1
Sepasang Tikus Menjadi 926 dalam Lima Bulan on Fri Aug 08, 2008 8:09 pm
| Hama tikus bisa muncul tiba-tiba dan merusak tanaman padi serta tanaman lain dalam waktu singkat. Mengapa demikian? Oleh karena tikus berkembang biak tidak tergantung kepada musim, tetapi berdasarkan persediaan bahan makanan. Kalau dalam suatu lahan/hamparan tersedia cukup makanan yang diperlukan dan berkesinambungan, maka tikus dapat beranak sampai lima kali. Tikus betina mulai bunting setelah berumur sekitar 35 hari dengan masa bunting sekitar 3-4 minggu. Lalu bunting lagi seminggu setelah melahirkan. Tiap kali dilahirkan rata-rata 12 ekor yang pada umumnya 6 jantan dan 6 betina. Sepasang tikus misalnya beranak mulai 1 April 12 ekor, maka 5 Mei lahir lagi 12 ekor, 10 Juni 12 ekor, 15 Juli 12 ekor dan 20 Agustus 12 ekor, jumlah 60 ekor (dari generasi I). Kemudian 6 betina yang lahir 1 April (generasi II) berturut-turut akan beranak mulai 10 Juni sebanyak 72 ekor, 15 Juli 72 ekor, dan 20 Agustus 72 ekor, jumlah 216 ekor. Begitu juga 6 betina yang lahir 5 Mei (generasi III) akan beranak 15 Juli 72 ekor, dan 20 Agustus 72 ekor, jumlah 144 ekor. Selanjutnya 6 betina yang lahir 10 Juni (generasi IV) akan beranak 20 Agustus 72 ekor. Dan terakhir 36 betina (dari 72 anak) yang lahir 10 Juni (generasi V) juga beranak 36 x 12 ekor = 432 ekor. Maka bila ditotal dalam lima bulan dari sepasang tikus menjadi sebanyak 926 ekor (dari enam generasi masing-masing 2+60+216+144+72+432). Kalau ada 10 pasang tikus saja bila dibiarkan berkembang biak, maka akan bisa menjadi 9.260 ekor dalam lima bulan. Karena itu petani harus waspada, sebab tikus menyerang tanaman yang jauh dari pematang, sehingga tidak terlihat dari pematang. Mulai tanaman padi bunting sampai panen. Berarti banyak makanan di sawah, merupakan waktu perkembangan biak yang paling subur bagi tikus. Maka tikus akan menetap di sawah dengan membuat lubang-lubang pada pematang-pematang. Pada periode inilah kerusakan oleh tikus paling hebat, karena tanaman yang diserang tidak akan tumbuh lagi. Karena itu dalam memberantas hama tikus agar sukses harus memperhitungkan waktu, jenis racun dan umpan disesuaikan dengan keadaan dan waktu. Kalau sering ada serangan tikus maka perlu dilakukan pencegahan (preventif), baik secara niskala maupun sekala. Syukur bila dengan niskala bisa berhasil. Tetapi bila secara niskala kurang berhasil, maka harus dilakukan secara sekala. Misalnya memasang umpan-umpan beracun pospor, sejak masa pembibitan, lalu setelah tanaman di sawah berumur 3-4 minggu. Bila perlu diulangi lagi sampai berhasil, dengan mengganti umpan atau racun. Setelah tanaman bunting sampai panen pemasang umpan beracun tidak akan efektif. Maka perlu dilakukan pengasapan lubang-lubang tikus, misalnya dengan merang plus belerang dengan perbandingan 1 kg belerang dan 10 kg merang. Semua lubang keluar harus ditutup agar asap tidak keluar, kecuali lubang masuk tidak ditutup untuk tempat memasukkan asap. Bila tikus mau keluar bisa dibunuh, sebab akan lewat lubang masuk. Agar pemberantasan tikus di suatu daerah sukses, perlu dilakukan dengan teratur dan serentak (terorganisasi), sebab tikus bisa mencari makanan sampai ratusan meter jauhnya. *Nengah Sutedja |








