1
Situs-situs Sejarah Sepi Narasi on Sat Aug 29, 2009 1:29 pm
Oleh Indra Tranggono
Masuklah ke ceruk-ceruk Daerah Istimewa Yogyakarta, Anda akan mencium aroma sejarah dan budaya melalui banyak situs yang menarik dan menggetarkan. Namun, Anda dipaksa untuk kecewa. Kebanyakan situs tersebut hanya punya nama, tetapi tidak memiliki narasi yang terinci dan lebih mengandalkan budaya lisan yang spekulatif.
Selain itu, kebanyakan situs-situs itu tidak terawat. Kumuh. Kotor. Bahkan, porak-poranda. Di tempat tersebut, sering tertempel tulisan ”Bangunan Bersejarah”, tetapi kita tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang sejarah itu. Orang-orang dipersilakan untuk berimajinasi sendiri. Atau jika beruntung, Anda akan menemukan (sedikit) informasi secara lisan dari penjaga, juru kunci, atau warga sekitar situs itu. Jejak kejayaan Mataram
Masuklah Anda ke Pleret atau Kerta di wilayah Bantul (sekitar 20 km arah selatan dari Yogyakarta). Di dua desa ini pernah berdiri kerajaan besar Mataram Baru pada era Sultan Agung dan dilanjutkan era Amangkurat Agung dan penerus lainnya. Anda akan menemukan sisa-sisa jejak kejayaan yang berupa artefak, seperti fondasi bangunan yang kini terserak di antara rumah-rumah penduduk yang padat.
Di sebuah hamparan tanah di Desa Kauman, Pleret, terdapat sisa- sisa fondasi dan umpak batu besar masjid yang dulu berdiri kokoh pada masa pemerintahan Sultan Agung. Dinas Kebudayaan Provinsi DIY telah menggali dan menandai situs-situs dengan bangunan beratap (cungkup).
Hal sama juga dilakukan di Desa Kedaton, Pleret. Di tempat ini, terdapat fondasi yang dulu menopang takhta Sultan Agung. Mungkin Anda akan mengelus dada. Jejak sejarah Mataram Baru seperti ”mengabur” di situ. Kebesaran kerajaan ini seperti tak punya riwayat, tidak punya narasi-narasi arkeologis. Kita pun lebih sering mendapatkan narasi lisan dari penduduk sekitar. Itu pun hanya sepotong-sepotong.
Masih di wilayah Pleret, Bantul, Anda pun bisa mampir ke Gunungkelir, sebuah kompleks makam yang unik. Di gundukan tanah yang puluhan meter tingginya itu, puluhan nisan tersusun dengan rapi, seperti sap-sap dalam barisan. Menurut juru kuncinya, di situ dikebumikan Ki Dalang Panjang Mas dan istrinya, Nyai Panjang Mas serta seluruh pengrawitnya (penabuh gamelan). Sebuah sumber mengatakan, mereka binasa akibat kekerasan Amangkurat Agung yang berniat memperistri Nyai Panjang Mas, namun gagal. Kekecewaan itu berujung pada pembunuhan.
Jika masih belum lelah, mampirlah ke Goa Selarong, Pajangan, Bantul. Di goa ini Pangeran Diponegoro menyusun siasat untuk berperang melawan kekuasaan kolonial Belanda (1825-1830). Perang ini juga disebut Perang Jawa. Perang terbesar yang membikin Belanda kobol- kobol karena harus mengeluarkan biaya sangat besar.
Namun, seluruh kisah heroisme Pangeran Diponegoro dan pengikutnya itu (kaum santri dan petani) tidak tampil sebagai narasi yang utuh. Sangat menarik, misalnya, jika ada narasi yang mengisahkan apa yang dilakukan Diponegoro di perbukitan yang dulu dipenuhi pohon jambu? Kenapa ia memilih Selarong dan bukan bukit lainnya? Misteri-misteri itu belum terungkap, terutama dalam bentuk narasi tertulis.
Masih banyak situs-situs lain yang terserak di Sleman, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Akan tetapi, ya itu tadi: tidak disertai dengan narasi yang lengkap dan akurat.
Narasi mayor dan minor
Kejayaan peradaban bangsa timbul dan tenggelam. Begitu juga dengan Dinasti Mataram. Kita bisa kembali membacanya kembali melalui buku-buku yang ditulis oleh para ahli, baik para sejarawan dari Indonesia (misalnya G Moedjanto dan lainnya) atau dari Barat (De Graff dan kawan-kawan).
Sejarah tidak hanya memiliki narasi-narasi besar (mayor) yang berkisah tentang tokoh-tokoh dengan seluruh tindakan historisnya. Sejarah, juga mengandung banyak serpihan yang mengandung narasi- narasi kecil (minor) tentang bangunan dengan seluruh pernik- perniknya, kisah-kisah manusia yang terjadi di dalam kemelut persoalan politik, sosial, budaya, dan hal-hal lain yang layak diketahui sebagai referensi bagi generasi demi generasi. Dalam konteks tersebut, situs-situs bersejarah merupakan tanda-tanda yang secara semiotik dan faktual dapat dibaca untuk mengenali sosok sebuah kekuasaan dan tokoh-tokohnya secara komprehensif.
Di titik itu, kita masih harus kecewa karena kita nyaris tindak mendapatkan gambaran yang utuh. Mestinya, Dinas Kebudayaan DIY melakukan pelacakan kembali atas riwayat situs-situs penting di Yogyakarta, baik yang mayor maupun yang minor, dalam bentuk penulisan. Ini bukan hanya berguna bagi pembelajar masyarakat atas sejarah leluhurnya, melainkan juga dapat mendukung dinamika jagat pariwisata.
Sebab, para pelancong asing dan domestik sesungguhnya juga ingin mendapatkan informasi yang dapat memperkaya pengetahuannya atas sebuah situs sejarah, bukan hanya puas melihat situs-situs itu secara fisik. Narasi akan menjadikan situs-situs lebih bermakna karena ia memberikan pengetahuan yang memperkaya cara pandang orang tentang kehidupan.
Kisah-kisah tersebut jangan sampai menguap ditelan kemalasan kita sebagai pewaris nilai-nilai sejarah para leluhur. Mereka telah susah payah membuktikan eksistensi sebagai bangsa yang besar dan berperadaban tinggi.
Kita tidak ingin sebuah situs besar seperti sisa-sisa Kerajaan Mataram, misalnya sekadar ditandai dengan caption pendek dan malas: ”Di sini dulu pernah berdiri Kerajaan Mataram” atau ”Di sini dulu Sultan Agung pernah membangun samudra buatan (segara yasa) untuk melatih berenang prajurit Mataram sebelum menyerbu Batavia”.
Caption pendek semacam itu tidak menggugah emosi dan pikiran, tetapi hanya membuat generasi pewaris terbengong-bengong, jengkel, dan diam-diam bilang, ”Njuk ngapa? Terus kepriye. So what? Capek deh....”
Indra Tranggono Pengamat Kebudayaan Tinggal di Yogyakarta
Tranggono, Indra
Masuklah ke ceruk-ceruk Daerah Istimewa Yogyakarta, Anda akan mencium aroma sejarah dan budaya melalui banyak situs yang menarik dan menggetarkan. Namun, Anda dipaksa untuk kecewa. Kebanyakan situs tersebut hanya punya nama, tetapi tidak memiliki narasi yang terinci dan lebih mengandalkan budaya lisan yang spekulatif.
Selain itu, kebanyakan situs-situs itu tidak terawat. Kumuh. Kotor. Bahkan, porak-poranda. Di tempat tersebut, sering tertempel tulisan ”Bangunan Bersejarah”, tetapi kita tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang sejarah itu. Orang-orang dipersilakan untuk berimajinasi sendiri. Atau jika beruntung, Anda akan menemukan (sedikit) informasi secara lisan dari penjaga, juru kunci, atau warga sekitar situs itu. Jejak kejayaan Mataram
Masuklah Anda ke Pleret atau Kerta di wilayah Bantul (sekitar 20 km arah selatan dari Yogyakarta). Di dua desa ini pernah berdiri kerajaan besar Mataram Baru pada era Sultan Agung dan dilanjutkan era Amangkurat Agung dan penerus lainnya. Anda akan menemukan sisa-sisa jejak kejayaan yang berupa artefak, seperti fondasi bangunan yang kini terserak di antara rumah-rumah penduduk yang padat.
Di sebuah hamparan tanah di Desa Kauman, Pleret, terdapat sisa- sisa fondasi dan umpak batu besar masjid yang dulu berdiri kokoh pada masa pemerintahan Sultan Agung. Dinas Kebudayaan Provinsi DIY telah menggali dan menandai situs-situs dengan bangunan beratap (cungkup).
Hal sama juga dilakukan di Desa Kedaton, Pleret. Di tempat ini, terdapat fondasi yang dulu menopang takhta Sultan Agung. Mungkin Anda akan mengelus dada. Jejak sejarah Mataram Baru seperti ”mengabur” di situ. Kebesaran kerajaan ini seperti tak punya riwayat, tidak punya narasi-narasi arkeologis. Kita pun lebih sering mendapatkan narasi lisan dari penduduk sekitar. Itu pun hanya sepotong-sepotong.
Masih di wilayah Pleret, Bantul, Anda pun bisa mampir ke Gunungkelir, sebuah kompleks makam yang unik. Di gundukan tanah yang puluhan meter tingginya itu, puluhan nisan tersusun dengan rapi, seperti sap-sap dalam barisan. Menurut juru kuncinya, di situ dikebumikan Ki Dalang Panjang Mas dan istrinya, Nyai Panjang Mas serta seluruh pengrawitnya (penabuh gamelan). Sebuah sumber mengatakan, mereka binasa akibat kekerasan Amangkurat Agung yang berniat memperistri Nyai Panjang Mas, namun gagal. Kekecewaan itu berujung pada pembunuhan.
Jika masih belum lelah, mampirlah ke Goa Selarong, Pajangan, Bantul. Di goa ini Pangeran Diponegoro menyusun siasat untuk berperang melawan kekuasaan kolonial Belanda (1825-1830). Perang ini juga disebut Perang Jawa. Perang terbesar yang membikin Belanda kobol- kobol karena harus mengeluarkan biaya sangat besar.
Namun, seluruh kisah heroisme Pangeran Diponegoro dan pengikutnya itu (kaum santri dan petani) tidak tampil sebagai narasi yang utuh. Sangat menarik, misalnya, jika ada narasi yang mengisahkan apa yang dilakukan Diponegoro di perbukitan yang dulu dipenuhi pohon jambu? Kenapa ia memilih Selarong dan bukan bukit lainnya? Misteri-misteri itu belum terungkap, terutama dalam bentuk narasi tertulis.
Masih banyak situs-situs lain yang terserak di Sleman, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Akan tetapi, ya itu tadi: tidak disertai dengan narasi yang lengkap dan akurat.
Narasi mayor dan minor
Kejayaan peradaban bangsa timbul dan tenggelam. Begitu juga dengan Dinasti Mataram. Kita bisa kembali membacanya kembali melalui buku-buku yang ditulis oleh para ahli, baik para sejarawan dari Indonesia (misalnya G Moedjanto dan lainnya) atau dari Barat (De Graff dan kawan-kawan).
Sejarah tidak hanya memiliki narasi-narasi besar (mayor) yang berkisah tentang tokoh-tokoh dengan seluruh tindakan historisnya. Sejarah, juga mengandung banyak serpihan yang mengandung narasi- narasi kecil (minor) tentang bangunan dengan seluruh pernik- perniknya, kisah-kisah manusia yang terjadi di dalam kemelut persoalan politik, sosial, budaya, dan hal-hal lain yang layak diketahui sebagai referensi bagi generasi demi generasi. Dalam konteks tersebut, situs-situs bersejarah merupakan tanda-tanda yang secara semiotik dan faktual dapat dibaca untuk mengenali sosok sebuah kekuasaan dan tokoh-tokohnya secara komprehensif.
Di titik itu, kita masih harus kecewa karena kita nyaris tindak mendapatkan gambaran yang utuh. Mestinya, Dinas Kebudayaan DIY melakukan pelacakan kembali atas riwayat situs-situs penting di Yogyakarta, baik yang mayor maupun yang minor, dalam bentuk penulisan. Ini bukan hanya berguna bagi pembelajar masyarakat atas sejarah leluhurnya, melainkan juga dapat mendukung dinamika jagat pariwisata.
Sebab, para pelancong asing dan domestik sesungguhnya juga ingin mendapatkan informasi yang dapat memperkaya pengetahuannya atas sebuah situs sejarah, bukan hanya puas melihat situs-situs itu secara fisik. Narasi akan menjadikan situs-situs lebih bermakna karena ia memberikan pengetahuan yang memperkaya cara pandang orang tentang kehidupan.
Kisah-kisah tersebut jangan sampai menguap ditelan kemalasan kita sebagai pewaris nilai-nilai sejarah para leluhur. Mereka telah susah payah membuktikan eksistensi sebagai bangsa yang besar dan berperadaban tinggi.
Kita tidak ingin sebuah situs besar seperti sisa-sisa Kerajaan Mataram, misalnya sekadar ditandai dengan caption pendek dan malas: ”Di sini dulu pernah berdiri Kerajaan Mataram” atau ”Di sini dulu Sultan Agung pernah membangun samudra buatan (segara yasa) untuk melatih berenang prajurit Mataram sebelum menyerbu Batavia”.
Caption pendek semacam itu tidak menggugah emosi dan pikiran, tetapi hanya membuat generasi pewaris terbengong-bengong, jengkel, dan diam-diam bilang, ”Njuk ngapa? Terus kepriye. So what? Capek deh....”
Indra Tranggono Pengamat Kebudayaan Tinggal di Yogyakarta
Tranggono, Indra







