1
Misteri Kehilangan Pusaka Bumi on Wed Sep 09, 2009 5:38 pm
Oleh T BACHTIAR
Pengakuan produk budaya Indonesia oleh Malaysia, seperti lagu "Terang Bulan", "Rasa Sayange", "Injit-injit Semut", "Jali-jali", "Soleram", "Anak Kambing Saya", "Kakak Tua", tari pendet, tari piring, tari kuda lumping, reog ponorogo, musik indang sungai garinggiang, keris, gamelan Jawa, badik tumbuk lada, batik parang, kain ulos, tenun ikat sambas, angklung, wayang kulit, rendang, dan beberapa naskah kuno bisa saja semakin panjang bila bangsa Indonesia tidak membuat bermakna semua produk budaya yang tumbuh di masyarakat.
Mengambil analogi dari produk budaya, sesungguhnya lebih parah kehilangan pusaka bumi, baik yang dikirim dengan sengaja ke berbagai negara maupun yang dihilangkan di negeri sendiri.
Betul bahwa Batukuya bukan hasil budaya, melainkan hasil pengerjaan alam ribuan tahun sampai menyerupai bentuk kura-kura. Batukuya kini sudah berada di Korea Selatan karena semua merelakannya pergi.
Lihat bagaimana batu sempur, pohon yang telah membatu dari Sajira, Banten, telah diangkat dan diangkut ke luar negeri. Padahal, Peraturan Menteri Perindustrian tidak mengizinkan penjualannya secara gelondongan. Dengan keadaannya yang masih utuh sebagai pohon, tetapi telah berubah menjadi batu, barang tersebut dikemas dalam kontainer selama bertahun-tahun dan menjadi museum hutan purba di negara-negara tujuan dan didatangi jutaan pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Orang Sajira tidak merasa kehilangan pohon-pohon purba yang tingginya puluhan meter dengan kondisi menakjubkan itu.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tahun ini melarang pengambilan batu merah atau biduri ati ayam dari Cimedang dan tempat lain di Tasikmalaya. Sebelumnya, selama sepuluh tahun lebih, batu jasper merah itu telah dikirim ke berbagai negara dalam bentuk gelondongan seukuran kendaraan Elf. Selama itu masyarakat di Pasirgintung, Cikatolas, Tasikmalaya, tidak merasa telah kehilangan batu jasper merah menakjubkan yang bergelimpangan di Cimedang, sawah, dan halaman rumah itu.
Cekungan Bandung
Di Bandung, apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan alih fungsi hutan alami menjadi hutan produksi, kemudian berubah menjadi kebun sayur di lereng-lereng dengan kemiringan curam di seputar Cekungan Bandung?
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan hanyutnya tanah pucuk (topsoil) yang amat subur dari lereng-lereng curam karena salah kelola lahan? Setiap tahun banjir lumpur selutut di Majalaya, Ciparay, Jelekong, dan sekitarnya sesungguhnya merupakan demonstrasi alam bahwa telah terjadi salah kelola di lereng-lerengnya.
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan hilangnya mata air-air berkurang di mana-mana-karena hutannya beralih fungsi menjadi kebun sayur? Padahal, sebelumnya masyarakat menikmati air yang mengalir teratur sehingga dapat bersawah dengan baik dan memelihara ikan di kolam. Masyarakat menjadi mandiri dalam pangan dan gizi.
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan tercemarnya sungai oleh limbah industri? Merasa kehilangan atau tidak dengan hilangnya hutan alam untuk industri wisata? Merasa kehilangan Peneropongan Bosscha atau tidak dengan pemberian izin pendirian gedung-gedung dan tempat wisata di seputar peneropongan bintang tersebut? Merasa kehilangan Bandung utara atau tidak dengan ditetapkannya Ngamprah sebagai ibu kota Kabupaten Bandung Barat oleh enam perguruan tinggi di Bandung? Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan pusaka bumi di kawasan batu kapur Citatah yang terus dihancurkan?
Inilah yang disebut misteri kehilangan. Disebut misteri karena masyarakat dan pemerintah daerah tidak menyadari mereka telah kehilangan. Bisa saja mereka baru tersadar setelah semua hilang atau sama sekali tidak merasa kehilangan.
Kawasan karst Citatah sudah lama memikat perhatian banyak orang, misalnya olahragawan panjat tebing, TNI, peneliti, bahkan seniman. Pelukis sekaliber Affandi (alm) dan Wahdi Sumanta (alm) pernah sengaja datang ke perbukitan kapur ini. Dengan ekspresif Affandi melukis Gunung Masigit di sana, kemudian lukisannya diberi judul Gunung Kapur Padalarang dengan matahari birunya yang memancar. Wahdi Sumanta melukis Karangpanganten, sedangkan Yus Rusamsi melukis Gunung Manik.
Sementara Sastrawan Ramadhan KH (alm) melukiskan gunung kapur ini seperti dalam puisinya yang berjudul "Tanah Kelahiran 2". Kehancuran kawasan ini dilukiskan dalam puisi Eti RS yang berjudul "Bulan Pasir Pawon". Perbukitan kapur itu merupakan situs budaya yang telah memberikan inspirasi kepada para seniman. Kini keadaannya sudah porak poranda, seperti daerah yang terkena gempuran bom.
Hilang sia-sia
Bila melewati kawasan Citatah, kita akan disuguhi bentang alam yang memikat. Ada Karangpanganten dengan bentuknya yang menonjol runcing. Sumber daya bumi dan budaya di daerah yang diteliti oleh Van Der Pijl tahun 1933 itu kini telah hilang sia-sia. Pasir Bengkung dan Pasir Ketuketu sudah hancur. Padahal, oleh para ahli geologi hal itu dijadikan bukti yang baik untuk merekonstruksi evolusi geomorfologi perbukitan kapur Citatah.
Sebelah barat kompleks Karangpanganten ada Pasir Pawon yang menyimpan sumber daya bumi dan budaya. Itu merupakan potensi yang luar biasa. Bersebelahan dengan Pasir Pawon ada Gunung Masigit. Nasibnya lebih mengenaskan karena sedang digempur dari berbagai sisi. Inilah gunung yang pernah dilukis oleh Affandi dengan ekspresif.
Di sana banyak bukti kehidupan laut purba yang kasatmata dan sangat baik untuk pendidikan. Nama desanya pun diambil dari nama gunung ini, yaitu Desa Gunungmasigit. Lalu, bagaimana bila Gunung Masigit itu telah rata? Di sebelah barat ada Pasir Bancana yang di dalamnya terdapat goa dengan bentuk mengagumkan. Di selatan jalan raya ada Pasir Manik, Pasir Pabeasan, Gunung Hawu, dan sekitarnya yang menyimpan potensi luar biasa dan langka.
Perbukitan batu kapur yang terbentuk 27 juta-25 juta tahun lalu itu kini sedang dihancurkan tanpa zonasi bukit kapur mana yang boleh ditambang dan harus dipertahankan. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi sudah ada. Undang-Undang Cagar Budaya sudah ada. Bahkan payung hukum pengelolaan kawasan karst pun sudah disahkan.
Namun, penghancuran terus berlangsung. Kehilangan pusaka bumi dan budaya dari detik ke detik terus berlangsung tanpa disadari sebagai suatu kehilangan. Inilah misteri kehilangan.
T BACHTIAR Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung
Bachtiar, T
Pengakuan produk budaya Indonesia oleh Malaysia, seperti lagu "Terang Bulan", "Rasa Sayange", "Injit-injit Semut", "Jali-jali", "Soleram", "Anak Kambing Saya", "Kakak Tua", tari pendet, tari piring, tari kuda lumping, reog ponorogo, musik indang sungai garinggiang, keris, gamelan Jawa, badik tumbuk lada, batik parang, kain ulos, tenun ikat sambas, angklung, wayang kulit, rendang, dan beberapa naskah kuno bisa saja semakin panjang bila bangsa Indonesia tidak membuat bermakna semua produk budaya yang tumbuh di masyarakat.
Mengambil analogi dari produk budaya, sesungguhnya lebih parah kehilangan pusaka bumi, baik yang dikirim dengan sengaja ke berbagai negara maupun yang dihilangkan di negeri sendiri.
Betul bahwa Batukuya bukan hasil budaya, melainkan hasil pengerjaan alam ribuan tahun sampai menyerupai bentuk kura-kura. Batukuya kini sudah berada di Korea Selatan karena semua merelakannya pergi.
Lihat bagaimana batu sempur, pohon yang telah membatu dari Sajira, Banten, telah diangkat dan diangkut ke luar negeri. Padahal, Peraturan Menteri Perindustrian tidak mengizinkan penjualannya secara gelondongan. Dengan keadaannya yang masih utuh sebagai pohon, tetapi telah berubah menjadi batu, barang tersebut dikemas dalam kontainer selama bertahun-tahun dan menjadi museum hutan purba di negara-negara tujuan dan didatangi jutaan pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Orang Sajira tidak merasa kehilangan pohon-pohon purba yang tingginya puluhan meter dengan kondisi menakjubkan itu.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tahun ini melarang pengambilan batu merah atau biduri ati ayam dari Cimedang dan tempat lain di Tasikmalaya. Sebelumnya, selama sepuluh tahun lebih, batu jasper merah itu telah dikirim ke berbagai negara dalam bentuk gelondongan seukuran kendaraan Elf. Selama itu masyarakat di Pasirgintung, Cikatolas, Tasikmalaya, tidak merasa telah kehilangan batu jasper merah menakjubkan yang bergelimpangan di Cimedang, sawah, dan halaman rumah itu.
Cekungan Bandung
Di Bandung, apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan alih fungsi hutan alami menjadi hutan produksi, kemudian berubah menjadi kebun sayur di lereng-lereng dengan kemiringan curam di seputar Cekungan Bandung?
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan hanyutnya tanah pucuk (topsoil) yang amat subur dari lereng-lereng curam karena salah kelola lahan? Setiap tahun banjir lumpur selutut di Majalaya, Ciparay, Jelekong, dan sekitarnya sesungguhnya merupakan demonstrasi alam bahwa telah terjadi salah kelola di lereng-lerengnya.
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan hilangnya mata air-air berkurang di mana-mana-karena hutannya beralih fungsi menjadi kebun sayur? Padahal, sebelumnya masyarakat menikmati air yang mengalir teratur sehingga dapat bersawah dengan baik dan memelihara ikan di kolam. Masyarakat menjadi mandiri dalam pangan dan gizi.
Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan dengan tercemarnya sungai oleh limbah industri? Merasa kehilangan atau tidak dengan hilangnya hutan alam untuk industri wisata? Merasa kehilangan Peneropongan Bosscha atau tidak dengan pemberian izin pendirian gedung-gedung dan tempat wisata di seputar peneropongan bintang tersebut? Merasa kehilangan Bandung utara atau tidak dengan ditetapkannya Ngamprah sebagai ibu kota Kabupaten Bandung Barat oleh enam perguruan tinggi di Bandung? Apakah masyarakat dan pemerintah daerah merasa kehilangan pusaka bumi di kawasan batu kapur Citatah yang terus dihancurkan?
Inilah yang disebut misteri kehilangan. Disebut misteri karena masyarakat dan pemerintah daerah tidak menyadari mereka telah kehilangan. Bisa saja mereka baru tersadar setelah semua hilang atau sama sekali tidak merasa kehilangan.
Kawasan karst Citatah sudah lama memikat perhatian banyak orang, misalnya olahragawan panjat tebing, TNI, peneliti, bahkan seniman. Pelukis sekaliber Affandi (alm) dan Wahdi Sumanta (alm) pernah sengaja datang ke perbukitan kapur ini. Dengan ekspresif Affandi melukis Gunung Masigit di sana, kemudian lukisannya diberi judul Gunung Kapur Padalarang dengan matahari birunya yang memancar. Wahdi Sumanta melukis Karangpanganten, sedangkan Yus Rusamsi melukis Gunung Manik.
Sementara Sastrawan Ramadhan KH (alm) melukiskan gunung kapur ini seperti dalam puisinya yang berjudul "Tanah Kelahiran 2". Kehancuran kawasan ini dilukiskan dalam puisi Eti RS yang berjudul "Bulan Pasir Pawon". Perbukitan kapur itu merupakan situs budaya yang telah memberikan inspirasi kepada para seniman. Kini keadaannya sudah porak poranda, seperti daerah yang terkena gempuran bom.
Hilang sia-sia
Bila melewati kawasan Citatah, kita akan disuguhi bentang alam yang memikat. Ada Karangpanganten dengan bentuknya yang menonjol runcing. Sumber daya bumi dan budaya di daerah yang diteliti oleh Van Der Pijl tahun 1933 itu kini telah hilang sia-sia. Pasir Bengkung dan Pasir Ketuketu sudah hancur. Padahal, oleh para ahli geologi hal itu dijadikan bukti yang baik untuk merekonstruksi evolusi geomorfologi perbukitan kapur Citatah.
Sebelah barat kompleks Karangpanganten ada Pasir Pawon yang menyimpan sumber daya bumi dan budaya. Itu merupakan potensi yang luar biasa. Bersebelahan dengan Pasir Pawon ada Gunung Masigit. Nasibnya lebih mengenaskan karena sedang digempur dari berbagai sisi. Inilah gunung yang pernah dilukis oleh Affandi dengan ekspresif.
Di sana banyak bukti kehidupan laut purba yang kasatmata dan sangat baik untuk pendidikan. Nama desanya pun diambil dari nama gunung ini, yaitu Desa Gunungmasigit. Lalu, bagaimana bila Gunung Masigit itu telah rata? Di sebelah barat ada Pasir Bancana yang di dalamnya terdapat goa dengan bentuk mengagumkan. Di selatan jalan raya ada Pasir Manik, Pasir Pabeasan, Gunung Hawu, dan sekitarnya yang menyimpan potensi luar biasa dan langka.
Perbukitan batu kapur yang terbentuk 27 juta-25 juta tahun lalu itu kini sedang dihancurkan tanpa zonasi bukit kapur mana yang boleh ditambang dan harus dipertahankan. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi sudah ada. Undang-Undang Cagar Budaya sudah ada. Bahkan payung hukum pengelolaan kawasan karst pun sudah disahkan.
Namun, penghancuran terus berlangsung. Kehilangan pusaka bumi dan budaya dari detik ke detik terus berlangsung tanpa disadari sebagai suatu kehilangan. Inilah misteri kehilangan.
T BACHTIAR Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung
Bachtiar, T







