1
Lumbung Beras yang Carut-Marut on Wed Aug 06, 2008 9:27 am
![]() Satu-satunya kabupaten di Bali yang mendapatkan julukan lumbung beras adalah Kabupaten Tabanan. Sejak dulu, Tabanan menjadi pemasok beras terbesar di Bali sekaligus menjadi tolok ukur ketahanan pangan bagi Bali. Namun, kini seiring dengan menyusutnya lahan pertanian, kehidupan masyarakat petani juga makin terpuruk. Dunia pertanian makin ditinggalkan oleh generasi muda. Ancaman makin berkurangnya debit air dan mahalnya sarana produksi pertanian juga menjadi ketakutan tersendiri bagi petani. DUNIA pertanian yang tidak menjanjikan karena tidak adanya proteksi pemerintah terhadap petani menjadi penyebab enggannya generasi muda untuk bertani. Gempuran berbagai persoalan membuat petani semakin terjepit. Serangan hama tikus terhadap ratusan hektar sawah yang menyebabkan gagal panen di Penebel, Marga dan Tabanan membuat petani makin linglung. Demikian pula, kekeringan yang makin mengganas pada berbagai subak di Selemadeg Timur menambah beban penderitaan bagi petani. Ratusan hektar sawah di Subak Aseman dan Pupuan Luwah serta beberapa subak lainnya terlihat makin mengering. Bahkan, padi yang sudah telanjur ditanam harus tak bisa hidup karena kekeringan. Pembangunan Embung Telaga Tunjung ternyata tak mampu mengatasi kekeringan. Demikian pula menyediaan dana LUEP Rp 6,5 milyar tak berpengaruh banyak. Bahkan, berbagai persoalan pertanian tetap tidak terpecahkan. Dana LUEP yang digembar-gemborkan untuk membeli gabah petani ternyata turun setelah panen raya berakhir. Turunnya harga gabah setelah panen raya, tingginya harga pupuk dan saprodi serta rendahnya kepemilikan lahan, menjadi persoalan yang sulit dipecahkan. Dari data sensus hasil pertanian yang dilakukan Statistik Tabanan, dalam dua puluh tahun terakhir, luas lahan yang dikuasai rumah tangga pertanian pengguna lahan makin berkurang. Tahun 1983 sebesar 54.246,07 hektar, menurun menjadi 47.602,06 hektar tahun 1993 dan sepuluh tahun kemudian yakni tahun 2003 turun menjadi 45.835,14 hektar. Demikian pula dalam dua puluh tahun belakangan yakni periode 1983 hingga 2003, kepemilikan lahan pertanian makin menurun. Tahun 1983 rata-rata petani memiliki lahan sebesar 1 hektar. Tahun 1993 berkurang menjadi 0,82 hektar dan tahun 2003 berkurang menjadi 0,73 hektar. Sebaliknya untuk rumah tangga petani gurem atau petani yang menggarap lahan pertanian kurang dari setengah hektar makin meningkat. Untuk saat ini, kepemilikan lahan petani rata-rata 0,5 hektar. Rumah tangga petani gurem tahun 1983 berjumlah 19.126 rumah tangga, sepuluh tahun kemudian yakni pada tahun 1993 meningkat tajam menjadi 24.806 rumah tangga dan terjadi peningkatan drastis tahun 2003 menjadi 29.530 rumah tangga. Secara persentase, data tersebut mengalami peningkatan yang cukup tinggi, dengan pertambahan persentase dari 35,35 persen tahun 1983 menjadi 42,91 persen tahun 1993 dan 46,83 tahun 2003. Empat kecamatan memiliki persentase petani gurem terbanyak yakni Kediri 71,56 persen, Marga 69,93 persen, menyusul Tabanan dan Kerambitan dengan angka masing-masing 69,27 persen dan 64,56 persen. Turunya produksi beras di Tabanan dipengaruhi berbagai faktor seperti kekeringan dan serangan hama. Alih fungsi lahan juga menjadi sorotan tersendiri. Ketika berkembangnya pariwisata di Bali, Tabanan mendapat gempuran hebat sejak tahun 1990-an. Dengan alasan akan membangun fasilitas pariwisata, investor mengkapling ratusan hektar sawah terutama di daerah pesisir yang hingga sekarang masih ditelantarkan. Setiap tahun terjadi konversi lahan sekitar 400-600 hektar. Tahun 2008 luas baku sawah tersisa hanya 22.413 hektar. Namun di balik fakta itu, ternyata Dinas Pertanian Tanaman Pangan Tabanan melaporkan data yang banyak diragukan. Misalnya tahun 2005 Tabanan mencapai surplus beras 38.025 ton, tahun 2004 surplus 60.305 ton. Sementara tahun 2006 dilaporkan terdapat surplus beras 52.080 ton dan tahun 2007 menurun menjadi 38.936 ton. 'Mengembangnya' Ranperda Tata Ruang Tabanan juga menjadi andil bagi semakin menipisnya lahan pertanian. Investor seolah seenaknya dapat mengambil lahan untuk pembangunan fasilitas pariwisata maupun industri. Bupati Tabanan N Adi Wiryatama dalam beberapa kesempatan menyatakan mempertahankan predikat lumbung beras adalah hal yang berat. Alih fungsi lahan, katanya, sangat sulit untuk dibendung, sehingga pelanggaran terhadap jalur hijau juga sulit untuk dihindari. Padahal, Tabanan memiliki program prestisius menjadi Kota Agro tahun 2010, Tabanan Sejahtera 2025 berbasis pertanian. (kmb14) |







