu bagi Georgia Davis. Ia terus makan baik dalam keadaan lapar maupun tidak. Tak mengherankan, tubuhnya terus membengkak tak terkendali hingga akhirnya mencapai 209 kg. “Saya sadar akan keanehan ini tapi saya tidak mampu menghentikannya. Saya selalu ingin makan.
Kalau orang lain menjadi pecandu heroin tapi saya justru menjadi pecandu makanan. Itu justru akan membunuh saya,” tutur Georgia Davis, remaja berusia 15 tahun yang memiliki tinggi badan 167,64 cm itu.
Saking gemuknya, ia tak mampu melangkah terlalu jauh. Selain kaki tak mampu menyanggah tubuhnya, ia juga kesulitan bernapas. Orangtuanya pun sadar akan keanehan yang dialami putrinya. Dulu mereka senang ketika George Davis masih balita dan sangat suka makan.
Makanan apa pun dilahapnya tanpa pilih-pilih. Sejak kecil George telah tumbuh sebagai anak yang bertubuh subur. Namun ketika semua berkembang tak terkendali, barulah mereka cemas. Kecemasan orangtuanya terbukti, ketika mereka membawa Georgia ke dokter untuk diperiksa.
“Dokter mengatakan saya bisa meninggal sewaktu-waktu akibat terlalu gemuk. Beberapa bulan lalu saya juga didiagnosa menderita gejala diabetes. Dokter meminta saya untuk melakukan diet ketat sesuai dengan anjuran yang diberikan.
Saya katakan, saya mau, tapi tidak mampu menahan keinginan untuk makan. Ketika saya pulang, saya berkaca di cermin dan melihat tubuh saya yang mengerikan ini. Saya menjerit putus asa. Saya tahu ini kesalahan saya. Kemudian saya berpikir, kalau saya tak berubah, saya pasti mati.
Saya tidak mau itu, makanya di sinilah saya,” ujar Georgia Davis yang kemudian pergi-masuk asrama Wellspring Academy, lembaga yang menangani anak-anak yang memiliki masalah kelebihan berat badan. Asrama ini terletak di Asheville, North Carolina, Amerika. Dokter dan ahli gizi, serta juru rawat akan selalu memantau perkembangan pasien.
Hasilnya, dalam 10 minggu, Georgia kehilangan 38,10 kg. Memang masih jauh dari berat badan ideal, tapi memberi harapan baru bagi kehidupan George yang mengaku masih digoda makanan enak di pikirannya.
“Saya kadang-kadang masih merindukan makan KFC atau keju, cokelat, makanan-makanan yang biasa saya makan dulu. Tapi saya berusaha keras mengenyahkan keinginan itu. Kini saya hanya makan burger kerbau, lasagna rendah lemak, daging babi, sayur dan ubi-ubian, dengan porsi yang sedikit. Berat badan saya susut banyak.
Perut saya yang dulu buncit pun terlihat menyusut. Tapi saya masih lama harus menjalani program ini, saya bertekad menyelesaikannya,” tutur Georgia yang sempat menjadi remaja tergemuk di dunia karena beratnya yang mencapai 209 kg.
Natal tahun lalu dia mendapat kabar gembira, dalam pemeriksaan dokter, gejala penyakit diabetes itu telah hilang. “Itu hadiah Natal terindah buat saya. Saya juga dapat mencicipi cokelat yang dimasukkan dalam buah-buahan dan sayuran, hanya sedikit tapi menyenangkan,” ujarnya.
Setiap hari Georgia diharuskan berjalan sebanyak 10.000 langkah. Selain berolahraga juga melatih kakinya, serta menguatkan pernapasannya. Wellspring Academy dikenal sebagai lembaga yang menerapkan diet daging banteng sebagai menu andalannya.
Ahli gizi di sana meyakini kalau daging banteng sangat rendah lemak, jauh lebih rendah dibanding daging sapi. Juru bicara John Gordon mengatakan, daging yang dipilih dalam menu diet adalah daging rendah lemak.
Kalau daging sapi bagian yang tidak berlemak adalah 90 persen, lemak 11,7 gram, sedang banteng lemak hanya 2,4 gram. Menu Georgia setiap hari, ayam, kalkun, ikan, daging babi, itu semua rendah lemak selain sayur dan buah-buahan. “Itulah yang membuat berat tubuhnya susut banyak,” kata Gordon.
Gordon memaparkan, menu makanan yang disajikan antara 1.200 sampai 1400 kalori per hari, dan, 8-12 gram lemak sehari. “Penelitian kami menyebutkan, kebanyakan siswa mengonsumsi rata-rata 1.600 kalori dan 20 gram lemak. Kami menganjurkan mereka menurunkannya secara bertahap,” jelasnya.
Program penurunan berat badan ini akan berakhir musim panas tahun ini. Dia berharap pada saat itu berat badannya sudah mencapai ukuran ideal. “Saya heran dan takjub dengan perkembangan Georgia. Ia benar-benar telah berusaha keras untuk mengubah dirinya.
Yang juga menggembirakan saya, ternyata gejala penyakit gulanya telah hilang. Saya sempat cemas dengan penyakitnya itu, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” tutur Lesley, ibu Georgia seraya menambahkan, anaknya akan pulang ke Inggris musim panas tahun ini. - dia







