1
Suman Khatun tak bisa Berhenti Makan on Mon Sep 07, 2009 2:44 pm
Oleh arixs
Kelainan Suman ini terjadi sejak ia berusia 3 bulan; ia merengek minta makan padahal baru saja selesai diberi makan ibunya. Ketika berusia 2 tahun, beratnya 38 kg. Awalnya, orangtuanya tidak curiga, namun kondisi anaknya makin parah. Sehabis makan di rumah, dia datang ke para tetangga untuk meminta makan lagi. Itu dilakukannya tiap hari sehingga membuat orangtuanya malu. Terlebih lagi berat tubuh anak perempuannya kian tak terkendali. Dalam usianya 5 tahun, beratnya 75 kg. Rata-rata setahun ia mengalami kenaikan berat 15 kg.
Untuk biaya makan Suman, orangtuanya harus menyediakan uang lebih dari 10 dolar AS (Rp 100.000 lebih) untuk membeli 10 kg beras, 5 kg kentang, 2 lusin telur, 6 liter susu. Jumlah uang yang harus disiapkan belum termasuk kalau Suman minta makanan jenis lain. Jika tidak cukup makanan yang disediakan orangtuanya, Suman datang ke para tetangga minta tambahan makan.
“Dia akan menangis membanting-banting tubuhnya kalau permintaan makannya tidak dipenuhi. Dia pernah melempari orangtuanya dengan batu ketika minta makan tetapi tidak diberikan,” ujar seorang tetangga.
Orangtuanya benar-benar kewalahan menghadapi masalah Suman. Apalagi mereka hanyalah keluarga sederhana. Orangtuanya telah mengajak Suman ke dokter di Calcuta, tetapi dokter di sana tak mampu menangani kelainan tersebut dan menyarankan segera membawanya ke dokter spesialis di Delhi atau Mumbai, sebelum terlambat. –dia/ telegraph
BOCAH asal India, Shuman Khatun (5), kini
menjadi anak terberat di dunia. Kini beratnya 75 kg. Kondisi tak normal
ini akibat kelainan di kelenjar bawah otak yang menyebabkan Suman
Khatun tak bisa berhenti makan.
Orangtuanya berusaha memenuhi keinginan anak yang selalu merasa
lapar, namun kini mereka kewalahan karena biaya makan makin lama makin
membengkak. Dokter mengatakan, jika kondisi Suman tak segera ditangani,
akan menyebabkan kematian.
Kelainan Suman ini terjadi sejak ia berusia 3 bulan; ia merengek minta makan padahal baru saja selesai diberi makan ibunya. Ketika berusia 2 tahun, beratnya 38 kg. Awalnya, orangtuanya tidak curiga, namun kondisi anaknya makin parah. Sehabis makan di rumah, dia datang ke para tetangga untuk meminta makan lagi. Itu dilakukannya tiap hari sehingga membuat orangtuanya malu. Terlebih lagi berat tubuh anak perempuannya kian tak terkendali. Dalam usianya 5 tahun, beratnya 75 kg. Rata-rata setahun ia mengalami kenaikan berat 15 kg.
Untuk biaya makan Suman, orangtuanya harus menyediakan uang lebih dari 10 dolar AS (Rp 100.000 lebih) untuk membeli 10 kg beras, 5 kg kentang, 2 lusin telur, 6 liter susu. Jumlah uang yang harus disiapkan belum termasuk kalau Suman minta makanan jenis lain. Jika tidak cukup makanan yang disediakan orangtuanya, Suman datang ke para tetangga minta tambahan makan.
“Dia akan menangis membanting-banting tubuhnya kalau permintaan makannya tidak dipenuhi. Dia pernah melempari orangtuanya dengan batu ketika minta makan tetapi tidak diberikan,” ujar seorang tetangga.
Orangtuanya benar-benar kewalahan menghadapi masalah Suman. Apalagi mereka hanyalah keluarga sederhana. Orangtuanya telah mengajak Suman ke dokter di Calcuta, tetapi dokter di sana tak mampu menangani kelainan tersebut dan menyarankan segera membawanya ke dokter spesialis di Delhi atau Mumbai, sebelum terlambat. –dia/ telegraph







