BALI Forum & Emotion

Art, Culture dan Leisures

Logged as Anonymous. Your last visit was on

You are not connected. Please login or register

Post new topic  Reply to topic

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

dyayu


VISUDDHA
VISUDDHA
FENOMENA populernya batik memang terjadi akhir-akhir ini. Batik tidak saja diburu kaum berumur matang, tetapi banyak pula kawula muda. Batik-batik yang mereka gemari pun cukup beragam -- batik tulis, cap, sampai printing. Hanya, tak banyak dari mereka yang paham betul soal batik.

Untuk memberikan wawasan soal batik, Himpunan Ratna Busana pernah menggelar acara bertajuk "Pemahaman & Penghayatan Seni Batik" di Jakarta. Acara ini menghadirkan pembicara Noes Moeljanto Djojomartono dan Neneng Iskandar dari Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastraprema). "Batik itu aset bangsa dan harus dilestarikan. Apalagi kini gaya pemakaian kain batik sudah tidak baku seperti dahulu dan sudah lebih kekinian," jelas Noes.

Noes menjelaskan, ketiga jenis batik itu -- tulis, cap, dan printing -- kalau dilihat sekilas memang tak ada bedanya. Khususnya bagi mereka yang tidak begitu kenal dekat dengan batik. Berbeda dengan masyarakat pecinta batik yang memang sudah teruji memiliki taste yang begitu tajam bisa mengetahui batik berkualitas ataupun pasaran.

Cara Bedakan

Pun begitu, sambungnya, untuk mengetahui mana batik cap, tulis, atau printing sebenarnya amat mudah. Untuk mengetahui batik cap, misalnya, bisa dilakukan dengan membalikkan kainnya. Biasanya warna batik antara bagian depan dengan belakang tidak sama. Batik printing bisa diketahui dari bahannya yang begitu tipis, sedangkan batik tulis diketahui pada kain yang dipakai biasanya dibatik bolak-balik.

Mengenai kelazimannya dipotong untuk busana, Noes mengatakan, batik berbentuk kain itu sebenarnya sudah bagus dan tak perlu lagi dipotong. "Sayang sekali apalagi itu batik tulis. Kecuali seperti Pak Iwan Tirta yang sudah teruji membuat busana dengan batik tulis. Beliau tetap bisa memasang motif batik di tempat yang benar, sehingga penampilan busananya pun bagus sekali," puji Noes.

Menurut Noes, batik tulis memang sebaiknya dibiarkan dalam lembaran kain. "Tapi, kalaupun batik tulis mau dipotong menjadi busana, ya harus diperlakukan seperti nilai batik tulis itu. Jadi, bukan karena harganya yang menjadi pertimbangan utama, tetapi nilai dari batik tulis tersebut," tandas Noes.

Soal Penipuan

Setiap perajin batik sudah seharusnya mengukir nama dan judul karyanya pada lembaran kain. Hal itu penting guna meminimalisir terjadinya pembajakan atau penipuan produk.

"Sebenarnya untuk melestarikan batik itu perlu campur tangan pemerintah. Pemerintah harus mengeluarkan peraturan khusus yang mengatur soal pencantuman nama pembatik dan judul koleksi batik pada lembaran kain. Artinya, ada pengawasan dari pemerintah. Kalau tidak ada yang mengawasi, ya tidak karu-karuan," ujar Noes lagi.

Dikatakan Noes, selama ini memang sudah ada pembatik yang mencantumkan nama dan judul dari koleksinya, namun jumlahnya juga belum banyak. Sehingga, masalah pembajakan atau penipuan pun tak bisa dihindari dan sangat merugikan perajin yang betul-betul concern pada batik. "Apalagi sekarang, banyak perancang luar yang memasukkan unsur batik pada koleksinya. Kalau kita tidak waspada, bisa jadi kekayaan budaya kita diklaim oleh mereka," jelasnya.

Untuk itulah para perancang lokal sudah seharusnya tersentil dengan keadaan ini. Hanya, lanjut Noes, para perancang Nusantara ini perlu juga dibekali dengan wawasan mengenai sejarah budaya Indonesia, agar ketika mencipta busana tidak melenceng dari pakem. "Saya lihat perancang kita memang banyak yang sekolah tinggi, namun masih kurang mendapatkan pembekalan sejarah budaya Indonesia. Untuk itulah perlu adanya penambahan wawasan akan hal itu," tambahnya.

Sementara itu, desainer Musa Widyatmodjo mengaku tak keberatan dengan saran Noes. Menurutnya, busana yang memperhatikan pakem tak berarti membatasi kreativitas dari seorang desainer. "Bagi saya, memang bukan menjadi suatu pembatasan, tetapi suatu kreativitas. Artinya, kreativitas yang terkontrol. Semakin saya tahu budaya, tata krama, dan memahami apa itu adat serta filosofi budaya, semakin membuat saya takut dan berhati-hati dalam berinovasi. Jangan sampai inovasi yang kita lakukan itu justru merusak warisan budaya," papar Musa.

Musa pun setuju dengan usulan agar para pembatik mencantumkan nama pada karyanya. Menurutnya, setiap batik memang harus ada satu keterangan apakah itu batik cap atau batik tulis, karena itu merupakan pembelajaran dan komitmen dari si pembuat ataupun penjual ketika mereka membuat sesuatu agar lebih sadar dan tidak melakukan penipuan. "Untuk melakukan hal itu memang sudah menjadi panggilan jiwa, tak terkecuali bagi para desainer ketika mencipta busana," pungkasnnya. (okz/tty/tin) *BP

View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Post new topic  Reply to topic

Permissions of this forum:
You cannot reply to topics in this forum