1
Di Tabanan, Abrasi 7,5 Km on Wed Jun 03, 2009 2:42 pm
Terparah di Pantai Kelating
Abrasi terus terjadi di pantai Tabanan yang menyebabkan tergerusnya daratan. Sayang, sebagian dari abrasi itu belum tertangani hingga kondisinya semakin parah. Seperti terjadi di Pantai Kelating, Kerambitan, abrasi yang telah terjadi sejak tahun 1960 ini terus menggerus daratan. Hingga sekarang, abrasi semakin melebar dan belum ada penanganan.
Selain abrasi, Pantai Kelating yang kini telah berdiri vila megah Alila juga terlihat jorok dan penuh sampah. Menurut penuturan sejumlah warga, sejak beberapa tahun belakangan, pantai itu mengalami abrasi hingga sekitar 200 meter. Salah satu pelinggih yang dulunya aman, kini telah berada di bibir tebing yang dikhawatirkan ombak besar membuatnya tergerus. Bahkan, banyak warga yang hingga kini masih mengantongi sertifikat, tetapi tanah miliknya sudah tidak ada alias menjadi pantai. Kondisi itu terus terjadi sehingga membuat banyak pihak khawatir penggerusan akan semakin mengganas. 'Memang banyak tanah warga yang sudah hilang dan kini tinggal sertifikatnya saja,' ujar mantan Perbekel Kelating.
Dari data Kantor Lingkungan Hidup, Tabanan memiliki panjang pantai 26 km, terjadi abrasi sepanjang 7,5 km. Dari sepanjang itu, 3,435 km belum tertangani termasuk di Pantai Kelating. Diakui Kepala Kantor Lingkungan Hidup Ir. A.A. Ngr. Raka Icwara, Selasa (2/6) kemarin, abrasi terparah untuk saat ini memang terjadi di Kelating. Walau dengan kondisi parah, sayangnya di Kantor Lingkungan Hidup tidak ada dana untuk penanganan abrasi. Dikatakan Raka, tahun ini, sesuai petunjuk pusat, dana yang ada digunakan untuk penguatan laboratorium.
Dikatakan Raka, pihaknya memang belum menangani abrasi. Karena baru sebatas melakukan pendataan. Selama ini, kata dia, justru Dinas Perikanan yang telah bekerja banyak untuk hal tersebut, selain pendanaan dari negara yang bekerja sama dengan kelompok nelayan. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan berbagai upaya untuk penyelamatan lingkungan. 'Walau kenyataannya di lapangan terjadi abrasi yang cukup mengkhawatikan, namun belum ada alokasi dana untuk itu.' (kmb14) *bp
Abrasi terus terjadi di pantai Tabanan yang menyebabkan tergerusnya daratan. Sayang, sebagian dari abrasi itu belum tertangani hingga kondisinya semakin parah. Seperti terjadi di Pantai Kelating, Kerambitan, abrasi yang telah terjadi sejak tahun 1960 ini terus menggerus daratan. Hingga sekarang, abrasi semakin melebar dan belum ada penanganan.
Selain abrasi, Pantai Kelating yang kini telah berdiri vila megah Alila juga terlihat jorok dan penuh sampah. Menurut penuturan sejumlah warga, sejak beberapa tahun belakangan, pantai itu mengalami abrasi hingga sekitar 200 meter. Salah satu pelinggih yang dulunya aman, kini telah berada di bibir tebing yang dikhawatirkan ombak besar membuatnya tergerus. Bahkan, banyak warga yang hingga kini masih mengantongi sertifikat, tetapi tanah miliknya sudah tidak ada alias menjadi pantai. Kondisi itu terus terjadi sehingga membuat banyak pihak khawatir penggerusan akan semakin mengganas. 'Memang banyak tanah warga yang sudah hilang dan kini tinggal sertifikatnya saja,' ujar mantan Perbekel Kelating.
Dari data Kantor Lingkungan Hidup, Tabanan memiliki panjang pantai 26 km, terjadi abrasi sepanjang 7,5 km. Dari sepanjang itu, 3,435 km belum tertangani termasuk di Pantai Kelating. Diakui Kepala Kantor Lingkungan Hidup Ir. A.A. Ngr. Raka Icwara, Selasa (2/6) kemarin, abrasi terparah untuk saat ini memang terjadi di Kelating. Walau dengan kondisi parah, sayangnya di Kantor Lingkungan Hidup tidak ada dana untuk penanganan abrasi. Dikatakan Raka, tahun ini, sesuai petunjuk pusat, dana yang ada digunakan untuk penguatan laboratorium.
Dikatakan Raka, pihaknya memang belum menangani abrasi. Karena baru sebatas melakukan pendataan. Selama ini, kata dia, justru Dinas Perikanan yang telah bekerja banyak untuk hal tersebut, selain pendanaan dari negara yang bekerja sama dengan kelompok nelayan. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan berbagai upaya untuk penyelamatan lingkungan. 'Walau kenyataannya di lapangan terjadi abrasi yang cukup mengkhawatikan, namun belum ada alokasi dana untuk itu.' (kmb14) *bp








