BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Tari Joged Ekspresi Estetik Menjunjung Etik on Fri Jul 31, 2009 4:51 pm

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
GELINJANG tari Joged Bumbung tak pernah henti menggoyang masyarakat Bali. Simaklah heboh pementasannya di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Pergelaran tari pergaulan ala muda-mudi Bali ini dalam pesta seni selalu mengundang antusiasisme penonton.


Demikian pula dalam PKB ke-31 tahun 2009 ini seperti terlihat Selasa (18/6) siang. Satu jam sebelum pertunjukan dimulai penonton tua dan muda sudah menyesaki tempat pergelaran tari itu, Kalangan Ayodia, di pojok utara Taman Budaya Denpasar.
Seka Joged Bumbung Sanggar Kipas Kuta, Kabupaten Badung, mengawali penampilan genre tari ini. Dalam PKB tahun ini, juga akan tampil Joged Bumbung Sanggar Tresna Asih, Kabupaten Bangli, Joged Bumbung Winangun Semara, Kabupaten Jembrana, Joged Bumbung Dharma Kanti, Kabupaten Tabanan, dan Joged Bumbung Dharma Putra, Kota Denpasar. Dapat dipastikan seluruh pergelaran seni pertunjukan yang merakyat ini akan senantiasa diserbu penggemarnya.

Sejak dulu tari Joged sangat digandrungi dan begitu merakyat di Bali. Riuh dan semarak dengan sorak-sorai adalah suasana yang menjadi ciri pertunjukan Joged. Pada zaman kerajaan Bali, kesenian Joged dikuasai raja dan kaum bangsawan. Bahkan diduga kuat antara Joged dan perseliran memunyai interaksi sangat erat. Joged Pingitan, misalnya, sebutan Joged yang dipingit raja. Joged milik kaum bangsawan ini harus setia dan siap mengabdi serta menaati segala perintah raja. Begitu pula jika raja ingin menyenangkan tamu-tamunya, dengan suka cita akan menghidangkan para penari Joged kesayangannya.

Menjadi penari Joged milik istana saat itu merupakan kebanggaan tiada taranya. Di samping menjadi kebanggaan keluarga, juga menjadi idola masyarakat. Seorang penari Joged koleksi raja, selain kehidupannya dan keluarganya terjamin juga mendapat hadiah sawah. Hadiah-hadiah dan sawah yang diterimanya inilah kemudian menjadi tumpuan hidup para penari jika sudah tak terpakai lagi atau sudah tua dan kembali ke desanya masing-masing.

Jika Joged istana disebut Joged Pingitan, di luar istana berkembang jenis Joged yang serupa seperti Leko, Adar, Gudegan, Tongkohan. Joged-joged yang dianggap derajatnya lebih rendah dari Joged Pingitan ini dikembangkan para mantan penari Joged istana yang sudah diafkir. Penampilan Joged ini lebih vulgar seperti yang disaksikan peneliti Belanda, Van Eck (1883), yang merasa amat geli menyaksikan para penari Joged sehabis menari dipangku pengibing-nya, dielus dan diciumi beramai-ramai beberapa pria muda dan tua.

Dari sekian Joged itu, yang hingga kini tetap eksis adalah Joged Bumbung. Disebut demikian karena tari ini diiringi gamelan yang terbuat dari tabung-tabung bambu atau bumbung. Joged Bumbung tersebar hampir merata di seluruh Bali. Namun, yang menarik masing-masing memiliki ciri-ciri khas. Ada yang agak vulgar, ada yang setengah norak, ada pula yang malu-malu, bahkan ada yang disakralkan.

Tontonan Joged bersifat partisipatif. Aktivitas atau antusiasisme tinggi diperlihatkan penonton kaum pria. Tetapi, dalam kegembiraan yang meluap, tak jarang pementasan tari ini menjadi kisruh. Misalnya, jika seorang penari Joged harus berhadapan dengan pengibing brutal yang tak peduli pada kesopanan. Pengibing seperti ini suka main seruduk, rogoh sana rogoh sini. Memang, tiap penari Joged berbekal kiat-kiat menghindari tangan-tangan yang bergerilya seperti itu. Tetapi, jika tangan-tangan kasar itu sudah dikuasai nafsu berahi yang sangar, tentu agak sulit menangkalnya. Sering seorang penari Joged menangis tersedu jika mendapat perlakuan yang tak senonoh.

Sejatinya, secara etno-estetik, tari Joged adalah ekspresi seni yang patut diapresiasi. Tetapi, karena kini tidak sedikit penari Joged yang mengumbar porsi pornonya begitu murahan, menjungkirkan tontonan ini menjadi seni bercitra rendahan. Ironisnya, kendati secara moralitas dan religio-estetik dilecehkan, kenyataannya Joged yang tampil dengan menu utama goyang pornonya malahan kini sedang murah rezeki. Cercaan sebagian masyarakat justru kian membuat Joged porno itu kian melambung laris. Tiada pentas tanpa bergelinjang porno.

Seni pertunjukan Joged yang tampil dengan bumbu goyang yang dituding erotis itu agaknya serba salah, bak berhadapan dengan buah simalakama. Berani hadir erotis, berarti laris, namun di sisi lain dicerca sebagian masyarakat. Sebaliknya, tidak mau pentas erotis, berarti diamini dan tidak mengundang respons negatif sebagian masyarakat, namun di sisi lain sama artinya dengan ditinggalkan penonton. Semua ini, jika dimaknai, cermin benturan-benturan, tawar-menawar, dan tarik-ulur nilai-nilai yang sedang bergoyang di tengah masyarakat kekinian. Tari Joged adalah salah satu representasi kegamangan itu.

Masyarakat dan para pecinta kesenian Bali tentu tak ingin Joged terpuruk menjadi seni rendahan bahkan bercitra negatif. Kita tentunya tak ingin kesenian ini menjadi semacam wadah pengesahan pelecehan kaum hawa. Dulu, saat kaum feodal berkuasa, ketika kedudukan kaum wanita dianggap rendah, kesenian sejenis Joged memang hanya menjadi hiburan kaum pria.

Tetapi, kini zaman sudah lain. Harkat wanita sudah ditempatkan secara wajar. PKB rupanya mencoba mengembalikan citra seni pertunjukan Joged sebagai ekspresi estetik yang menjunjung etik seperti yang tersaji dalam pementasan Grup Joged Bumbung Sanggar Kipas Kuta, Badung, itu.
• Kadek Suartaya

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum