1
Bhineka Tunggal Ika Dalam Gamelan on Mon Jul 06, 2009 12:49 pm
Sebagai Gong Kebyar Pendamping yang akan muncul bersama Sekaa Gong Kebyar Desa Anturan, Buleleng, Senin (6/7) pk. 20.00 WITA di Ardha Candra, Sanggar LKB Saraswati Bali dari Br. Kutri, Singapadu Tengah, Gianyar, di bawah asuhan I Nyoman Windha mencoba memberikan sesuatu yang baru melalui garapan tabuh kreasi. “Dalam tabuh ini kami berusaha menghindar dari kebiasaan kotekan dan memberi penonjolan pada setiap alat musik yang kami mainkan,” ujar Windha di Press Room PKB XXXI.
Membawa sekitar 40 orang anak dari sangar yang memiliki link dengan Sanggar Saraswati Jakarta di bawah pimpinan I Gusti Kompyang Raka itu, Windha mengaku garapannya kali ini terinspirasi oleh kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk tetapi cenderung mengendorkan kebersamaan. “Kebhinekaan itulah yang menginspirasi saya. Pada setiap kelompok gamelan ada berbagai jenis alat musik yang memiliki bunyi berbeda-beda. Saya mencoba menonjolkan perbedaan-perbedaan itu. Tapi, perbedaan-perbedaan itu kemudian saya satukan dalam sebuah komposisi yang harmonis tanpa mencoba mengurangi peran masing-masing alat musik,” tutur Windha.
Konsep itulah yang membedakan garapannya dengan garapan Gong Kebyar pada umumnya. Biasanya gong kebyar akan membentuk satu melodi dan didukung oleh semua alat musik. Pada garapan berjudul “Tabuh Kreasi Gelar Sanga” ini Windha membuat melodi yang “beda” pada setiap alat musik, sehingga muncullah nuansa kebhinekaan yang kemudian melakukan unity dalam kebersamaan garapan secara menyeluruh.
Yang menjadi pertanyaan, apakah konsep “seberat” itu mampu diterjemahkan oleh anak-anak? “Bisa. Ini tantangan bagi saya. Lagi pula, anak-anak memiliki kemampuan teknis yang luar biasa. Kami hanya memberi pemahaman tentang konsep ini lalu menerjemahkannya dalam tabuh. Tidak terlalu sulit,” kilah Windha.
Windha adalah seorang komponis yang telah melahirkan puluhan tabuh kreasi. Terakhir dia menggarap musik sendratari Bima Suarga yang dipentaskan dalam Pembukaan Pesta Kesenian Bali 11 Juni lalu. Sedangkan kelompok Saraswati Bali telah dua kali mendapat kesempatan tampil di arena PKB.
>Press Room PKB XXXI
Wawancara I Nyoman Windha
(Gong Kebyar Anak-anak LKB Saraswati Bali
Br. Kutri, Singapadu Tengah, Gianyar)
Membawa sekitar 40 orang anak dari sangar yang memiliki link dengan Sanggar Saraswati Jakarta di bawah pimpinan I Gusti Kompyang Raka itu, Windha mengaku garapannya kali ini terinspirasi oleh kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk tetapi cenderung mengendorkan kebersamaan. “Kebhinekaan itulah yang menginspirasi saya. Pada setiap kelompok gamelan ada berbagai jenis alat musik yang memiliki bunyi berbeda-beda. Saya mencoba menonjolkan perbedaan-perbedaan itu. Tapi, perbedaan-perbedaan itu kemudian saya satukan dalam sebuah komposisi yang harmonis tanpa mencoba mengurangi peran masing-masing alat musik,” tutur Windha.
Konsep itulah yang membedakan garapannya dengan garapan Gong Kebyar pada umumnya. Biasanya gong kebyar akan membentuk satu melodi dan didukung oleh semua alat musik. Pada garapan berjudul “Tabuh Kreasi Gelar Sanga” ini Windha membuat melodi yang “beda” pada setiap alat musik, sehingga muncullah nuansa kebhinekaan yang kemudian melakukan unity dalam kebersamaan garapan secara menyeluruh.
Yang menjadi pertanyaan, apakah konsep “seberat” itu mampu diterjemahkan oleh anak-anak? “Bisa. Ini tantangan bagi saya. Lagi pula, anak-anak memiliki kemampuan teknis yang luar biasa. Kami hanya memberi pemahaman tentang konsep ini lalu menerjemahkannya dalam tabuh. Tidak terlalu sulit,” kilah Windha.
Windha adalah seorang komponis yang telah melahirkan puluhan tabuh kreasi. Terakhir dia menggarap musik sendratari Bima Suarga yang dipentaskan dalam Pembukaan Pesta Kesenian Bali 11 Juni lalu. Sedangkan kelompok Saraswati Bali telah dua kali mendapat kesempatan tampil di arena PKB.
>Press Room PKB XXXI
Wawancara I Nyoman Windha
(Gong Kebyar Anak-anak LKB Saraswati Bali
Br. Kutri, Singapadu Tengah, Gianyar)







