1
Jerly ‘Balita Tertua’ Berusia 26 Tahun on Tue Jun 02, 2009 11:24 am

SEPINTAS dia terlihat seperti seorang bocah berusia satu atau dua tahun. Perawakan serta pakaian yang dikenakan, memang membuat dia terlihat mirip balita. Namun kalau diperhatikan secara seksama, baru terlihat keanehannya. Karena raut wajahnya terlihat lebih tua daripada bocah-bocah pada umumnya. Kondisi Jerly Lyngdoh sangat memprihatinkan.
Karena penyakit aneh dan langka, membuat Jerly yang sebenarnya telah berusia 26 tahun terlihat seperti bocah yang berusia 1-2 tahun. Karena itu, pers menyebutnya balita tertua di dunia.
Jerly, anak petani miskin dari Meghalaya, India. Tingginya hanya 83,82 cm dan berat 10 kg. Menurut para ahli, kondisi Jerly ini terjadi karena rusaknya pituitary gland yang berfungsi mengeluarkan hormon pertumbuhan. “Kasus Jerly ini benar-benar langka,” ujar Dr. J. Ryndong, seorang dokter senior di Rumah Sakit Pemerintah Ganesh, Meghalaya, India yang menangani kasus Jerly.
Seperti umumnya balita berumur 1-2 tahun, ia sangat tergantung dengan orang-orang sekelilingnya, khususnya orangtua. Usianya 26 tahun tapi jiwanya tetaplah anak-anak. Satu-satunya penanda bahwa Jerly bukanlah bayi atau balita, adalah giginya. Dia tidak lagi memiliki gigi susu, seperti halnya balita. Jerly Lyngdoh seolah pria dewasa yang terjebak dalam tubuh seorang bayi.
Kalangan dokter memperkirakan, kemungkinan besar selamanya Jerly akan memiliki tubuh bayi. Begitu pula pikirannya yang akan tetap seperti kanak-kanak. Sampai saat ini, Jerly tidak bisa berkomunikasi dan membutuhkan bantuan ibunya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. “Satu-satunya hal yang menandai kalau dia adalah orang dewasa yang giginya,” ungkap Dr. J. Ryndong, yang melakukan penelitian bersama rekannya Dr. H. Giri. Menurutnya, kasus Jerly bukan kasus orang kerdil.
”Sejauh ini Jerly telah menjalani diet yang tepat. Memiliki gigi yang kuat dan tidak memiliki masalah dengan pencernaannya. Yang menjadi permasalahan adalah ketidakmampuannya berbicara satu patah kata pun hingga saat ini,” ucap Ryndong.
Jerly lahir pada 29 Maret 1983 di sebuah desa terpencil di distrik Jaintia Hills. Ia terpaksa dipindahkan ke rumah sakit pada 3 April lalu. Hal ini dilakukan setelah pengobatan selama 17 bulan yang tidak membuahkan hasil di Rumah Sakit Sipil Shillong.
Merilda, ibu Jerly, menuturkan, ia tidak menjumpai keanehan saat putranya lahir. Namun, ketika usianya mencapai empat bulan, Merilda menengarai tanda-tanda kecenderungan epilepsi dalam diri Jerly. Sayangnya, karena terlalu miskin untuk mendapatkan pengobatan secara medis, Merilda justru memilih pengobatan tradisional. Hingga usia 15 tahun, Jerly menjalani pengobatan secara tradisional, tetapi tidak ada perubahan samasekali.
Akibat Kutukan
Ryngdong mengakui, kasus Jerly merupakan tantangan baginya. Ia menyebut pemikiran dalam kepala Jerly sama dengan bayi berusia sembilan bulan hingga satu tahun. “Pemeriksaan masih dalam tahap awal. Sulit mengatakan penyebab pasti ketidaknormalan kondisi yang dialami Jerly. Kami juga memeriksa faktor-faktor seperti kekurangan hormon dalam tubuh,” ujar Ryngdong.
Ia membantah jika faktor keturunan menjadi biang keroknya, mengingat keenam saudara Jerly memiliki kondisi fisik dan mental yang normal. Menurut Ryngdong, Jerly bisa hidup hingga empat dekade mendatang atau lebih. Dengan catatan, ia tidak mengalami masalah kesehatan yang berarti. Merilda juga harus memikul penderitaan yang dialami putranya. Ia menghadapi prasangka buruk dari keluarganya dan cemoohan dari tetangganya. Berulang kali, kakek Jerly menyebutnya sebagai kutukan dalam keluarganya. Bahkan, ia meminta Merilda membuang Jerly jauh-jauh. Toh, ia tetap tegar menghadapi itu semua agar Jerly tetap bisa bertahan.
”Saya tidak akan meninggalkannya dan memutuskan untuk memberikan perawatan terbaik bagi Jerly, sembari mencari bantuan dari kelompok sosial. Saya beruntung, salah satu perkumpulan sosial di Shillong mau mengulurkan bantuannya, membawanya ke Rumah Sakit Shillong,” ujar Merilda bersimbah air mata. – dia/dari berbagai sumber *T








