1
The Amazing Bedoyo-Legong : CALONARANG on Sat Jul 04, 2009 2:49 pm
oleh Padneswara, Jakarta
Penata Tari: Retno Maruti & Bulantrisna Djelantik
Penata Musik: Lukas Danaswara & I Gst Kompyang Raka
Penata Artistik: Sentot Sudiarto
Menggabungkan Dua Kubu Kesenian
Dua penari terkenal Indonesia, Retno Maruti dan Ayu Bulantrisna
Djelantik menggarap sebuah karya berjudul Calonarang. Garapan ini
memadukan tari bedoyo yang lemah gemulai dengan gamelan Jawa dan tari
legong yang energik dengan gamelan gong kebyar Bali. Keduanya merupakan
bentuk tari klasik keraton/puri.
Retno Maruti dengan tari Bedoyo-nya memerankan Mpu Baradah dan
Bulantrisna Djelantik dengan tari Legongnya memerankan Calonarang.
Garapan ini menarik karena mempertemukan dua kubu kesenian yang
memiliki karakter yang sangat berbeda. Menurut Sentot Sudiarto, penata
artistik Bedoyo-Legong Calonarang ini, untuk menemukan titik temu
gamelannya saja diperlukan waktu sekitar tiga bulan. ”Yang terpenting,
ternyata dua kutub kesenian ini masih bisa disatukan walaupun tidak
mudah,” tandas Sentot yang juga suami Retno Maruti. Menurut Sentot,
Lukas Danaswara yang menggarap gamelan Jawa dan I Gusti Kompyang Raka
yang menggubah gamelan Bali berusaha keras agar penggabungan itu tidak
terkesan hanya menjadi tempelan.
Cerita di balik upaya mempertemukan dua kutub kesenian berbeda ini
bermula dari persahabatan Bulantrisna Djelantik dengan Retno Maruti.
Terakhir mereka bertemu secara akrab di sekitar tahn 1970-an. Sesudah
itu mereka terpisah. Barulah pada tahun 2006 mereka kembali baku
telepon, saling bercerita, dan akhirnya sepakat melakukan ”sesuatu”.
Mereka sepakat membuat garapan tari yang menggabungkan unsur Bali dan
Jawa. Mereka pun memilih menggabungkan tari bedoyo yang lemah gemulai
dengan legong yang dinamis. “Jangan tanggung-tanggung, penggabungan ini
harus total, termasuk gamelannya,” saran Sentot setelah mendengar
rencana itu. Mereka pun meminta Lukas Danaswara untuk menggarap gamelan
Jawa, sedangkan gamelan Bali dikerjakan I Gusti Kompyang Raka.
Mereka mencoba bertemu dan menyatukan konsep. Enam bulan mereka
berlatih, kemudian mementaskan garapan ini di Jakarta dan Singapura.
“Kemudian mereka kembali bersekongkol untuk memberikan apresiasi juga
terhadap masyarakat Bali,” tutur Sentot.
Dalam pandangan Sentot, dua kutub kesenian ini ternyata masih bisa
disatukan walaupun tidak mudah. “Ini seperti menyatukan musik rock
dengan keroncong. Lukas dan Kompyang berusaha keras untuk menyatukan
kedua musik ini sehingga ketika ada peralihan antara gending Jawa dan
Bali atau sebaliknya, orang tidak merasa apa ini perubahan itu. Saya
terus memberi masukan kepada mereka sampai orang benar-benar merasakan
bersatunya bedoyo dan legong. Di situ kelebihan mereka,” tambah Sentot
di Press Room PKB XXXI, Jumat (3/7) siang, sebelum berlatih di Wantilan
ISI Denpasar.
Bedoyo – Legong mengambil cerita Calonarang. “Walaupun masing-masing
mempertahankan pakaian masing-masing, tetapi ketika kita menyaksikan
pementasan ini kita tidak sadar lagi ini Bali atau Jawa. Di sini bedoyo
dan legong tidak terfragmentasi adegan per adegan. Keduanya mengalir
dan menyatu,” ujar Sentot lagi. Penari kondang itu memberi contoh,
ketika ada tembang Jawa, penari Bali juga ikut menari. Begitu juga
sebaliknya. Tapi, yang menarik, mereka tetap menarikan tarian
masing-masing. Yang Bali tetap menari Bali kendati gendingnya Jawa.
Begitu juga sebaliknya.
Sentot mengakui, garapan seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang
cukup tinggi. “Yang paling terasa adalah ketika menggabungkan gamelan
Jawa dan Bali. Tadinya patah. Saya bilang, pasti bisa. Anda sebagai
komposer pasti bisa menemukan. Mereka coba lagi, coba lagi, selama tiga
bulan, akhirnya bisa. Total proses penciptaannya itu sekitar enam
bulan,” tandas Sentot. “Dengan garapan ini kita bisa membuktikan bahwa
kedua kutub kesenian ini (Bali dan Jawa) ternyata bisa menyatu. Tidak
ada kesulitan untuk menyatukannya. Saya kira tidak hanya Jawa dan Bali.
Saya pikir kita juga bisa menyatukan berbagai kesenian dari berbagai
daerah di Indonesia. Ini merupakan area baru. Saya merasakan sesuatu
yang tidak biasa. Ada pencapaian baru,” tambah Sentot. “Selalu ada
sesuatu yang bisa digali. Kesenian ini sangat elstis,” katanya.
Press Room PKB
Penata Tari: Retno Maruti & Bulantrisna Djelantik
Penata Musik: Lukas Danaswara & I Gst Kompyang Raka
Penata Artistik: Sentot Sudiarto
Menggabungkan Dua Kubu Kesenian
Dua penari terkenal Indonesia, Retno Maruti dan Ayu Bulantrisna
Djelantik menggarap sebuah karya berjudul Calonarang. Garapan ini
memadukan tari bedoyo yang lemah gemulai dengan gamelan Jawa dan tari
legong yang energik dengan gamelan gong kebyar Bali. Keduanya merupakan
bentuk tari klasik keraton/puri.
Retno Maruti dengan tari Bedoyo-nya memerankan Mpu Baradah dan
Bulantrisna Djelantik dengan tari Legongnya memerankan Calonarang.
Garapan ini menarik karena mempertemukan dua kubu kesenian yang
memiliki karakter yang sangat berbeda. Menurut Sentot Sudiarto, penata
artistik Bedoyo-Legong Calonarang ini, untuk menemukan titik temu
gamelannya saja diperlukan waktu sekitar tiga bulan. ”Yang terpenting,
ternyata dua kutub kesenian ini masih bisa disatukan walaupun tidak
mudah,” tandas Sentot yang juga suami Retno Maruti. Menurut Sentot,
Lukas Danaswara yang menggarap gamelan Jawa dan I Gusti Kompyang Raka
yang menggubah gamelan Bali berusaha keras agar penggabungan itu tidak
terkesan hanya menjadi tempelan.
Cerita di balik upaya mempertemukan dua kutub kesenian berbeda ini
bermula dari persahabatan Bulantrisna Djelantik dengan Retno Maruti.
Terakhir mereka bertemu secara akrab di sekitar tahn 1970-an. Sesudah
itu mereka terpisah. Barulah pada tahun 2006 mereka kembali baku
telepon, saling bercerita, dan akhirnya sepakat melakukan ”sesuatu”.
Mereka sepakat membuat garapan tari yang menggabungkan unsur Bali dan
Jawa. Mereka pun memilih menggabungkan tari bedoyo yang lemah gemulai
dengan legong yang dinamis. “Jangan tanggung-tanggung, penggabungan ini
harus total, termasuk gamelannya,” saran Sentot setelah mendengar
rencana itu. Mereka pun meminta Lukas Danaswara untuk menggarap gamelan
Jawa, sedangkan gamelan Bali dikerjakan I Gusti Kompyang Raka.
Mereka mencoba bertemu dan menyatukan konsep. Enam bulan mereka
berlatih, kemudian mementaskan garapan ini di Jakarta dan Singapura.
“Kemudian mereka kembali bersekongkol untuk memberikan apresiasi juga
terhadap masyarakat Bali,” tutur Sentot.
Dalam pandangan Sentot, dua kutub kesenian ini ternyata masih bisa
disatukan walaupun tidak mudah. “Ini seperti menyatukan musik rock
dengan keroncong. Lukas dan Kompyang berusaha keras untuk menyatukan
kedua musik ini sehingga ketika ada peralihan antara gending Jawa dan
Bali atau sebaliknya, orang tidak merasa apa ini perubahan itu. Saya
terus memberi masukan kepada mereka sampai orang benar-benar merasakan
bersatunya bedoyo dan legong. Di situ kelebihan mereka,” tambah Sentot
di Press Room PKB XXXI, Jumat (3/7) siang, sebelum berlatih di Wantilan
ISI Denpasar.
Bedoyo – Legong mengambil cerita Calonarang. “Walaupun masing-masing
mempertahankan pakaian masing-masing, tetapi ketika kita menyaksikan
pementasan ini kita tidak sadar lagi ini Bali atau Jawa. Di sini bedoyo
dan legong tidak terfragmentasi adegan per adegan. Keduanya mengalir
dan menyatu,” ujar Sentot lagi. Penari kondang itu memberi contoh,
ketika ada tembang Jawa, penari Bali juga ikut menari. Begitu juga
sebaliknya. Tapi, yang menarik, mereka tetap menarikan tarian
masing-masing. Yang Bali tetap menari Bali kendati gendingnya Jawa.
Begitu juga sebaliknya.
Sentot mengakui, garapan seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang
cukup tinggi. “Yang paling terasa adalah ketika menggabungkan gamelan
Jawa dan Bali. Tadinya patah. Saya bilang, pasti bisa. Anda sebagai
komposer pasti bisa menemukan. Mereka coba lagi, coba lagi, selama tiga
bulan, akhirnya bisa. Total proses penciptaannya itu sekitar enam
bulan,” tandas Sentot. “Dengan garapan ini kita bisa membuktikan bahwa
kedua kutub kesenian ini (Bali dan Jawa) ternyata bisa menyatu. Tidak
ada kesulitan untuk menyatukannya. Saya kira tidak hanya Jawa dan Bali.
Saya pikir kita juga bisa menyatukan berbagai kesenian dari berbagai
daerah di Indonesia. Ini merupakan area baru. Saya merasakan sesuatu
yang tidak biasa. Ada pencapaian baru,” tambah Sentot. “Selalu ada
sesuatu yang bisa digali. Kesenian ini sangat elstis,” katanya.
Press Room PKB







