1
Antropolog: Kebudayaan Bali Harus Dikritik on Mon Oct 05, 2009 11:59 am

Antropolog dari Pulau Dewata, Degung Santikarma, menegaskan, kebudayaan Bali harus dikritik agar tidak mandek dan kemudian menjadi layu.
"Memang harus ada kritik dan orang kita yang mengkritik budayanya sendiri itu bukan tidak cinta Bali. Mereka itu justru memiliki romantisme yang dalam pada Bali," katanya di sela-sela pameran lukisan karya I Gusti Putu Hardana Putra di Pusat Kebudayaan Bali di Denpasar seperti dikutip Antara, Minggu (4/10).
Lelaki yang pernah menjadi dosen antropologi di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat itu mengaku sangat mengapresiasi keberanian Putu Hardana yang akrab disapa Wiss, yang mengkritik kebudayaan Bali lewat karya-karya lukisnya.
Degung berharap agar "teori pembiaran" terhadap kebudayaan di Bali hanya atas nama pengembangan dan pelestarian pariwisata tidak terus terjadi, karena hal itu dapat menjerumuskan masyarakat maupun kebudayaan Bali.
"Teori pembiaran itu harus ada yang mengkritisi karena kalau tidak bisa sangat berbahaya. Semua yang terjadi sekarang ini hanya mempertegas kesan bahwa Bali sekadar sebagai produk jual untuk pariwisata," katanya.
Degung mencontohkan budaya Jawa yang sangat "kenyal" dan lentur sehingga tetap lestari di tengah pertarungan budaya lain. Budaya Jawa pernah mendapatkan benturan keras, khususnya dari pengaruh penjajahan Belanda dan masuknya Islam.
"Coba lihat budaya Jawa yang lentur seperti itu. Hal tersebut terjadi karena ada hantaman. Kebudayaan Bali juga harus bisa seperti itu. Harus ada kritik, walaupun saya yakin penguasa dan kalangan pariwisata tidak suka dengan ini," ucapnya.
Degung mengaku kaget dengan karya yang ditampilkan oleh Wiss yang banyak menyentil mengenai kebudayaan Bali. Namun demikian, dia mengaku bangga dengan keberanian anak muda tersebut dalam mengungkapkan kecintaannya pada Bali.
Degung mengemukakan, sebetulnya budaya Bali sejak awal sudah sangat lentur. Hanya saja ketika pemerintahan begitu dominan, kekuasaan itu tidak nyaman dengan suatu kebudayaan yang lentur karena dianggap mengganggu kekuasan.
Putu Hardana menampilkan karya bertema Turn the TV Off yang berlangsung 3-11 Oktober 2009. Pameran dengan tema tersebut sekaligus merupakan kritik terhadap budaya Bali yang dinilainya sudah mapan dengan mengambil model-model yang sudah dikenal banyak orang, seperti Monalisa.
"Pada lukisan berjudul Tut Ayu Monalisa itu, saya menggambarkan Monalisa yang tangannya saya ganti sedang membuat sesajen atau banten. Saya membayangkan, seandainya Monalisa lahir dan besar di Bali, dia tidak akan bisa tampil sesantai itu," katanya.
Lulusan ISI Denpasar itu mengemukakan bahwa dirinya merasakan bahwa Bali yang digambarkan sebagai tujuan wisata yang indah, eksotik, dan sangat nyaman, sebetulnya menyimpan masalah dalam hal budaya.
"Misalnya saat upacara yang umumnya banyak melibatkan perempuan, sampai membuat kaum perempuan itu sakit saat menyiapkan upacara. Saya melihat ada sesuatu yang tidak bebas dalam masalah ini," kata lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Sukawati itu.
sumber: Kompas







